1,721,044 research outputs found

    UJI EFEKTIVITAS CHLORHEXIDINE SEBAGAI INHIBITOR MMP-2 DAN MMP-9 DALAM PROSES DERMONEKROSIS AKIBAT RACUN KUMBANG TOMCAT (Paederus sp.)

    No full text
    Dermatitis paederus atau dermatitis linearis adalah dermonekrosis yang terjadi akibat adanya kontak dengan racun paederin yang berasal dari kumbang Tomcat (Paederus sp.). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Piel (2002), gen pada biosintesis racun paederin tidak berasal dari genom kumbang Tomcat (Paederus sp.) melainkan lebih mendekati genom bakteri Pseudomonas aeruginosa. Menurut Asoodeh dan Musaabadi (2012), Pseudomonas aeruginosa mampu mensekresikan enzim matriks metaloproteinase ekstraseluler. MMP-2 dan MMP-9 merupakan MMP yang mendegradasi komponen matriks ekstraseluler kulit seperti kolagen, gelatin dan elastin. Oleh sebab itu, enzim MMP-2 dan MMP-9 diduga memiliki peran dalam dermonekrosis akibat racun paederin. Berdasarkan hal tersebut, peneliti memiliki hipotesis bahwa pemberian terapi dengan kemampuan antibakteri dan inhibitor MMP dapat dijadikan dasar terapi dermatitis. Hipotesis ini didukung oleh penelitian Fakoorziba et al. (2011) bahwa pengobatan dermatitis paederus menggunakan kortikosteroid menyebabkan waktu penyembuhan menjadi lebih lama jika dibandingkan dengan penggunaan anti pruritus dan cleansing agent. Belum diketahui efektivitas chlorhexidine sebagai terapi dermatitis paederus sehingga penulis mengajukan penelitian uji efektivitas chlorhexidine sebagai inhibitor MMP-2 dan MMP-9 dalam proses dermonekrosis akibat racun kumbang Tomcat (Paederus sp.). Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimental nyata (true experimental design) dengan post test only control group design. Kelompok penelitian terdiri atas kontrol negatif (racun paederin 9,3 μg), perlakuan 1 (racun paederin 9,3 μg + chlorhexidine 0,012%), perlakuan 2 (racun paederin 9,3 μg + chlorhexidine 0,06%), perlakuan 3 (racun paederin 9,3 μg + chlorhexidine 0,3%), dan kelompok kontrol nomal (aquades). Sampel penelitian ini adalah sumuran gel acrylamide 8%. Jumlah sampel yang digunakan sebesar 25 sampel dengan masing-masing kelompok penelitian dilakukan pengulangan sebanyak lima kali. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode gelatin zimografi. Data yang diamati adalah optical density gel yang diukur menggunakan software imageJ. Analisis data yang digunakan adalah One Way ANOVA. Perbedaan tiap kelompok dinilai bermakna apabila p< 0,05. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat aktivitas MMP-2 dan MMP-9 yang ditunjukkan dengan munculnya band pada kelompok kontrol negatif. Band muncul karena MMP-2 dan MMP-9 memiliki kemampuan mendegradasi gelatin. MMP- 2 memiliki berat molekul sebesar 72 kDa dan MMP-9 memiliki berat molekul 92 kDa. Selain terbukti bahwa racun paederin mengandung MMP-2 dan MMP-9, dari penelitian ini juga diperoleh bahwa pada konsentrasi 0,012%; 0,06% dan 0,3%; chlorhexidine mampu menghambat aktivitas racun paederin dalam mendegradasi gelatin. Konsentrasi chlorhexidine yang digunakan ditentukan berdasarkan uji pendahuluan. Pada konsentrasi yang lebih tinggi, sediaan chlorhexidine mengalami penggumpalan ketika proses elektroforesis, sehingga konsentrasi yang bisa digunakan pada penelitian ini adalah 0,12%; 0,06%; dan 0,3%. Hasil analisis statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol negatif dan kelompok perlakuan (p< 0,05), akan tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan. Daya hambat tertinggi pada aktivitas MMP-2 ditunjukkan oleh chlorhexidine 0,06% sebesar 21,6% sedangkan daya hambat tertinggi aktivitas MMP-9 paling tinggi ditunjukkan oleh chlorhexidine 0,3% sebesar 16,4%

    UJI AKTIVITAS FRAKSI METANOL EKSTRAK METANOL BANGLE (Zingiber Cassumunar Roxb.) SEBAGAI TERAPI KOMPLEMENTER MALARIA SECARA IN VIVO

    No full text
    Malaria merupakan penyakit infeksi yang morbiditasnya masih tinggi di dunia, penyakit ini menjadi penyebab kematian ketiga pada kasus penyakit infeksi. Di Indonesia, malaria terdapat di seluruh wilayah dengan endemisitas tertinggi berada di Indonesia Timur. Meningkatnya resistensi Plasmodium berghei terhadap obat antimalaria membutuhkan alternatif obat dari tanaman alam yang mempunyai potensi sebagai antimalaria. Bangle banyak ditemukan di Indonesia dan terbukti memiliki efek antimalaria. Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui aktivitas fraksi metanol ekstrak metanol bangle sebagai terapi komplementer malaria. Penelitian ini merupakan penelitian true eksperimental laboratories secara in vivo dengan satu kelompok kontrol negatif, satu kelompok kontrol positif, dan lima kelompok eksperimental. Penelitian ini dilakukan di tiga tempat, yaitu di Laboratorium Farmakologi FK UNEJ, Laboratorium Farmasetika Fakultas Farmasi UNEJ dan Laboratorium Parasitologi FK UNEJ. Waktu yang dibutuhkan untuk penelitian ini adalah 1 bulan. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah mencit galur Balb/c dengan jumlah sampel 28 ekor. Sampel mencit diberikan perlakuan setelah diadaptasi selama tujuh hari. Perlakuan yang diberikan berupa stimulasi dengan fraksi metanol ekstrak metanol bangle pada kelompok perlakuan selama 14 hari secara per oral, kemudian dilanjutkan dengan induksi malaria dengan Plasmodium berghei pada semua kelompok penelitian. Setelah mencit terinfeksi diberikan terapi komplementer berupa ACT (dihydroartemisinin dan piperakuin) selama tiga hari dan ditambahkan primakuin pada hari pertama dengan dosis yang sama bersama dengan fraksi metanol ekstrak metanol bangle dengan konsentrasi uji 0,005625 mg/grBB, 0,01125 mg/grBB, 0,0225 mg/gr BB, 0,045 mg/grBB, dan 0,09 mg/grBB pada kelompok perlakuan, sedangkan kontrol positif hanya diberikan terapi ACT dan kontrol negatif tanpa diberikan terapi. Indikator aktivitas antimalaria ditunjukkan dengan perbedaan persen penghambatan yang didapat dari pengukuran derajat parasitemia selama tiga hari. Hasil menunjukkan bahwa persen penghambatan parasit dengan nilai teringgi dimiliki oleh kombinasi ACT dan fraksi metanol ekstrak metanol bangle dengan dosis 0,09 mg/grBB dengan persen penghambatan sebesar 71,75 kemudian menurun diikuti oleh kelompok kombinasi ACT dan fraksi metanol ekstrak metanol bangle dosis 0,045mg/grBB, 0,0225 mg/gr BB, 0,01125 mg/gr BB, dan 0,005625 mg/gr BB dengan persen penghambatan 56,80%, 55,80%, 46,29%, 36,25%. Pada kelompok kontrol positif memiliki persen penghambatan parasitemia terendah (24,73%) dibandingkan lima kelompok perlakuan, sedangkan pada kelompok kontrol negatif persen penghambatannya adalah nol. Data di uji normalitas dengan Saphiro Wilk menunjukkan data terdistribusi normal (p>0,05), dilanjutkan dengan uji korelasi Pearson dengan niai sig 0,000 yang menunjukkan korelasi bermakna (p<0,01). Nilai korelasi Pearson sebesar 0.911 menunjukkan korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang sangat kuat. Dari analisis probit didapatkan nilai Inhibitory Concentration of 50% (IC50) sebesar 0,017 mg/grBB. Penelitian in vivo membuktikan bahwa fraksi metanol ekstrak metanol bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) memiliki aktivitas sebagai terapi komplementer bersama ACT dengan dengan nilai IC50 0,017 mg/grBB yang mampu menghambat pertumbuhan P. berghei sebesar 50

    Peran Protein Pili 11 kDa Bakteri Streptococcus pneumoniae sebagai Protein Adhesin

    Full text link
    Streptococcus pneumoniae (S. pneumoniae) termasuk ke dalam genus Streptococcus famili Streptococceae. Karakteristik yang dimiliki S. pneumoniae antara lain: diplococcus, berkapsul, dan fakultatif anaerob. Bakteri S. pneumoniae memiliki pili yang berfungsi sebagai promotor adhesi dan kolonisasi sel epitel nasofaring, serta inhibitor fagositosis sel imun. Kapsul polisakarida pada bakteri ini dapat menghindari mukus nasal dan neutrofil. Hal ini menyebabkan bakteri memiliki ikatan spesifik sehingga mudah melekat dan memperkuatnya pada mukosa saluran napas, sehingga mudah inisiasi faktor virulensi. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui peran protein pili 11 kDa bakteri S. pneumoniae sebagai protein adhesin dan untuk mengetahui adanya hubungan antara titer protein pili 11 kDa bakteri S. pneumoniae dengan indeks adhesi. Metode penelitian ini yaitu penelitian experimental laboratories dengan true experimental. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan penelitian sekitar tiga bulan, pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2019. Variabel independen dalam penelitian ini adalah titer protein pili 11 kDa bakteri S. Pneumoniae, dengan volume protein pili yaitu 0 µl, 50 µl, 25 µl, 12,5 µl, 6,25 µl, 3,125 µl. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah indeks adhesi protein pili bakteri S. pneumoniae. Hasil dari uji adhesi menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara titer protein pili dengan indeks adhesi yakni semakin rendah pengenceran maka semakin tinggi indeks adhesinya. Uji normalitas Saphiro-Wilk menunjukkan hasil signifikansi variabel dependent p=0,370 (p>0,05) yang berarti data terdistribusi normal. Uji korelasi dilakukan dalam penelitian ini ialah uji korelasi Pearson. Hasil dari uji korelasi didapatkan P value 0,010 (p<0,05) yang berarti terdapat hubungan signifikan antara titer protein pili dengan indeks adhesi. Koefisien korelasi yang didapatkan ialah R= -0,919 (p<0,05), memiliki arti bahwa titer protein pili dan indeks adhesi memiliki kekuatan hubungan yang kuat dengan hubungan bersifat berlawanan. Hasil uji regresi Qudratic didapatkan nilai koefisien determinasi R2=0,974, sebesar 97,4% titer protein pili dapat mempengaruhi indeks adhesi. Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan hasil penelitian ialah protein pili 11 kDa S. pneumoniae berperan sebagai protein adhesin. Titer maksimal dengan jumlah bakteri paling minimal dari analisis data statistik didapatkan 1/9,4. Saran dari peneliti ialah penelitian ini selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh peneliti sebagai dasar penelitian lebih lanjut untuk pengembangan sifat imunogenisitas protein pada infeksi bakteri S. pneumoniae

    Peran Outer Membrane Protein (Omp) 32 Kda Klebsiella Pneumoniae Sebagai Protein Hemaglutinin Dan Adhesin

    No full text
    Klebsiella pneumoniae merupakan bakteri yang termasuk ke dalam famili Enterobactericeae yang sering menjadi penyebab terjadinya infeksi pada tubuh manusia. Saat ini K. pneumoniae memiliki kemampuan untuk resisten terhadap beberapa antibiotik yang diketahui memiliki keterkaitan dengan modifikasi dari salah satu faktor virulensi yang dimiliki oleh K. pneumoniae. Salah satu komponen dinding luar bakteri Gram-negatif yang diperkirakan terlibat pada berkembangnya imunitas adalah Outer Membrane Protein (OMP). Penelitian yang menjelaskan mengenai peran OMP 32 kDa sebagai protein hemaglutinin dan adhesin belum diteliti. Jenis penelitian yang dilakukan ialah penelitian deskriptif analitik. Sampel yang digunakan berupa Outer Membrane Protein (OMP) yang didapatkan dari bakteri K. pneumonia. Variabel bebas pada penelitian ini adalah berat molekul OMP 32 kDa K. pneumoniae, sedangkan variabel terikatnya ialah adanya aglutinasi darah mencit dan indeks adhesi. Untuk menemukan dan membuktikan adanya protein hemaglutinin pada OMP 32 kDa bakteri K. pneumoniae sebagai protein hemaglutinin dan adhesin, maka dilakukan analisis deskriptif dan uji korelasi-regresi. Hasil uji hemaglutinasi menunjukkan bahwa semakin tinggi pengenceran maka semakin kecil titer hemaglutinasi. Berdasarkan hasil perhitungan indeks perlekatan bakteri K. pneumoniae pada sel enterosit mencit, menunjukkan bahwa semakin rendah konsentrasi OMP, maka semakin tinggi tingkat perlekatan K. pneumoniae yang menempel pada sel enterosit. Kesimpulan penelitian ini adalah Outer Membrane Protein (OMP) 32 kDa K. pneumoniae dapat berperan sebagai protein hemaglutinin dan adhesin

    PEMANFAATAN ALPHA LIPOIC ACID SEBAGAI INHIBITOR DEGENERASI PROTEIN TAU DALAM UPAYA PREVENSI CHRONIC TRAUMATIC ENSEFALOPATHY

    No full text
    Chronic traumatic ensefalopathy (CTE) adalah sindrom neurodegeneratif progresif disebabkan oleh cedera berulang benda tumpul yang mengenai kepala. Berdasarkan studi epidemiologi dari 51 kasus neuropatologi sebanyak 46 kasus positif CTE yaitu 39 petinju, 5 pemain rugbi, 1 pegulat, dan 1 pemain sepak bola. Tau adalah protein yang dapat membantu menstabilkan dan mendukung struktur tertentu dalam sel-sel otak, termasuk sel-sel dari sistem transportasi interna pada otak. Cedera kepala berulang dapat menyebabkan degenerasi protein tau. Degenerasi tersebut melalui dua jalur yaitu: (1) krisis energi seluler mengakibatkan peningkatan kebutuhan glukosa pada otak namun pasokan glukosa otak tidak mencukupi; (2) imunotoksisitas mengaktifkan sinyal-sinyal pro-inflamasi yang menyebabkan neurotoksisitas menyerang neuron. Alpha lipoic acid (ALA) adalah salah satu senyawa antioksidan yang mampu mengikat radikal bebas dan meregenerasi antioksidan vitamin C, vitamin E, dan koenzim Q 10. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental murni (true experimental design) secara in vivo dengan rancangan post test only randomized control group design. Sampel penelitian ini ialah tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus). Jumlah sampel penelitian sebanyak 28 ekor yang dibagi menjadi tujuh kelompok. Kelompok pertama merupakan kelompok normal tanpa perlakuan, kelompok kedua merupakan kontrol negatif diberi perlakuan cedera kepala berulang dan NaCl 1,5 ml, kelompok ketiga merupakan kontrol positif diberi perlakuan cedera kepala berulang dan terapi standar citicoline 6,75 mg, dan kelompok A sampai D diberikan perlakuan cedera kepala berulang dan alpha lipoic acid dengan dosis berturut-turut 1,0125 mg, 2,025 mg, 4,05 mg, dan 8,1 mg

    EFEK FRAKSI METANOL BANGLE (Zingiber cassumunar Roxb.) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI OTAK MENCIT YANG DIINFEKSI Plasmodium berghei

    No full text
    Penelitian ini menggunakan true experimental design secara in vivo dengan rancangan post test only control group design yang menggunakan hewan coba sebagai subyek penelitian. Penelitian ini terdiri atas satu kelompok kontrol normal, satu kelompok kontrol negatif, satu kelompok kontrol positif dan dua kelompok perlakuan. Sampel mencit galur Balb/c yang berjumlah 25 ekor diberikan perlakuan setelah diadaptasi selama tujuh hari. Perlakuan yang diberikan berupa stimulasi dengan fraksi metanol Bangle pada kelompok perlakuan 1 dan 2 selama 14 hari per oral, kemudian dilanjutkan dengan induksi malaria dengan Plasmodium berghei pada semua kelompok penelitian kecuali kelompok normal. Setelah mencit terinfeksi dan memiliki skor rapid murine coma behavior scale kurang dari 13, kelompok perlakuan 1 diberikan terapi komplementer berupa ACT selama 48 jam dengan dosis 0,0364 mg/gBB/hari bersama dengan fraksi metanol Bangle dengan dosis 0,017 mg/gBB/hari. Kelompok perlakuan 2 diberikan fraksi metanol Bangle saja dengan dosis sama. Kelompok kontrol positif hanya diberikan Artemisinin saja dengan dosis yang sama dan kelompok kontrol negatif diinfeksi dan tidak diberikan perlakuan apapun. Pengaruh pemberian fraksi metanol Bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) terhadap pencegahan perdarahan intraserebral didapat melalui pemeriksaan jumlah dan luas perdarahan intraserebral pada preparat jaringan otak mencit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok normal tidak ditemukan adanya perdarahan intraserebral pada mencit. Pada kelompok K(-), ditemukan rata-rata 2,52 (±1,2) titik perdarahan intraserebral sedangkan pada pemeriksaan luas perdarahan menunjukkan 392.276,2 (±206,8) pixels/mm. Kelompok K(+), ditemukan rata-rata 1,06 (±0,8) titik perdarahan intraserebral dengan luas 33.608,6 (±46,2) pixels/mm. Kelompok (P1) terdapat rata-rata 0,6 (±0,5) titik perdarahan dengan luas 53.771,4 (±53,0) pixels/mm. dan kelompok (P2) terdapat 0,72 (±0,5) titik perdarahan dengan luas 16.908,6 (±23,2) pixels/mm. Data jumlah perdarahan intraserebral diuji dengan uji non parametrik Kruskal Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan secara signifikan antar kelompoknya (p=0,083). Data luas perdarahan intraserebral dengan uji non parametrik Kruskal Wallis dan menunjukkan tidak terdapat perbedaan secara signifikan antar kelompoknya (p=0,089). Kelompok yang diberikan perlakuan berupa penyondean Artemisinin dan fraksi metanol Bangle baik kelompok (P2), kelompok K(-) dan kelompok K(+) atau kombinasi (P1) tidak memiliki perbedaan yang bermakna secara analisis statistik. Namun secara deskriptif, kelompok (P1) memiliki rata-rata titik jumlah perdarahan yang lebih sedikit dibandingkan dua kelompok lain. Tidak adanya perbedaan yang bermakna secara statistik dapat disebabkan oleh rendahnya bioavailabilitas fraksi metanol Bangle dan bervariasinya respon imun dan inflamasi tiap mencit coba yang ada. Penelitian in vivo ini membuktikan bahwa fraksi metanol Bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) tidak dapat mencegah terjadinya perdarahan intraserebral

    Gambaran Jumlah Eosinofil Pada Pekerja Perkebunan Gunung Pasang Dan Kaliputih Yang Terinfestasi Soil-Transmitted Helminthes

    No full text
    Salah satu penyakit tropis yang umum dijumpai pada daerah dengan angka kemiskinan yang tinggi adalah infeksi parasit, terutama infestasi Soil-Transmitted Helminthess. Soil-transmitted helminthess adalah kelompok cacing yang membutuhkan tanah sebagai media pematangan telur dan larvanya. Lebih dari 1,5 milyar orang di seluruh dunia mengalami infestasi STH. Infestasi STH umumnya ditemui pada daerah tropis dengan tanah yang gembur dan curah hujan yang baik. Kabupaten Jember sendiri merupakan salah satu kabupaten di daerah Jawa Timur dengan lahan perkebunan yang mendominasi luas wilayahnya. Penelitian oleh Subagyo (2008) dan Nisa (2010) pada beberapa sekolah dasar di Jember menunjukan bahwa prevalensi kecacingan di Kabupaten Jember ternyata ditemui masih tinggi (>25%). Infestasi STH akan menimbulkan beberapa reaksi pada tubuh manusia, salah satu reaksi imun yang akan muncul adalah eosinofilia. Hal ini dapat terjadi karena eosinofil adalah leukosit utama yang berperan dalam membunuh parasit multiselular yang tak bisa di fagosit terutama cacing. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian deskriptif untuk memberi gambaran jumlah eosinofil pada pekerja perkebunan yang terinfestasi soiltransmitted helminthes. Subyek penelitian berjumlah 60 orang yang terdiri dari pekerja dua perkebunan. 24 sampel berasal dari pekerja Perkebunan Gunung Pasang di Kecamatan Panti. 36 sampel lainnya berasal dari pekerja Perkebunan Kaliputih di Kecamatan Ledokombo. Pemilihan subyek penelitian menggunakan metode total sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang harus dipenuhi. Tiap responden memberikan sampel fesesnya untuk diperiksa apakah terdapat infestasi STH atau tidak. Pemeriksaan feses dilakukan di Laboratorium Parasitologi FK UNEJ menggunakan 3 metode yaitu metode Kato-katz, floatasi dan sedimentasi. Setiap responden yang terkonfirmasi mengalami infestasi STH selanjutnya diambil sampel darah tepi sebanyak 3ml untuk dilakukan pemeriksaan jumlah eosinofil di Laboratorium Patologi Klinik FK Unej dengan metode differential count. Hasil pemeriksaan feses ditemukan 14 sampel yang terinfestasi STH. Dari 14 sampel itu, 9 sampel terinfestasi oleh Ascaris lumbricoides sedangkan 5 sampel lainnya terinfestasi Hookworm. Prevalensi infestasi STH dari 24 pekerja Perkebunan Gunung Pasang yang diperiksa adalah sebesar 20,83% (5 orang) sedangkan prevalensi infestasi STH dari 36 pekerja Perkebunan Kaliputih yang terinfestasi adalah sebesar 25% (9 orang). 14 responden yang terinfestasi oleh STH selanjutnya diambil sampel darahnya dan diperiksa untuk menentukan jumlah eosinofilia. Dari 14 orang yang terinfestasi, 12 orang mengalami eosinofilia sedangkan 2 orang lainnya memiliki rasio eosinofilia yang normal (2-4%). Ratarata eosinofilia tertinggi didapatkan pada kelompok sampel yang terinfestasi oleh Hookworm yaitu sebesar 9,4% sedangkan kelompok yang terinfestasi A.lumbricoides memeliki rata-rata rasio eosinofilia sebesar 6,67%. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah prevalensi infestasi STH baik di Perkebunan Kaliputih maupun di Perkebunan Gunung Pasang, tergolong prevalensi sedang (20-50%) menurut Permenkes RI nomor 15 tahun 2017. Selain itu, mayoritas pekerja yang terinfestasi STH ditemukan mengalami eosinofilia. Tingkat eosinofilia pada infestasi Ascaris lumbricoides lebih tinggi dari pada tingkat eosinofilia pada infestasi Hookworm

    Perbedaan Kadar Kalium pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Stadium 5 yang Menggunakan Hemodialyzer Baru dan Re-Use di RSD dr. Soebandi Jember

    No full text
    Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan penyakit yang sering dijumpai di seluruh dunia. Prevalensi PGK di dunia sebesar 13,4% dan di Indonesia sebesar 0,2% atau mencapai 499.800 orang pada bulan Mei-Juni 2013. Hemodialisis merupakan terapi yang paling banyak dilakukan untuk pasien PGK stadium 5, namun pembiayaan hemodialisis sangat mahal. BPJS tahun 2015 mengeluarkan dana untuk pembiayaan hemodialisis sebesar 2,68 triliyun rupiah. Salah satu upaya untuk mengurangi biaya hemodialisis yang mahal adalah menggunakan reuse hemodialyzer. Re-use hemodialyzer adalah pemakaian ulang hemodialyzer lebih dari satu kali pada pasien yang sama. Berdasarkan data di RSD dr. Soebandi Jember, re-use hemodialyzer digunakan kembali sebanyak 4 kali. Tujuan digunakan re-use hemodialyzer adalah untuk meringankan biaya dan mengurangi sampah medis. Re-use hemodialyzer sangat menguntungkan karena dapat mengurangi sampah medis di rumah sakit yang dapat meningkat 5- 30 kali dengan mengggunakan single use hemodialyzer. Namun, re-use hemodialyzer juga dapat menurunkan fungsi integritas membran dari hemodialyzer yang sering digunakan sehingga terjadi penurunan pengeluaran molekul-molekul hingga 4-11%. Molekul yang dapat dikeluarkan salah satunya adalah kalium. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental semu (quasi experimental design) dengan rancangan time series design. Penelitian dilaksanan di Instalasi Hemodialisa pada 11-28 Desember 2018. Sampel berjumlah 19 pasien yang diambil berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Peneliti menggunakan data primer yaitu pengukuran kadar kalium dari sampel darah pasien. Sampel darah pasien diambil sebanyak 3 ml saat 5 menit sebelum proses hemodialisis selesai melalui jalur arteri hemodialysis blood line set untuk dilakukan pengukuran kadar kalium di Laboratorium Patologi Klinik ELISA RSD dr. Soebandi Jember. Peneliti juga menggunakan data sekunder yang didapatkan dari rekam medik pasien. Hasil uji statitik paired t-test dari sampel penelitian ini didapatkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kadar kalium pasien PGK stadium 5 setelah hemodialisis menggunakan hemodialyzer baru dan hemodialyzer re-use ke-4 (p=0,094). Hal ini disebabkan efisiensi kinerja hemodialyzer masih baik dan proses re-use sesuai dengan standar sampai penggunaan ulang ke-4

    UJI AKTIVITAS FRAKSI N-HEKSANA EKSTRAK METANOL BANGLE (Zingiber cassumunar Roxb.) SEBAGAI TERAPI KOMPLEMENTER MALARIA SECARA IN VIVO

    No full text
    Malaria saat ini masih menjadi penyakit endemis di beberapa daerah di Indonesia dan banyak menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, balita dan ibu hamil serta pada penduduk pendatang baru di daerah endemis malaria yang belum memiliki imunitas terhadap malaria. Artemisinin-Based Combination Therapy (ACT) masih menjadi terapi utama untuk malaria namun telah dilaporkan adanya resistensi sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mencari terapi baru maupun terapi komplementer untuk malaria. Peranan imunitas tubuh dalam menghadapi malaria cukup penting sehingga terapi komplementer yang bekerja sebagai imunostimulan dapat dijadikan pilihan. Pertahanan tubuh terhadap malaria melibatkan hampir seluruh komponen sistem imun spesifik dan non-spesifik dengan tujuan menghambat siklus aseksual Plasmodium sp. dan mengurangi keparahan malaria. Pada penelitian sebelumnya secara in vivo telah dibuktikan bahwa stimulasi ekstrak bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) dengan dosis 0,904 mg/gr BB dapat meningkatkan sistem imun non-spesifik dan dapat menurunkan derajat parasitemia pada mencit yang diinfeksi Plasmodium berghei serta mendapatkan terapi standar ACT. Penelitian tersebut menggunakan ekstrak kasar, sehingga dalam penelitian ini akan dipergunakan metode fraksinasi untuk menghasilkan fraksi n-heksana dari ekstrak metanol bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) untuk memperoleh senyawa non-polar yang lebih murni sebagai terapi komplementer malaria bersama terapi standar ACT. Jenis penelitian yang dilakukan adalah true experimental design dengan rancangan Posttest-only Control Group Design menggunakan sampel 28 ekor mencit yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan, 1 kelompok kontrol positif dan 1 kelompok kontrol negatif. Dilakukan stimulasi fraksi n-heksana ekstrak metanol bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) pada kelima kelompok perlakuan dengan dosis 0,005625 mg/gr BB, 0,01125 mg/gr BB, 0,0225 mg/gr BB, 0,045mg/grBB, dan 0,09 mg/grBB selama 14 hari sebelum diinduksi Plasmodium berghei. Setelah positif malaria kelompok kontrol positif diberi terapi ACT, kontrol negatif tidak diberi terapi, dan kelima kelompok perlakuan diterapi ACT bersama fraksi bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) sesuai dosis stimulasi pada masing-masing kelompok selama tiga hari. Dilakukan pemeriksaan derajat parasitemia kepada seluruh hewan coba setiap hari mulai dari hari sebelum pemberian terapi (H0) sampai hari ketiga pemberian terapi (H3) kemudian dihitung persentase penghambatan pertumbuhan Plasmodium berghei pada masing-masing kelompok. Data persentase penghambatan dianalisis dengan uji normalitas Saphiro-Wilk dilanjutkan dengan uji korelasi Pearson dan analisis probit. Pada penelitian ini didapatkan persentase penghambatan pada kelompok kontrol positif sebesar 24,74% ±0,86; kelompok perlakuan dosis 0,005625 mg/grBB sebesar 30,37% ±2,88; kelompok perlakuan dosis 0,01125 mg/grBB sebesar 55,02% ±5,68; kelompok perlakuan dosis 0,0225 mg/grBB sebesar 59,63% ±2,53; kelompok perlakuan dosis 0,045 mr/grBB sebesar 74,95% ±3,18; dan kelompok perlakuan dosis 0,09 mg/grBB sebesar 85,72% ±1,58. Kelompok perlakuan yang diberi stimulasi dan terapi fraksi bersama terapi standar ACT memiliki persentase penghambatan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol positif tanpa stimulasi dan hanya diberi terapi standar ACT. Dari uji normalitas Saphiro-Wilk didapatkan nilai signifikansi >0,05 yang menunjukkan data terdistribusi normal, dilanjutkan dengan uji korelasi Pearson yang menghasilkan nilai signifikansi 0,000 dan nilai korelasi 0,880 menunjukkan bahwa korelasi antara dosis fraksi dan persentase penghambatan pertumbuhan parasit adalah bermakna dan sangat kuat. Dari analisis probit didapatkan nilai IC50 fraksi sebagai terapi komplementer sebesar 0,013 mg/grBB. Berdasarkan penelitian ini fraksi n-heksana ekstrak metanol bangle (Zingiber cassumunar Roxb.) terbukti memiliki aktivitas sebagai terapi komplementer malaria dengan konsentrasi penghambatan setengah maksimal (IC50) sebesar 0,013 mg/grBB

    AKTIVITAS LARVASIDA MINYAK ESENSIAL DAUN WORTEL (Daucus carota) TERHADAP LARVA Aedes aegypti INSTAR III/IV

    No full text
    Nyamuk Aedes sp. merupakan vektor beberapa penyakit yang menyerang manusia. Nyamuk Aedes aegypti adalah vektor penyakit demam dengue, yellow fever, penyakit cikungunya, dan penyakit Zika, sedangkan nyamuk Aedes albopictus adalah vektor penyakit cikungunya, demam dengue, dan West Nile virus. Tindakan pengendalian pada nyamuk ditujukan kepada nyamuk dewasa atau larva. Pengendalian nyamuk dilakukan dengan pemberantasan sarang nyamuk atau insektisida. Insektisida yang umum digunakan adalah temephos (abate). Temephos dianggap efektif, praktis, manjur dan dari segi ekonomi lebih menguntungkan. Namun demikian penggunaan temephos secara terus-menerus meninggalkan residu bagi lingkungan, sehingga diperlukan biolarvasida yang lebih ramah lingkungan seperti minyak esensial yang didapatkan dari isolasi berbagai tumbuhan. Salah satu tumbuhan yang dapat digunakan adalah daun wortel (Daucus carota). Minyak esensial daun wortel diharapkan dapat menjadi salah satu larvasida alami dalam melawan perkembangan larva nyamuk Ae. aegypti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah minyak esensial daun wortel memiliki aktivitas larvasida terhadap larva Aedes aegypti instar III/IV dan mengetahui lethal concentration 50 (LC50) minyak esensial daun wortel terhadap larva Aedes aegypti instar III/IV dalam 24 jam. Jenis penelitian ini adalah penelitian true experimental laboratories yang dilakukan secara in-vitro dengan Post Test Only with Control Group Design. Sampel dibagi menjadi sebelas kelompok yang didapatkan secara random. Kelompok positif diberikan 1 ppm temephos, kelompok negatif diberikan aquades, serta kelompok perlakuan dengan pemberian minyak esensial 12,5 ppm, 15 ppm, 20 ppm, 25 ppm, 30 ppm, 35 ppm, 40 ppm, 45 ppm, dan 50 ppm. Jumlah sampel tiap kelompok adalah 25 ekor dengan replikasi sebanyak 4 kali. Setelah 24 jam perlakuan, dilakukan observasi jumlah kematian larva Aedes aegypti. Berdasarkan hasil analisis data, terdapat perbedaan yang bermakna jumlah kematian larva pada dua kelompok penelitian dengan korelasi positif dan kekuatan korelasi yang sangat kuat (p=0.954). Hal ini menunjukkan bahwa minyak esensial daun wortel memiliki aktivitas larvasida terhadap larva Aedes aegypti instar III/IV. Nilai rata-rata LC50 minyak esensial daun wortel terhadap larva Aedes aegypti instar III/IV adalah sebesar 26,389 ppm dengan kisaran 22,123 – 29,551 ppm
    corecore