32 research outputs found

    Analisis Variasi Arus Terhadap Hasil Pengelasan SMAW Pada Frame Alat Uji Torsi

    No full text
    Pengelasan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pertumbuhan dunia industri. Las SMAW  (Shielded Metal Arc Welding) merupakan salah satu jenis pengelasan yang  menggunakan elektroda (busur listrik) sebagai sumber panas untuk pencairan. Untuk elektroda jenis AWS E6013 í˜2,6mm, arus yang digunakan berkisar antara 70 - 90 Ampere pada material baja ASTM A36 . Dengan interval arus tersebut, pengelasan yang dihasilkan akan berbeda - beda. Penentuan  besarnya arus dalam  penyambungan logam menggunakan las busur  mempengaruhi efisiensi pekerjaan dan bahan  las. Penelitan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi arus terhadap sifat mekanis pada sambungan las. Penentuan  besar arus dalam  pengelasan ini mengambil 60A, 70 A,  80A, dan 90A. Hasil uji tarik pengelasan dengan menggunakan arus 90A memiliki nilai tegangan maksimum sebesar 4,7 MPa dengan nilai regangan yang didapat sebesar 3,55 %, dan nilai tegangan luluh sebesar 3,80 MPa. Sedangkan nilai modulus elastistas relatif menurun dibandingkan dengan ketiga nilai diatas yaitu 132,394 MPa. Nilai rata-rata tertinggi uji kekerasan arus 70A memiliki nilai daerah las paling tinggi yaitu 107,6 HRC dan nilai pada titik induk logam sebesar 97,24 HRC. Sedangkan nilai paling terendah dimiliki pada arus 60A sebesar 101,06 HRC. Untuk daerah HAZ baja yang memiliki nilai tertinggi pada arus 90 A sebesar 95,98 HRC

    Rancang Bangun Peleburan Alumunium Kapasitas 5 kg Menggunakan Kombinasi Vaporizing dan Air Atomizing Burner Dengan Bahan Bakar Limbah Oli

    No full text
    Smelting of aluminum using a combination combustion types of vaporizing burner and atomizing burner with fuel waste oil.Preheat using gasoline with boiling method. The maximum flame melting occurs when the pressure of oil tank at 1.5 bar and air volume mixing 5.2 m3/min.The test results are; aluminum mass of 0.5 kg, the furnace temperature of 625oC, smelting time 12 minutes, the fuel consumption of 1.6 liters

    Analisis Kekuatan Tali Baja Pada Tower Crane Berkapasitas 300 Kg

    No full text
    Tali baja merupakan komponen utama pada sistem pesawat pengangkat khususnya tower crane. Tali baja memiliki desain serta kekuatan yang berbeda-beda tergantung kebutuhan dalam penggunaannya. Konstruksi tali baja yang umum digunakan pada tower crane adalah jenis 6x19, yang artinya tali baja memiliki 6 pintalan strands dan pada setiap strands terdapat 19 untai kawat yang memintal. Tali baja yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis 6x19 dengan diameter 10 mm. Berdasarkan BSN SNI 0078:2008, tali baja yang digunakan memiliki spesifikasi tegangan patah (σb) = 6620 kg/cm2, beban patah (Pb) = 180 kg/mm2, dan berat tali = 0,430 kg/m. Analisa tali baja dilakukan dengan variasi pembebanan yang berbeda yaitu 300, 400, dan 500 kg. Analisa ini bertujuan untuk memperoleh kelayakan tali baja yang akan digunakan pada tower crane yang akan dirancang, meliputi nilai tegangan yang terjadi ketika tali diberi beban, diameter tali baja, regangan tali baja yang terjadi selama pemakaian, dan Umur pakai tali baja sebelum tali baja tersebut rusak. Dari hasil analisa disimpulkan bahwa tali baja aman digunakan pada tower crane

    STUDI KARAKTERISTIK MATERIAL STEM SEPEDA UNTUK PENGEMBANGAN PROTOTIPE STEM SEPEDA BERBASIS LIMBAH PISTON DENGAN VARIASI TEMPERATUR CETAKAN

    No full text
    Bicycle stem is the link between handlebar (handlebar) with steerer tube (fork). Stem one of the bike parts tonote and Each type of bike is different for the size and specifications stemnya. This research aims to. Obtainedcharacterization of alumunium casting material as a material for making stem bikes with casting temperature of700 ° C, and temperature variations of room temperature (30 ° C), 100 ° C, 150 ° C, 200 ° C, and characteristichardness values stem between piston waste material and stem. The piston waste is melted at the meltingfurnace at a temperature of 700 ° C. then cast into the mold. After obtaining the specimen and then testing thematerial characteristics include chemical composition, microstructure, and hardness. The result of the researchafter casting with variation of the molded temperture has different material characteristic values, ie: chemicalcomposition which has no change before and after casting, the microt structure has little porous defect, and thehardness value where the higher the mold temperature the lower the hardness . Conclusions of data processingThe highest value of piston recycled hardness is 93 HV when compared to the hardness of 61.2 HV stem bikematerial, the hardness is more than enough and from the composition test there is a difference of Si 12%composition. Result of micro structure at foundry with 4 variation still have defect of cast (porous andshrinkage). the stam bike hardness test has an average hardness value of 64.2 HV whereas for the hardnessvalue of piston waste casting results show the hardness value of 91 HV with mold temperature 30 ° C, 93 HVwith mold temperture 100 ° C, 89 HV with mold temperature 150 ° C, 87 HV with mold temperature 200 ° C. Thehigher the mold temperature, the lower the hardness of the material

    SISTEM KONTROL PNEUMMATIC PADA OKSIGEN KONSENTRATOR

    No full text
    Sistem pneumatic telah banyak diaplikasikan terutama untuk tujuan otomasi pada industri makanan, minuman, farmasi, migas, otomotif, dan industri. Salah satunya dengan pembuatan alat bantu untuk daur ulang oksigen dalam bidang kesehatan. Untuk menanggulangi kehabisan oksigen maka muncul gagasan untuk membuat oksigen konsentrator. Oksigen konsentrator merupakan alat yang dapat menghasilkan oksigen dengan penerapan sistem Pressure Swing Adsorption (PSA). Dalam penelitian ini, kebutuhan kompresor untuk proses produksi oksigen ditentukan yaitu pada debit QS= 0,86 â„“/s dan daya sebesar Ns = 0,6 kW. Dua tabung zeolit bekerja secara bergantian yang diatur waktunya oleh program PLC dengan program P 3.2 untuk selonoid valve selama 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70 detik. Hal ini dilakukan untuk mengetahui hasil konsentrasi oksigen yang maksimal pada tekanan kerja 4-5 bar. Dari hasil pengujian, konsentrasi oksigen yang maksimal diperoleh ketika selonoid valve diatur dalam waktu 60 detik dengan konsentrasi 48,0% dan flowrate 5 Liter/menit. Dengan hasil konsentrasi yang diperoleh, alat ini masih belum menunjukkan performa maksimal untuk dapat digunakan di rumah sakit

    RANCANG BANGUN DESAIN TUTUP PADA OVEN AUTOCLAVE

    No full text
    Salah satu komponen yang terpenting untuk merancang oven autoclave adalah komponen tutup. Dalam penelitian ini, dilakukan simulasi pengujian terhadap komponen tutup serta pengunci tutup oven autoclave dengan menggunakan metoda FEM (Finite Element methode). Hasil pengujian yang telah dilakukan dengan metode FEM menggunakan software autodesk inventor. Dari analisa pengujian simulasi terhadap tutup oven autoclave dengan variasi tekanan 1-10 bar diperoleh bahwa nilai tutup hanya dapat menahan tekanan sehingga 7 bar dengan nilai tegangan yang dihasilkan sebesar 287 MPa dengan defleksi 0,082 cm dan safety factor 1,131. Adapun untuk pengunci tutup oven autoclave menunjukkan bahwa pengunci tutup hanya mampu menahan sampai tekanan 3 bar dengan nilai tegangan yang didapat sebesar 280 MPa, nilai defleksi 0,011 cm serta safety factor nya sebesar 1,160

    Analisa Poros Engkol dan Batang Penghubung Pada Alat Peraga Kompresor Torak

    No full text
    "ANALISA POROS ENGKOL DAN BATANG PENGHUBUNG PADA ALAT PERAGAPRAKTIKUM KOMPRESOR TORAK" adalah Penelitian yang dilakukan dengan analisa kinematika dan gaya statis pada poros engkol dan batang penghubung (displacemen, kecepatan, dan percepatan) dengan menggunakan variasi pulley 3 inch, 4 inch, dan 5 inch. Dari hasil perhitungan secara analitik berdasarkan sudut 0o, 300, 600, 900, 1200, ..............., 3600 dengan variasi pulley pada motor menggunakan diameter 3 inch (700 RPM), 4 inch (933,333), dan 5 inch (1166,67 RPM) dapat dsimpulkan bahwa nilai displacement yang terkecil dengan nilai 0 m pada sudut 00 dan 3600, kemudian displacement yang terbesar terjadi pada sudut 1500 untuk masing – masing pulley dengan nilai 0,03985691 m. Hasil perhitungan secara analitik yang terbesar terjadi pada pulley 5 inch dengan nilai sudut kecepatan sebesar 2,5641672 m/s terjadi pada sudut 900 , dan nilai kecepatan yang terkecil sebesar -2,5641672 m/s terjadi pada sudut 900 dan 2700. Kemudian untuk nilai percepatan terjadi pada pulley dengan diameter 5 inch dengan nilai sudut percepatan sebesar 2,89051575 m/s terjadi pada sudut 2700. Berdasarkan dari data perhitungan secara analitik diatas dapat disimpulkan semakin tinggi putaran poros engkol maka kecepatan dan percepatan sudut akan semakin tinggi juga dan akan mengakibatkan batang penghubung mengalami deformasi dan efek fleksibilitas dan menimbulkan ketidakstabilan, dan ketika tekanan pada permukaan piston semakin besar, akan menimbulkan gaya yang lebih besar pada connecting rod dan mengakibatkan nilai torsi semakin tinggi.Kata Kunci: Analisa kinematis, Percepatan, Kecepatan, Analisa Poros Engkol dan Batang hubung

    Perancangan Konstruksi Tabung Sistem Pressure Swing Adsorption (PSA) Oksigen Konsentrator

    No full text
    Tabung Pressure Swing Adsorption (PSA) merupakan struktur utama yang mendukung kerja sistem PSA. Tabung ini berfungsi sebagai wadah zeolite untuk melakukan proses penyerapan udara bebas menjadi oksigen murni dengan diberi tekanan dari dalam. Agar tidak terjadi kebocoran, maka desain serta material yang dipilih harus tahan terhadap tekanan dan juga kebocoran. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui detail desain dari sistem PSA. Kemudian dilakukan pengujian untuk mengetahui ketahanan produk terhadap pengaruh tekanan, serta mengetahui tingkat kebocoran akibat pengaruh tekanan pada tabung PSA. Perancangan konstruksi dari tabung PSA dilakukan dengan desain menggunakan prinsip bejana tekan serta material menggunakan stainless steel 304. Tabung PSA yang dirancang memiliki spesifikasi tegangan izin material 8,4 í— 107 N/m2, volume tabung 1,3 liter, tebal tabung 0,003 m, serta tekanan perencanaan 4í—105 N/m2. Hasil analisa menunjukkan bahwa tebal tabung shell 2,6í—10-4 m dan flat head 1,1í—10-3 m. Tekanan maksimum tabung hasil analisa sebesar 4,3í—106 N/m2. Tegangan longitudinal 2,7í—106 N/m2, tegangan tangensial 5,5í—106 N/m2, tegangan hidrostatik 5,2í—105 N/m2, tegangan longitudinal akibat tekanan hidrostatik 3,5í—106 N/m2, dan tegangan tangensial akibat tekanan hidrostatik 7,1í—106 N/m2. Hasil analisa sambungan las menunjukkan tegangan izin kawat las 9,8í—107 N/m2 dan tegangan sambungan las 7,1í—103 N/m2. Hasil analisa pada sambungan ulir mencatat tegangan izin material ulir 8,4í—107 N/m2, tegangan aksial pada badan ulir 6í—105 N/m2, tegangan bending pada akar ulir 3,3í—106 N/m2, dan tegangan geser melintang pada pusat akar ulir 1,6í—106 N/m2. Dari hasil analisa struktur desain tabung PSA menunjukkan bahwa sambungan las serta sambungan ulir telah memenuhi persyaratan. Hal ini dikarenakan tegangan hasil analisa tidak melebihi tegangan izin material.Kata kunci :  analisa; bejana tekan; material; pressure swing adsorption; tabung PSA; teganga

    ANALISA GETARAN PADA BEARING BERBASIS KERUSAKAN BEARING

    No full text
    Bearing is one part of the machine element that plays an important role. The function of the bearing is to support a shaft so that the shaft can rotate without excessive friction. Research was done to find out the value of vibration in a critical rotation test tool to determine the extent to which a rotating axle with a certain speed of the axis rotation. This test used a critical rotation testapparatus on a bar of carbon iron with diameter size D = 25.4 mm with L = 764 mm by using coupling. From experiments used rotation of 200 to 1000 rpm, the first experiment using 1000 rpm obtained a result of vertical axis obtained 9.5 mm/s with new bearing testing was performed using 5 variations ie new bearings, abrasion, corrosion, without lubrication, clutch that is not straight. The second experiment using a abrasion bearing of 1000 rpm resulted from a vertical axis 7 mm/s. The third experiment using corrosion bearing with 1000 rpm rotation resulted from a vertical axis of 3.4 mm / s. The fourth experiment using a lubrication bearing with rpm 1000 obtained the result of a vertical axis 9.6 mm / s. The fifth experiment using a non-straight coupling yielded 14.1 mm/s. The greater the bearing rotation value leads to a large twisting angle so that it impacts most semantic vibration values on the bearing
    corecore