1,721,048 research outputs found

    Survei Kerusakan dan Estimasi Biaya Perbaikan Jalan Sumberwadung Desa Tulungrejo Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi STA 0+000 – 1+500 km

    No full text
    Jalan raya harus dapat menampung berbagai jenis kendaraan sesuai dengan kapasitas lalu lintas rencana. Jalan juga berperan dalam pengadaan kegiatan sosial dan hubungan perkenomian masyarakatnya. Ada banyak jalan yang mengalami kerusakan seperti Jalan Sumberwadung Desa Tulungrejo Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi. Jalan Sumberwadung merupakan jalan penghubung antara Kecamatan Sempu dengan Kecamatan Glenmore. Oleh karena itu, perlu dilakukan survei untuk menentukan kerusakan jalan dan untuk menghitung estimasi biaya apabila jalan tersebut diperbaiki. Penelitian yang dilakukan dalam bentuk survei kerusakan jalan dan survei volume lalu lintas. Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode bina marga 1990. Berdasarkan penelitian and analisis data, jalan tersebut membutuhkan program pemeliharaan secara rutin. Terdapat kerusakan berupa retak kulit buaya (60,51 m2), retak memanjang (8,09 m2) dan lubang (72,32 m2) di jalan tersebut. Total yang diperoleh dari survei volume lalu lintas sebesar 15.337 smp/hari. Total estimasi biaya perbaikan sebesar Rp.8.538.281

    ANALISIS DEFISIENSI KESELAMATAN JALAN PADA JALAN RAYASAWAHAN KM 32-33 DESA SIDOMULYO KECAMATAN SILO KABUPATEN JEMBER

    No full text
    Kecelakaan lalu lintas merupakan suatu kejadian yang sering sekali terjadi disekitar kita. Kecelakaan lalu lintas menurut UU RI No. 22 tahun 2009 adalah suatu peristiwa di jalan raya tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas, diantaranya adalah faktor cuaca, kendaraan, kondisi jalan maupun kebiasaan pengendara kendaraan. Untuk mengurangi angka kecelakaan yang terjadi di jalan maka harus dilakukan penelitian tentang daerah yang memliki angka kecelakaan yang tinggi. Dalam kasus ini langkah pertama yaitu menentukan daerah yang termasuk area yang rawan kecelakaan. Data kecelakaandari SATLANTAS(Satuan Lalu Lintas) kabupaten Jember menunjukkan bahwa Jalan Raya Sawahan KM 32-33 di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, merupakan lokasi rawan kecelakaan.Langkah kedua yang dilakukan yaitu menganalisis penyebab terjadinya kecelakaan berdasarkan pada aspek geometrik, aspek perkerasan dan aspek harmonisasi jalan. Setelah mengetahui penyebab banyaknya kecelakaan pada daerah tersebut maka dilakukan usulan penanganan kejadian tersebut agar bisa mengurangi jumlah kecelakaan atau bahkan bisa sampai tidak ada lagi kecelakaan pada daerah tersebut. Setelah di lakukan penelitian dan pengamatan di Jalan Raya Sawahan KM 32-33 desa Sidomulyo Kecamatan Sil

    PENGARUH PENGGUNAAN ABU SEKAM PADI DAN ABU AMPAS TEBU SEBAGAI SUBTITUSI SEMEN TERHADAP KUAT TEKAN BETON DENGAN PERLAKUAN PERENDAMAN AIR TAWAR DAN AIR LAUT

    No full text
    Akhir-akhir ini banyak dikembangkan bahan tambah penyusun beton, salah satu diantaranya yaitu abu sekam padi dan abu ampas tebu. Abu sekam padi dan abu ampas tebu mengandung pozzolan berupa silika (SiO2). Jika pozzolan ditambahkan ke dalam semen, maka akan bereaksi dengan kalsium hidroksida yang akan menghasilkan kalsium silikat hidrat (C-S-H). Reaksi pozzolan dengan kalsium hidroksida mempunyai beberapa keuntungan terhadap lingkungan yang agresif. Pada kondisi lingkungan yang normal abu sekam padi dan abu ampas tebu juga dapat meningkatkan kuat tekan beton, serta menghemat penggunaan bahan baku semen dalam hal ini klinker karena memiliki kandungan SiO2 yang tinggi. Dari tinjauan tersebut akan dilakukan penelitian terhadap pengaruh penggunaan abu sekam padi dan abu ampas tebu sebagai subtitusi semen terhadap kuat tekan beton dengan perlakuan perendaman air tawar dan air laut. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental, dengan benda uji silinder berukuran Ø 15 cm x 30 cm. Komposisi abu sekam padi (ASP) dan abu ampas tebu (AAT) sebesar 10% dari jumlah semen. Ada 4 variasi proporsi campuran beton yaitu 0% ASP + 0% AAT; 2,5% ASP + 7,5% AAT; 5% ASP + 5% AAT; dan 7,5% ASP + 2,5% AAT. Faktor air semen yang digunakan yaitu 0,48. Adapun perlakuan perendaman menggunakan 2 perendaman yaitu pada air tawar dan pada air laut selama 28 hari. Hasil penelitian didapatkan penambahan abu sekam padi dan abu ampas tebu mempengaruhi kuat tekan beton. Pada kondisi perendaman air tawar didapatkan kuat tekan beton tertinggi sebesar 29,81 Mpa pada proporsi 2,5 % ASP +7,5 % AAT, sedangkan pada kondisi perendama air laut di dapatka kuat tekan beton tertinggi sebesar 33,04 Mpa pada proporsi 2,5% ASP + 7,5 % AAT. Perlakuan perendaman pada air laut cenderung menghasilkan kuat tekan beton tinggi, hipotesis tersebut disebabkan air laut yang mampu meningkatkan kuat tekan beton di usia dini, dikarenakan adanya kandungan klorida pada air laut yang membentuk kristal garam friedel pada beton

    ANALISIS KERUSAKAN JALAN DAN BIAYA PERBAIKAN DALAM MENENTUKAN PRIORITAS PERBAIKAN JALAN DI UPT SITUBONDO

    No full text
    Kerusakan jalan di Indonesia telah menjadi masalah umum yang sering terjadi. Tidak semua jalan rusak dapat diperbaiki seluruhnya. Hal tersebut tergantung dari ketersediaan anggaran biaya perbaikan. Seperti di Kabupaten Situbondo, berdasarkan data perbaikan dari tahun 2014 hingga 2016, terdapat rata–rata 79,086 km jalan telah diperbaiki dari total jalan rusak ringan sebanyak 145,35 km dan jalan rusak berat sebanyak 269,49 km. Berdasarkan data tersebut maka hanya sekitar 57% dari total panjang jalan rusak seluruh kabupaten yang dapat diperbaiki pada tahun itu. Akibat biaya anggaran perbaikan terbatas maka perlu dipilih prioritas jalan yang akan diperbaiki dari beberapa ruas jalan rusak. Penentuan prioritas perbaikan didasarkan pada beberapa kriteria penentu. Dalam penelitian ini kriteria berdasar pada kondisi perkerasan dan biaya perbaikan. Penentuan kondisi jalan dilakukan dengan metode penilaian kondisi perkerasan jalan yaitu Pavement Condition Index (PCI). Biaya perbaikan dapat dihitung, dari total volume kerusakan dengan anlisa harga satuan pekerjaan sesuai data dari Bina Marga Kabupaten Situbondo. Prioritas jalan dipilih dengan mengurutkan dari nilai PCI terendah. Terdapat 6 jalan kolektor yang dipilih sebagai objek penelitan. Seluruh jalan tersebut terdapat di wilayah UPT Situbondo dengan total 35,247 km. Hasil analisis kondisi jalan dapat dilakukan per segmen maupun rata-rata setiap jalan Berdasarkan hasil penentuan prioritas, ruas no. 163 menjadi prioritas utama untuk diperbaiki dengan nilai kondisi rata-rata jalan 24,734 yang tergolong sangat buruk (very poor). Sedangkan ruas no. 193 menjadi prioritas terakhir untuk diperbaiki karena masih tergolong pada kondisi sempurna (excellent) dengan nilai 89,909. Total biaya perbaikan 6 jalan tersebut diperoleh sebesar Rp 13.807.344.094,00 sepanjang 25,9 km. Biaya tersebut termasuk biaya pemeliharaan rutin maupun berkal

    PERENCANAAN ULANG STRUKTUR ATAS GEDUNG (OK,CSSD) RUMAH SAKIT PARU JEMBER 8 LANTAI DENGAN STRUKTUR BETON BERTULANG MENGGUNAKAN SRPMM

    No full text
    Perencanaan Ulang Struktur Atas Gedung (OK,CSSD) Rumah Sakit Paru Jember 8 Lantai Dengan Struktur Beton Bertulang Menggunakan SRPMM; Umi Salamah, 121910301075; 2015: 85 halaman; Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Jember. Peresmian Gedung (OK,CSSD) pada 1 Februari 2015 lalu tentu saja menambah jumlah fasilitas di Rumas Sakit Paru Jember, namun bukan pelayanan kamar inap. Menurut Pujianti et al (2014:66) “kebutuhan tambahan tempat tidur bagi pasien inap di Rumah Sakit Paru Jember di tahun 2014 dan 2015 untuk penyakit tuberkulosis di butuhkan penambahan tempat tidur sebanyak 3 dan 8 tempat tidur”. Kebutuhan tersebut belum mencakup semua pasien penyakit lain di Rumah Sakit Paru Jember. Selain itu Rumah Sakit Paru Jember ditetapkan sebagai salah satu Unit Pelaksana Tehnis (UPT) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur yang melayani pasien dari Kabupaten Jember, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Lumajang mulai tahun 2002. Tentunya wilayah pelayanan dari Rumah Sakit Paru tersebut akan terus mengalami peningkatan secara signifikan. Beberapa faktor tersebut menunjukkan bahwa perlu adanya penambahan ruangan untuk pasien inap di Rumah Sakit Paru Jember. Kebutuhan tambahan ruang inap di Rumah Sakit Paru Jember ini akan lebih efisien bila dimasukkan ke dalam gedung OK dan CSSD yang baru saja diresmikan. Oleh karena itu, merencanakan ulang Gedung (OK,CSSD) Rumah Sakit Paru Jember dengan 8 lantai yang terdiri dari 5 lantai sesuai fungsi awal dan 3 lantai dengan fungsi ruang rawat inap adalah pilihan terbaik. Dalam perencanaan gedung struktur beton tahan gempa ini digunakan beberapa acuan antara lain: Tata cara perencanaan struktur beton untuk bangunan gedung (03-2847-2002), tata cara perncanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung (SNI 03-1726-2012) dan beban minimum untuk perencanaan ix bangunan gedung dan struktur lain (SNI-1727-2013). Sedangkan untuk analisa yang digunakan adalah Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM) dikarenakan analisis dengan metode ini cocok untuk wilayah Jember yang memiliki zona gempa 4. Berdasarkan hasil perhitungan perencanaan ulang struktur atas gedung (OK,CSSD) Rumah Sakit Paru Jember didapatkan 8 macam tipe pelat dengan 4 variasi ketebalan yaitu 90 mm, 100 mm, 120 mm dan 130 mm. Terdapat 2 macam tangga akibat 2 elevasi lantai yang berbeda dengan tebal pelat keduanya 150 mm dan 120 mm untuk pelat bordes. Balok utama didesain dengan 4 macam tipe ukuran yaitu 12x20 cm, 18x30 cm, 25x40 cm dan 30x50 cm

    Perbandingan Nilai Kerusakan Jalan Berdasarkan Pengamatan Metode P/KRMS (Provincial/Kabupaten Road Management System) Dan Metode PCI (Pavement Condition Index) Pada Jalan Rusak Berat Di Kabupaten Lumajang

    No full text
    Di Kabupaten Lumajang pada tahun 2015 tercatat memiliki panjang jalan 1.051.987 km, dilihat dari kondisi jalan terdapat 792,970 km dalam keadaan baik, 96,818 km dalam kedaan sedang dan 61,773 km dalam keadaan rusak serta 100,426 km dalam keadaan rusak berat. Penilaian kondisi permukaan suatu jalan merupakan salah satu tahapan untuk menentukan jenis program revaluasi. Terdapat dua metode yang digunakan dalam melakukan penilaian kondisi jalan yaitu metode PCI dan P/KRMS untuk membandingkan nilai kondisi ruas tersebut menggunakan data penelitian lapangan berupa hasil survei kerusakan jalan. Urutan prioritas penanganan jalan dengan metode P/KRMS didsarkan pada rentang 0-lebih dari 100, sedang kan metode PCI dengan rentang nilai 0 hingga 100. Hasil dari evaluasi kedua ruas memiliki penilaian yang relatif sama, nilai rata-rata kondisi jalan sedang menurut kedua metode dengan nilai rata rata metode PCI sebesar 48,0091 dan P/KRMS dengan nilai 46,913. hasil penanganan Pemeliharaan jalan pada ruas sumberjati-karangrejo yaitu 55% penanganan berkala, 27% penanganan peningkatan dan 17,5% penanganan rutin, sedangkan pada ruas Gondoruso-Dampar yaitu sebesar 50% untuk penanganan rutin maupun berkala

    Perbandingan Life Cycle Cost Struktur Perkerasan Kaku Dan Lentur (Studi Kasus: Jalan Lintas Selatan Jarit-Puger Sta 25+500 – Sta 40+40

    No full text
    Pada Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang sampai dengan pesisir Pantai Puger, Kabupaten Jember akan direncanakan pembangunan Jalan Lintas Selatan. Jalan ini akan dibangun dari STA 25+500 sampai dengan STA 40+400 dengan nilai CBR pada tanah dasar 22,7%. Perbedaan penggunaan jenis perkerasan akan menghasilkan nilai life cycle cost yang berbeda pula, nilai life cycle cost yang minimum merupakan satu diantara kriteria yang harus dipenuhi dalam merencanakan perkerasan jalan. Menghitung nilai life cycle cost setiap jenis perkerasan diharapkan akan mendapatkan desain perkerasan yang paling efisien. Dalam merencanakan tebal struktur perkerasan dibutuhkan data sekunder berupa nilai California Bearing Ratio (CBR) dan lalu lintas harian rata-rata. Datadata tersebut kemudian diolah sesuai dengan pedoman Manual Desain Perkerasan Jalan 2017. Langkah selanjutnya menghitung rancangan anggaran biaya dengan analisis harga satuan pekerjaan (AHSP) Provinsi Jawa Timur, sehingga akan didapatkan biaya konstruksi tiap perkerasan. Kemudian, dihitung pula nilai life cycle cost dengan menambahkan biaya konstruksi dan biaya pemeliharaan. Selanjutnya dibutuhkan nilai tingkat inflasi dan nilai suku bunga untuk menghitung nilai discounted life cycle cost. Berlandaskan hasil analisis didapatkan perkerasan lentur terdiri atas lapis pondasi agregat kelas A 150 mm, AC Base 210 mm, AC BC 60 mm dan AC WC 40 mm, sedangkan struktur perkerasan kaku terdiri dari lapisan drainase 150 mm, LMC 100 mm, dan pelat beton 295 mm dengan tie bars diameter 16 mm dan panjang 450 mm serta dowel diameter 16 mm dan panjang 700 mm. Nilai discounted life cycle cost perkerasan lentur sebesar Rp169.252.027.720 dan perkerasan kaku sebesar Rp81.880.372.744. Dapat disimpulkan perkerasan lentur membutuhkan biaya lebih banyak daripada perkerasan kaku

    DAMPAK LALU LINTAS PEMBANGUNAN STASIUN PENGISIAN BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR (SPBKB) RANUYOSO LUMAJANG

    No full text
    SPBKB (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Kendaraan Bermotor) merupakan stasiun penyaluran BBM milik PT. AKR (Aneka Kimia Raya) sebagai tempat pengisian bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Pembangunan SPBKB tersebut terletak di atas lahan seluas ± 4.526 m² yang berlokasi di jalan Raya Probolinggo- Lumajang Desa Ranuyoso Kecamatan Ranuyoso Kabupaten Lumajang. SPBKB dengan tipe CODO (Company Owned Dealer Operated) tersebut memiliki 2 unit dispenser dengan 4 nossel berkapasitas 24 kl untuk bahan bakar AKRA 92 yang setara dengan pertamax dan solar. Dampak yang muncul dengan adanya SPBKB tersebut menyebabkan penambahan hambatan lalu lintas terhadap jaringan jalan disekitarnya sehingga kelancaran arus lalu lintas akan berubah seiring akitivitas yang ada di tempat tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kinerja ruas jalan dan simpang akibat adanya SPBKB Ranuyoso. Metode yang dilakukan dengan cara analisis dan observasi. Untuk metode observasi dilakukan dengan melakukan survei langsung di lapangan untuk mendapatkan volume lalu lintas, bangkitan dan tarikan dari bangunan pembanding dan juga inventarisasi jalan. Sedangkan metode analisis menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) dan juga melakukan prediksi bangkitan akibat pembangunan SPBKB Ranuyoso tersebut dengan menggunakan bangunan pembanding yang memiliki karakteristik fungsi bangunan dan fasilitas hampir sama dengan lokasi penelitian yaitu SPBU Malasan, Kedung Jajang, dan Randu Agung. Besar estimasi bangkitan akibat pembangunan SPBKB adalah 105 kendaraaan bermotor/jam (MC), 31 kendaraan ringan /jam (LV), dan 8 kendaran berat/jam pada hari kerja, dan untuk hari libur 120 kendaraaan bermotor/jam (MC), 34 kendaraan ringan /jam (LV), dan 9 kendaraan berat/jam. Setelah diketahui besarnya bangkitan maka dianalisis antrian kendaraan yang mengisi bahan bakar pada SPBKB Ranuyoso. Hasil penelitian menunjukkan kinerja ruas jalan pada kondisi eksisting (sebelum beroperasi) nilai derajat kejenuhan sebesar 0, 435 sehingga masuk dalam kriteria LOS A, pada tahun 2016 setelah beroperasinya SPBKB nilai derajat kejenuhan 0,444 sehingga masih masuk kriteria LOS A. Pada 5 tahun tanpa SPBKB memiliki nilai LOS B dengan derajat kejenuhan 0,698 dan 5 tahun adanya SPBKB nilai derajat kejenuhan 0,712 masuk kriteria LOS B. Kemudian kinerja Simpang Klakah terbesar dari 3 skenario adalah dengan nilai tundaan 12,21 detik per kendaraan masuk dalam criteria LOS B. 5 tahun setelah SPBKB beroperasi kinerja simpang menjadi LOS D dengan nilai tundaan 38,63 detik per kendaraa

    Hubungan antara Kecepatan Kendaraan dengan Jari-Jari Tikungan, Derajat Lengkung,dan Kelandaian Memanjang Jalan di Jalan Raya Wringin Kabupaten Bondowoso

    Full text link
    Data primer dan sekunder digunakan untuk memodelkan hubungan antara kecepatan dengan jari-jari lengkung, derajat lengkung, dan kelandaian memanjang jalan di Jalan Raya Wringin Kabupaten Bondowoso. Data primer dan sekunder meliputi kecepatan kendaraan, jari-jari tikungan, derajat lengkung, dan kelandaian memanjang jalan. Pada penelitian ini, kecepatan kendaraan sebagai variabel terikat dan jari-jari, derajat lengkung, dan kelandaian sebagai variabel bebas. Kecepatan dihubungkan dengan jari-jari dan derajat lengkung. Kelandaian sebagai dasar pengelompokan tikungan berdasarkan batas kelandaian

    Perencanaan Tebal Perkerasan pada Ruas Jalan Tol Gempol – Pasuruan STA 13+900 sampai dengan STA 20+500 dengan Metode Manual Desain Perkerasan Jalan Tahun 2017

    No full text
    Jalan Tol merupakan jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang mewajibkan penggunanya membayar tol. Jalan tol dibangun untuk mewujudkan pemerataan pembangunan serta keseimbangan dalam pengembangan wilayah serta meningkatkan efisiensi pelayanan jasa distribusi sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pada proyek pembangunan Jalan Tol Gempol – Pasuruan Seksi 2 Rembang - Pasuruan sebelumnya direncanakan perkerasan kaku dengan metode AASHTO 1993. Penelitian ini merencanakan tebal perkerasan yang lebih efisien berdasarkan nilai discounted life cycle cost dengan metode Manual Desain Perkerasan Jalan Tahun 2017. Dalam metode ini jenis perkerasan ditentukan berdasarkan nilai ESA4 (juta) dalam 20 tahun. Kemudian dihitung tebal perkerasan untuk masing-masing jenis perkerasan yang telah ditentukan. Dari dua jenis perkerasan yang dipilih dilakukan analisa rencana anggaran biaya untuk mengetahui jenis perkerasan apakah yang lebih efisien untuk dilaksanakan di lapangan. Hasil dari perhitungan perencanaan ulang tebal perkerasan dengan metode manual desain perkerasan jalan tahun 2017 diperoleh tebal perkerasan lentur lapis AC WC (Asphalt Concrete Wearing Course) 40 mm, lapis AC BC (Asphalt Concrete Binder Course) 60 mm, lapis AC Base (Asphalt Concrete Base) 80 mm, lapis pondasi agregat kelas A 380 mm, dan lapis pondasi agregat kelas B 450 mm dengan biaya konstruksi senilai 215.507.352.185 rupiah dan biaya discounted lifecycle cost senilai 413.508.284.520,74 rupiah. Sedangkan untuk perkerasan kaku direncanakan perkerasan kaku bersambung tanpa tulangan dengan tebal pelat beton 290 mm, tebal lapis lean concrete 100 mm, panjang tie bar (ulir BJTU 24) 700 mm diameter 16 mm, dan panjang dowel (polos) 450 mm diameter 36 mm dengan biaya konstruksi senilai 199.116.923.197 rupiah dan biaya discounted life cycle cost senilai 398.732.419.535 rupiah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jenis perkerasan kaku memiliki nilai discounted life cycle cost lebih rendah dibandingkan perkerasan lentu
    corecore