1,720,980 research outputs found
PENGARUH KOMBINASI SISTEM TANAM DAN DOSIS PUPUK NPK TERHADAP KEBERADAAN PENYAKIT UTAMA DAN PRODUKSI PADI (Oryza sativa L.)
Sistem tanam berpengaruh sangat nyata terhadap seluruh variabel pengamatankecuali insidensi penyakit dan tinggi tanaman, dengan perlakuan terbaik yaitusistem tanam jajar legowo.
Dosis pupuk berpengaruh sangat nyata pada tinggi tanaman dan keparahanpenyakit blas dengan perlakuan terbaik 200-250 kg/ha.
Terdapat interaksi antara sistem tanam dan dosis pupuk NPK terhadap jumlahanakan produktif dengan kombinasi perlakuan terbaik yaitu S1P1 (jajarlegowo+200 kg/ha)
Efektivitas Moluskisida Berbahan Aktif Niklosamida Terhadap Hama Keong Mas (Pomacea canaliculata L.) pada Tanaman Padi
Bahwa perlakuan moluskisida berbahan
aktif niklosamida mampu mengendalikan hama keong mas secara baik. Perlakuan
yang efektif dan efisien yaitu perlakuan aplikasi dengan konsentrasi 3ml/l.
Pengaplikasian moluskisida berbahan aktif niklosamida juga berdampak terhadap
intensitas kerusakan tanaman padi. Perlakuan moluskisida niklosamida secara
keseluruhan mampu mengurangi potensi penghasilan telur pada hama keong mas
Pengaruh Sistem Tanam Konvensional Dan Ratun Terhadap Keberadaan Hama Utama, Pertumbuhan Dan Produksi PADI (Oryza Sativa L.)
Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman yang hasil
produksinya oleh sebagian besar penduduk di dunia dimanfaatkan menjadi bahan
pokok pangan terutama oleh penduduk di Indonesia
PERUBAHAN TINGKAT DOMINANSI GULMA UTAMA TANAMAN PADI (Oryza sativa L. ) PADA TEKNIK SALIBU
Padi merupakan komoditas utama bahan makanan penduduk Indonesia.
Peningkatan jumlah penduduk serta naiknya tingkat konsumsi domestik yang
tinggi menjadikan kebutuhan beras nasional meningkat. Padi menjadi salah satu
komoditas yang menjadi pioritas utama target swasembada pangan nasional yang
telah dicanangkan oleh Pemerintahan Kabinet Kerja. Berbagai inovasi diupayakan
untuk meningkatkan produksi padi salah satunya oleh Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dengan menggunakan teknik salibu.
Padi salibu merupakan tanaman padi yang tumbuh kembali dari batang
sisa panen yang dipangkas. Tunas akan muncul pada buku paling atas, suplai hara
tetap dari batang lama. Budidaya padi teknik salibu dalam pelaksanaannya
komponen pengolahan tanah, pesemaian dan tanam dilakukan pada tanaman
utama. Gulma menjadi salah satu kendala utama dalam memperoleh hasil yang
tinggi dalam budidaya padi sawah. Komunitas gulma yang berubah-ubah,
sehingga jenis-jenis gulma di lahan perlu diketahui. Data gulma diketahui dengan
menggunakan analisis vegetasi metode kuadrat dan diolah untuk mendapatkan
nilai SDR, koefisien komunitas dan dampaknya pada hasil produksi
PENGARUH BIOKAOLIN DAN EKSTRAK TEMBAKAU TERHADAP HAMA Helopeltis antonii Sign. PADA BUAH KAKAO (Theobroma cacao L.)
Hasil penelitian menunjukkan aplikasi ekstrak tembakau dan biokaolin dapat mematikan H. antonii. Keduanya dapat dijadikan alternatif pengendalian. Mortalitas H. antonii pada 9 dan 12 hari setelah aplikasi terus mengalami peningkatan pada semua perlakuan, kecuali kontrol di setiap pengamatan. Pada akhir pengamatan mortalitas, perlakuan IS dan ekstrak tembakau dengan berbagai konsentrasi mencapai 100 persen, sedangkan perlakuan biokaolin di bawah 90 persen. H. antonii yang terinfeksi B. bassiana mengalami kematian rata-rata pada hari ke- 3-5 setelah aplikasi. Ciri-ciri H. antonii yang terinfeksi B. bassiana yaitu
adanya hifa berwarna putih menyelimuti tubuh serangga yang terjadi rata-rata pada 6 hari setelah aplikasi. Pengamatan jumlah tusukan dilakukan untuk melihat tingkat kerusakan yang diakibatkan oleh H. antonii pada buah kakao. Perlakuan ekstrak tembakau 15% berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Perlakuan ekstrak tembakau 10% tidak berbeda nyata dengan perlakuan ekstrak tembakau 5%. Perlakuan biokaolin dengan berbagai dosis tidak berbeda nyata
Efektivitas Pemberian Herbisida Hasil Fermentasi Limbah Cair Pulp Kakao Terhadap Tingkat Keracunan Gulma Teki (Cyperus rotundus L.)
Gulma teki (Cyperus rotundus L.) mempunyai sifat parasitisme seperti
golongan gulma lainnya sehingga menyebabkan penurunan produksi yang cukup
signifikan, gulma teki dapat menurunkan produksi dari berbagai tanaman,
seperti jagung 41%, bawang 89%, okra 62%, wortel 50%, kacang hijau 41%,
ketimun 48%, kubis 35%, tomat 38%, padi 38% dan kapas 34%. Salah satu
pengendalian gulma teki yaitu dengan memanfaatkan limbah hasil fermentasi pulp
kakao. Cairan fermentasi pulp kakao merupakan salah satu hasil sampingan dari
pengelolaan kakao, yang masih belum dimanfaatkan secara optimal. Hasil dari
fermentasi pulp kakao salah satunya yaitu asam asetat yang dapat mengendalikan
gulma. Mekanisme kerja dari asam asetat adalah mirip dengan paraquat dimana
asam asetat menyebabkan kerusakan membran sel yang mengakibatkan
pengeringan jaringan daun dan kematian tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui efektifitas herbisida dan mengetahui konsentrasi yang paling efektif
setelah aplikasi hasil fermentasi limbah cair pulp kakao
Tahapan dari penelitian ini adalah persiapan fermentasi pulp kakao, isolasi
mikroba, persiapan bahan tanam, penyemaian, pemindahan rumput teki, uji pH
serta asam asetat, aplikasi hasil fermentasi pulp kakao dan pengamatan. Parameter
pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu berat basah umbi teki,
fitotoksisitas, biomassa, pertumbuhan kembali (re-growth) dan populasi akhir.
Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK)
nonfaktorial sebanyak 6 perlakuan dan masing-masing perlakuan mendapatkan 4
ulangan. Data dianalisis dengan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji
DMRT taraf 5%.
Berdasarkan hasil semua parameter yang telah diuji, konsentrasi 30%
mampu menekan pertumbuhan gulma teki dilihat dari parameter pertumbuhan
kembali dan biomassa. Konsentrasi tersebut efektif diaplikasikan untuk
mengendalikan gulma teki, karena perlakuan tersebut tidak berbeda nyata dengan
perlakuan yang terbaik. Konsentrasi tersebut mampu menekan pertumbuhan
gulma teki karena mampu merusak jaringan daun teki yang diawali dengan
perubahan warna daun dari hijau menjadi kecoklatan selanjutnya mengering dan
mengalamai kematian
PENGENDALIAN PENYAKIT KARAT DAUN (Puccinia Arachidis Speg.) PADA KACANG TANAH (Arachis Hypogaea L.) DENGAN EKSTRAK MIMBA (Azadirachta Indica A. Juss)
Penyakit karat daun yang disebabkan oleh P. arachidis Speg.
merupakan penyakit penting pada kacang tanah. Penggunaan ekstrak
mimba diduga dapat menekan penyakit karat daun kacang tanah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun mimba
serta konsentrasi yang paling baik menekan penyakit karat daun kacang
tanah pada varietas Macan yang merupakan varietas rentan terhadap
penyakit karat daun. Hasil • penelitian di laboratorium dan rumah kaca
menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak daun mimba 100%, 80%, 60%,
dan 40% dapat menghambat masa inkubasi, jumlah pustul per daun
(untuk laboratorium pada saat timbul gejala pertama), intensitas penyakit,
dan laju infeksi penyakit karat daun, perlakuan konsentrasi 20%
pengaruhnya sama dengan kontrol
PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN AGEN PENGENDALI HAYATI Trichoderma harzianum UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT BERCAK DAUN TEMBAKAU RAJANG DI LAPANG
Salah satu penyakit penting pada tanaman tembakau adalah penyakit bercak daun, karena penyakit tersebut dapat menurunkan kualitas dari daun tembakau. Penyakit bercak daun yang menyerang tanaman tembakau disebabkan oleh jamur Cercosporanicotianae, Alternaria alternata, dan Phytoptora nicotianae. Upaya pengendalian hayati yang banyak dilakukan dan hasilnya terbukti dalam mengendalikan patogen penyebab penyakit adalah jamur antagonis Trichoderma harzzianum. Jamur Trichoderma sppmerupakan jamur antagonis yang paling sering dijumpai di dalam tanah, terutama dalam tanah organik, dan sering digunakan di dalam pengendalian hayati baik terhadap patogen tular tanah atau rizosfer dan juga patogen filosfer.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui frekuensi aplikasiagen pengendalai hayatiT. harzianumyang paling efektif dalam mengatasi penyakit bercak daun pada tanaman tembakau. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan pertama adalah kontrol, perlakuan kedua adalah aplikasi T.harzianum 1 kali, perlakuan 3 adalah aplikasi T.harzianum 2 kali, perlakuan 4 adalah aplikasi T.harzianum 3 kali, perlakuan 5 adalah aplikasi T.harzianum 4 kali, perlakuan 6 adalah aplikasi T.harzianum 5 kali, dan perlakuan 7 adalah aplikasi fungisida berbahan aktif mankozeb 4 kali. Parameter dalam penelitian ini adalah identifikasi penyebab penyakit, pengamatan tingkat keparahan penyakit dan tinngi tanaman
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab penyakit bercak pada daun tembakau disebabkan oleh patogen Cercospora nicotianae, hal tersebut dibuktikan dari hasil identifikasi di lapang dan di laboratorium. Upaya pengendalian hayati dalam mengendalikan penyakit tersebut yaitu dengan menggunakan jamur antagonis Trichoderma harzianum. Aplikasi jamur antagonis Trichoderma harzianumberpengaruh nyata dalam menekan pertumbuhan patogen Cercosporanicotianae. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada frekuensi pemberian agen hayati Trichoderma harzianumsebanyak 4x merupakan perlakuan terbaik diantara perlakuan yang lain, tingkat keparahan penyakitnya terendah, hal tersebut membuktikan bahwa agen hayati Trichoderma harzianummampu menekan patogen penyebab penyakit bercak daun
UJI VIRULENSI SIMBION NEMATODA ENTOMOPATOGEN : Xenorhabdus nematophilus DAN photorhabdus luminenscens TERHADAP LARVA KUMBANG TEBU, Lepidiota stigma (F)
Lepidiota stigma F. merupakan hama utama pada tanaman tebu. Usaha pengendalian yang dilakukan selama ini masih bertumpu pada pengendalian kimiawi dan mekanis
UJI EFEKTIVITAS INSEKTISIDA KARBOSULFAN TERHADAP HAMA TANAMAN TERUNG JEPANG (Solanum melongena L.)
Terung Jepang (Solanum Melongena L.) merupakan komoditi hortikultura yang penting bagi Indonesia. Tanaman terung ini hanyak diserang oleh hama sehingga dapat menurunkan produksinva. Usaha pengendalian yang dilakukan agar produksi tidak turun dengan menggunakan insektisida dan cara pengendalian lainnya seperti cara budidaya. Penggunaan insektisida dilakukan jika cara yang lain dianggap kurang berhasil. lnsektisida yang digunakan untuk mengendalikan hama pada tanaman terung Jepang berbahan aktif karbosulfan. Insektisida tersebut baru pertama digunakan untuk mengendalikan hama tanaman terung Jepang. Untuk mengetahui keefektifan insektisida karbosulfan dilakukan di laboratorium Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Jember dan lahan produksi PT. Mitra Tani Dua Tujuh di desa Karanganyar Kecamatan Ambulu pada bulan Desember 2000 sampai Maret 2001. Penelitian di laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap Tunggal 6 perlakuan dengan 3 ulangan dan di lapang menggunakan Rancangan Acak Kelompok Tunggal 6 perlakuan dengan 4 ulangan. Hasil penelitian di laboratorium diketahui nilai LC50 insektisida karbosullan untuk S. Litura 2,16 % dan E sparsa 0,05 % Adanya korelasi positif antara konsentrasi insektisida karbosulfan terhadap mortalitas larva E.sparsa dan S.litura. Perlakuan insektisida karbosulfan dapat menyebabkan penurunan jumlah penetasan telur S.litura Aplikasi insektisida di lapang dengan konsentrasi yang berbeda dapat menurunkan jumlah populasi maupun intensitas kemsakan yang disebabkan oleh E.sparsa, S.litura, ulat pemakan daun dan buah
- …
