5 research outputs found
STAGES AND FACTORS AFFECTING THE AUTHORISATION OF JAWI WRITING IN SIX YEARS STUDENTS OF THE SERI DUYONG NATION SCHOOLS OF MALAYSIA
The aim of the study is to identify the extent and level affecting Jawi mastery after the decline in Jawi achievement in Islamic teaching subjects, including the Jawi proficiency test in writing, spelling, multiple-choice questions and Quranic writing. In this context, the main objective of this study is to identify the level of Jawi mastery, the difference between Jawi mastery factor and gender and Jawi mastery factor. The study is a quantitative survey and the selected study sample is a total of 72 students from Sekolah Kebangsaan Seri Duyong Melaka. The research tool is using questionnaires. The data obtained in this quantitative form were analyzed descriptively and side-effects (t-test) to test the null hypothesis (s) of the study. The findings suggest that there is no significant difference in the gender of students with the Jawi mastery factor. Finally, the purpose of this study is to improve the education system with respect to responses at the primary and secondary school level
Analisa Perbandingan Perencanaan Pondasi Tiang Pancang Menggunakan Berbagai Macam Metode Pada Proyek Apartemen The Frontage Surabaya
Perencanaan pondasi tiang yang selama ini dilakukan menggunakan metode angka kemanan tunggal, dimana bila menggunakan angka kemanan tunggal maka terjadinya perubahan umur rencana bangunan tidak terantisipasi sehingga probabilitas keruntuhannya menjadi lebih besar seiring dengan meningkatnya umur rencana bangunan. Oleh karena itu untuk mengantisipasi perubahan terhadap umur rencana bangunan maka diusulkan perencanaan pondasi tiang dengan menggunaan metode Load Resistance Factor Design (LRFD).
Dalam tugas akhir ini penulis menganalisa perbandingan perencanaan pondasi tiang pancang menggunakan metode konvensional, statistik, dan probabilistik atau LRFD, dengan studi kasus pada proyek Apartemen The Frontage Surabaya. Perencanaan daya dukung pondasi tiang pancang menggunakan metode konvensional adalah berdasarkan angka keamanan (SF) tunggal, dipakai SF = 3. Metode statistik digunakan untuk menentukan parameter fisis tanah berupa N-SPT, berat volume jenuh (γsat), dan kekuatan geser undrained (Cu). Sedangkan metode probabilistik menggunakan angka pengali berupa faktor reduksi yang digunakan untuk menentukan daya dukung ijin tanah.
Metode konvensional untuk perhitungan daya dukung tiang pancang diameter 80 cm menghasilkan kebutuhan jumlah tiang sebanyak 1077 buah dengan kedalaman 36 m. Metode statistik menghasilkan jumlah tiang 1076 buah dengan kedalaman 34,5 m. Kemudian metode probabilistik menghasilkan kebutuhan jumlah tiang sebanyak 1047 buah dengan kedalaman 32 m.
Biaya material untuk perhitungan dengan metode konvensional adalah sebesar Rp 38.772.000.000, metode statistic Rp 37.122.000.000, dan metode probabilistic sebesar Rp 33.504.000.000. dari hasil perhitungan disimpulkan bahwa metode probabilistik merupakan metode yang paling efisien.
==================================================================================================================
Foundation design all this time use single safety factor method, where if we use single safety factor method thus the changes of building age will not be anticipated so probability of failures become bigger along with building ages. Therefore to anticipate the changes of designed building ages so foundation design with Load Resistance Factor Design (LRFD) method is suggested.
In this final project, author analyze comparison of design of driven pile foundation between conventional method, statistic and probabilistic, or LRFD, with case study apartement project of The Frotage Surabaya. Design of driven pile foundation with conventional method is depend on single safety factor, SF = 3. Statistic method is used to determine soil parameter like N-SPT, saturated unit weight(γsat) and undrained shear strengh (Cu). Whereas probabilistic method use multiplied factor like reduction factorthat used to detemine allowable bearing capacity.
Conventional method to calculate bearing capacity of pile foundation D80 cm resulting 1077 piles with depth 36 m. Statistic method resulting 1076 piles with depth 34,5 m. Then probabilistic method resulting 1047 piles with depth 32 m.
Cost of material with conventional method is Rp 38.772.000.000, statistic method is Rp 37.122.000.000, and probabilistic method is Rp 33.504.000.000. the conclusion is probabilistic method is most eficient
IMPLEMENTASI BIMBINGAN KEAGAMAAN DALAM MENGATASI PROBLEM PENYESUAIAN DIRI SANTRI DI PONDOK PESANTREN AL-BASYARI KECAMATAN SENDANG AGUNG LAMPUNG TENGAH
ABSTRAK
Bimbingan Keagamaan adalah sebuah layanan yang tidak
terpisahkan dari usaha yang dilakukan oleh sebuah Lembaga
Pendidikan salah satunya seperti Lembaga Pendidikan non formal
yaitu pondok pesantren yang berupaya memenuhi kebutuhan yang
diperlukan oleh individu secara manusia secara kognitif, mencakup
proses pemahaman, sudut pandang, sosial, dan spiritual. Ini
dikarenakan setiap individu memiliki kebutuhan spiritual mendasar
dalam diri mereka. Salah satu sasaran yang harus mendapatkan nilai�nilai keagamaan adalah para santri yang pada tahap awal mengenal
pondok pesantren. Rendahnya pemahaman agama pada setiap individu
dalam masyarakat secara langsung maupun tidak, ikut membentuk
lingkungan yang tidak sehat dalam perjalanan hidup seorang santri
yang dikategorikan seorang remaja. Salah satu santri yang
mendapatkan bimbingan keagamaan dan memerlukan penyesuaian
diri adalah santri baru di pondok pesantren, dimana pondok pesantren
merupakan suatu wadah atau tempat para santri menuntut ilmu agama.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan Bimbingan
Keagamaan Dalam Mengatasi Problem Penyesuaian Diri Santri Di
Pondok Pesantren Al-Basyari Kecamatan Sendang Agung Lampung
Tengah.
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research)
yang bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data primer dalam
penelitian ini berjumlah 12 orang, terdiri dari 8 santri baru putra yang
mengikuti bimbingan keagamaan, 2 pengurus pondok pesantren, 1
ustadz pembimbing keagamaan dan pengasuh pondok pesantren Al�Basyari. Sedangkan sumber data sekunder dalam penelitian ini
diperoleh dari buku, dokumen, internet dan media cetak. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi,dan
dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah model
analisis data deduktif, metode dalam pengumpulan data yang
melibatkan penetapan suatu prinsip umum terlebih dahulu berdasarkan
pengetahuan yang ada, lalu data dikumpulkan dengan menggunakan
metode tertentu yang sesuai. Setelah itu, kesimpulan khusus ditarik
berdasarkan prinsip umum yang telah ditetapkan sebelumnya.
Hasil penelitianya yaitu: hasil penelitian yang penulis
dapatkan menunjukkan bahwa sebelumnya para santri baru banyak
yang belum bisa menyesuaikan dirinya dengan lingkungan yang ada
di pondok pesantren seperti masih sering kabur dari
pesantren,berkelahi dengan santri senior,membolos saat ada jadwal mengaji dan tidak aktif mengikuti sholat berjamaah dimasjid.
Kemudian setelah mengikuti bimbingan keagamaan dengan metode
dan materi yang ditentukan dapat mengatasi permasalahan yang
dialami oleh santri. Mereka sudah dapat menyesuaikan diri mereka
dan memotivasi diri mereka sendiri untuk semangat dan istiqomah
selama menimba ilmu di pondok pesantren Al-Basyari.
Kata Kunci: Bimbingan Keagamaan, Penyesuaian, Santri,Pondok
Pesantren. ABSTRACT
Religious Guidance is a service that is inseparable from the
efforts carried out by an educational institution, one of which is a
non-formal educational institution, namely Islamic boarding schools,
which seeks to meet the needs required by individuals as humans
cognitively, including the process of understanding, point of view,
social and spiritual. This is because every individual has basic
spiritual needs within themselves. One of the targets who must obtain
religious values is the students who are in the initial stages of getting
to know Islamic boarding schools. The low understanding of religion
in every individual in society, directly or indirectly, contributes to
creating an unhealthy environment in the life journey of a student who
is categorized as a teenager. One of the students who receive religious
guidance and need to adjust themselves is the new students at the
Islamic boarding school, where the Islamic boarding school is a place
or place for students to study religion. This research aims to
determine the implementation of Religious Guidance in Overcoming
the Self-Adjustment Problems of Students at Al Islamic Boarding
School. -Basyari, Sendang Agung District, Central Lampung.
This type of research is field research which is descriptive
qualitative in nature. The primary data sources in this research were
12 people, consisting of 8 new male students who were taking
religious guidance, 2 boarding school administrators, 1 religious
guidance teacher and the caretaker of the Al-Basyari Islamic
boarding school. Meanwhile, secondary data sources in this research
were obtained from books, documents, the internet and print media.
The data collection techniques used were interviews, observation and
documentation. The data analysis technique used is a deductive data
analysis model, a method of data collection that involves establishing
a general principle first based on existing knowledge, then data is
collected using certain appropriate methods. After that, specific
conclusions are drawn based on previously established general
principles.
The results of the research are: the results of the research that
the author obtained show that previously many new students had not
been able to adapt themselves to the environment in the Islamic
boarding school, such as often running away from the Islamic
boarding school, fighting with senior students, skipping classes when
there was a Koran recitation schedule and not actively participating
in prayers. congregation at the mosque. Then, after following religious guidance with the specified methods and materials, you can
overcome the problems experienced by the students. They have been
able to adapt and motivate themselves to be enthusiastic and
persistent while studying at the Al-Basyari Islamic boarding school.
Keywords: Religious Guidance, Adjustment, Santri, Islamic
Boarding School
Wasiat Wajibah Terhadap Anak Angkat Dalam Kompilasi Hukum Islam
Hukum Islam membolehkan mengangkat anak namun dalam batas-batas tertentu iaitu selama tidak membawa akibat Hukum dalam hal hubungan darah, hubungan pewalian dan hubungan pewarisan dari orang tua angkat. Ia tetap menjadi ahli waris dari orang tua kandungnya dan anak tersebut tetap memakai nama dari ayah kandungnya. Di Indonesia, perundangan wasiat ini diatur dalam Kompilasi Hukum Islam. Fasal 209 Kompilasi Hukum Islam memperuntukan bahawa terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya. Justeru, objektif kajian ini adalah untuk mengkaji fasal 209 untuk membandingkan antara Kompilasi Hukum Islam dengan Hukum Islam berdasarkan pandangan fuqaha dan hujah-hujah mereka. Kajian ini mengunakan kaedah analisis kandungan. Data-data dikumpul mengunakan kaedah analisis dokumen primer, sekunder dan perbandingan . Hasil kajian mendapati bahawa Hukum Islam memperbolehkan mengangkat anak namun dalam batas-batas tertentu iaitu selama tidak membawa akibat Hukum dalam hal hubungan darah, hubungan pewalian dan hubungan pewarisan dari orang tua angkat. ia tetap menjadi ahli waris dari orang tua kandungnya dan anak tersebut tetap memakai nama dari ayah kandungnya. Sedangkan Kompilasi Hukum Islam menegaskan bahawa anak angkat atau orang tua angkat tidak ada hubungan pewarisan. tetapi sebagai pengakuan mengenai baiknya lembaga pengangkatan anak ( Jabatan Kebajikan Masyarakat) , hubungan antara anak angkat dengan orang tua angkatnya dikukuhkan dengan perantara wasiat atau wasiat wajibah. Kesan kajian ini ialah agar hakim pengadilan agama berani untuk menerapkan Hukum yang jelas kepada masyarakat sesuai fasal 5 ayat 1 undang-undang Nombor 48 Tahun 2008 tentang materi-materi kekuasaan kehakiman yang berbunyi: Hakim dan hakim konstitusi wajib mengali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai Hukum rasa keadilan yang jelas dalam masyarakat.Hukum Islam membolehkan mengangkat anak namun dalam batas-batas tertentu iaitu selama tidak membawa akibat Hukum dalam hal hubungan darah, hubungan pewalian dan hubungan pewarisan dari orang tua angkat. Ia tetap menjadi ahli waris dari orang tua kandungnya dan anak tersebut tetap memakai nama dari ayah kandungnya. Di Indonesia, perundangan wasiat ini diatur dalam Kompilasi Hukum Islam. Fasal 209 Kompilasi Hukum Islam memperuntukan bahawa terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya. Justeru, objektif kajian ini adalah untuk mengkaji fasal 209 untuk membandingkan antara Kompilasi Hukum Islam dengan Hukum Islam berdasarkan pandangan fuqaha dan hujah-hujah mereka. Kajian ini mengunakan kaedah analisis kandungan. Data-data dikumpul mengunakan kaedah analisis dokumen primer, sekunder dan perbandingan . Hasil kajian mendapati bahawa Hukum Islam memperbolehkan mengangkat anak namun dalam batas-batas tertentu iaitu selama tidak membawa akibat Hukum dalam hal hubungan darah, hubungan pewalian dan hubungan pewarisan dari orang tua angkat. ia tetap menjadi ahli waris dari orang tua kandungnya dan anak tersebut tetap memakai nama dari ayah kandungnya. Sedangkan Kompilasi Hukum Islam menegaskan bahawa anak angkat atau orang tua angkat tidak ada hubungan pewarisan. tetapi sebagai pengakuan mengenai baiknya lembaga pengangkatan anak ( Jabatan Kebajikan Masyarakat) , hubungan antara anak angkat dengan orang tua angkatnya dikukuhkan dengan perantara wasiat atau wasiat wajibah. Kesan kajian ini ialah agar hakim pengadilan agama berani untuk menerapkan Hukum yang jelas kepada masyarakat sesuai fasal 5 ayat 1 undang-undang Nombor 48 Tahun 2008 tentang materi-materi kekuasaan kehakiman yang berbunyi: Hakim dan hakim konstitusi wajib mengali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai Hukum rasa keadilan yang jelas dalam masyarakat
Perspektif Usia Pewasiat Menurut Perundang-Undangan Indonesia
Wasiat adalah suatu ibadah seorang hamba kepada Rabbnya, dan untuk Indonesia, ketentuan wasiat ini diatur dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam), dan KHI juga mengatur tentang batasan usia pewasiat, dengan batasan usia 21 tahun, sementara mayoriti ulama berpendapat bahawa yang boleh berwasiat yang sudah baligh dan berakal. Pengkaji menganalisa pasal 194 KHI menegaskan bahawa orang berwasiat ialah orang yang telah dewasa secara undang-undang, dan berbeza dalam fiqh bahawa seorang lelaki pernah ihtilam atau mimpi basah (bersetubuh) dan perempuan menstruasi, selain baliqh KHI juga menetapkan syarat lain yaitu Rasyid (cerdas) dan sebahagian ulama fiqh sebagai syarat pewasiat dan rasyid pada umur antara 18 -23 tahun KHI juga memahami kaedah ushul “Ahliyatu alwuhub†dan ahliyatu al-ada’a iaitu kelayakan seseorang untuk mempunyai hak dan kewajiban (mukallaf) untuk perkiraan syara’ ucapan dan perbuatannya, dan dikatakan bahawa orang yang disebut sebagai ahliyatu al-ada’a adalah orang yang baligh dan berakal, dengan menetapkan usia pewasiat 21 tahun sebagai batasan usia, KHI tidak menyalahi aturan ini bahkan berhati-hati, karena pada usia 21 tahun tentunya seseorang telah baliqh dan berakal “Rasyid†KHI berusaha menjaga agar orang yang berwasiat adalah orang yang paham &mengerti apa itu wasiat dan menyadari akibat hukum dari wasiat yang dilakukannya terhadap yang diwasiatkan. kondisi sosial anak anak Indonesia pada umumnya, dimana pada usia dibawah 21 tahun mereka dipandang belum atau tidak mempunyai hak kepemilikan karena masih menjadi tanggungan orang tua
