1,724,921 research outputs found
TINJAUAN HUKUM TERHADAP PELAKASANAAN ARISAN HAJI
ABSTRAK\ud
FIRDA MUTIARA (B 11109 270), TINJAUAN HUKUM TERHADAP PELAKSANAAN ARISAN HAJI , skripsi ini dibawah bimbingan Soekarno Aburaera selaku pembimbing I dan Achmad selaku pembimbing II.\ud
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perubahan Ongkos Naik haji (ONH) atau Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) mempengaruhi sistem pelaksanaan arisan haji. Di samping itu, penelitian ini juga dimaksudkan juga untuk mengetahui mekanisme dalam arisan haji dan tanggung jawab dari bandar arisan apabila ada yang melakukan wanprestasi serta bagaimana islam memandang pelaksanaan ibadah haji melalui mekanisme arisan. Penelitian ini dilakukan di Kota Makassar. Sumber data dalam penelitian ini antara lain hasil wawancara dengan tokoh-tokoh organisasi Islam di kota Makassar, akademisi, travel penyedia jasa pemberangkatan haji dan penulis juga mewawancarai pihak-pihak terkait seperti mereka yang pernah atau sementara mengikuti arisan tembak.\ud
Untuk mengkaji permasalahan digunakan penelitian yuridis normatif-filosofis yang bersifat kualitatif dan komparatif. Penelitian adalah penelitian kepustakaan, bahan-bahan hukum dianalisis secara kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif dan komparatif. Penulis juga melakukan penelaan terhadap artikel-artikel yang dianggap mempunyai kaitan dan relevan dengan masalah yang diteliti mengenai perjanjian arisan haji. Selanjutnya berdasarkan data dari hasil wawancara yang ada. Penulis berusaha menarik kesimpulan dari fakta-fakta yang bersifat khusus menjadi sebuah kesimpulan yang lebih umum.\ud
\ud
Berdasarkan hasil penelitian maka penulis menyimpulkan bahwa perjanjian arisan haji lahir karena adanya masalah biaya yang menjadi tolak ukur kemampuan sesorang untuk melaksanakan ibadah haji. Sehingga dibuat mekanisme yang memudahkan seseorang untuk melaksanakannya. Namun dalam pelaksanaannya secara hukum, perjanjian arisan haji ini memiliki banyak kelemahan. Misalnya dari sudut keadilan, karena peserta diwajibkan menanggung sendiri biaya haji jika terjadi perubahan ONH atau BPIH. Kemudian rentannya terjadi wanprestasi karena lamanya jangka waktu pelaksanaan arisan haji. Kemudian pro dan kontra pelaksanaan ibadah haji melalui sistem arisan dari kacamata Islam. Pelaksanaan ibadah haji tidak boleh memaksakan diri dalam pelaksanaannya. Ibadah haji ini hanya diwajibkan bagi mereka yang memiliki kemampuan fisik dan harta yang cukup atau berlebih. Sehingga jika ia tidak memiliki kemampuan, tidak wajib baginya untuk melaksanakan ibadah haji
Frontal Intermittent Rhythmic Delta Activity (FIRDA) in the Neurological Intensive Care: Prevalence, Determinants, and Clinical Significance
Introduction. Frontal intermittent rhythmic delta activity (FIRDA), a transient rhythmic slow wave pattern over the anterior EEG leads, has been reported in a wide variety of cerebral lesions and different metabolic disturbances. Few authors have analyzed the frequency and clinical significance of FIRDA in the critical care setting. We aimed to better understand these issues in our intensive care cohort and if possible, try to delineate its underlying mechanisms. Methods. Video-EEG reports of consecutive adult patients in the neurological intensive care unit (NICU) since 2009 were retrospectively reviewed to identify cases with FIRDA. Demographic, clinical, and laboratory data were obtained from EEG reports and patient charts. Age- and sex-matched patients with acute stroke, hospitalized in NICU and no FIRDA on video-EEG monitoring served as the control group. Results. Among 162 patients who underwent video-EEG monitoring, FIRDA was documented in 17%. Female prevalence was 50% and age ranged from 23 to 82 years. Twenty-three (82%) of patients with FIRDA had a diagnosis of stroke. Comparison of demographic characteristics, EEG findings, metabolic disturbances and prognoses revealed no differences between stroke cases with and without FIRDA, except for higher frequency of acute and chronic isolated posterior circulation infarcts in patients with FIRDA. Conclusion. FIRDA is more commonly encountered in the neurocritical care setting as compared with outpatient EEG clinics. Our findings in stroke patients indicate that involved vascular territories may be related to the generation of FIRDA
FIRDA, refractory epilepsy, and SEEG‐guided RF: A case report
Abstract Objectives We will demonstrate that FIRDA (frontal intermittent rhythmic delta activity)—otherwise related to systemic disorders and encephalopathy—has a role as an epileptic biomarker of deep‐seated midline SOZ. Its abolishment following SEEG‐guided radiofrequency of such SOZ correlates with clinical improvement suggesting its role as a noninvasive biomarker of otherwise inaccessible SOZs. Methods We report the case of AK who was admitted with “psychiatric and gastrointestinal complaints.” AK's complaints were further associated with FIRDA during VEEG. His previous refractoriness to AEDs, the clinico‐electroencephalographic correlation, MRI showing bilateral hippocampal atrophy (more to the left) and severe memory deficits, prompted us to suggest a left temporo‐mesial SOZ, for which SEEG was done. Dual SEEG and scalp electrodes were used primarily for diagnostic purposes but taking into account an option for a therapeutic action by RF ablation. Results The dual array demonstrated a clear association between left hippocampal high voltage spikes and HFOs on SEEG recordings with FIRDA on concomitant scalp EEG parallel to behavioral changes, as suspected in our preliminary hypothesis. A further RF ablation eliminated the epileptiform activity (Spikes, HFOs, and FIRDA) followed by clinical improvement. Significance This is the first report showing the clinical significance of FIRDA associated with behavioral changes as a marker for latent refractory mesial epilepsy. SEEG exploration has the potential to uncover deep sources, which are manifested as FIRDA on scalp EEG. These abnormalities and clinical symptoms can be eliminated by RF ablation
PENGARUH PEMBERIAN SARI TOMAT (Lycopersicum esculentum Mill) TERHADAP STRUKTUR TESTIS MENCIT (Mus musculus L.) STRAIN BALB C SETELAH PAPARAN METHOXYCHLOR
Methoxychlor (MXC) merupakan pestisida hidrokarbon klorinat sebagai
pengganti DDT, mempunyai sifat seperti estrogen. Methoxychlor dapat bekerja
sebagai endocrine disruptor dan mengakibatkan stres oksidatif. Testis merupakan
organ reproduksi jantan yang menghasilkan spermatozoa dan testosteron merupakan
salah satu organ target MXC. Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) merupakan
buah banyak mengandung likopen yang memiliki aktivitas antioksidan potensial.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian sari tomat dan
peningkatan dosis sari tomat yang diberikan terhadap jumlah sel-sel spermatogenik
(spermatogonia, spermatosit, dan spermatid), sel Sertoli, sel Leydig, tebal epitel
tubulus seminiferus, dan berat testis mencit (Mus musculus L.) strain Balb C setelah
paparan MXC. Penelitian dilakukan di laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA
Universitas Jember. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap
(RAL). Mencit dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol internal (D0i),
kelompok kontrol (D0), dan 3 kelompok perlakuan (D1, D2, dan D3). Pemberian
MXC dengan dosis 0,42 mg/g bb dilakukan 2 hari sekali selama 36 hari secara
intraperitonial. Pemberian sari tomat dilakukan secara gavage selama 9 hari pada
kelompok perlakuan dengan dosis 0,0455 g/g bb; 0,0637 g/g bb; dan 0,0819 g/g bb,
D0 tanpa pemberian sari tomat sedangkan D0i dibedah setelah perlakuan MXC.
Pembedahan hewan uji D0 dan kelompok perlakuan dilakukan satu hari setelah
pemberian sari tomat terakhir hari ke-10 untuk pengambilan testis. Testis kiri
ditimbang beratnya sedangkan testis kanan dibuat preparat dengan metode parafin
vii
dan pewarnaan Hematoxylin-Eosin. Data dianalisis menggunakan Anava satu arah
kemudian diuji Duncan dengan derajat kepercayaan 1%. Data dilanjutkan dianalisis
menggunakan regresi linear dua atau lebih variable independent dengan metode
stepwise untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap spermatid.
Rerata jumlah pemberian sari tomat (D0I, D0, D1, D2, dan D3)
spermatogonia (38,68; 46,03; 59,65; 73,79; dan 80,07), spermatosit (41,75; 48,43;
56,24; 68,85 dan 77,40), spermatid (69,23; 69,73; 97,61; 121,69 dan 151,24), sel
Sertoli (9,28; 11,53; 14,78; 27,22 dan 38,90), sel Leydig (21,38; 37,23; 51,52; 81,52
dan 83,21), dan tebal epitel tubulus seminiferus (3,56; 3,50; 4,60; 5,60 dan 6,36)
dengan menggunakan uji Anava setiap parameter tersebut diperoleh P (0,00) < 0,01.
Hal ini menunjukkan bahwa pemberian sari tomat setelah paparan MXC berpengaruh
sangat nyata terhadap rerata jumlah spermatogonia, spermatosit, spermatid, sel
Sertoli, sel Leydig, dan tebal epitel tubulus seminiferus. Hasil uji Duncan
menunjukkan bahwa peningkatan rerata jumlah spermatogonia, spermatosit,
spermatid, sel Sertoli, sel Leydig, dan tebal epitel tubulus seminiferus pada setiap
perlakuan berbeda sangat nyata dengan kontrol internal. Rerata berat testis pemberian
sari tomat D0I, D0, D1, D2, dan D3 yaitu 0,10; 0,10; 0,11; 0,12 dan 0,12 pada uji
Anava diperoleh nilai P (0,00) > 0,01. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian sari
tomat setelah paparan MXC tidak berpengaruh terhadap rerata berat testis. Hasil uji
Duncan menunjukkan peningkatan berat testis pada setiap perlakuan tidak terdapat
perbedaan sangat nyata dengan kontrol internal.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian sari
tomat setelah paparan MXC berpengaruh pada struktur testis dan semakin tinggi
dosis sari tomat yang diberikan semakin meningkatkan rerata jumlah spermatogonia,
spermatosit, spermatid, sel Sertoli, sel Leydig, tebal epitel tubulus seminiferus dan
berat testis. Adanya hubungan antar variabel (jumlah sel-sel spermatogenik, sel
Sertoli, sel Leydig, dan tebal epitel tubulus seminiferus). Jumlah sel Sertoli
merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap jumlah spermatid
FIrDA-SSL: Experiments with securing communication in PANs
In Personal Area Networks (PANs), a Personal Operating Space (POS) surrounds the person up to 10 meters in all directions and it contains several types of wireless devices exchanging data between them (intra-PAN communication), or with devices from another POS or as part of broader networks (inter-PAN communication). Security is seen as a “big issue ” both for intra and inter-PAN communication. The security mechanisms or protocols involved should also run on user devices within a reasonable amount of time. Clearly one of the first issues to be addressed in PANs is to transfer information securely and we provide a practical approach for this issue. In practice, we want to enable the exchange of “personal ” data only to authenticated parties and doing this with standard protocols, client software or commercial products available at the moment. We developed a tool named FIrDA-SSL (Footprint Irda SSL transfer) for secure transfer of small amounts of data, like a credit card number, or a personal identification information, between devices with infrared ports. FIrDA-SSL’s performance running on a Windows CE-enabled handheld PC and having a StrongARM processor at 206 MHz (i.e. HP Jornada 720) was compared with the one obtained when running FIrDA-SSL on ’powerful ’ Windows 2000/XP-enabled laptops. FIrDA-SSL connection latency was also confronted with the experiments run in other related work, e.g. on a Palm Pilot platform
MELAMBUNGNYA HARGA SEMBAKO MENJELANG RAMADHAN DAN PANDEMI COVID-19
Jurnal ini saya buat untuk memberikan beberapa contoh dari dampak yang ditimbulkan dari melambungnya harga sembako menjelang ramadhan dan dampak pandemi covid-19 hal ini bisa menjadi berdampak besar terhadap kemiskinan yang ada di beberapa kota-kota indonesia. Data yang saya gunakan dalam penulisan jurnal ini adalah beberapa data pada tahun periode akhir tahun 2019 hingga bulan maret 2020 . metode yang saya pakai untuk mengerjakan jurnal saya ini adalah regresi dari data panel yang ada atau analisis model random effect.
Hasil dari penelitian ini beberapa menunjukkan bahwa di periode akhir tahun 2019 hingga bulan maret 2020, telah menunjukkan beberapa dampak inflasi dan pengangguran akibat dampak covid-19 yang berpengaruh sangat signifigkan terhadap kemiskinan yang ada di seluruh wilayah di indonesia. hasil menunjukkan 60%. Yang artinya ini bisa menjadi dampak buruk untuk sebuah wilayah yang berdampak covid-19. dampak yang bisa saya gambarkan independennya yaitu (inflasi dan pengangguran) ini mampu untuk menjelaskan (kemiskinan) yang ada sebesar 40%, sedangkan sisanya 60% akan dijelaskan oleh gambar diluar lainnya
- …
