1,721,005 research outputs found

    Studi Penggunaan Bronkodilator pada Pasien Rawat Inap dengan PPOK Eksaserbasi Akut di RS. Paru Jember Tahun 2018

    Get PDF
    Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyebab utama kematian ketiga di dunia yang ditandai dengan adanya hambatan aliran udara yang bersifat progresif dan berkaitan dengan respon inflamasi kronis pada saluran napas dan atau paru-paru akibat adanya partikel atau gas yang berbahaya. Prevalensi PPOK di Jawa Timur sebesar 3,4%, dan Kabupaten Jember menduduki posisi ketujuh yang paling banyak menderita PPOK. Salah satu golongan obat yang digunakan untuk terapi pada PPOK eksaserbasi akut adalah bronkodilator. Short Acting Beta 2 Agonist (SABA) inhalasi dengan atau tanpa Short Acting Muscarinic Antagonist (SAMA) direkomendasikan sebagai terapi bronkodilator awal untuk mengobati eksaserbasi akut yang ditandai dengan bertambahnya sesak dan produksi sputum, serta adanya perubahan warna sputum. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik pasien, pola pengobatan dan efektivitas pengobatan pada pasien PPOK eksaserbasi akut yang menggunakan terapi bronkodilator pada pasien rawat inap di RS. Paru Jember tahun 2018 berdasarkan parameter sesak, ronki (r/h) dan wheezing (w/h), SaO2. Desain penelitian ini yaitu penelitian deskriptif non eksperimental dengan pengumpulan data secara retrospektif dari rekam medik pasien mulai tanggal 01 Januari – 31 Desember 2018. Data pasien yang diambil tercatat 34 pasien PPOK yang memenuhi kriteria inklusi untuk analisis deskriptif dan analisis statistik. Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui gambaran karakteristik pasien dan pola pengobatan. Analisis statistik untuk mengetahui efektivitas penggunaan terapi bronkodilator terhadap parameter SaO2, dilakukan dengan menggunakan uji T berpasangan, sedangkan sesak, ronki (r/h) dan wheezing (w/h) menggunakan uji Wilcoxon dengan derajat kepercayaan sebesar 95%. Analisis data dilakukan menggunakan software SPSS 16.0.Pasien PPOK eksaserbasi akut didominasi oleh pasien laki-laki sebanyak 23 orang (67,6%), sedangkan perempuan sebanyak 11 orang (32,4%). Distribusi pasien berdasarkan usia yang tertinggi adalah kelompok umur ≥ 65 tahun (58,8%). Proporsi status pendidikan terbanyak pada kelompok tamat SD/sederajat sebesar 70,6%. Distribusi berdasarkan pekerjaan pasien didominasi oleh petani yaitu sebesar 41,2%, sedangkan pasien yang tidak bekerja sebesar 32,4%, wiraswasta sebesar 20,6%, serta pegawai swasta dan buruh memiliki persentase yang sama yaitu 2,9%. Bronkodilator yang paling banyak digunakan adalah aminofilin yakni sebanyak 31 pasien. Rute pemberian obat yang paling banyak digunakan yaitu secara inhalasi. Golongan bronkodilator yang paling banyak digunakan adalah agonis β-2, yaitu salbutamol, fenoterol dan terbutalin. Pemberian bronkodilator tunggal yang sering diberikan adalah aminofilin, sedangkan pemberian bronkodilator kombinasi yang paling banyak diberikan adalah 3 kombinasi yakni aminofilin/salbutamol/fenoterol. Hasil analisis menggunakan uji Wilcoxon berdasarkan parameter sesak menunjukkan nilai p=0,001 (<0,05) dengan nilai rata-rata sebelum dan sesudah penggunaan bronkodilator adalah 1±0 dan 0±0. Hasil analisis untuk parameter r/h adalah p=0,008 dan untuk parameter w/h adalah p=0,011. Nilai rata-rata r/h sebelum dan sesudah penggunaan bronkodilator adalah 0,47±0,861 dan 0,06±0,343, sedangkan nilai rata-rata w/h sebelum dan sesudah penggunaan bronkodilator adalah 0,59±0,925 dan 0,12±0,478. Uji analisis berdasarkan parameter SaO2 menggunakan uji T berpasangan diperoleh nilai p=0,940 dengan nilai rata-rata SaO2 sebelum dan sesudah penggunaan bronkodilator adalah 96,76±1,724 dan 96,74±1,797. Penggunaan bronkodilator dapat memperbaiki parameter sesak, r/h, w/h secara bermakna, sedangkan pada parameter SaO2 tidak terdapat beda bermakna sebelum dan sesudah penggunaan bronkodilator

    Uji Aktivitas Inulin Umbi Dahlia(Dahliaspp. L)Terhadap Peningkatan Absorbsi Kalsium Pada Serum Darah Tikus Jantan

    No full text
    Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat di dalam tubuh.Peranan kalsium dalam tubuh yaitu membantu pembentukan tulang dan gigi serta berperan dalam proses biologis dalam tubuh. Kadar kalsium dalam plasma darah normal berkisar antara 9,2-10,4 mgdl-1. Kekurangan kalsium dalam darah dapat menyebabkan hipokalsemia. Salah satu cara meningkatkan kadar kalsium dalam tubuh yaitu meningkatkan absorbsi kalsium dengan penggunaan inulin. Menurut Kaur dan Gupta (2002), inulin dapat meningkatkan penyerapan kalsium. Salah satu sumber inulin yang ada di Indonesia adalah umbi dahlia. Inulin dari umbi dahlia diperoleh dari proses ekstraksi. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui aktivitas inulin dalam ekstrak umbi dahlia terhadap peningkatan absorbsi kalsium dalam darah serta mengetahui perbedaan aktivitas inulin umbi Dahlia (Dahlia sp. L) pada berbagai dosis berbeda. 24 tikus putih jantan yang dikelompokkan kedalam beberapa kelompok besar yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dengan variasi dosis inulinekstrak umbi dahlia. Pengambilan serum darah tikus putih jantan dilakukan pada menit ke-0, menit ke-60, menit ke-150, menit ke-270 dan menit ke-450. Kemudian dilakukan penetapan kadar kalsium dalam serum darah dengan metode AAS dan dilakukan analisis data menggunakan program SPSS Statistics 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan absorbsi kalsium serum darah tikus.Puncak peningkatan absorbsi kalsium serum darah terjadi pada menit ke-60 dan akan menurun pada menit berikutnya, hal ini disebabkan karena kalsium akan diabsorbsi di dalam usus halus setelah 1-2 jam, kemudian akan difiltrasi oleh glomerolus ginjal. Hasil uji statistik dengan ANOVA, terdapat perbedaan yang bermakna antar perlakuan dengan nilai p=0,008 dan kelompok yang bermakna yaitu kelompok kontrol normal berbeda bermakna dengan kelompok kontrol positif, kelompok dosis 1, kelompok dosis 2 dan kelompok dosis 3 dengan nilai p< 0,05.Kelompok kontrol negatif hanya berbeda bermakna dengan kelompok dosis 1 dengan nilai p=0,039. Sedangkan untuk kelompok dosis, peningkatan absorbsi antar kelompok dosis tidak berbeda signifikan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa inulin umbi dahlia (Dahlia sp. L)memiliki aktivitas meningkatkan kadar kalsium dalam serum darah tikus jantan pada puncak absorbsi kalsium serum darah yang terjadi pada menit ke-60. Namun, aktivitas inulin umbi dahlia (Dahlia sp. L) dalam meningkatkan kadar kalsium serum darah pada dosis yang berbeda memberikan hasil tidak berbeda secara signifikan pada menit ke-6

    VALIDASI METODE SPEKTOFOTOMETER SERAPAN ATOM (SSA) UNTUK PENETAPAN KADAR KALSIUM DALAM TULANG FEMUR TIKUS

    No full text
    Kalsium merupakan makromineral yang paling banyak terdapat di semua jaringan tubuh dan terlibat dalam proses biologi dan metabolisme tubuh. Tubuh manusia mengandung sekitar 1 kg kalsium. Sekitar 99% kalsium dalam tubuh ditemukan pada tulang dan gigi dan sekitar 1% terdapat pada cairan ekstra sel. Kalsium dalam tulang berupa mineral hidroksiapatit [CA10(PO4)6(OH)2] (Flynn, 2003). Asupan kalsium yang kurang dapat meningkatkan prevalensi resiko patah tulang pada usia menua. Hal ini terjadi ketika kalsium dalam tulang mengalami ketidakseimbangan antara resorpsi dan pembentukannya. Sehingga dibutuhkan asupan kalsium untuk menguragi resiko patah tulang (Douglas, 2013). Penelitian yang dilakukan merupakan eksperimental laboratorium dengan jumlah sampel 12 ekor tikus dibagi dalam 2 kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol negatif (hanya diberi pakan standar 10% dari berat badan), kelompok perlakuan kalsium (dosis 0,09 g/ kg/ BB/ hari), perlakuan dilakukan seacara peroral selama 25 hari. Pada hari ke-26, dilakukan pembedahan dan diambil tulang femur untuk menentukan kadar kalsium dalam tulang. Tulang femur selanjutnya difurnace untuk mendapatkan sampel yang nantinya akan diukur oleh alat Spektrofometer Serapan Atom (SSA). Sebelum dilakukan pengukuran sampel untuk menentukan kadar kalsium dalam tulang femur, tahap berikutnya adalah dilakukan proses optimasi dan validasi metode. Proses optimasi meliputi: optimasi arus lampu, lebar celah, laju asetilen, panjang gelombang dan konsentrasi uji. Validasi metode meliputi: uji linieritas, uji batas deteksi dan batas kuantitasi, uji presisi dan uji akurasi. Hasil penelitian menunjukkan untuk kondisi optimum metode SSA untuk penetapan kadar kalsium yaitu digunakan pada penentuan kadar kalsium arus lampu sebesar 10 mA; lebar celah sebesar 0,2 nm; laju asetilen sebesar 1,6 L/menit.; dengan panjang gelombang 422,7 nm, dengan konsentrasi uji optimum adalah 10 ppm. Validasi metode yang telah dilakukan diperoleh hasil untuk uji liniertas nilai koefisien korelasi r = 0,99697 menggunakan persamaan regresi linier dan Vx0 = 4,7998%; dan nilai Xp = 4,6502 ng. Uji batas deteksi dan batas kuantitasi dengan nilai BD = 0,6369 ppm dan BK= 1,9107 ppm. Uji presisi dengan nilai RSD= 1,86% . Uji akurasi dengan nilai Mean Recovery ± RSD = 100,726% ± 1,081%. Dari hasil yang didapatkan metode SSA dapat dikatakan valid dan dapat digunakan untuk mengukur kadar kalsium dalam femur tikus. Hasil pengukuran kadar diperoleh kadar kalsium dalam tulang femur tikus diberi asupan kalsium sebesar (kadar kalsium ± RSD) 15,8% ± 1,14% dan 17,8% ± 1,80%

    PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH RAMBUTAN (Nephelium lappaceum HDL DAN LDL MENCIT BAGIAN FARMASI KLINIK DAN KOMUNITAS L.) TERHADAP KADAR DIABETES

    No full text
    Diabetes melitus adalah penyakit metabolisme berupa kumpulan gejala yang timbul pada seseorang karena adanya peningkatan kadar glukosa darah di atas nilai normal yang disebabkan gangguan metabolisme glukosa akibat kekurangan insulin. Komplikasi yang biasa terjadi pada diabetes melitus adalah dislipidemia, ditandai dengan meningkatnya kadar trigliserida dan menurunnya kadar HDL dan menurunnya kadar LDL. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis. Aterosklerosis adalah plak yang terbentuk oleh lemak, mempunyai inti lipid, dan berada didalam inti pembuluh darah. Apabila selubung itu ruptur menyebabkan angina tidak stabil, infark miokard, ataupun stroke. Senyawa yang diduga dapat mencegah terjadinya komplikasi diabetes melitus adalah antioksidan, fenol dan flavonoid. Pemberian antioksidan dan golongan polifenol menunjukkan dapat menangkap radikal bebas, mengurangi stress oksidatif, dan mampu mengontrol kadar glukosa darah serta mencegah komplikasi diabetes. Salah satu tanaman yang diduga mengandung fenol dan flavonid dan dapat digunakan sebagai obat antidiabetes dan mencegah komplikasinya adalah tanaman rambutan, bagian tanaman yang digunakan adalah bagian kulit buahnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol kulit buah rambutan terhadap perubahan kadar HDL dan LDL mencit diabetes serta mengetahui efek ekstrak etanol kulit buah rambutan pada tiga dosis yang berbeda terhadap kadar HDL dan LDL mencit diabetes karena induksi aloksan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental laboratorik yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang ditimbulkan akibat perlakuan yang berbeda, menggunakan 24 ekor mencit yang dikelompokkan menjadi 6 kelompok. Sebelum perlakuan, mencit semua kelompok diinduksi menggunakan aloksan kecuali kelompok normal. Setelah lima hari induksi aloksan semua kelompok diambil darah melalui sinus orbitalis mata dan diuji kadar glukosa, HDL, dan LDLnya. Kelompok pertama merupakan kelompok normal yang tidak diberikan perlakuan apapun, kelompok kedua diberikan CMC Na 1% sebagai kontrol negatif, kelompok ketiga diberikan glibenklamid dosis 1,3 mg/kgBB sebagai kontrol positif, kelompok empat diberikan ekstrak dosis 200 mg/kgBB, kelompok lima diberikan ekstrak dosis 400 mg/kgBB, dan kelompok enam diberikan ekstrak dosis 600 mg/kgBB. Semua hewan uji diberi perlakuan selama 14 hari. Selanjutnya pada hari ke15 semua mencit dikorbankan dan diambil darah dari ventrikel kanan organ jantung dan diukur kadar glukosa, HDL, dan LDLnya. Data dari hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan oneway ANOVA pada taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji LSD (Least Significant Different) untuk mengetahui kelompok mana yang memiliki perbedaan bermakna. Dari percobaan, dosis terendah ekstrak 200 mg/kgBB sudah mampu meningkatkan kadar HDL dan menurunkan kadar LDL, ratarata peningkatan kadar HDL dan penurunan kadar LDL terbesar terjadi pada kelompok dosis 400 mg/kgBB, pada peningkatan dosis menjadi 600 mgkgBB ratarata peningkatan kadar HDL dan penurunan kadar LDL menjadi lebih kecil. Kesimpulan yang diperoleh pada penelitian ini adalah ekstrak etanol kulit buah rambutan mampu meningkatkan kadar HDL dan menurunkan kadar LDL mencit diabetes. Ratarata peningkatan kadar HDL dan penurunan kadar LDL terbesar ditunjukkan oleh dosis 400 mg/kgBB

    PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH DAN HISTOLOGI PANKREAS MENCIT YANG DIINDUKSI ALOKSAN

    No full text
    Diabetes melitus merupakan salah satu ancaman utama bagi kesehata n umat manusia pada abad 21. Indonesia sendiri menempati peringkat ke-7 dengan prevalensi diabetes melitus tertinggi di dunia. Penyakit diabetes melitus merupakans uatu sindrom terganggunya metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh berkurangnya sekresi insulin atau penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin. Dari keseluruhan total jumlah penderita diabetes melitus didominasi oleh penderita diabetes melitus tipe II. Pada diabetes melitus tipe II terjadi resistensi insulin sehingga sel beta pankreas akan mengalami desensitisasi terhadap adanya glukosa, sehingga organ pankreas dapat digunakan sebagai parameter langsung karena berperan dalam sistem pengaturan glukosa dalam darah. Di Asia Tenggara ,kulit buah rambutan telah lama digunakan sebagai obat tradisional dalam pengobatan diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar aktivitas antidiabetes dan pengaruh pemberian ekstrak terhadap histologi pankreas antara berbagai dosis ekstrak etanol kulit buah rambutan yang dibandingkan dengan kontrol positif dan kontrol negatif. Jenis penelitian eksperimental pada penelitian inia dalahtrue experimental laboratories dengan menggunakan rancangan peneletian Pre and Post Test Control Group Desain. Sampel yang digunakan adalah mencit jantan yang memiliki kadar glukosa awal <176,0 mg/dL, kemudian dibagi dalam 6 kelompok perlakuan yaitu kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif, dosis 200 mg/kgBB, dosis 400 mg/kgBB, dan dosis 600 mg/kgBB. Prosedur pengujian dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode induksi aloksan. Hewan coba dikatakan diabetes melitus jika kadar glukosa darahlebihdari 176,0 mg/dL. Pengukuran kadar glukosa darah menggunakan alat fotometer biolyzer 100. Berdasarkan hasil analisis menggunakan one way anova dengan taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Least Significant Different (LSD) menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara kelompok kontrol negatif terhadap kelompok kontrol positif; dosis 200 mg/kgBB; dosis 400 mg/kgBB; dan dosis 600 mg/kgBB baik data penurunan glukosa maupun data persentase kerusakan pulau Langerhans pada organ pankreas. Kelompok kontrol positif tidak memiliki perbedaan bermakna dengan dosis 200 mg/kgBB dan dosis 400 mg/kgBB, namun memiliki perbedaan yang bermakna dengan dosis 600 mg/kgBB. Persentase penurunan kadar glukosa darah terbesar dihasilkan oleh kelompok dosis 400 mg/kgBB yaitu sebesar 45,26 % dan dengan persen kerusakan pulau Langerhans terendah yaitu sebesar 7,96%.Senyawa aktif yang diduga memiliki aktivitas sebagai antidiabetes adalah alkaloid, terpenoid, flavonoid, dan fenol. Senyawa-senyawa aktif seperti fenol memiliki kemampuan sebagai antioksidan diduga mampu melindungi sel β pankreas dari efek toksik radikal bebas yang diproduksi dibawah kondisi hiperglikemia kronis. Flavonoid memiliki efek penghambatan terhadap enzim alfa gukosidase melalui ikatan hidroksilasi dan substitusi pada cincin β. Senyawa alkaloid bekerja dengan menstimulasi hipotalamus untuk meningkatkan sekresi Growth Hormone Releasing Hormone (GHRH), sehingga sekresi Growth Hormone (GH) pada hipofisis meningkat. Terpenoidi dalam ekstrak etanol kulit buah rambutan juga membantu dalam mengurangi kerusakan pulau Langerhans pankreas dengan menghambat sintesis iNOS

    PENGARUH EKSTRAK ETANOL BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten). Steenis) TERHADAP PROFIL HISTOPATOLOGI PENYEMBUHAN LUKA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI ALOKSAN

    No full text
    Jumlah penderita Diabetes Melitus (DM) terus meningkat dari tahun ke tahun. Diperkirakan terdapat 382 juta jiwa penderita DM di seluruh dunia pada tahun 2013. Jumlah ini akan meningkat menjadi 592 juta jiwa pada tahun 2035. Di Indonesia, prevalensi DM diperkirakan sebesar 6,7%, sedangkan berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 prevalensi DM sebesar 6,9%. Seiring dengan berjalannya waktu DM dapat menyebabkan komplikasi yang serius, salah satunya adalah ulkus diabetik. Pada tahun 2008, diperkirakan terdapat 8,0% penderita DM yang mengalami ulkus diabetik. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui aktivitas binahong dalam penyembuhan ulkus diabetik dilihat dari profil histopatologinya. Tanaman yang dapat menyembuhkan luka adalah binahong (Anredera cordifolia (Ten). Steenis). Secara farmakologi binahong memiliki aktivitas sebagai antioksidan, antifungi, antibakteri, antidiabetes, dan antiinflamasi. Kandungan metabolit sekundernya antara lain alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Jenis penelitian yang dilakukan adalah true experimental laboratories dengan rancangan penelitian post test control group design. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi ekstraksi, karakterisasi ekstrak, dan uji aktivitas. Serbuk binahong diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi bertingkat menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol 70%. Ekstrak yang diperoleh ditentukan %rendemen dan dikarakterisasi, meliputi susut pengeringan, kadar flavonoid total, dan profil kromatografi lapis tipis. Pengujian aktivitas ekstrak binahong dilakukan secara in vivo pada tikus wistar jantan diabetes. Sebanyak 25 hewan uji diinduksi menggunakan aloksan dengan dosis 150 mg/kg BB sehingga hewan uji diabetes (glukosa darah ≥200 mg/dl). Hewan uji yang telah diabetes kemudian dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kontrol positif, kontrol negatif, kelompok perlakuan 1, kelompok perlakuan 2, dan kelompok perlakuan 3. Hewan uji dianestesi menggunakan ketamin dengan dosis 50 mg/kg BB dan dieksisi kulit punggungnya dengan diameter 2,5 cm. Kelompok kontrol positif diberikan salep mupirosin dosis 100 mg, kelompok kontrol negatif tidak diberikan perlakuan, kelompok perlakuan 1 diberikan ekstrak etanol binahong dosis 100 mg, kelompok perlakuan 2 diberikan ekstrak etanol binahong dosis 200 mg, dan kelompok perlakuan 3 diberikan ekstrak etanol binahong dosis 400 mg. Perlakuan dilakukan selama 20 hari. Pada hari ke-21 hewan uji dikorbankan dan dibuat preparat jaringan penyembuhan luka. Setiap preparat diamati perkembangan kesembuhan luka secara histologi, yaitu pembentukan pembuluh darah baru, kolagen, dan jaringan epitel yang selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan memperbandingkan antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan nilai %rendemen ekstrak etanol binahong sebesar 25,81%. Hasil dari karakterisasi ekstrak adalah nilai susut pengeringan sebesar 49,29%±0,28%; kadar flavonoid total sebesar 1,10%±0,53%; serta profil KLT dengan 5 bercak noda pada Rf1 0,37; Rf2 0,48; Rf3 0,72; Rf4 0,93; dan Rf5 0,97. Secara makroskopis penyembuhan pada kelompok kontrol positif 96,69%; kontrol negatif 56,92%; ekstrak binahong dosis 100 mg 65,32%; ekstrak binahong dosis 200 mg 93,32%; dan ekstrak binahong dosis 400 mg 96,90%. Histopatologi pada kelompok kontrol positif menunjukkan terbentuknya kolagen dan jaringan epitel dengan jumlah pembuluh darah sedikit. Pada kelompok kontrol negatif belum terbentuk jaringan epitel, jumlah kolagen sedikit, dan pembuluh darah banyak. Pada kelompok ekstrak binahong dosis 100 mg jaringan epitel dan kolagen terbentuk sedikit dan jumlah pembuluh darah masih banyak. Pada kelompok ekstrak binahong dosis 200 mg jaringan epitel dan kolagen terbentuk banyak dengan jumlah pembuluh darah sedikit. Kolagen yang terbentuk di beberapa bagian telah mature. Pada kelompok ekstrak binahong dosis 400 mg jaringan epitel dan kolagen banyak terbentuk dengan jumlah pembuluh darah sedikit. Terdapat kolagen yang telah mature dan kelenjar keringat telah terbentuk. Pemberian ekstrak etanol binahong pada ulkus diabetik dapat memperbaiki proses penyembuhan luka. Hal ini dapat diketahui dari peningkatan pembentukan jaringan epitel dan kolagen yang disertai penurunan jumlah pembuluh darah baru. Perbaikan ini semakin meningkat seiring dengan semakin meningkatnya dosis ektrak etanol binahong yang diberikan

    UJI AKTIVITAS ANTIDIABETES EKSTRAK ETANOL DAUN KLUWIH (Artocarpus camansi PANKREAS MENCIT JANTAN YANG DIINDUKSI ALOKSAN BAGIAN FARMASI KLINIK DAN KOMUNITAS camansi) DAN GAMBARAN HISTOLOGI

    No full text
    Diabetes Melitus (DM) adalah suatu sindrom dengan terganggunya metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Hal tersebut disebabkan oleh berkurangnya sekresi insulin atau penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin. Meningkatnya jumlah penderita DM setiap tahunnya, bahaya DM hingga merusak jaringan pankreas, serta biaya pengobatan DM yang mahal terutama jika disertai dengan komplikasi klinis mendorong peneliti untuk mencari obat tradisional yang dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan. Salah satu spesies tanaman yang memiliki khasiat sebagai obat antidiabetes adalah tanaman kluwih.Kandungan flavonoid sebagai antioksidan yang terkandung dalam daun kluwih diduga mampu meregenerasi sel-sel pankreas yang rusak akibat pembentukan oksigen reaktif sehingga dapat mengatasi defisiensi insulin. Penelitian ini merupakan jenis true experimental laboratories, menggunakan mencit jantan galur Balb-C. Hewan uji diberi perlakuan ekstrak etanol daun kluwih selama 14 hari menggunakan tiga macam dosis yaitu 25, 50, dan 100 mg/kgBB dengan dengan kontrol positif glibenklamid dosis 1,3 mg/kgBB. Penelitian ini menggunakan alisis data uji statistika one way anova untuk pengujian lebih dari satu sampel. Berdasarkan hasil uji diperoleh ekstrak etanol daun kluwih dengan dosis 50 mg/kgBB memiliki persen penurunan kadar glukosa darah terbesar yaitu 68,99% dengan persentase kerusakan pankreas terkecil yaitu 4,06%. Kesimpulan penelitian ini bahwa ekstrak etanol daun kluwih dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi tingkat kerusakan pada jaringan sel pulau Langerhans pankreas

    PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL DAUN KLUWIH (Artocarpus camansi) TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL MENCIT JANTAN DIABETES YANG DIINDUKSI ALOKSAN

    No full text
    Prevalensi diabetes melitus (DM) yang terus meningkat baik di dunia maupun di Indonesia, menjadikan DM menjadi permasalahan kesehatan global yang perlu segera ditangani terutama mengenai komplikasi meningkatnya kolesterol dalam darah yang menyebabkan terjadinya penyakit jantung koroner yang merupakan pembunuh nomer satu di dunia. Kluwih (Artocarpus camansi) merupakan salah satu tumbuhan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen antidiabetes sekaligus antihiperlipid karena adanya kandungan flavonoid di dalamnya yang diduga memiliki aktivitas antidiabetes dengan meningkatkan antioksidan tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas daun kluwih terhadap kadar kolesterol total mencit diabetes. Penelitian ini merupakan true eksperimental laboratories, menggunakan mencit jantan galur Balb-C. Hewan uji diberi perlakuan ekstrak etanol daun kluwih selama 14 hari menggunakan 3 peringkat dosis yaitu 25, 50, dan 100 mg/kgBB dengan kontrol positif glibenklamid dosis 1,3 mg/kgBB. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji statistika one way anova untuk pengujian lebih dari satu sampel. Hasil penelitian ini adalah ekstrak etanol daun kluwih dosis 50 ml/kgBB menurunkan kadar kolesterol total mencit diabetes sebesar 34,03%, paling besar jika dibandingkan dengan dosis lainnya. Dosis 25 dan 100 ml/kgBB hanya mampu menurunkan kadar kolesterol total sebesar masing-masing 14,09% dan 19,49%.Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun kluwih yang diduga mengandung senyawa flavonoid mampu menurunkan kadar kolesterol total mencit jantan diabetes yang diinduksi aloksan

    PENGARUH DEMOGRAFI DAN PROFIL PENGOBATAN TERHADAP KEPATUHAN KONTROL PADA PASIEN TUBERCULOSIS (TB) RAWAT JALAN di RSD dr. SOEBANDI JEMBER JANUARI – JULI TAHUN 2013

    No full text
    Tuberkulosisadalahsuatupenyakitinfeksi yang disebabkanolehbakteriberbentukbatang (basil) yang dikenaldengannamaMycobacterium Tuberculosis. Penularanpenyakitinimelaluidahakpenderita yang mengandung basil tuberkulosisparutersebut. Padawaktupenderitabatuk, butir-butir air ludahbeterbangan di udara yang mengandung basil TBC danterhisapoleh orang yang sehatdanmasukkedalamparu yang kemudianmenyebabkanpenyakittuberkulosisparu. Sebagian besar penderita TB adalah usia produktif (15-55 tahun). Salah satu upaya untuk menanggulangi penyakit ini dengan menerapkan strategi DOTS (Directy Observed Treatment Short course). Selama tahun 2013 terhitung dari tanggal 1 januari 2013 sampai dengan tanggal 31 Juni 2013 penderita Tuberculosis (TB) positifberjumlah 854 orang, 413 orang merupakanpasienTBpositif. Penelitianinimerupakanjenispenelitiandeskriptifdananalisismetodechi-square, Independent T test dan Man Whitneydenganperangkat SPSS yang bertujuanuntukmenggambarkanprofilpasienTuberculosisdanpengaruh demografiterhadapkepatuhanpasien di RSD dr. SoebandiJember. Populasidalampenelitianiniadalah413pasien. Besar sampel ini ditentukan dengan menggunakan rumus pengambilan sampel menurut Notoatmodjo yang dapat digunakan untuk mengukur proporsi dengan akurat pada tingkatan statistik yang bermakna (significance) pada 124sampel. Dari hasilpenelitian yang dilakukandaribulanjanuarisampaijuni2013 diperolehprofilpasienuntukjeniskelamindari 124sampeldiperoleh51(43,5%) pasienadalahperempuandan73(58,87%)pasienadalahlaki-laki. Profilusiadalamsampel yang usia lebih dari 60 tahun sebanyak 13(10%) pasien, 46-60 tahun yaitu sebanyak42(34%) pasien, 31-45 tahun sebanyak40(32%) pasien, 15-30 tahun sebanyak 28(23%) pasien dan kurang dari 15 tahun 1(1%) pasien. Profil jenis pekerjaan, terdapat 20(16,12%) pasien yang tidak bekerja,24(19.35%) bekerja sebagai petani, 23(18,54%) bekerja sebagai pedagang, 26(20,96%) bekerja sebagai pegawai dan 31(25%) bekerja sebagai buruh. Profil pendidikan pasien, terdapat34(27,41%) berpendidikan SD,35(28,22%) berpendikan SMP,32(25,80%) berpendidikan SMA, dan 23(18,54%) berpendidikan perguruan tinggi. Penggunaan OAT padapasien Tuberculosis sebanyak 124 sampeldiperolehpasien Tuberculosis yang mendapatkanterapi RHZ 61 (49,19%), RHZE47 (37,90%), RHE 8 (6,45%), RZ 3 (2,41%),RH 1 (0,806%), HE 2 (1,61%), ZE 1 (0,806%), HZ 1 (0,806%). Untukhasilpengaruhhubungandemografiterhadapkepatuhanpasien Tuberculosis RSD dr. SoebandijemberBerdasarkanfaktordemografi (usia, jeniskelamin, pendidikan, danpekerjaan), hanyapendidikan yang memilikihubungandengankepatuhanberobatpenderitatuberkolusisparupadabulanJanua risampaiJuni 2013 di RumahSakit dr. SoebandiJember dengan hasil p-value (Asymp.sig) yaitu 0,036 lebih kecil dari 0,05 (p-value < 0,05), maka H0 ditolak. Berdasarkanfaktorterapiobat (kombinasiobatdanjumlahobat) keduanyamemilikihubungandengankepatuhanberobatpenderitatuberkolusisparupadab ulanJanuarisampaiJuni 2013 di RumahSakit dr. SoebandiJember dengan hasil p-value (Asymp.sig) yaitu 0,002 dan 0,000 lebih kecil dari 0,05 (p-value < 0,05), maka H0 ditola

    Effect of Gabapentin and Baclofen on Histology Study in Neuropathic Pain

    No full text
    Indonesian Journal of Clinical Pharmacy, December 2015, Vol. 4 Iss. 4, pg 250–256Neuropathic pain resulted from injury to nerves is often resistant to current treatments and can seriously cause chronic pain if no appropriate treatment is given. This study was designed to prove the effectiveness of gabapentin and baclofen in increasing latency time toward thermal stimulus and recovering the morphology of dorsal horn of spinal cord in neuropathic-induced chronic pain. Forty mice were divided into 8 groups i.e sham, negative control, gabapentin at three different doses (10, 30, 100 nmol) and baclofen at three different doses (1, 10, 30 nmol). Neuropathic condition was induced by ligation of sciatic nerve with Partial Sciatic Nerve Ligation (PSNL) method. Gabapentin and baclofen were administrated intrathecally once a day for seven days, a week after neuropathic induction. Latency time toward thermal stimulus was measured on days 0, 1, 3, 5, 7, 8, 10, 12 and 14 after induction. Histology of the dorsal horn of spinal cord tissue was examined by haematoxylline-eosin staining. The results showed that intrathecal injection of gabapentin and baclofen significantly increased latency time of mice toward thermal stimulus compared with negative control. Gabapentin and baclofen are effective as treatment for neuropathic pain. They can also help the recovery process of the histology in dorsal horn in neuropathic pain
    corecore