1,720,976 research outputs found

    Analisis Kontrastif Persepsi Mahasiswa terhadap Psikologi Pembelajaran dan Implikasinya terhadap Peran Guru Suatu Studi Deskriptif Kualitatif terhadap Mahasiswa Murni dan Mahasiswa Bekerja pada Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini diUniversitas AlAzhar

    Full text link
    Pertumbuhan yang cepat dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini belum diiringi oleh ketersediaan dan kemampuan guru yang memadai. Untuk itu Perguruan Tinggi Keguruan perlu mepersiapkan calon guru yang siap mengajar sesuai dengan perkembangan ilmu terkini berdasarkan  konteks pembelajaran  yang dihadapi. Perbedaan latar belakang mahasiswa program studi PAUD antara  mahasiswa yang berlatar belakang guru dan mahasiswa murni merupakan suatu fenomena yang menarik untuk dikaji guna memperoleh kesamaan dan perbedaan persepsi dalam menyikapi filosofi pembelajaran baik secara teori maupun praktek. Hasil kajian menunjukkan bahwa mahasiswa yang berlatar belakang guru lebih fleksibel dalam menerapkan pendekatan pembelajaran sesuai konteksnya, sedangkan mahasiswa murni lebih berorientasi pada siswa sebagaimana tuntutan perkembangan teori belajar saat ini. Perbedaan ini menunjukkan bahwa mahasiswa harus dibekali praktek pembelajaran lebih banyak dengan berbagai konteks sehingga memberikan fleksibilitas dalam pembelajaran. Abstract The growth of Early Childhood Education (ECE) not yet supported by qualified teacher that makes early childhood education quality are low.  As ECE educator producer, ECE Department of Al Azhar Indonesia University should take role on preparing teacher’s candidate to become well inform both in theoretical and practical perspectives based on contextual teaching. The differences of student’s background between transferred student and fresh student become a phenomenon toward their own teaching perspectives. The research findings show that transferred students are more flexible than  fresh student in teaching where most of fresh student thinking based on   the latest theory studied based on books. The implication of the study is that  the fresh student should have experiences long enough in teaching  with various students background. The experiences with various students background might combine the essence of theory read by the student based on contextual practices

    Praktek Pengalaman Lapangan Studi Evaluatif terhadap Pelaksanaan PPL Mahasiswa PAUD Universitas Al Azhar Indonesia Tahun 2015/2016

    Full text link
    Abstrak - Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan salah satu mata pelajaran yang harus diikuti oleh setiap mahasiswa keguruan termasuk mahasiswa PAUD. Pelaksanaan mata pelajaran PPL berbeda dengan mata pelajaran lainnya yang diikuti di kelas atau dilaksanakan di kampus baik secara teori maupun praktek. Berbeda halnya mata pelajaran PPL adalah mata pelajaran dalam bentuk praktek pengalaman lapangan sebagaimana kegiatan guru di sekolah-sekolah umumnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif (qualitative research). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitik, yaitu data dideskripsikan dengan menggunakan statistik deskriptif, dan dimaknai secara mendalam berdasarkan perspektif emik yaitu penyajian data secara alamiah tanpa melakukan suatu manipulasi atau perlakuan terhadap subjek yang diteliti (Bogdan dan Taylor, 1975:31). Mahasiswa PPL sebagai calon gur harus memiliki 4 kompetensi yaitu: kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi professional, dan kompetensi social. Pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiwa PPL, guru pamong, dan dosen pembimbing memiliki peran yang sangat besar dalam pelaksanaan PPL. Sedangkan peran kelompok PPL dan kepala sekolah kurang memiliki peran dalam pelaksanaan PPL. Kata kunci: mahasiswa PPL, kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi professional, kompetensi sosial  Abstract – Real Experience Program (PPL) is one of subject that should be followed by student of teacher training program include student of PAUD. The implementation of Real Experience Program subjects is different from other subjects that are attended in class or held on campus in both theory and practice. Unlike PPL subjects are subjects in the form of field experience practices as are the activities of teachers in general schools. The method used in this research is qualitative method (qualitative research). This research uses descriptive analytic approach, that is descriptive descriptive data, and interpreted in depth based on the perspective of emik that is the presentation of data naturally without doing a manipulation or treatment of the subjects studied (Bogdan and Taylor 1975: 31). PPL students as candidates must have four competence yitu: pedagogic competence, personality competence, professional competence, and social competence. The knowledge that PPL students, pamong teachers, and lecturers have has a very big role in the implementation of PPL. While the role of PPL groups and principals have less role in the implementation of PPL. Keywords: PPL Students, Pedagogic Competance, Personality Competene, Profesionality Competence, Social Competenc

    Praktik Pengalaman Lapangan

    Full text link
    Abstrak - Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan salah satu mata pelajaran yang harus diikuti oleh setiap mahasiswa keguruan termasuk mahasiswa PAUD. Pelaksanaan mata pelajaran PPL berbeda dengan mata pelajaran lainnya yang diikuti di kelas atau dilaksanakan di kampus baik secara teori maupun praktik. Berbeda halnya mata pelajaran PPL adalah mata pelajaran dalam bentuk praktik pengalaman lapangan sebagaimana kegiatan guru di sekolah-sekolah umumnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif (qualitative research). Penelitian ini menggunakan pendekatan  deskriptif analitik, yaitu data dideskripsikan dengan menggunakan statistik deskriptif, dan dimaknai secara mendalam berdasarkan perspektif emik yaitu penyajian data secara alamiah tanpa melakukan suatu manipulasi atau perlakuan terhadap subjek yang diteliti (Bogdan dan Taylor, 1975:31). Kompetensi mahasiswa PPL meningkat ditandai dengan meningkatnya 4 kompetensi yaitu : kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi professional, dan kompetensi sosial. Pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiwa PPL, guru pamong, dan dosen pembimbing memiliki peran yang sangat besar pengaruhnya dalam pelaksanaan PPL. Sedangkan peran kelompok PPL dan kepala sekolah kurang memiliki peran dalam pelaksanaan PPL. Kata Kunci - Mahasiswa PPL, Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Profesional, Kompetensi Sosial Abstract - Field Experience Program (PPL) is one of the subjects that should be followed by every student teacher including PAUD students. The implementation of PPL subjects is different from other subjects that are attended in class or held on campus in both theory and practice. In contrast to PPL subjects are subjects in the form of field experience practices as are the activities of teachers in general schools. The method used in this study is a qualitative method (qualitative research). This study uses descriptive analytic approach, which is descriptive descriptive data, and is interpreted in depth based on the perspective of emic that is the presentation of data naturally without doing a manipulation or treatment of the subjects studied (Bogdan and Taylor, 1975: 31). Competence of PPL students is marked by increasing the four competencies: pedagogic competence, personality competence, professional competence, and social competence. The knowledge that PPL students, pamong teachers, and lecturers have has an enormous role in PPL implementation. While the role of PPL groups and principals have less role in the implementation of PPL. Keywords - PPL Students, Pedagogic Competence, Personality Competence, Professional Competence,Social Competence

    Pelatihan Peningkatan Strategi Pembelajaran Berbasis Kurikulum 2013

    Full text link
    TK Toledo sebagai mitra dalam kegiatan pengabdian masyarakat merupakan Lembaga Pendidikan yang terletak di daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur. Lembaga Pendidikan ini menyelenggarakan layanan Pendidikan bagi anak usia dini dalam rentang usia 3-6 tahun. Kegiatan belajar mengajar sudah dilakukan oleh guru tetapi pembelajaran yang belum berbasis kurikulum 2013, sehingga tidak dapat diketahui ketercapaian atau ketidaktercapaian dari sebuah kegaiatan pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar. Solusi yang akan diberikan kepada guru melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang didanai dari LP2M UAI pada program competitive public service grant. Adapun bentuk solusi yang akan diberikan adalah pelatihan dan workshop. Pelatihan yang diberikan kepada guru dalam materi pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik merupakan salah satu startegi pembelajaran yang harus dilakukan pada kurikulum 2013 PAUD. Kemudian workshop perangkat pembelajaran, dimana guru-guru menyusun dan merancang rencana kegiatan mingguan dan harian berbasis kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik. Tahap akhir dari kegiatan ini adalah pendampingan dalam mempraktekkan strategi pembelajaran PAUD berbasis kurikulum 2013. Hasil dari kegiatan ini menujukan adanya peningkatan strategi pembelajaran pada guru di TK Islam Toledo sebesar 69% yang memiliki kategori “Baik”. Kesimpulannya adalah kegiatan pelatihan pendektan saintifik dan workshop tentang perangkat pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan strategi pembelajaran yang dimiliki guru.Kata Kunci: Strategi Pembelajaran, Guru, Kurikulum 201

    PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL BENTUK GEOMETRI MELALUI MAZE GEOMETRI PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN

    Full text link
    Perkembangan kognitif berhubungan erat dengan Matematika. Salah satu bagian dari pembelajaran Matematika adalah mengenal bentuk geometri. Salah satu media untuk mendukung pembelajaran Matematika dalam mengenal bentuk geometri yaitu dengan menggunakan media maze geometri. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri melalui media maze geometri pada anak usia 4-5 tahun. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan teknik data kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini dikatakan berhasil jika setiap indikator sudah mencapai target yang ditentukan yaitu 75%. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil penelitian yaitu rata-rata ketercapaian pada siklus I dalam mencocokkan  89.4%, mengelompokkan sebesar 55%, menyebutkan sebesar 52.2%, dan menggambar bentuk geometri sebesar 33.2% sedangkang rata-rata ketercapaian pada siklus II dalam mencocokkan sebesar 90.4%, mengelompokkan sebesar 85.9%, menyebutkan sebesar 90.5%, dan menggambar bentuk geometri sebesar 77.5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media maze geometri dapat meningkatkan kemampuan mengenal bentuk geometri pada anak usia 4-5 tahun di BKB PAUD Melur

    Meningkatkan Kemampuan Mengenal Lambang Huruf pada Anak Usia 4-5 Tahun Melalui Media Kotak Pintar

    Full text link
    Perkembangan anak memerlukan sebuah stimulasi yang tepat sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 146 Tahun 2014 mengenai Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini. Di dalamnya terdapat ketentuan mengenai Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA). STTPA berisi tentang indikator-indikator dalam berbagai aspek perkembangan, termasuk aspek perkembangan kognitif. Salah satu lingkup dari aspek perkembangan kognitif adalah mengenal lambang huruf. Hasil observasi dan diskusi bersama guru di TK Islam Al Kautsar Cibinong menunjukkan rendahnya kemampuan anak dalam mengenal lambang huruf disebabkan kurangnya variasi media pembelajaran. Solusi yang diberikan yaitu menggunakan media inovatif kotak pintar (KOPIN). Tujuan penelitian yaitu meningkatkan kemampuan mengenal lambang huruf pada anak usia 4-5 tahun melalui media KOPIN. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bersifat kolaboratif dan partisipatif, dengan subjek penelitian terdiri dari 11 anak berusia 4-5 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media KOPIN dapat meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal lambang huruf. Hal ini terlihat dari 90% anak yang mampu menyebutkan lambang huruf, 100% anak yang dapat menunjuk sambil membunyikan lambang huruf, 90% anak yang berhasil menyusun lambang huruf, dan 90% anak yang mampu menghubungkan lambang huruf dengan gambar. Beberapa saran yang dapat diberikan adalah menyesuaikan kegiatan KOPIN dengan tema pembelajaran, melakukan brainstorming terlebih dahulu bersama anak, serta memastikan bahan utama pada media KOPIN, seperti lembaran kartu kata, lebih diperhatikan agar dapat diganti sesuai tema yang digunakan

    STRATEGI GURU MENSTIMULASI MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN PRACTICAL LIFE ANAK 4-5 TAHUN

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi guru dalam menstimulasi kemampuan motorik halus melalui kegiatan Practical life, apa saja faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dalam menstimulasi kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan Practical life, serta apa saja kegiatan rutinitas yang dilakukan guru dalam menstimulasi kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan Practical life pada usia 4-5 tahun. Perkembangan motorik halus mengacu pada organisasi otot-otot kecil seperti jari dan tangan, yang membutuhkan ketelitian dan koordinasi dengan tangan, serta penggunaan alat untuk mengerjakan suatu benda. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian adalah 1 orang kepala sekolah dan 6 orang guru kelas A. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi serta teknik analisa data menggunakan model Milles and Hubberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Strategi yang dilakukan oleh guru adalah demonstrasi, pemecahan masalah dan pengajaran langsung. Faktor pendukung dalam menstimulasi motorik halus adalah alat peraga atau apparatus Montessori menggunakan benda sesungguhnya yang dijumpai anak dikehidupan sehari-hari, metode montessori, kerjasama antara guru dan orang tua, pelatihan guru mengenai metode Montessori, dan rekan kerja. Sedangkan Faktor penghambat dalam menstimulasi motorik halus anak adalah kurangnya dukungan orang tua dan kesabaran anak saat bermain. Kegiatan rutinitas yang dilakukan guru dalam menstimulasi kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan Practical life adalah menuang, melipat, dan kegiatan lainnya. Kesimpulan adalah kegiatan practical life dapat menstimulasi perkembangan motorik halus anak usia 4-5 tahun dengan menggunakan strategi pembelajaran demontrasi, pecahan masalah dan pengajaran lagsung

    PENANAMAN KEMANDIRIAN PADA ANAK DI SEKOLAH FIRST RABBIT PRESCHOOL AND DAY CARE

    Full text link
    Hasil penelitian ditemukan bahwa peran guru dalam penanaman kemandirian anak usia 3-4 tahun disekolah first rabbit preschool and day care dapat tercapaimelaluiadanya peran guru yang telah dilaksanakan lewat kelima kontinum yang meliputi; 1) pengamatan; 2) pernyataan tidak langsung; 3) pertanyaan; 4) pernyataan langsung); dan 5) tindakan fisik. Contoh Kelima peran tersebut muncul di dalam rutinitas pada saat kedatangan dan penyambutan siswa hingga pelepasan siswa untuk pulang, yang disampaikan dan dijalankan dengan konsisten. Selanjutnya peran guru yang ada pada kesadaran diri terlihat dominan lebih besar dibandingkan tanggung jawab diri, motorik kasar dan perilaku prososial. Sementara itu hambatan yang di temukan dalam penanaman kemandirian anak berupa, permasalahan dalam diri anak sendiri yang berasal dari faktor internal yang meliputi hambatan dalam kesadaran diri dan tanggung jawab diri. Dapat disarankan dari hasil penelitian, untuk meningkatkan kemandirian baik disesuaikan dirumah maupun disekolah, agar pembentukan kemandirian sejalan

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN BEKERJASAMA ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI METODE BERMAIN KOOPERATIF

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bekerjasama anak, khususnya usia 5-6 tahun. Kemampuan berjasama merupakan hal penting untuk anak karena kemampuan bekerjasama dapat menjadi bekal anak untuk hidup di dalam masyarakat. Kemampuan bekerjasama rendah karena rata-rata di tiap sekolah kurang memperkenalkan bermain secara kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bekerjasama melalui metode bermain kooperatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dan tempat penelitian ini berlokasi di PAUD Ceria, Cikarang Baru. Subjek penelitian terdiri dari 8 anak kelompok B. Hasil penelitian siklus pertama dan siklus kedua sebanyak 33 %. Pada kegiatan anak mau membuat secara bersama-sama sebesar 29%; pada kegiatan anak tidak memilih-milih teman, sebesar 46%; pada kegiatan anak mau berbagi, bergantian, mengoper secara bersama-sama, sebesar 38%; pada kegiatan anak mau menghargai guru dalam menjelaskan cara dan peraturan, sebesar 38%; pada kegiatan anak mampu untuk bersabar, sebesar 54%; pada kegiatan anak mengambil balok, tidak melepas tangan, tidak memindahkan, sesuai peraturan, sebesar 38%; pada kegiatan anak tidak menjatuhkan balok temannya, keluar dari lingkaran, tidak menjatuhkan karet temannya, sebesar 42%; pada kegiatan anak melakukan kegiatan dengan tuntas, sebesar 33%; pada kegiatan anak menempatkan balok, dan membuang sampah ke tempatnya, sebesar 12%.  Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa metode bermain kooperatif dapat meningkatkan kerjasama anak

    GAMBARAN STRATEGI ORANG TUA DALAM PENANGANAN FENOMENA SIBLING RIVALRY PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH

    Full text link
    Sibling Rivalry merupakan fenomena persaingan yang menimbulkan kecemburuan antara saudara kandung. Dalam penanganannya orang tua harus memiliki pengetahuan mengenai fenomena Sibling Rivalry ini. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana strategi penanganan yang dilakukan orang tua orang pada fenomena Sibling Rivalry pada anak usia pra sekolah 3-6 tahun. Subjek penelitian ini adalah 5 keluarga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Kemudian data dianalisis dengan tiga tahap yaitu reduksi, display, dan penarikan kesimpulan dengan model Miles dan Huberman. Berdasarkan hasil penelitian dapat diinformasikan bahwa strategi penanganan pada fenomena sibling rivalry pada anak pra sekolah di Kelurahan Cempaka Putih ini, dari ke-5 subjek penelitian hampir sama yakni tidak bersikap pilih kasih, tidak membandingkan anak satu sama lain, dan bersikap adil, serta mengajarkan sikap berbagi antar saudara kandung. Saran dari hasil penelitian ini adalah orang tua perlu meningkatkan pengetahuan-nya mengenai fenomena sibling rivalry pada anak khususnya anak usia pra sekolah dengan pendidikan, media massa/informasi, sosial budaya dan ekonomi, serta lingkungan dan pengalaman, orang tua perlu lebih memperhatikan faktor-faktor penyebab sibling rivalry pada anak, serta orang tua disarankan mencoba berbagai cara dalam strategi pencegahan fenomena sibling rivalry pada anak
    corecore