1,720,994 research outputs found
The Effect of Adding Coconut Milk (Cocos nucifera L.) On the Physicochemical and Organoleptic Characteristics of Red Beetroot Velva (Beta vulgaris L.)
Bit merah merupakan sejenis umbi berwarna merah keunguan dengan rasa sedikit manis disertai aroma langu tanah. Beberapa penelitian pengolahan produk bit merah sudah dilakukan, salah satunya velva. Produk velva tersebut masih terdapat kekurangan karena masih memiliki rasa dan aroma langu kurang sedap yang kuat, maka perlu adanya penambahan bahan lain seperti santan kelapa. Santan kelapa mengandung galaktomanan dan fosfolipid tinggi yang dapat memperbaiki rasa dan aroma yang kurang sedap. Tujuan dari riset ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan santan kelapa dan menentukan konsentrasi santan kelapa yang terbaik terhadap karakteristik fisikokimia, dan organoleptik velva bit merah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok 6 perlakuan dan 4 kali pengulangan dengan berbagai konsentrasi penambahan santan kelapa (BS00%, BS120%, BS240%, BS350%, BS460% and BS580%). Parameter sampel dalam penelitian ini meliputi: overrun, daya leleh, Total Padatan Terlarut, kadar serat, kadar betasianin, kadar lemak, dan organoleptik (warna, aroma, rasa, tekstur). Hasil riset diketahui bahwa penambahan santan pada velva bit merah dengan konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh terhadap overrun, daya leleh, Total Padatan Terlarut, kadar serat, kadar betasianin, kadar lemak, dan organoleptik yang dihasikan. Berdasarkan karakteristik tersebut BS4 merupakan perlakuan terbaik menghasilkan overrun 6,26%, daya leleh 18 menit, Total Padatan Terlarut 18°brix, serat kasar 17,71%, kadar betasianin 2,75µg/gram, dan kadar lemak 9,67%. Selain itu, keseluruhan panelis menyukai warna, aroma, rasa, dan tekstur dari perlakuan BS4. Warna yang dihasilkan yaitu warna merah jambu, aroma wangi santan, rasa yang enak dan gurih, serta memiliki tekstur velva yang lebih halus.Red beetroot is a type of purplish red tuber with a slightly sweet taste accompanied by an earthy aroma. Several studies on the processing of red beet products have been carried out, one of which is Velva. The Velva product still has shortcomings because it still has a strong unpleasant taste and aroma, so it is necessary to add other ingredients such as coconut milk. Coconut milk contains high levels of galactomannan and phospholipids which can improve unpleasant taste and aroma. This research aimed to know the effect of adding coconut milk and determine the best concentration of coconut milk on the physicochemical and organoleptic characteristics of red beetroot. This research used Randomized Block Design
6 treatments and 4 repetitions with varying concentrations of added coconut milk (BS00%, BS120%, BS240%, BS350%, BS460% and BS580%). Sample parameters in this study include: overrun, melting power, Total Dissolved Solids, fiber content, betacyanin content, fat content, and organoleptic (color, aroma, taste, texture). The results of the research showed that the addition of coconut milk to red beetroot velva with different concentrations influenced the overrun, melting power, Total Dissolved Solids, fiber content, betacyanin content, fat content, and organoleptic properties produced. Based on these characteristics, BS4 is the best treatment, producing an overrun of 6.26%, melting power of 18 minutes, Total Dissolved Solids of 18°brix, crude fiber of 17.71%, betacyanin content of 2.75µg/gram, and fat content of 9.67%. Additionally, the entire panel liked the color, aroma, taste, and texture of the BS4 treatment. The resulting color is red guava, fragrant coconut milk aroma, a delicious and savory taste, and a smoother velva texture
The Effect of Additional Lemon Juice (Citrus limon var. Montaji Agrihorti) in Making Dried Candied California Papaya (Carica papaya L. var. Calina)
Buah pepaya merupakan salah satu kelompok buah klimaterik yaitu buah yang mengalami proses pematangan yang diiringi dengan laju respirasi dan peningkatan produksi etilen pada buah. Pengolahan buah pepaya yang tepat dapat menjadi cara untuk mengurangi jumlah buah pepaya yang terbuang karena mengalami pembusukan. Manisan kering adalah salah satu alternatif produk yang juga sering digunakan untuk menambah masa simpan, sehingga buah pepaya dapat disimpan lebih lama dalam bentuk manisan kering. Dalam pembuatan manisan kering membutuhkan bahan tambahan seperti gula dan bahan pengawet lainnya untuk memperpanjang masa simpan. Bahan pengawet yang digunakan adalah asam sitrat yang juga terkandung dalam sari lemon, tetapi belum ada penelitian mengenai penggunaan sari lemon sebagai bahan pengawet tambahan pada manisan kering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari penambahan sari lemon terhadap kualitas manisan kering buah pepaya California. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian, Universitas Kristen Satya Wacana pada bulan Oktober 2023 hingga bulan Februari 2024. Terdapat 5 perlakuan penambahan sari lemon dengan konsentrasi 10% (P1), 20% (P2), 30% (P3), 40% (P4), 50%(P5), dan 1 perlakuan tanpa penambahan sari lemon (K). Setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan parameter kadar air, vitamin C, kadar sukrosa, beta-karoten, dan uji organoleptik. Data dianalisis dengan ANOVA dan uji lanjut DMRT dengan selang kepercayaan 95%. Berdasarkan hasil ANOVA penambahan sari lemon berpengaruh nyata terhadap setiap kualitas yang diuji, kecuali beta-karoten dan uji organoleptik rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak konsentrasi sari buah lemon yang ditambahkan menyebabkan meningkatnya kadar air, vitamin C, dan kadar sukrosa. Perlakuan P5 (50%) merupakan perlakuan terbaik dengan hasil vitamin C paling tinggi yaitu 94,6 mg/100g, kadar sukrosa paling tinggi yaitu 45,94%, organoleptik aroma 3,43 dan tekstur 3,70.Papaya is a group of climacteric fruits, namely fruit that undergoes a ripening process accompanied by respiration rates and increased ethylene production in the fruit. Proper processing of papaya fruit can be a way to reduce the amount of papaya fruit that is wasted due to decay. Dried candieds are one alternative product that is also often used to increase shelf life, so that papaya fruit can be stored longer in the form of dried candieds. In making dried candieds, additional ingredients such as sugar and other preservatives are needed to extend the shelf life. The preservative used is citric acid which is also contained in lemon juice. This study aims to determine the effect of adding lemon juice on the quality of dried California papaya fruit candieds. The research was conducted at the Agricultural Products Processing Laboratory, Satya Wacana Christian University from October 2023 to February 2024. There were 5 treatments with the addition of lemon juice at a dose of 10% (P1), 20% (P2), 30% (P3), 40% (P4), 50%(P5), and 1 treatment without addition of lemon juice (K). The research used a Randomized Block Design (RAK) with parameters of water content, vitamin C, sucrose content, beta-carotene, and organoleptic tests. Data were analyzed using ANOVA and further DMRT test with a 95% confidence interval. Based on the results of ANOVA, the addition of lemon juice had a significant effect on each quality tested except beta-carotene and the organoleptic taste test. The results of the research showed that the greater the concentration of lemon juice added caused an increase in water content, vitamin C, and sucrose levels. Treatment P5(50%) is the best treatment with the highest vitamin C results of 94,6 mg/100g, the highest sucrose content of 45,94%, organoleptic aroma of 3,43 and texture of 3,70
The Effect Of Taro Flour Substitution On The Characteristic Of Kepok Banana Flour Cookies
Cookies merupakan cemilan yang cukup banyak digemari oleh sebagian orang. Cookies menjadi makanan yang praktis karena mudah dibawa kemana saja dan dimakan kapan saja. Cookies tepung pisang kepok dengan subtitusi tepung talas memiliki daya tahan simpan yang relatif panjang karena tepung talas memberikan efek keras atau padat pada cookies. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan tepung talas terhadap karakteristik cookies pisang kepok. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Model rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan yang dilakukan 5 kali pengulangan, dengan jumlah responden penelitian sebanyak 30 orang panelis. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan skunder sebagai data pendukung. Data sudah diperoleh kemudian dianalisis menggunakan sidik ragam dan uji lanjut BNJ (Uji Beda Nyata) dengan selang kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat substitusi tepung pisang kepok dengan tepung talas pada cookies memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat kesukaan organoleptik warna, aroma, rasa dan tekstur. Hasil pengujian fisiokimia menunjukkan bahwa kadar air terbaik pada perlakuan PT3 dengan nilai 1,860%, kadar abu terbaik pada kontrol sebesar 1,897%, kadar N-total terbaik pada kontrol sebesar 5,497% dan kadar gula reduksi pada PT2 sebesar 7,225%. Cookies terbaik pada penelitian ini terdapat pada kontrol atau cookies dengan menggunakan 100% tepung pisang kepok.Cookies are a snack that is liked some people. Cookies are a practical food because they are easy to carry anywhere and eat at any time. Kepok banana flour cookies substituted with taro flour have a relatively long shelf life because taro flour gives the cookies a hard or dense effect. This research aims to analyze the effect of adding taro flour on the characteristics of banana kepok cookies. The research uses a quantitative approach. The experimental design model used in this research was a Randomized Group Design (CGD) with 5 treatments carried out 5 times, with a total of 30 research respondents as panelists. The data used in this research are primary and secondary data as supporting data. The data that has been obtained is the BNJ (Significant Difference Test) further test with a 95% confidence interval. The research results showed that the level of substitution of kepok banana flour with taro flour in cookies had a real influence on the level of organoleptic preference for color, aroma, taste and texture. The results of physiochemical testing can be seen that the best water content in the PT3 treatment was 1.860%, the best ash content in the control was 1.897%. The best N-total content in the control was 5.497% and the reduction sugar content in PT2 was 7.225%. The best cookies in this study were found in the control or cookies using 100% kepok banana flour
Pengaruh Penambahan Tepung Labu Kuning (Cucurbita Moschata Duchesne) Terhadap Peningkatan Mutu Kwetiau Kering
Labu kuning (Cucurbita moschata Duchesne) merupakan salah satu tanaman yang mengandung betakaroten sebagai pro vitamin A. ketersedian labu kuning sangat melimpah, namun masih kurang inovasi dalam pemanfaatan. Pengolahan labu kuning menjadi tepung dapat dilakukan sebagai salah satu inovasi dalam pemanfaatan labu kuning. Tepung labu kuning dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan kwetiau kering. Penambahan tepung labu kuning diharapkan dapat meningkatkan mutu kwetiau kering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung labu kuning terhadap karakteristik fisiokimia kwetiau kering dan menentukan produk kwetiau kering terbaik dengan penambahan tepung labu kuning. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan yaitu P1 (kontrol), P2 (10% tepung labu kuning), P3 ( 20% tepung labu kuning), P4 ( 30% tepung labu kuning) dan P5 (40% tepung labu kuning) dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Pengujian dalam penelitian ini meliputi, kadar air, kadar abu, N-total, karbohidrat, betakaroten, uji organoleptik, cooking time. Data dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) dengan uji lanjut DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa penambahan tepung labu kuning dalam pembuatan kwetiau kering berpengaruh nyata terhadap kadar abu, N-total, karbohidrat dan cooking time namun tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air dan betakaroten. Perlakuan terbaik penelitian ini berdasarkan uji organoleptik terdapat pada penambahan tepung labu kuning sebesar 20%. Penilaian daya terima panelis terhadap warna, aroma, rasa dan tekstur termasuk dalam kategori agak suka dengan nilai interval presentase sebesar 52-67%
The Effect of Long Fermentation Time of Lactobacillus bulgaricus on Caffeine Content and Organoleptics of Robusta Coffee (Coffea canephora)
Kopi robusta (Coffea canephora) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang paling digemari oleh masyarakat Indonesia. Kopi robusta yang dikonsumsi dengan kadar kafein lebih dari 150 mg/ hari akan menyebabkan gangguan kesehatan. Salah satu penerapan pasca panen dekafeinasi kopi robusta adalah dengan penggunaan Bakteri Asam Laktat (BAL) berupa Lactobacillus bulgaricus. Riset ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi Lactobacillus bulgaricus dalam menurunkan kadar kafein serta organoleptik kopi robusta yang paling digemari panelis. Rancangan percobaan perlakuan yang digunakan pada riset ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan berdasarkan perbedaan lama waktu fermentasi dan lima ulangan sehingga diperoleh 20 kali sampel ulangan. Perlakuan yang digunakan antara lain: K0 = Kontrol; Lb1 = Lactobacillus bulgaricus 24 jam; Lb2 = Lactobacillus bulgaricus 48 jam; dan Lb3 = Lactobacillus bulgaricus 72 jam. Parameter yang dianalisis adalah kadar kafein, kadar air, kadar abu, kadar pH, total asam tertitrasi, serta organoleptik. Analisis data yang digunakan pada parameter kimia adalah ANOVA lalu diuji lanjut DMRT 5%, sedangkan pada Uji Organoleptik dilakukan dengan metode ANOVA dengan 5 skala Likert berdasarkan skor kesukaan panelis. Hasil analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa semakin lama waktu fermentasi kopi robusta dengan Lactobacillus bulgaricus, maka kadar kafein menunjukkan adanya penurunan sebesar 1,8% dari perlakuan K0 hingga Lb3.Robusta coffee (Coffea canephora) is one of the most popular plantation commodities among Indonesians. However, consuming Robusta coffee with high caffeine content can lead to health issues. One of the post-harvest decaffeination methods for Robusta coffee involves the use of Lactic Acid Bacteria (LAB), specifically Lactobacillus bulgaricus. This study aims to determine the effect of fermentation duration fermentation time of Lactobacillus bulgaricus in reducing caffeine levels, as well as the most preferred organoleptic qualities of Robusta coffee according to panelists. The experimental design used in this research was a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four treatments based on different fermentation durations and five replications, resulting in 20 total replications. The treatments included: K0 = Control; Lb1 = Lactobacillus bulgaricus for 24 hours; Lb2 = Lactobacillus bulgaricus for 48 hours; and Lb3 = Lactobacillus bulgaricus for 72 hours. The analyzed parameters were caffeine content, moisture content, ash content, pH, total titratable acidity, and organoleptic properties. Data analysis for the chemical parameters was conducted using ANOVA followed by DMRT at a 5% significance level, while organoleptic testing was performed using ANOVA and a 5-point Likert scale based on the panelists preferences. The results of the analysis that have been carried out show that the longer the fermentation time for robusta coffee with Lactobacillus bulgaricus, the caffeine content shows a decrease of 1,8% from treatment K0 to Lb3
The Effect of Various Concentrations of Liquid Organic Fertilizer on Growth and Yield of Chinese Flat Cabbage (Brassica narinosa L.)
Tidak diijinkan karya tersebut diunggah ke dalam aplikasi Repositori Perpustakaan Universitas karena telah dipublikasi dalam Seminar Nasional " Sumber Daya Pertanian Berkelanjutan dalam Mendukung Ketahanan dan Kemanan Pangan Indonesia di Era Industri 4.0" di Fakultas Pertanian UNS, Surakarta
The Effect of Variations of Cane Sugar and Citric Acid Concentrations on the Physical Chemical and Organoleptic Characteristics of Pumpkin (Cucurbita Moschata) Syrup
Labu kuning (Cucurbita moschata) merupakan tanaman komoditas yang memiliki kandungan gizi sangat tinggi, produksinya melimpah, dan harganya terjangkau, namun pemanfaatannya belum maksimal. Sirup merupakan produk olahan yang berbahan baku gula dan air dengan persyaratan kadar air gula minimal 65%. Sirup berbahan baku labu kuning dengan penambahan bahan tambahan pangan berupa gula, Carboxyl Methyl Cellulose (CMC), asam sitrat dan jeruk nipis. Variasi konsentrasi pada gula 65% dan 70% dan asam sitrat 0%, 0,1%, 0,3%, dan 0,5% diharapkan dapat memberikan pengaruh terhadap pH, total padatan terlarut, gula reduksi, kadar vitamin C, dan kadar betakaroten. Tujuan penelitian sirup labu kuning yaitu mengkaji dan menentukan konsentrasi gula tebu dan asam sitrat terhadap sifat fisikokimia, dan organoleptik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji pH (metode pH meter), total padatan terlarut (hand refractometer), gula reduksi (metode Nelson-Sumogyi), vitamin C (metode iodimetri), kadar betakaroten (metode spektrofotometer), sedangkan organoleptik menggunakan uji sensori. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa variasi penambahan gula dan asam sitrat memiliki pH 3,50-5,86; total padatan terlarut 10,33-11,4 (obrix); gula reduksi 19,4%-30,21%; kadar vitamin C 20,53-38,13 (mg/100g); dan kadar betakaroten 1,24-2,82 (mg/100g). Pada perlakuan penambahan gula 65% dan asam sitrat 0,5% (A1B3) memiliki penilaian yang disukai panelis berdasarkan parameter aroma, warna dan rasa sirup labu kuning.Pumpkin (Cucurbita moschata) is a commodity plant that has very high nutritional content, abundant production, and affordable price, but its utilization is not maximized. Syrup is a processed product made from sugar and water with a minimum sugar water content requirement of 65%. A syrup made from pumpkin with the addition of food additives in the form of sugar, Carboxyl Methyl Cellulose (CMC), citric acid and lime. Concentration variations on sugar 65% and 70% and citric acid 0%, 0.1%, 0.3%, and 0.5% are expected to have an effect on pH, total dissolved solids, reducing sugar, vitamin C content, and levels of Beta carotene. The research objective of pumpkin syrup is to study and determine the concentration of cane sugar and citric acid on physicochemical and organoleptic properties. The methods used in this study were pH test (pH meter method), total dissolved solids (hand refractometer), reducing sugar (Nelson-Sumogyi method), vitamin C (iodimetric method), beta- carotene content (spectrophotometer method), while organoleptic use sensory test. Based on the results of the study, it is known that the variation of the addition of sugar and citric acid has a pH of 3.50-5.86; total dissolved solids10.33-11.4 (obrix); reducing sugar 19.4%-30.21%; vitamin C levels 20.53-38.13 (mg/100g); and beta-carotene content of 1.24-2.82 (mg/100g). In the treatment of adding 65% sugar and 0.5% citric acid (A1B3), the panelists preferred an assessment based on the parameters of aroma, color and taste of pumpkin syrup
The Effect of Cold Brew and Hot Brew Extraction Methods and Fermentation Duration on the Quality of Robusta Coffea Wine (Coffea Canephora) Temanggung
Wine kopi merupakan minuman hasil proses fementasi dari ekstrak kopi yang memberikan cita rasa unik, dengan memberikan perpaduan rasa kopi dan alkohol serta memiliki aroma khas wine. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode ekstraksi cold brew dan hot brew serta pengaruh lama fermentasi terhadap kualitas wine kopi robusta. Hasil dua metode ekstraksi, cold brew dan hot brew memberikan karakteristik yang berbeda pada parameter pH, kadar gula reduksi, kadar alkohol, kadar kafein hingga uji organoleptik. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa cold brew memberikan citarasa yang lebih ringan, sedangkan hot brew cenderung memiliki citarasa yang lebih kuat atau pahit. Lama fermentasi berpengaruh nyata penurunan pH dan kadar gula reduksi seiring bertambahnya waktu fermentasi. Kadar alkohol wine kopi pada cold brew mencapai 19,93% pada hari ke-28, lebih tinggi dibandingkan dengan hot brew yang memiliki kadar alkohol 18,40%. Hasil analisis organoleptik menunjukkan bahwa cold brew lebih disukai oleh penelis, terutama pada hari ke-28 fermentasi.Wine coffee is a beverage resulting from the fermentation process of coffee extract which is providing a unique taste with a blend of coffee and alcohol flavors, along with a characteristic wine. This study compared the cold brew and hot brew extraction methods and also the effect of fermentation time on the quality of Robusta coffee wine. Through two extraction methods, cold brew and hot brew provided the different characteristics in terms of pH, reducing sugar content, alcohol content, caffeine content, and organoleptic tests. The results showed that cold brew provided a lighter taste, while hot brew tends to had a stronger or bitter taste. The fermentation time significantly affected the decrease in pH and reducing sugar content as the fermentation time increases. The alcohol content of coffee wine in cold brew reached 19.93% on the 28th day, higher than hot brew which had an alcohol content of 18.40%. The results of the organoleptic analysis showed that cold brew was preferred by panelists, especially on the 28th day of fermentation
COMPARISON OF THE QUALITY OF ARABIC COFFEE (Coffea arabica) AND ROBUSTA (Coffea canephora) MIXED WINE PRODUCED THROUGH THE COLD BREW EXTRACTION METHOD USING COMMERCIAL YEAST
Wine adalah minuman hasil fermentasi yang terbuat dari anggur, di Indonesia produksi anggur sangat terbatas sehinga penelitian ini mengeksplorasi bahan baku non anggur untuk pembuatan wine, salah satunya yaitu wine berbahan dasar kopi arabika dan kopi robusta. Tujuan dalam penelitian ini mengetahui karakteristik wine kopi dari kombinasi campuran kopi arabika dan robusta dengan metode cold brew menggunakan yeast komersial serta menentukan komposisi terbaik antara kopi robusta dan arabika untuk menghasilkan wine kopi yang berkualitas melalui metode cold brew. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk membandingkan kualitas wine yang merupakan campuran kopi arabika (Coffea arabica) dan kopi robusta (Coffea canephora). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik wine kopi campuran kopi arabika dan robusta dengan metode coldbrew berupa penurunan pH sekitar (4,23-4,30), nilai gula reduksi antara (16,82%-1780%), kadar alkohol dengan kisaran (13,80%-17,25%), kadar kafein pada rentang (50,16 mg/100 - 128,16 mg/100ml), serta perlakuan komposisi kopi arabika 25% dengan robusta 75% menghasilkan wine kopi dengan karakteristik terbaik, yaitu kadar gula reduksi (16,85%), pH (4,30), kadar kafein (85,81 mg/100ml), dan kadar alkohol (17,25%).Wine is a fermented drink made from grapes. In Indonesia, wine production is minimal, so this research explores non-grape raw materials for making wine, including wine made from Arabica coffee and Robusta coffee. This research aims to determine the characteristics of coffee wine from a combination of Arabica and Arabica coffee mixtures using the cold brew method using commercial yeast and the best composition between Arabica and Arabica coffee to produce quality coffee wine using the cold brew method. This research used a Completely Randomized Design (CRD) to compare the quality of wine which is a mixture of Arabica coffee (Coffea arabica) and Robusta coffee (Coffea canephora). The results of the research show that the characteristics of coffee wine mixed with Arabica and Robusta coffee using the cold brew method are a decrease in pH of around (4.23-4.30), a reduced sugar value between (16.82%-1780%), alcohol content in the range of (13, 80%-17.25%), caffeine content in the range (50.16 mg/100 - 128.16 mg/100ml), as well as treatment of 25% Arabica coffee composition with 75% Robusta produces coffee wine with the best characteristics, namely sugar content reduction (16.85%), pH (4.30), caffeine content (85.81 mg/100ml), and alcohol content (17.25%)
The Effect of 1-Metylcyclopropene (1-MCP) and Temperature on the Quality and Shelf Life of Broccoli (Brassica oleracea L)
Brokoli (Brassica oleracea L.) merupakan sayuran yang mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Namun, brokoli merupakan sayuran yang mudah rusak (perishable), sehingga diperlukan penanganan pascapanen yang dapat menjaga kesegaran ketika brokoli didistribusikan ke daerah yang jauh dan jangka waktu yang lama. Salah satu alternatif teknologi penanganan pascapanen yang dapat diterapkan adalah penggunaan 1-Methylcyclopropene (1- MCP). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi 1-MCP dan suhu terhadap kualitas dan masa simpan brokoli serta mengetahui konsentrasi terbaik terhadap kualitas dan masa simpan brokoli. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi yang terdiri dari 2 faktor yaitu konsentrasi 1-MCP (0 ppm; 0,5 ppm; 0,75 ppm dan 1 ppm) dan suhu (ruang dan kulkas). Data dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance). Pengamatan dilakuan pada hari ke- 3, 7, 10 dan 14. Parameter dalam penelitian ini adalah laju respirasi, kadar air, susut bobot, kandungan klorofil, vitamin C dan warna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan suhu memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas dan daya simpan brokoli sedangkan perlakuan 1-MCP memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas brokoli dan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap masa simpan dari brokol
- …
