1,720,976 research outputs found

    DAYA HAMBAT FITOTOKSIN BAKTERI PATOGEN PADA GULMA WEWEHAN

    No full text
    Wewehan (Monochoria vaginalis Burm.F. Presi) merupakan salah satu gulma penting yang tumbuh di pertanaman padi. Keberadaan gulma ini sangat merugikan karena dapat menurunkan hasil produksi padi. Pengendalian yang sering digunakan oleh para petani yaitu menggunakan herbisida kimia yang memiliki dampak negatif. Pengendalian alternatif yang sering digunakan yaitu sacara hayati karena dianggap aman, praktis, menguntungkan bagi lingkungan karena menggunakan patogen tanaman seperti bakteri, jamur, atau mikroorganisme lainnya. Mikroorganisme yang sering digunakan sebagai agensia hayati yaitu dari golongan jamur. Mikroorganisme seperti bakteri juga berpotensi sebagai agensia hayati dan berperan sebagai bioherbisida karena menghasilkan senyawa yang mematikan bagi tanaman inangnya seperti senyawa fitotoksin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dari bakteri patogen yang dapat dimanfaatkan sebagai bioherbisida untuk mengandalikan pertumbuhan gulma M. vaginalis. Penelitian dilakukan dengan mengeksplorasi bakteri yang berasosiasi dengan gulma M. vaginalis. Penelitian ini dilakukan dengan mengisolasi gulma yang bergejala nekrosis kemudian isolat yang diperoleh diuji patogenisitas, virulensi dan fitotoksisitasnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dua isolat bakteri yang diperoleh dari isolasi tidak menunjukkan penghambatan terhadap pertumbuhan gulma M. vaginalis, tetapi justru semakin meningkatkan pertumbuhan gulma. Kedua isolat bakteri ini lebih berpotensi sebagai stimulant yang dapat memacu pertumbuhan gulma, dari pada sebagai bioherbisida yang menghambat pertumbuhan gulma M. vaginalis

    KARAKTERISASI Ralstonia solanacearum PADA TANAMAN PISANG

    No full text
    Penyakit layu bakteri (blood disease bacterium) yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman pisang di Indonesia, khususnya di Kabupaten Lumajang. Patogen ini memiliki variabilitas genetik yang luas dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan setempat. Salah satu teknik identifikasi patogen R. solanacearum yang telah dikembangkan yaitu teknik Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Karakterisasi R. solanacearum pada tanaman pisang di Kabupaten Lumajang dengan menggunakan teknik RAPD dilakukan dengan menggunakan 3 Oligonukleotida (Primer). Amplifikasi dilakukan pada 35 siklus dengan kondisi Denaturasi pada suhu 94°C selama 20 detik, Anealing pada suhu 30°C selama 45 detik dan Elongasi pada suhu 72°C selama 1 menit. Pada akhir reaksi, dilakukan Elongasi akhir suhu 72°C selama 3 menit. Setelah terlihat amplifikasi DNA, dilakukan perhitungan untuk mengetahui matriks dengan metode Jaccard. Pola marka molekuler bakteri R. solanacearum di Kabupaten Lumajang bersifat polimorfisme dengan persentase 71%, dan dendogram menunjukkan, terdapat 4 grup berbeda pada isolat R. solanacearum di Kabupaten Lumajang

    KARAKTERISASI ISOLAT Xanthomonas oryzae pv. oryzae YANG MENYERANG TANAMAN

    No full text
    Upaya peningkatan produksi padi nasional dihadapkan pada berbagai permasalahan salah satunya adanya penyakit penting pada tanaman padi yaitu hawar daun bakteri. Hawar daun bakteri disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae yang memiliki kemampuan tinggi dalam membentuk strain baru di lapang. Seiring dengan perkembangan teknologi dalam bidang mikrobiologi, berbagai teknik identifikasi dan deteksi telah dikembangkan mengenai analisis genetik dan identifikasi molekular isolat X. oryzae pv. oryzae melalui teknik Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Sampel diambil dari 5 kecamatan dengan 5 varietas yang berbeda, yaitu Rambipuji dengan varietas Wayapuburu, Arjasa dengan varietas Situbagendit, Tempurejo dengan varietas pandanwangi, Tanggul dengan varietas Ciherang dan Puger dengan varietas Cibogo. Metode pertama yaitu penghitungan intensitas serangan pada masingmasing sampel, kemudian bakteri diisolasi dari daun yang bergejala hawar daun bakteri dan ditumbuhkan pada media Yeast Dextrose Agar. Setelah itu dilakukan pengujian bakteri dengan KOH 3% dan uji hdrolisis pati, kemudian dianalisis menggunakan teknik RAPD untuk mengetahui keragaman genetik masing- masing isolat. Hasil pengamatan intensitas serangan pada masing-masing sampel menunjukkan bahwa besarnya intensitas serangan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya lokasi pengambilan sampel, tingkat ketahanan suatu varietas padi dan usia tanaman padi. Masing- masing isolat menunjukkan ciri koloni berwarna kuning, bulat, cembung dan berlendir, uji Gram negatif, serta tidak menghidrolisis pati. Hasil analisis menggunakan RAPD menunjukkan kelima isolat merupakan isolat yang berbeda secara genetik, dilanjut dengan penghitungan menggunakan Metode Jaccard dan pembuatan Phenogram similarity yang menunjukkan kelima isolat terbagi menjadi 3 kelompok yang berbeda secara genetik, Kelompok A yaitu isolat dari Rambipuji dan tempurejo, Kelompok B yaitu Arjasa dan Puger, serta Kelompok C yaitu Tanggul

    PEMBUATAN ANTIBODI POLIKLONAL PROTEIN KAPSIDSUGARCANE MOSAIC VIRUS (SCMV) PADA HEWAN COBA KELINCIGALURNEW ZEALAND WHITE

    No full text
    Sugarcane Mosaic Virus (SCMV) merupakan salah satu virus yang menyerang tanaman tebu yang dapat menghambat fotosintesis, merusak tanaman, dan menurunkan hasil produksi yang signifikan (Alegria et al., 2002). Besarnya kerugian yang ditimbulkan menyebabkan perlunya langkah pengendalian untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan. Salah satu cara efektif yang dapat dilakukan untuk menanggulanginya yaitu dengan melakukan diagnosa yang cepat dan tepat agar dapat segera dilakukan langkah pengendalian yang tepat. Diagnosa penyakit tebu diperlukan dalam menunjang peningkatan produksi tebu yang dapat menghasilkan panen optimal. Diagnosa yang lambat dan tidak tepat dapat menyebabkan ketidakefektifan yang menyebabkan rusaknya tanaman dan terbuangnya uang dan waktu (Kabashima, 1997). Salah satu cara yang cepat untuk mendiagnosa penyakit pada tanaman yaitu dengan penggunaa kit detektor berbasis serologi seperti yang sudah ada yaitu pada Bean Yellow Mosaic Virus, Potato Virus Y, dan Plum Pox Virus(Dsmz, 2016). Uji serologi merupakan salah satu cara deteksi dan identifikasi suatu patogen dalam suatu inang yang memanfaatkan reaksi spesifik antara antigen dan antobodi (Crowther,1995). Keberhasilan dan ketelitian uji serologi untuk mendeteksi dan mengidentifikasi virus sangat bergantung pada ketersediaaan pereaksi diagnostik seperti antibodi dengan kualitas yang baik (Kumari et.al.,2006). Untuk membuat antibodi dari suatu virus tumbuhan pada umumnya digunakan protein kapsid partikel virus (Temaja et.al.,2010). Melalui kloning gen penyandi protein kapsidSCMV telah dihasilkan protein rekombinan yang dapat digunakan sebagai imunogen untuk membuat antibodi rekombinan yang diinjeksikan kedalam tubuh hewan berdarah panas seperti kelinci. Dengan menggunakan uji serologis diharapkan akan mempunyai keunggulan proses maupun kualitasnya dibandingkan dengan pengamatan morfologis untuk mendeteksi gejala penyakit SCMV. Oleh karena itu perlu dilakukan pembuatan antibodi sebagai upaya deteksi dini dan langkah awal pengendalian penyakitdilapang. Pembuatan antibodi dilakukan pada New Zealand White Rabbit menggunakan antigen protein rekombinan protein kapsid SCMV hasil overekspresi E. coli strain BL-21 yang telah disisipi vektor yang mengandung cDNA protein kapsid SCMV. Antigen dicampur dengan Freund’s adjuvant dan diimunisasi secara subkutan. Antibodi yang terbentuk digunakan untuk analisis molekuler tanaman seperti deteksi SCMV pada tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibodi poliklonal protein kapsid SCMV dapat mendeteksi antigendengan berat molekul 36 kDa – 46 kDa sampai dengan konsentrasi 0,01 μg pada rekombinan protein kapsid SCMV, sedangkan pada tanaman yang bergejala mosaik antibodi poliklonal protein kapsid SCMV dapat mendeteksi protein kapsid SCMV pada bagian supernatan dan pelet

    PEMETAAN KEBERADAAN CENDAWAN PATOGEN TULAR TANAH Rhizoctonia solani

    No full text
    Cendawan patogen tular tanah merupakan salah satu jenis patogen yang menginfeksi tanaman tembakau dan dapat menurunkan produktivitas tanaman tembakau. Beberapa cendawan patogen tular tanah seperti cendawan Rhizoctonia solani dapat menyerang yang menyebabkan penyakit (damping off) pada tanaman tembakau. Selain itu cendawan Phytophthora nicotianae juga merupakan salah satu patogen penting yang dapat menyebabkan penyakit lanas pada tanaman tembakau. Berdasarkan adanya gangguan yang disebabkan oleh cendawan patogen tular tanah tersebut, maka diperlukan suatu deteksi dini untuk mengetahui keberadaan cendawan patogen tular tanah tersebut pada suatu lahan di suatu daerah. Deteksi dini dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan secara molekuler dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) sebagai suatu metode cepat untuk mendeteksi keberadaan cendawan patogen tular tanah. Delapan belas sampel tanah yang diujikan diketahui mempunyai tingkat infestasi dan variasi yang berbeda-beda. Tingkat infestasi tertinggi terdapat pada tiga daerah di Kabupaten Probolinggo, sedangakan pada tingkat variasi rata-rata setiap daerah mempunyai tingkat variasi cendawan yang sama. Proses amplifikasi DNA dengan PCR yang dilakukan untuk cendawan R. solani diketahui pita DNA teramplifikasi pada lane daerah Tanjung rejo, Tutul, Selomukti dan Maskuning wetan. Sedangkan untuk cendawan P. nicotianae pita DNA teramplifikasi pada lane daerah Kabat dan Sumber anyar

    STIMULASI SENYAWA ANTI MIKROBIA BAKTERI PSEUBOMONAS PENDAR FLUOR UNTUK MENGHAMBAT PATOGEN BUSUK LUNAK ERWINIA CAROTOVORA SUBSP. CAROTOVORA

    No full text
    Info lebih lanjut hub: Lembaga Penelitian Universitas Jember Jl. Kalimantan No.37 Jember telp. 0331-339385 Fax. 0331-337818Erwinia carotovora subsp. carotovora merupakan salah satu spesies bakteri yang umumnya menyebabkan gejala busuk lunak pada beberapa tanaman hortikultura. Dampak yang disebabkan oleh bakteri patogen tersebut sangat serius, sulit dikendalikan secara kimiawi dan penyebarannya sangat cepat. Pemanfaatan pseudomonas pendar fluor sebagai agensia pengendali hayati telah banyak dilakukan karena kemampuannya dalam menghasilkan senyawa antimikrobia. Produksi senyawa antimikrobia berhubungan dengan kemampuan suatu bakteri antagonis yang diatur secara genetik. Regulasi senyawa antimikrobia diketahui berhubungan erat dengan surnber mineral dan sumber karbon. Namun informasi tentang pengaruh stimulan senyawa antimikrobia dalam mekanisme penghambatan masih kurang diketahui. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh stimulasi senyawa antimikrobia yang diproduksi pseudomcnas pendar fluor terhadap kemampuannya dalam mengendalikan bakteri patogen E. carctovom subsp. carctovora . Penelitian ini dilakukan selama I bulan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Jember. Penelitian dilaksanakan melalui beberapa tahapan yaitu isolasi dan ldentifikasi bakteri, Pembuatan Larutan Stimulan dan Medium Pengujian, Uji Antagonistik Pseudomonas Pendar Fluor terhadap E. carotovora subsp. carotovora, Produksi Senyawa Antimikrobia Pseudomonas Pendar Fluol Pengujian Daya Hambat Senyawa Antimikrobia, Ekstraksi dan Deteksi Senyawa Antimikrobia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan stimulan berupa manitol 10% dan seng 0,5 mM merupakan larutan stimulan terbaik untuk meningkatkan kemampuan penghambatan pseudomonas pendar fluor terhadap E carotovora subsp. carotovora. Peningkatan daya hambat senyawa antimikrobia yang distimulasi dengan manitol dan seng masing-masing dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan kontrolnya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat satu jenis senyawa antimikrobia yang di stimulasioleh manitoldan seng bedasarkan analisis TLC dan &ioassay.PENELITIAN DIPA_200

    Produksi Benih Sintetik Hasil Embrio Somatik Tebu (Saccharum officinarum) Unggul Bebas Virus

    No full text
    Info lebih lanjut hub: Lembaga Penelitian Universitas Jember Jl. Kalimantan No.37 Telp. 0331-339385 Fax. 0331-337818 JemberKualitas dan jumlah bibit merupakan penentu keberhasilan dalam meraih keuntungan di bidang pertanian. Rendahnya produktivitas gula tebu disebabkan karena rendahnya kualitas dan ketersediaan bibit tebu. Teknologi produksi bibit tebu bermutu yang tersedia secara cepat dalam jumlah banyak diperlukan untuk mendukung program swasembada gula. Penyediaan bibit tebu melalui organ vegetatif menggunakan bagal tebu mempunyai kemampuan perbanyakan rendah yaitu 1:6 – 1:8. Selain itu memerlukan tenaga dan biaya besar serta berisiko membawa penyakit secara sistemik dari indukannya. Beberapa studi melaporkan bahwa potensi penurunan produksi tebu akibat penyakit virus bisa mencapai lebih dari 50%. Pembuatan benih tebu bebas virus dan pengembangan teknologi embrio somatik merupakan alternatif untuk mendapatkan bibit tebu yang berkualitas. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan bibit tebu bebas virus dan mendapatkan metode pengembangan teknologi embrio somatik. Penelitian dilaksanakan 3 (tiga) tahun: tahun pertama, target yang dihasilkan adalah plantlet tebu bebas virus, yang diperoleh secara in vitro menggunakan eksplant tunas apikal dengan perlakuan chemo terapi kemudian diaklimatisasi. Konfirmasi bebas virus dilakukan dengan analisa ELISA dan RT-PCR. Tahun kedua, target yang dihasilkan adalah metode kultur embrio somatik menggunakan eksplant tebu bebas virus. Embrio somatik terbentuk melalui fase globular, hati, torpedo dan kotiledon. Untuk memastikan keberhasilan terbentuknya embrio somatik dilakukan dengan observasi mikroskopik. Fase kotiledon dibiakan dengan kultur suspensi dengan media pendewasaan embrio untuk menghasilkan plantlet tebu bebas virus. Tahun ketiga, target yang dihasilkan adalah benih sintetik dengan jalan enkapsulasi bibit tebu embrio somatik. Optimasi enkapsulasi dilakukan dengan menentukan konsentrasi natrium alginat, pemilihan zat pengatur tumbuh, waktu simpan dan daya tumbuh benih sintetis. Hasil penelitian pada tahun pertama adalah: (1) komposisi media terbaik untuk regenerasi eksplan adalah 1,5 mgl-1 BAP dan 0,1 mgl-1 GA, (2) konsentrasi antiviral ribavirin 40 ppm mampu menekan pertumbuhan tunas sampai 40%, (3) Hasil uji DAS-ELISA diperoleh tanaman tebu bebas virus SCMV 100% pada konsentrasi ribavirin 40 ppm
    corecore