1,720,967 research outputs found
Karakteristik Temperatur Virtual pada Kejadian Hujan di Kototabang
This research accomodate the virtual temperature which evaluated from RASS sound speed as on indicator of rain events at Kototabang. The goal is to find the value and the characteristic of Tv deviation especially at the rain event. The data used are Tv data from RASS and rain data from AWS on November-December 2005. The Tv data covers vertical profil from the surface (1500 m) to 70200 m with 2 or 3 minutes of space resolution and 150 m of vertical space resolution. The results show that thermodynamic processes at Kototabang are very active, marked by positive or negative deviation on rain as well as on dry events. Determination of deviation showed that the highest positive deviation is 25,9 (on December 4th (2005) and the highest negative deviation is 30,1 (on December 2th (2005) which are occurs in between 1500 m to 6000 m. From the analysis of virtual temperature deviation and rain relationship, have been obtained five characters. The rain is flanked by two positive deviations as the first character. In the second character, the rain preceded by a positive deviation. The third character is marked by positive deviation throughout the day but rain only for a moment (in small intensity). The fourth character, the deviation spreading to above layers. The fifth character, the rain preceded by a negative deviation. Keywords : virtual temperature, deviation, rain, thermodynamics, characterPada penelitian ini, temperatur virtual yang dihitung dart kecepatan suara basil pengamatan RASS dijadikan sebagai indikator kejadian hujan di Kototabang. Tujuannya untuk mendapatkan nilai dan karakteristik a Tv terutama pada saat kejadian hujan. Data yang digunakan adalah data Tv dad RASS serta data hujan dart AWS pada November-Desember 2005. Data Tv meliputi permukaan (1500 m) sampai ketinggian 10200 m dengan resolusi waktu 2 sampai 3 menit dan resolusi ruong ketinggian 150 m. Hasilnya menunjukkan bahwa proses termodinamika di atmosfer Kototabang sangat aktif, ditandai dengan nilai a positif atou negatif, balk pada kejadian hujan maupun tidak ada hujan. Penentuan a pada seluruh periode pengamatan menghasilkan a positif tertinggi mencapai 25,9 (4 Desember 2005) dan a negatif tertinggi 30,1 (pada 2 Desember 2005) yang terjadi pada lapisan 1500 m sampai 6000 m. Dad analisis keterkaitan a temperatur virtual dengan hujan, ditemukan lima karakter. Karakter pertama, hujan diawali dan diakhiri oleh a positif. Karakter kedua, hujan diawali a positif. Karakter ketiga, a positif sepanjang hart tetapi hujan hanya sesaat (intensitas kecil). Karakter keempat, hujan disertai a sampai lapisan atas. Karakter kelima, hujan diawali dengan a negatifHal. 34-4
Osilasi Curah Hujan Di Beberapa Lokasi Di Wilayah Indonesia Dengan Elevasi Berbeda
Tulisan ini membahas osilasi curah hujan yang ditentukan berdasarkan metode transformasi wavelet untuk 21 lokasi di wilayah Indonesia. Lokasi-lokasi tersebut meliputi Pulau Sumatera (5 lokasi), Pulau Kalimantan (4 lokasi), Pulau Sulawesi (1 lokasi), Pulau Irian (2 lokasi), Pulau Jawa (7 lokasi), Bali dan NTT (2 lokasi). Data yang digunakan adalah data curah hujan lima harian dari tahun 1995 sampai dengan tahun 2005. Kajian ini mencakup osilasi panjang, menengah dan juga osilasi pendek. Osilasi panjang yang teramati berkisar antara 2 tahun sampai dengan 4 tahunan. Osilasi 3 sampai 4 tahun tampak di Padang, Lampung, Denpasar, Banjarbaru, Palangkaraya dan Sentani. Sedangkan osilasi dua tahunan teridentifikasi di Manokwari dan Bogor. Osilasi curah hujan setahunan teramati di 17 lokasi (yaitu Palembang, Lampung, Denpasar, Bandung, Bogor, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Banyuwangi, Banjarmasin, Balikpapan, Banjarbaru, Palangkaraya, Makassar, Sentani dan Waingapu). Osilasi curah hujan menengah (kurang dari setahun) terdeteksi di Aceh, Padang, Jambi, Palembang, Bandung, Bogor, Balikpapan, Palangkaraya, Sentani dan Manokwari. Di Padang, Balikpapan, Aceh dan Jambi teramati osilasi pendek (50 harian). Kajian osilasi curah hujan yang dikaitkan dengan elevasi lokasi pengamatan menunjukkan osilasi panjang curah hujan berkaitan dengan elevasi yang rendah, topografi yang seragam dan pada umumnya lokasi tersebut hanya memiliki satu osilasi curah hujan. Elevasi menengah dan elevasi tinggi berkaitan dengan curah hujan dengan lebih dari satu osilasi ulang mulai dari harian, musiman sampai tahunan. Curah hujan di lokasi dengan elevasi yang tinggi tidak mempunyai osilasi ulang di atas 3 tahunHlm.142-14
Proyeksi Dan Anomali Angin Horisontal Tahun 2050 Berdasarkan Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) di Wilayah Indonesia Bagian Tengah Selatan
Hal. 24-3
Validitas Curah Hujan TRMM Resolusi 3 Jam untuk Bandung dan Semarang
Perbandingan curah hujan dari TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) dengan curah hujan pengamatan emnunjukkan adanya perbedaan. Perbedaan antara curah hujan insitu dan curah hujan TRMM, baik pola maupun nilai berasal dari perbedaan teknik pengukuran. Data observasi berasal dari hasil pengukuran langsung dengna raingauge di permukaan. Sementara cura hujan TRMM seperti telah disinggung di atas berasal dari data asimilasi atau gabungan antara data curah hujan permukaan (dari raingauge) dengan curah hujan estimasi dari parameter yang diukur satelit. Dari dua sampel lokasi penelitian (Bandung dan Semarang) dapat ditarik kesimpulan bahwa data TRMM memperliatkan keterlambatan waktu terjadinya cura hujan maksimum kurang lebih 1 jam. Sedangkan jumlah curah hujan TRMM lebih tinggi 25% sampai 60% dari curah hujan observasi
Siklus hidup Siklon Tropis Freddy dan dampaknya terhadap atmosfer Indonesia
Hal. 66-70: ilus.; 28 c
Deviasi Temperatur Virtual Dalam Proses Evaporasi Dan Kondensasi Di Atmosfer Kototabang Pada Campaign Period
Good and thorough knowledge of every stage of the water cycle in the atmosphere will be very meaningful for the development of atmospheric science itself and for the development of various methods of weather/climate prediction. In line with the above statement, this research have a major focus on two important stages in the water cycle on Earth such asthe process of evaporation and condensation that occurs in Kototabang. Evaporation and condensation processes associated with the formation of clouds and rain related with changes in temperature. Meanwhile the real temperature (T) is proportional to the virtual temperature (Tv) then the convection activity can be monitored via the virtual temperaturechanges. Under period study (November 2002, April-May 2004 and November-December 2005) virtual temperature deviation (positive or negative) are not positive linearly correlated with the rainfall. The correlation coefficient between rainfall and virtual temperature deviation generate a value of -0.33. This is presumably because there are convection cells that had formed earlier. Rain produced the first cell occurs during the process of evaporation and condensation takes place on the second cell.Hal. 153-16
Pemanfaatan Data Curah Hujan untuk pelayanan Sektor Pariwisata di Bali Bagian Tenggara
hal. 51-6
- …
