1,763,455 research outputs found
SAPPK ITB Dukung Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat di Desa Bangunkarya
Dalam upaya mendorong pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Desa Bangunkarya, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, tim Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB) melaksanakan program pengabdian masyarakat dengan topik “Pengembangan Produk Paket Wisata Berbasis Masyarakat”. Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan bagian dari Program Penelitian dan Pengabdian Masyarkat Unggulan, Fakultas SAPPK ITB Tahun 2021
STUDI PENGELOLAAN LIMBAH B3 (BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN) LABORATORIUM LABORATORIUM DI ITB
Abstrak: Sistem pengelolaan dan pengolahan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) di Kampus ITB khususnya di beberapa laboratorium selama beberapa tahun terakhir dapat dikatakan gagal dan belum ada sistem pengelolaan yang baik, terstruktur, sistematis, dan tanpa ada masukan teknologi yang memadai. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi dan memberikan usulan pengelolaan limbah B3 di laboratorium-laboratorium ITB berdasarkan Peraturan Pemerintah No.18 Tahun 1999. Metode yang digunakan adalah wawancara dan menyebarkan kuesioner kepada pihak-pihak laboratorium penghasil limbah B3, selain itu dilakukan juga pengambilan dokumentasi langsung di laboratorium-laboratorium tersebut. Dari metode tersebut dilakukan analisis perhitungan jenis dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan. Hasil perhitungan menunjukkan limbah asam yang dihasilkan berjumlah 34,85 kg/minggu, basa 43,91 kg/minggu, solvent 83,91 kg/minggu, infectious waste 0,152 kg/minggu, logam berat 27,47 kg/minggu, dan campuran bahan kimia 267,23 kg/minggu. Melihat jumlah dan jenis-jenis limbah B3 yang dihasilkan upaya pengelolaan pun berbeda untuk setiap jenis limbahnya. Meskipun telah ada upaya minimisasi dari setiap laboratorium, upaya tersebut masih sangat terbatas dan tidak dapat berkelanjutan. Oleh karena itu penelitian ini dibuat untuk membuat usulan pengelolaan yang baru, terpadu, dan cocok dengan jenis limbah B3 yang dihasilkan oleh laboratorium-laboratorium tersebut dan untuk membantu mewujudkan program ITB Eco-Campus yang berkelanjutan. ITB Eco-Campus adalah satu program yang dibuat untuk mewujudkan kampus ITB sebagai kampus yang berwawasan lingkungan.Kata Kunci: ITB Eco-Campus, limbah B3,,laboratorium, pengelolaan, usulan pengelolaan. Abstract:. Hazardous waste management system in particular ITB Campus in several laboratories over the past years can be said failed and there is no proper management system, structured, systematic, and without adequate input technology. The purpose of this study was to evaluate and make suggestions about hazardous waste management in laboratories of ITB based on Peraturan Pemerintah No.18 1999. The methods used were interviews and distributing questionnaires to the parties of laboratories, also making the documentation directly in the laboratories. From the methods, the amount of each type of hazardous waste is calculated. Calculation results show that acid waste generated amounted to 34.85 kg / week, base 43.91 kg / week, solvent 83.91 kg / week, infectious waste 0.152 kg / week, heavy metals 27.47 kg / week, and the mixture chemistry 267.23 kg / week. Looking at the number and types of hazardous waste, management efforts are different for each type of waste. Although there have been attempts minimization of each laboratory, the effort is still very limited and can not be sustained. Therefore, this final task made to create a new integrated management proposals which suitable to the type of hazardous waste produced by these laboratories and to help realize the sustainable ITB Eco-Campus. ITB Eco-Campus is a program which created to realize ITB campus as environmentally sustainable campus. Key words: hazardous waste, ITB Eco-Campus, laboratory, management, management proposals
Pengembangan Platform Inovasi dan Kewirausahaan (IES) dengan menggunakan Perspektif Servis Sains: Studi Kasus LPIK ITB
Abstract. The Institute for Innovation and Entrepreneurship (LPIK) is a hub to facilitate and bridge between ITB inventor and Entrepreneurial to interact with the Industry to co-create the value and to commercialize the technology. This institute is under Vice-rector of innovation and partnership of ITB. The study aims to analyze the current situation and propose a web-based platform to facilitate the interaction among the stakeholders in LPIK effectively and efficient. Service science perspective will be used in this study, start from the problem identification until solution development. The methodology was used is the qualitative approach, i.e., focus group discussion (FGD), survey and strategic assumption surfacing and testing (SAST). The finding is the assumption based on the importance, and the certain level of IES development is relevance (absolutely importance-very certain). The other assumption is considered as a factor which influence IES performance is accuracy, customization, content, timeliness, quality of interaction and also format.Keywords: IES (Innovation Entrepreneurship System) , platform, service science, strategic assumption surfacing and testing (SAST), value co-creationAbstrak. Lembaga pengembangan inovasi dan kewirausahaan (LPIK) adalah lembaga dibawah Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Kewirausahaan (WRIM) yang bertujuan sebagai hub dan fasilitator untuk menjembatani inovasi inventor ITB dan kewirausahaan untuk dapat berinteraksi dengan Industri (user) dalam menciptakan nilai (value co-creation) dan komersialiasi teknologi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dan mengembangkan platform yaitu aplikasi berbasis web yang bisa memfasilitasi interaksi antar pemangku kepentingan yang terlibat dalam aktivitas LPIK secara efektif dan efisien. Aplikasi yang dibuat berdasarkan kebutuhan dari para pengguna yaitu tenan inkubator LPIK dan juga inventor serta industri. Dalam studi ini menggunakan sudut pandang servis sains dalam keseluruhan proses penelitian, mulai dari identifikasi hingga pengembangan solusi dari permasalahan. Metodologi yang dipergunakan dalam studi ini adalah dengan pendekatan kualitatif, yaitu focus group discussion (FGD), survey serta pengolahannya menggunakan metode strategic assumption surfacing dan testing (SAST). Dari hasil dengan SAST diperoleh asumsi yang paling penting dan paling pasti dalam pengembangan IES kedepan yaitu relevansi, artinya informasi yg disediakan pada website IES harus relevan. Kemudian asumsi yang lainnya yang penting dan adalah akurasi, yaitu IES harus memiliki tingkat akurasi aplikasi yang tinggi, kustomisasi (IES harus menyediakan informasi yang menarik, dan tampilan yang familiar), konten (kelengkapan isi dan kualitas informasi web), ketepatan (timeliness, Informasi yang ditampilkan pada website IES tepat waktu dan sifatnya mutakhir), dan kualitas berinteraksi dengan pengelola web IES melalui forum kolaborasi, kemudahan dalam menggunakan IES serta layanannya dan kecepatan dalam menggunakan aplikasi. Untuk asumsi fitur lainnya adalah format yang mampu memberikan informasi sesuai format yang dibutuhkan adalah faktor yang dipertimbangkan dalam mempengaruhi performansi sistem IES.Katakunci: IES (Innovation Entrepreneurship System) , platform, service science, strategic assumption surfacing and testing (SAST), value co-creationÂ
Das Management von explizitem Wissen in Forschungseinrichtungen am Beispiel des Instituts Technik und Bildung (ITB) der Universität Bremen
Die vorliegende Studie behandelt das Management von explizitem Wissen in Forschungseinrichtungen am Beispiel des ITB. Sie konzentriert sich dabei auf den Zusammenhang von Records Management und der archivischen Bewertung. Die Arbeit will insbesondere das Records Management des Instituts und die archivische Bewertung im Sinne des Effizienzgedankens reorganisieren. Zunächst werden daher entsprechende theoretische Konzepte auf ihre Eignung untersucht: Als besonders geeignet werden traditionelle Ansätze aus den deutschen Informationswissenschaften, die offen für die Ergebnisse ihrer aktuellen Diskussionen sind, angesehen. Dann wird das Records Management im Institut am Beispiel einer Forschungsabteilung sowie das bereits im Institutsarchiv angewandte Bewertungsverfahren für wissenschaftliche Dokumente kritisch analysiert. Die Situation des Records Management und des Bewertungsverfahrens wird als dringend überarbeitungsbedürftig angesehen. Ausgehend von der Idee der »vorausschauenden Bewertung« wird daher ein Konzept zur Reform des Records Management, das wichtige Bedingungen einer modernen Schriftgutverwaltung erfüllt, und die dazu nötigen Instrumente entwickelt. Verschiedene Ergänzungen machen das Bewertungsverfahren praxistauglich.46/201046Breme
Model Kompetensi Pembeda (Discriminating Competencies) Dosen Pengajar menurut Penilaian Mahasiswa Departemen Teknik Industri ITB
Perubahan statius ITB dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi BHMN menuntut berbagai macam perubahan, dari perubahan system dan organisasi sampai perubahan sikap dan perilaku masyarakat ITB, baik karyawan maupun dosen. Perubahan sikap dan perilaku masyarakat ITB sangat menentukan keberhasilan perubahan menuju yang diharapkan. Kompetensi karyawan dan staf dosen ITB, merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam merealisasikan ITB BHMN sebagaimana yang dicita-citakan. Yang dimaksud kompetensi dalam paper ini adalah kompetensi generic untuk kluster pekerjaan Human Services Professionals (teachers) yang dikembangkan oleh Spencer & Spencer (1993). Berdasarkan konsep kompetensi ini diharapkan para pengelola SDM ITB dapat menyusun strategi dan program peningkatan kompetensi staf dosen menuju kompetensi superior. Sistem dan organisasi pengelolaan SDM ITB sebagai PTN melahirkan kategori struktur kepangkatan seperti Asisten Ahli (AA), Lektor (L), Lektor Kepala (LK) dan Guru Besar (GB). Muncul pertanyaan, 1). Kompetensi apa yang membedakan dosen antar kelompok kepangkatan (AA, L, LK, dan GB); 2). Kompetensi apa yang dimiliki oleh kelompok dosen yang berperformansi superior (superior performers) tanpa melihat kelompok kepangkatannya. Penelitian menyimpulkan bahwa kompetensi yang membedakan kategori kelompok kepangkatan AA, L, LK, dan GB adalah Customer Service Orientation (CSO), Initiative (Int), Flexibility (Flx), Team Working (TW), Writing Skills (UC5Writs), Thoroughness (UC9Throg), dan Organizational Commitment (OC). Sedangkan kompetensi yang dimiliki oleh kelompok dosen yang berperformansi superior (merupakan ‘kelebihan’ yang mereka miliki dibandingkan dengan kelompok dosen yang berperformansi rata-rata (average performers) adalah Kompetensi Self Control (SCT) dan Concrete Style of Learning (UC7SLea). Katakunci: kompetensi pembeda, dan dosen pengaja
Menavigasi Transisi ITB Innovation Park melalui Perspektif Multi Tingkat
The development of the science techno park (STP) in Indonesia aims to facilitate innovation-based industrial growth. Concurrently, the Bandung Institute of Technology (ITB) is committed to realizing an entrepreneurial university by leveraging research results through the ITB-STP, also known as the ITB Innovation Park (IIP). The IIP acts as an innovation center that connects research with market needs and functions as an innovation commercialization accelerator. Research using the Multi-Level Perspective Framework indicates policy shifts in STP development during the 2015– 2019 and 2020–2024 periods. Despite producing various innovative products, IIP faces challenges in transitioning the socio-technical system for commercializing research outputs, particularly in integrating with the broader regime and ensuring innovation sustainability. IIP’s initiatives demonstrate instances of fit & fit; however, during the fit & stretch phase, IIP continues to encounter challenges, particularly concerning market responses to the innovative products offered. This indicates that the stretching process remains in progress. Consequently, IIP’s success in reshaping the regime depends on enhanced collaboration, systematic innovation validation, and supportive government policies to foster the establishment of a new innovation-based regime.Pengembangan Science Techno Park (STP) di Indonesia dilakukan sebagai upaya untuk memfasilitasi pertumbuhan industri berbasis inovasi. Di sisi lain, ITB berkomitmen untuk mewujudkan entrepreneurial university dengan mengoptimalkan potensi inovasi dari hasil riset melalui STP ITB atau ITB Innovation Park (IIP). Innovation Park (IIP) berperan sebagai pusat inovasi yang menghubungkan riset dengan kebutuhan pasar dan berfungsi sebagai akselerator komersialisasi inovasi. Hasil penelitian dengan menggunakan kerangka Multi-Level Perspective menunjukkan pergeseran dalam perubahan kebijakan terkait konsep pengembangan STP dalam periode 2015- 2019 dan 2020-2024. Meskipun Innovation Park (IIP) telah menghasilkan berbagai produk inovasi, transisi sistem sosio-teknikal dalam komersialisasi produk riset masih menghadapi tantangan. Upaya IIP menunjukkan terjadinya fit & fit, namun dalam proses fit & stretch IIP masih menghadapi tantangan, salah satunya terkait respons pasar terhadap produk-produk inovasi yang ditawarkan sekaligus mencerminkan proses stretch yang masih berlangsung. Oleh karena itu, keberhasilan IIP untuk mengubah rezim membutuhkan peningkatan kolaborasi, validasi inovasi, serta dukungan kebijakan pemerintah dalam membentuk rezim baru yang berbasis inovasi
- …
