1,720,988 research outputs found
Perbandingan Profil Status Gizi Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis Stadium v Yang Menjalani Hemodialisis Menggunakan Dialyzer Baru Dan Reuse (Studi Eksperimental Di Instalasi Hemodialisis Rsd Dr. Soebandi Jember)
Penyakit Ginjal Kronis merupakan penyakit pada ginjal yang ditandai dengan
menurunnya laju filtrasi glomerulus <60 ml/menit per 1,73m2
dengan durasi
setidaknya tiga bulan. Penyakit ginjal kronis stadium V merupakan penyakit pada
ginjal dengan laju filtrasi glomerulus yang mencapai <15 ml/menit per 1,73m2
.
Stadium tersebut memerlukan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis,
peritoneal dialisis atau transplantasi ginjal. Hemodialisis merupakan pilihan utama
terapi pengganti ginjal pada pasien penyakit ginjal kronis stadium V. Namun,
hemodialisis menghabiskan dana terbanyak dibandingkan modalitas terapi
pengganti ginjal lainnya. Oleh karena itu, penggunaan kembali dialyzer diharapkan
dapat membantu menurunkan biaya hemodialisis.
Menggunakan kembali dan memproses ulang dialyzer berulang kali dapat
mempengaruhi hemodialisis karena terjadinya pengikatan molekul albumin pada
membran dialyzer dan bahkan dalam keadaan tertentu albumin dapat bocor selama
hemodialisis. Perubahan permeabilitas membran dialyzer, penurunan kualitas
membran dialyzer, serta perbesaran diameter pori-pori membran dialyzer juga
dapat berpotensi menyebabkan hilangnya protein, lemak, dan glukosa. Oleh karena
itu, pemantauan status gizi harus dilakukan pada pasien penyakit ginjal kronis.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain penelitian
quasi experimental dengan bentuk post-test only di Ruang Instalasi Hemodialisis
RSD dr. Soebandi Jember periode Oktober-November 2018. Metode pengambilan
sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 30 orang.
Kriteria inklusi meliputi pasien penyakit ginjal kronis stadium V yang telah
menjalani hemodialisis reguler 2x setiap minggu, pria/wanita, pasien menjalani
hemodialisis ≥3 bulan, usia ≥18 tahun, setuju dan telah melengkapi lembar informed consent, Quick Blood (Qb) ≥ 100 ml/menit, Quick Dialisat (Qd) ≥ 200
ml/menit, lama hemodialisis ≥2 jam, total cell volume pada dialyzer reuse >80%.
Kriteria eksklusi meliputi tekanan darah sistolik <80 mmHg dan atau tekanan darah
sistolik >200 mmHg selama hemodialisis, suhu tubuh 40℃,
pasien mengalami kejang, denyut nadi 120x/menit, pasien
menjalani transfusi whole blood dan albumin selama proses hemodialisis, pasien
tidak bersedia, pasien menderita penyakit infeksi. Kriteria drop out adalah pasien
meninggal saat dalam periode penelitian, pasien mengundurkan diri saat dalam
periode penelitian, pasien pindah ke instalasi hemodialisis lain.
Pengukuran status gizi yang meliputi indeks massa tubuh, tebal lemak kulit
bisep dan trisep, serta kadar albumin serum dilakukan 5 menit setelah hemodialisis
I saat pasien menggunakan dialyzer baru. Setelah itu, dialyzer tersebut mengalami
pemrosesan ulang sebelum digunakan kembali seperti pembilasan, pencucian, dan
desinfeksi. Ketika penggunaan kembali yang ke-4 (hemodialisis V atau reuse ke4), dilakukan pengukuran kembali status gizi yang meliputi indeks massa tubuh,
tebal lemak kulit bisep dan trisep, serta kadar albumin serum 5 menit setelah
hemodialisis V saat pasien menggunakan dialyzer reuse. Data yang diperoleh
kemudian dikelompokkan, dianalisis menggunakan paired T-test.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, tidak terdapat perbedaan yang
signifikan pada profil statis gizi pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani
hemodialisis menggunakan dialyzer baru maupun reuse dengan nilai signifikansi
masing-masing adalah p=0,111 (kadar albumin serum sebelum hemodialisis
menggunakan dialyzer baru dan reuse), p=0,017 (kadar albumin sesudah
hemodialisis menggunakan dialyzer baru dan reuse), p=0,062 (signifikan pada
selisih kadar albumin serum sebelum dan sesudah hemodialisis menggunakan
dialyzer baru dan reuse), p=0,183 (indeks masa tubuh sesudah hemodialisis
menggunakan dialyzer baru dan reuse), p=0,326 (tebal lemak kulit bisep sesudah
hemodialisis menggunakan dialyzer baru dan reuse), dan p=0,161 (tebal lemak kulit
trisep sesudah hemodialisis menggunakan dialyzer baru dan reuse)
HUBUNGAN KETERBATASAN AKTIVITAS FISIK PADA PASIEN ARTRITIS REUMATOID DENGAN TINGKAT KECEMASAN DI RUMAH SAKIT DAERAH DR. SOEBANDI KABUPATEN JEMBER
Artritis reumatoid adalah penyakit inflamasi autoimun bersifat kronis, sistemik, dan sasaran utamanya adalah persendian kecil seperti persendian proximal interphalangeal dan metacarpophalangeal pada tangan. Prevalensi artritis reumatoid di Indonesia berkisar antara 0,2-0,5%, dengan wanita lebih banyak. Artritis reumatoid mengakibatkan kerusakan pada persendian dan menyebabkan keterbatasan aktivitas fisik. Kerusakan sendi dan keterbatasan aktivitas fisik merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan kejadian kecemasan pada pasien artritis reumatoid. Kecemasan adalah keadaan umum yang banyak dijumpai, dapat menyerang siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Kecemasan tidak bisa dianggap remeh apabila mengganggu kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, perlu diketahui hubungan keterbatasan aktivitas fisik dengan tingkat kecemasan pada pasien artritis reumatoid untuk mecegah dan meminimalkan dampak dari kecemasan yang dialami pasien. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan antara keterbatasan aktivitas fisik dan tingkat kecemasan pada pasien artritis reumatoid di RSD. dr. Soebandi Kabupaten Jember. Hasil penelitian diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan individu, masyarakat ataupun institusi untuk melakukan suatu tindakan/kebijakan sebagai cara untuk meminimalisasi terjadinya kecemasan pada pasien artritis reumatoid.
Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan metode cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah pasien artritis reumatoid yang terdaftar di data rekam medis RSD. dr. Soebandi Kabupaten Jember dengan teknik pengambilan sampel yaitu consecutive sampling. Data responden yang diambil pada bulan November sampai dengan Desember 2015 menunjukkan responden berjumlah 32 orang yang sesuai kriteria inklusi dan tersebar di Kabupaten Jember. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah rekam medis, formulir informed consent, kuesioner Improved HAQ (Health Assesment Questionnaire) sebagai pengukur keterbatasan aktivitas fisik, dan kuesioner HADS-A (Hospital Anxiety Deppresion Scale Subscale Anxiety) sebagai pengukur tingkat kecemasan. Pengisian lembar kuisioner dengan teknik wawancara oleh tenaga terlatih yang didampingi peneliti kepada subyek setelah melalui informed consent. Data diambil dengan cara menghitung jumlah skor jawaban sampel pada kuesioner. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji korelasi Pearson.
Hasil penelitian menunjukkan dari total 32 responden, 4 responden dengan skor I-HAQ ≤10, 4 responden dengan skor I-HAQ 11-20, 9 responden dengan skor I-HAQ 21-30, 8 responden dengan skor I-HAQ 31-40, dan 7 responden dengan skor I-HAQ 41-50. Responden dengan tidak ada kecemasan berjumlah 16 orang, kecemasan ringan 9 orang, dan kecemasan sedang 7 orang. Distribusi tingkat kecemasan berdasarkan keterbatasan aktivitas fisik didapatkan responden normal atau tidak cemas berjumlah 16 orang terdiri atas responden dengan skor I-HAQ ≤ 10 sebanyak 4 orang, skor I-HAQ 11-20 sebanyak 3 orang, skor I-HAQ 21-30 sebanyak 7 orang, dan skor I-HAQ 31-40 sebanyak 2 orang. Responden dengan tingkat kecemasan ringan berjumlah 9 orang terdiri atas responden dengan skor I-HAQ 11-20 sebanyak 1 orang, skor I-HAQ 21-30 sebanyak 2 orang, skor I-HAQ 31-40 sebanyak 5 orang, dan skor I-HAQ 41-50 sebanyak 1 orang. Sementara itu, responden dengan tingkat kecemasan sedang berjumlah 7 orang terdiri atas responden dengan skor I-HAQ 31-40 sebanyak 1 orang dan responden dengan skor I-HAQ 41-50 sebanyak 6 orang. Berdasarkan uji korelasi Pearson, didapat nilai signifikansi (p) 0,00 dengan nilai koefisien korelasi (r) 0,810. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara keterbatasan aktivitas fisik pada pasien artritis reumatoid dengan tingkat kecemasan di Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi Kabupaten Jember
Perbedaan Kadar Kalium pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Stadium 5 yang Menggunakan Hemodialyzer Baru dan Re-Use di RSD dr. Soebandi Jember
Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan penyakit yang sering dijumpai di
seluruh dunia. Prevalensi PGK di dunia sebesar 13,4% dan di Indonesia sebesar
0,2% atau mencapai 499.800 orang pada bulan Mei-Juni 2013. Hemodialisis
merupakan terapi yang paling banyak dilakukan untuk pasien PGK stadium 5,
namun pembiayaan hemodialisis sangat mahal. BPJS tahun 2015 mengeluarkan
dana untuk pembiayaan hemodialisis sebesar 2,68 triliyun rupiah. Salah satu
upaya untuk mengurangi biaya hemodialisis yang mahal adalah menggunakan reuse hemodialyzer. Re-use hemodialyzer adalah pemakaian ulang hemodialyzer
lebih dari satu kali pada pasien yang sama. Berdasarkan data di RSD dr. Soebandi
Jember, re-use hemodialyzer digunakan kembali sebanyak 4 kali.
Tujuan digunakan re-use hemodialyzer adalah untuk meringankan biaya
dan mengurangi sampah medis. Re-use hemodialyzer sangat menguntungkan
karena dapat mengurangi sampah medis di rumah sakit yang dapat meningkat 5-
30 kali dengan mengggunakan single use hemodialyzer. Namun, re-use
hemodialyzer juga dapat menurunkan fungsi integritas membran dari
hemodialyzer yang sering digunakan sehingga terjadi penurunan pengeluaran
molekul-molekul hingga 4-11%. Molekul yang dapat dikeluarkan salah satunya
adalah kalium.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental semu (quasi
experimental design) dengan rancangan time series design. Penelitian dilaksanan
di Instalasi Hemodialisa pada 11-28 Desember 2018. Sampel berjumlah 19 pasien
yang diambil berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Peneliti menggunakan data
primer yaitu pengukuran kadar kalium dari sampel darah pasien. Sampel darah
pasien diambil sebanyak 3 ml saat 5 menit sebelum proses hemodialisis selesai
melalui jalur arteri hemodialysis blood line set untuk dilakukan pengukuran kadar
kalium di Laboratorium Patologi Klinik ELISA RSD dr. Soebandi Jember.
Peneliti juga menggunakan data sekunder yang didapatkan dari rekam medik
pasien.
Hasil uji statitik paired t-test dari sampel penelitian ini didapatkan tidak
ada perbedaan yang signifikan antara kadar kalium pasien PGK stadium 5 setelah
hemodialisis menggunakan hemodialyzer baru dan hemodialyzer re-use ke-4
(p=0,094). Hal ini disebabkan efisiensi kinerja hemodialyzer masih baik dan
proses re-use sesuai dengan standar sampai penggunaan ulang ke-4
HUBUNGAN KEJADIAN KOMPLIKASI DIABETES MELLITUS TIPE 2 DENGAN TINGKAT GEJALA DEPRESI DI RSD dr SOEBANDI JEMBER
Diabetes mellitus merupakan penyakit yang ditandai dengan terjadinya hiperglikemia dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang dihubungkan dengan kekurangan secara absolut atau relatif dari kerja dan atau sekresi insulin. Diabetes mellitus sebagai penyakit kronik sering menimbulkan berbagai macam komplikasi. Komplikasi DM tersebut diantaranya komplikasi mikrovaskular dan makrovaskular. Komplikasi diabetes mellitus mikrovaskular merupakan komplikasi dari diabetes dimana terjadi penyumbatan pada pembuluh darah kecil pada tubuh. Penyumbatan pembuluh darah kecil tersebut dapat menyebabkan berbagai gangguan pada tubuh seperti retinopati, neuropati dan nefropati. Sedangkan untuk komplikasi makrovaskular merupakan komplikasi DM dimana terjadi penyumbatan pembuluh darah besar pada tubuh. Penyumbatan tersebut dapat menjadi masalah serius seperti stroke, penyakit jantung koroner dan gangrene.
Komplikasi diabetes sering menimbulkan berbagai masalah psikologis. Salah satu masalah psikologis yang umum diderita pasien diabetes mellitus yaitu depresi. Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya. Gejala penyerta tersebut meliputi perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta rasa ingin bunuh diri.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan sebelumnya, keterkaitan antara komplikasi diabetes mellitus terhadap depresi dihubungkan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan yaitu meliputi faktor fisik, psikis dan lingkungan sosial-ekonomi. Selain itu menurunnya kepatuhan pasien mengikuti restriksi diet, kepatuhan minum obat, dan monitoring gula darah dapat menyebabkan diabetes tidak terkontrol yang kemudian menimbulkan depresi yang berkepanjangan pada pasien. Oleh karena merujuk pada penelitian sebelumnya, peneliti ingin mengetahui hubungan antara kejadian komplikasi diabetes mellitus tipe 2 dengan tingkat gejala depresi di poli penyakit palam RSD dr Soebandi Jember .
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara kejadian komplikasi diabetes mellitus tipe 2 dengan tingkat gejala depresi dan tingkat gejala depresi di RS dr. Soebandi Jember. Hasil penelitian diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan individu, masyarakat ataupun institusi untuk melakukan suatu perawatan yang komprehensif, baik dari penyakit fisik maupun gangguan psikologisnya.
Pada penelitian ini telah dilakukan uji kelayakan oleh komisi etik kedokteran dan memperoleh perizinan di RSD dr Soebandi. Pengambilan data dilakukan oleh seseorang yang kompeten yang sebelumnya sudah memperoleh pembimbingan dokter spesialis jiwa. Proses pengambilan data dilakukan di Poli Penyakit Dalam RSD dr. Soebandi Jember selama bulan Oktober tahun 2016. Beberapa instrument digunakan dalam penelitian ini termasuk kuisioner Hamilton Depression Rating Scale (HDRS). Setelah melakukan pengambilan data, data akan diolah dan diuji menggunakan software SPSS untuk mengetahui hasil korelasi dari penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan besar sampel sebanyak 91 responden. Pengujian normalitas menggunakan uji Kolgomorov-Smirnov ini didapatkan hasil P > 0,05 sehingga dapat ditentukan bahwa distribusi data tidak normal. Selain itu, pengujian menggunakan uji korelasi Spearman didapatkan hasil p = 0,042 dimana p < 0,05. Hal ini dapat diartikan bahwa komplikasi DM tipe 2 memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat depresi dengan kekuatan lemah , karena koefisien korelasi p= 0,214. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin berat komplikasi dari diabetes mellitus tipe 2, maka akan semakin tinggi tingkat gejala depresi. Sedangkan untuk tingkat gejala depresi, pada penelitian ini memiliki prevalensi yang besar yaitu sebesar 45% jika dibanding dengan prevalensi pada orang awam
HUBUNGAN LAJU ULTRAFILTRASI DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI INTRADIALISIS PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK STADIUM V DI RSD DR. SOEBANDI JEMBER
Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional (potong lintang). Penelitian dilaksanakan di poli hemodialisis SMF Ilmu Penyakit Dalam RSD Dr. Soebandi Jember, pada September-November 2017. Sampel penelitian berjumlah 69 orang dengan kriteria inklusi sampel: (1) Pasien ≥18 tahun (2) Pasien penyakit ginjal kronik stadium V yang menjalani hemodialisis rutin 2 kali tiap minggu ≥ 3 bulan (3) Pasien yang selama masa pengobatan tetap meminum obat-obatan yang telah diresepkan dokter (4) Pasien yang menyetujui Informed Consent dan kriteria eksklusi sampel: (1)Pasien yang tekanan darahnya tidak terukur dengan prosedur standar (2) Pasien yang mengalami komplikasi berbahaya selama menjalani
hemodialisis seperti krisis hipertensi (3) Pasien Acute Kidney Injury (4) Pasien dalam kondisi tidak mungkin diukur berat badannya. Peneliti menggunakan data primer yaitu pengukuran tekanan darah 5 menit sebelum dan sesudah hemodialisis, serta data sekunder yang didapatkan dari rekam medik atau buku rapor pasien. Data hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan nilai signifikansi p<0,05. Setelah dilakukan uji bivariat menggunakan uji Chi-Square. Software yang digunakan dalam pengolahan data adalah IBM SPSS Statistics.
Data yang diambil berupa laju ultrafiltrasi yaitu kecepatan cairan yang dipindahkan dari kompartemen darah menuju kompartemen dialisat yang dihubungkan dengan kejadian hipertensi intradialisis. Pada penelitian ini didapatkan sampel sebanyak 69 sampel. Prevalensi hipertensi intradialisis pada pasien PGK stadium V di RSD Dr. Soebandi Jember yaitu 63,8%.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data antara hubungan laju ultrafiltrasi dengan kejadian hipertensi intradialisis, didapatkan hasil p=0,4 dengan nilai Odds Ratio sebesar 0,7. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan tidak didapatkan hubungan yang signifikan antara laju ultrafiltrasi dengan kejadian hipertensi intradialisis.
Berdasarkan uji analisis data faktor-faktor lain yang diduga berhubungan yaitu usia, jenis kelamin, lama menjalani hemodialisis, dan Interdialytic Weight Gain (IDWG) didapatkan nilai signifikansi masing-masing adalah p=0,9, p=0,9, p=0,2, dan p=0,096. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor usia, jenis kelamin, lama menjalani hemodialisis dan IDWG juga tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi intradialisis
PETA BAKTERI PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT RSD Dr. SOEBANDI JEMBER
ICU (Intensive Care Unit) adalah bagian dari rumah sakit dengan staf dan
perlengkapan khusus yang ditujukan untuk observasi, perawatan, dan terapi pasien
yang menderita penyakit atau penyulit-penyulit yang mengancam jiwa atau
potensial mengancam jiwa dengan prognosis buruk. Kondisi pasien yang di rawat
di ICU mengalami immunocompromised, bakteri yang resisten antibiotik, super
infeksi virus dan jamur. Mikroorganisme yang berada di rumah sakit lebih
berbahaya dan lebih resisten terhadap obat, sehingga diperlukan antibiotik yang
lebih poten atau suatu kombinasi antibiotik. Semua kondisi ini dapat
meningkatkan resiko infeksi kepada pasien. Pentingnya mengetahui peta bakteri
pada suatu rumah sakit ataupun di negara, adalah dapat mengetahui jenis bakteri,
tindakan atau terapi yang akan dilakukan serta mengetahui resistensi bakteri
terhadap terapi yang akan diberikan dokter kepada pasien.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan
mengambil data primer yaitu hasil pemeriksaan kultur darah pasien rawat inap di
ruang ICU RSD. Dr. Soebandi Jember. Kriteria sampel penelitian berupa kultur
darah pada pasien di ICU RSD. Dr. Soebandi Jember yang diambil perawat ICU
RSD. Dr. Soebandi Jember, pengambilan sampel dilakukan pada waktu pagi hari.
Metode pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik total
sampling. Penelitian ini bertempat di ruang ICU RSD. Dr. Soebandi Jember dan
Laboratorium Parahita diagnostic center.
Hasil penelitian yang diperoleh dari pemeriksaan kultur darah pada pasien
rawat inap di ruang ICU (Intensive Care Unit) didapatkan bakteri Staphylococcus
xylosus, Staphylococcus epidermidis, Enterobacter cloacea dan
Stenotrophomonas maltophilia. Dengan jumlah presentase bakteri terbanyak
Staphylococcus xylosus muncul sebanyak 5 (55,60%) dan bakteri lain
Staphylococcus epidermidis, Enterobacter cloacea dan Stenotrophomonas
maltophilia sebanyak 1 (11.10%). Peta bakteri antibiotik menunjukkan jumlah
sensitivitas tertinggi adalah Chloramphenicol, Amoxiclav, Vancomycin, dan
Tetracycline, sedangkan untuk antibiotik yang menunjukkan jumlah resistensi
tertinggi adalah Ceftriaxone, Erythromycin dan Azithromycin
Uji aktivitasn frksi dikloromentana ektrametanol bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) sebagai terapi komplementer malaria secara in vivo
Malaria report melaporkan bahwa kasus malaria telah mengancam 40 % populasi dunia dan terjadi enam regio dengan 79 negara endemik malaria
Hubungan Keterbatasan Aktivitas Fisik pada Pasien Artritis Reumatoid dengan Tingkat Kecemasan di Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi Kabupaten Jember (Relationship between Physical Limitation in Rheumatoid Arthritis Patients and Level of Anxiety at dr. Soebandi Hospital Jember)
Artritis reumatoid merupakan penyakit rematik yang paling sering terjadi. Artritis reumatoid dapat
menyebabkan kerusakan sendi sehingga timbul keterbatasan aktivitas fisik. Hampir separuh pasien
artritis reumatoid mengalami kecemasan dan ada yang membutuhkan terapi khusus. Penelitian ini
adalah penelitian cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterbatasan
aktivitas fisik pada pasien artritis reumatoid dengan tingkat kecemasan di RSD. dr. Soebandi
Kabupaten Jember. Pasien yang memenuhi kriteria diwawancarai menggunakan Improved Health
Assessment Questionnaire (HAQ) untuk mengukur keterbatasan aktivitas fisik dan Hospital Anxiety
and Depression Score- Subscale Anxiety (HADS-A) untuk mengukur tingkat kecemasan. Dari total 32
responden, 4 responden dengan skor I-HAQ ≤10, 4 responden dengan skor I-HAQ 11-20, 9 responden
dengan skor I-HAQ 21-30, 8 responden dengan skor I-HAQ 31-40, dan 7 responden dengan skor IHAQ
41-50. Responden dengan tidak ada kecemasan berjumlah 16 orang, kecemasan ringan 9 orang,
dan kecemasan sedang 7 orang. Hasil uji korelasi Pearson diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,810
dan nilai signifikansi p= 0,000 yang artinya terdapat hubungan korelasi yang kuat dan signifikan antara
keterbatasan aktivitas fisik pada pasien artritis reumatoid dan tingkat kecemasandi RSD. dr. Soebandi
Kabupaten Jembe
Pengaruh Hemodialisis Terhadap Fungsi Diastolik Ventrikel Kiri Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Stadium v Di Rsd Dr. Soebandi Jember
Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan masalah kesehatan dunia yang menyebabkan terjadinya gagal ginja
PENGARUH EKSTRAK ALGA COKELAT (Sargassum sp.) TERHADAP DERAJAT PROTEINURIA TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI STEPTOZOTOCIN SEBAGAI PREVENSI NEFROPATI DIABETIK
Pada penelitian ini didapatkan kelompok kontrol normal memiliki skor 1
yakni hasil negatif atau kadar proteinuria kurang dari 15 mg/dl. Kelompok kontrol
negatif memiliki skor 3 yakni proteinuria derajat +2 atau sekitar 30-100 mg/dl dan
skor 2 yakni proteinuria derajat +1 atau sekitar 15-30 mg/dl. Kelompok P1 dan P2
memiliki skor 1 yakni hasil negatif atau kadar proteinuria kurang dari 15 mg/dl.
Kelompok P3 memiliki skor 2 yakni derajat +1 atau kadar proteinuria dalam
rentang 15-30 mg/dl. Hasil uji beda Kruskal Wallis skor derajat proteinuria
didapatkan perbedaan signifikan dengan nilai p=0,007. Analisis Post hoc Mann
Whitney didapatkan hasil p<0,05 pada kelompok normal dengan kontrol negatif,
P1, P2, dan P3. Pemberian ekstrak alga cokelat (Sargassum sp.) dosis 150
mg/Kgbb, 300mg/Kgbb, dan 450 mg/Kgbb selama 14 hari dapat memberikan efek
preventif terhadap peningkatan derajat proteinuria dalam nefropati diabetik tikus
wistar yang diinduksi streptozotocin ditunjukkan dengan adanya perbedaan
signifikan skor derajat proteinuria tikus pada kelompok P1, P2, dan P3 terhadap
kelompok kontrol negatif. Efek tersebut didapatkan karena Alga cokelat
(Sargassum sp.) mengandung beberapa senyawa kimia yang bersifat antioksidan,
yakni: sargachromenol yang merupakan salah satu derivat chromene dari gugus
tokotrienol (vitamin E), vitamin C, dan phlorotannin yang merupakan golongan
tanin pada metabolisme sekunder senyawa fenolat. Ketiga senyawa ini bekerja
sebagai antioksidan pada mekanisme radical scavenger dengan mendonorkan
elektron atau atom hidrogen sehingga dapat menangkap dan menetralisir radikal
bebas AGEs. Penurunan jumlah radikal bebas AGEs diharapkan dapat seimbang
dengan enzim antioksidan alami tubuh sehingga tidak timbul stres oksidatif.
Akhirnya peningkatan derajat proteinuria dari induksi streptozotocin dapat
dicegah. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
terdapat pengaruh pemberian ekstrak alga cokelat (Sargassum sp.) terhadap
derajat proteinuria tikus wistar yang diinduksi streptozotocin sebagai prevensi
nefropati diabetik
- …
