50 research outputs found
WET TROPOSPHERIC CORRECTION’S IMPACT ON SEA LEVEL ANOMALY AROUND THE INDONESIAN SEAS
Global sea level rise in the satellite altimetry era is about 3 mm/yr. The one of main source of uncertainty of global sea level is the wet tropospheric from onboard microwave radiometer which is up to 0.3 mm/yr. The focus of this study is to assess of various wet tropospheric correction impact on sea level anomaly in the Indonesian seas. The result of sea level anomaly linear trend difference between Global Navigation Satellite System and Microwave Radio Meter or ECMWF Re-Analysis Interim is 0.18 mm/yr in agreement with the global wet tropospheric uncertainty
MODEL ESTIMASI UPLIFT DAN SUBSIDENCE DARI HASIL UKURAN GPS MENGGUNAKAN METODE POLINOMIAL DI AREA LUMPUR SIDOARJO
Pada penelitian terdahulu oleh Abidin,dkk (2010) dijelaskan bahwa letusan gunung lumpur Sidoarjo telah memicu pergerakan tanah baik vertikal maupun horisontal, sehingga diadakan penelitian dengan menggunakan GPS untuk meneliti pergerakan tanah tersebut. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi subsidence sebesar 0,4 cm/hari hingga 4 cm/hari.
Pada penelitian ini, dilakukan dengan menggunakan metode polinomial untuk menggambarkan bentuk uplift dan subsidence. Data yang digunakan adalah data pengamatan. Dalam penelitian ini dilakukan analisa data setiap kala dengan menggunakan analisa regresi linier dan polinomial orde dua dan tiga.
Dari hasil analisa tersebut didapatkan nilai penurunan tanah terbesar adalah sebesar -0,018 m yang berada di titik BT03 dan nilai kenaikan tanah terbesar adalah sebesar 0,012 m di titik 1304. Sedangkan nilai rata-rata penurunan tanah sebesar -0,012 m dan kenaikan tanah sebesar 0,006 m. Dengan menggunakan analisa korelasi dan determinasi, didapatkan rata-rata terbesar nilai korelasi dan determinasi terbesar pada regresi polinomial ordo 3 yaitu dengan nilai korelasi rata-rata sebesar 0,893 dan nilai determinasi sebesar 0,810. Dari hasil tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa polinomial ordo 3 merupakan bentuk regresi yang paling sesuai untuk menggambarkan model estimasi uplift maupun subsidence
Aplikasi Data SAR-Mode Level 2 Satelit Cryosat-2 untuk Pengamatan Inland Water di Danau Towuti
Data altimetri biasanya digunakan untuk penelitian di wilayah laut. Namun seiring berkembangnya teknologi, resolusi spasial satelit altimetri meningkat sehingga dapat digunakan untuk melakukan penelitian tentang perairan di wilayah darat. Pada penelitian ini bermaksud mengaplikasikan salah satu satelit altimetri yaitu CryoSat-2. Data yang digunakan adalah SAR Intermediate Level 2 untuk menentukan water level di Danau Towuti dengan cakupan waktu pengukuran tahun 2011 hingga 2018. Metode yang digunakan yaitu membandingkan data satelit altimetri dengan data in-situ. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa data satelit altimetri CryoSat-2 dapat digunakan untuk menentukan water level di Danau Towuti dengan menghilangkan data outliner
LAND SUBSIDENCE STUDY USING GEODETICS GPS AND GAMIT/GLOBK SOFTWARE (Case Study : Banjarasri Village and Kedungbanteng Village, Tanggulangin District, Sidoarjo Regency)
Banjir merupakan salah satu bencana alam yang selalu
terjadi di berbagai Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Tercatat beberapa titik banjir terjadi di Desa
Banjarasri dan Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin,
Kabupaten Sidoarjo. Terdapat dugaan bahwa salah satu faktor
penyebab banjir di kedua desa tersebut disebabkan oleh adanya
penurunan tanah (land subsidence). Oleh karena itu, perlu
dilakukan studi untuk memantau besarnya penurunan tanah di
kawasan tersebut. Dalam penelitian ini digunakan metode
pengamatan Global Positioning System (GPS). Penelitian
dilakukan dengan pengambilan data sebanyak enam titik yang
dilakukan selama tiga kala kala, yaitu pada tanggal pada 22 – 27
Oktober 2020, 24 - 29 November 2020, dan 24 – 29 Maret 2021.
Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data GPS, diperoleh
nilai pergeseran dan pergerakan vektor pengamatan. Tercatat
lima titik mengalami penurunan tanah secara signifikan yang
meliputi BM02, BM03, BM04, BM05, dan BM06 dengan nilai
masing-masing sebesar 3,6 cm, 7,3 cm. 5,9 cm, 4,8 cm, dan 5,2
cm. Vektor pergerakan lokal posisi horisontal bergerak secara
beragam dimana BM01 dan BM04 mengalami pergerakan ke
arah barat daya dengan pergeseran 2,5 cm dan 1,4 cm, BM 02
dan BM03 bergerak ke arah barat laut dengan pergeseran 1,0 cm
vi
dan 1,3 cm, BM05 bergerak ke arah tenggara dengan pergeseran
2,5 cm, dan BM06 bergerak ke arah timur laut dengan
pergeseran sebesar 3,8 cm.
Kata Kunci—GPS, Deformasi, Penurunan Tanah
==================================================================================================================
Floods are one of the natural disasters that always occur
in various regions in the Republic of Indonesia. Several flood
points were recorded in Banjarasri Village and Kedungbanteng
Village, Tanggulangin District, Sidoarjo Regency. There is an
allegation that one of the factors causing the flooding in the two
villages was caused by land subsidence. Therefore, it is necessary
to conduct a study to monitor the magnitude of land subsidence in
the area. In this study, the Global Positioning System (GPS)
observation method was used. The research was carried out by
collecting data from six points which were carried out over three
periods of time, namely on 22 – 27 October 2020, 24 – 29
November 2020, and 24 – 29 March 2021. Based on the results of
processing and analyzing GPS data, the observed values for shift
and motion vectors are obtained. Five points that experienced
significant land subsidence, including BM02, BM03, BM04,
BM05, and BM06 with values of 3.6 cm, 7.3 cm, 5.9 cm, 4.8 cm,
and 5.2, cm respectively. The local movement vectors of
horizontal positions move in various ways, where BM01 and
BM04 move to the southwest with a displacement of 2.5 cm and
1.4 cm, BM 02 and BM03 move to the northwest with a
displacement of 1.0 cm and 1.3 cm, BM05 moves to the southeast
viii
with a displacement of 2.5 cm, and BM06 moves to the northeast
with a displacement of 3.8 cm.
Keywords —GPS, Deformation, Land Subsidenc
ANALISA SEA LEVEL RISE DARI DATA SATELIT ALTIMETRI TOPEX/POSEIDON DAN DATA SEA SURFACE TEMPERATURE MENGGUNAKAN SOFTWARE BRAT 2.0.0; STUDI KASUS PERAIRAN INDONESIA
Fenomena kenaikan muka air laut merupakan issue yang mengemuka seiring dengan terjadinya persoalan pemanasan global. Sea Level Rise belum dapat teridentifikasi secara pasti faktor penyebabnya. Pemanfaatan data satelit altimetri Topex/ Poseidon dan data Sea Surface Temperature diharapkan mampu mengkorelasikan antara perubahan kedudukan muka laut dan suhu muka laut sehingga dapat diketahui perubahan kenaikan muka laut nya.
Pengolahan data biner dari satelit altimetri Topex/ Poseidon dilakukan dengan menggunakan software Basic Radar Altimetry Toolbox (BRAT) 2.0.0. Pengolahan data yang sebelumnya dengan menggunakan software Matlab sebagai pembanding pada software BRAT. Pemantauan kenaikan muka laut dilakukan pada perairan Indonesia dalam kurun waktu empat tahun (2002-2005) dengan mengambil 14 titik sample pengamatan. Terdapat tahapan utama pekerjaan dalam proses penentuan Sea Level Rise, yaitu : konversi data, pengecekan hasil, pembentukan grid, pemodelan serta analisa trend muka laut.
Hasil penelitian tahun 2002-2005 menunjukkan bahwa kenaikan muka laut tertinggi berada di Selat Sunda yakni sebesar 27,06 mm/tahun dan Samudera Pasifik sebesar 13,93 mm/tahun sedangkan kenaikan terendah berada di Laut Flores sebesar 1,83 mm/tahun dan Selat Makassar sebesar 2,12 mm/tahun. Kenaikan temperatur terbesar berada di Laut Bangka sebesar 0,084°C/tahun sedangkan penurunan temperatur terbesar di Laut Arafuru sebesar 0,228°C/tahu
The ENSO’s Influence on the Indonesian Sea Level Observed Using Satellite Altimetry, 1993 – 2016
ANALISIS KENAIKAN MUKA AIR LAUT INDONESIA TAHUN 1993-2018 MENGGUNAKAN DATA ALTIMETRI
Kenaikan muka air laut (sea level rise) merupakan konsekuensi dari perubahan iklim yang memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan infrastruktur, serta ancaman tenggelamnya kawasan pesisir Indonesia yang ditinggali oleh 60% penduduknya. Sejak akhir abad ke-19, perubahan kedudukan air laut diamati dari stasiun pasang surut di sepanjang garis pantai. Namun, pengamatan stasiun pasang surut memiliki keterbatasan dalam jumlah, distribusi, dan jangkauannya, serta adanya pengaruh land subsidence. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis tren kenaikan muka air laut Indonesia menggunakan data pengamatan misi referensi satelit altimetri, yaitu Topex/Poseidon, Jason 1, Jason 2, dan Jason 3. Setelah dilakukan least square intercalibrated dan a-seasonal-trend decomposition procedure based on loess diketahui bahwa laju sea level rise di Indonesia +4,5 mm/tahun pada periode tahun 1993-2018. Tren linier bernilai positif ini menunjukkan bahwa ketinggian muka laut di Indonesia akan terus meningkat dengan persamaan y = 4,6x - 9133,5 mm, dimana y adalah sea level anomaly dan x adalah waktu. Sehingga berdasarkan hasil tersebut dapat dilakukan perencanaan pra-kejadian terhadap dampak dari sea level rise yang akan mendatang
Perbandingan Komponen Pasang Surut dengan Analisis Harmonik antara Satelit Altimetri Jason-2 dan Jason-3 dengan Stasiun Pasang Surut pada Perairan Jawa
Teknologi satelit altimetri memiliki peran penting dalam studi oceanografi pada pengamatan pasang surut. Dalam penelitian ini digunakan satelit altimetri Jason-2 dan Jason-3 untuk menghitung SSH yang di interpolasikan diatas titik normal untuk menentukan 9 konstanta pasang surut di daerah perairan Jawa. Dalam penentuan konstanta pasang surut digunakan analisis harmonik metode Least Square dengan menerapkan frekuensi aliasing karena perbedaan interval waktu pengamatan. Hasil komponen pasang surut yang didapat dibuat Co-Tidal untuk mengetahui persebaran amplitudo dan fase komponen pasang surut. Kemudian dilakukan perbandingan dengan hasil komponen dari data pengamatan stasiun pasang surut, didapatkan RMSE paling besar yaitu sebesar 0.176 m pada komponen pasang surut P1 dan RMSE terkecil yaitu sebesar 0.018 m pada komponen pasang surut M4
Analisis Kenaikan Muka Air Laut Terhadap El-Niño Southern Oscillation (ENSO) di Laut Jawa Menggunakan Data Satelit Altimetri Cryosat-2
Kenaikan permukaan air laut atau sea level rise akibat perubahan iklim adalah salah satu masalah serius pada saat ini. Air laut yang bersentuhan langsung dengan wilayah pesisir membuat wilayah tersebut menjadi rentan terhadap lingkungan. Salah satunya Laut Jawa di Indonesia dengan cakupan yang cukup luas akan memberi banyak dampak di wilayah pesisir Pulau Jawa bila adanya kenaikan permukaan laut. Untuk pengamatan tersebut dilakukan perhitungan sea level anomaly (SLA) agar membantu dalam memberi pemahaman permukaan laut serta perubahannya dari waktu ke waktu. Perhitungan SLA menggunakan data dari Satelit Cryosat-2. Cryosat-2 adalah satelit altimetri yang dirancang untuk misi pengamatan lapisan es dan oseanografi yang baik di laut. Serta satelit yang memiliki muatan utama SIRAL (SAR Interferometer Radar Altimetri) dan tingkat akurasi yang sangat baik walaupun tidak memiliki micorwave radiometer. Dari penilitian ini diharapkan mengetahui sea level variability permukaan Laut Jawa dari tahun 2011 sampai dengan 2019. Didapatkan berdasarkan perhitungan regresi linier tren SLA Cryosat-2, Laut Jawa mengalami penurunan sebesar 27,9746 mm dengan laju -3,55 mm/tahun. Hal ini disebabkan oleh fenomena El-Niño Southern Oscillation (ENSO). Hasil perhitungan koefisien korelasi dari detrended sea level anomaly (SLA) dan Multivariate ENSO Index (MEI) adalah -0,6451 yang menandakan korelasi antara keduanya memiliki hubungan cukup namun tidak searah. Semakin tinggi index MEI maka nilai SLA akan semakin rendah di Laut Jawa, begitupun sebaliknya
