1,720,973 research outputs found
Data set for: Strengthening the academic integrity of senior high school students through learning to write: An integrative review
A grid synthesis of a review literature on academic integrit
ANALISIS PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA LARAS HUKUM PADA PUTUSAN PERKARA EKONOMI SYARIAH PENGADILAN AGAMA MAKASSAR
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk kesalahan pengunaan bahasa Indonesia laras hukum dalam putusan perkara ekonomi syariah pada Pengadilan Agama Makassar. Penelitian merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bersifat dokumentatif atau penelitian pustaka (library research). Data dalam penelitian ini adalah penggunaan bahasa hukum pada putusan perkara ekonomi syariah nomor 73/Pdt.G/2015/PA.Mks. pengadilan Agama Makassar. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi, dengan menelaah beberapa referensi tentang penguaan bahasa hukum, baik yang berupa buku, jurnal, majalah, koran, laporan hasil penelitian, maupun dokumen-dokumen hukum yang relevan dengan permasalahan yang diteliti. Pencatatan yaitu penulis mencatat semua hal yang berhubungan dengan fenomena pengunaan bahasa hokum, yang diperoleh dari putusan pengadilan Agama Makassar serta dokumen-dokumen yang relevan, ke dalam buku catatan yang telah dipersiapkan dalam bentuk korpus data. Langkah-langkah analisis data, yaitu (1) Mengidentifikasi bahasa hukum yang mengalami kesalahan, (2) Mengklasifikasi bentuk kesalahan penulisan kalimat dalam putusan perkara ekonomi syariah Pengadilan Agama Makassar, (3) Menganalisis bentuk kesalahan pengunaan bahasa Indonesia yang berbentuk kalimat dalam putusan perkara ekonomi syariah Agama Makassar, (4) Mendeskripsikan setiap bentuk kesalahan pengunaan bahasa yang disertai uraian-uraian atau penjelasan. Hasil penelitian diperoleh bahwa, kalimat bahasa Indonesia laras hukum dalam putusan perkara ekonomi syariah Pengadilan Agama Makassar mengalami kesalahan struktur sebagai akibat tidak memiliki fungsi subjek dalam kalimat, dan pengunaan konjungsi yang tidak tepat, serta tidak memerhatikan penulisan tanda baca, diksi, kata bermakna ambigu, pengunaan kata mubazir, serta menyesuaikan konteks perkara dengan pola penalaran yang tepat. Sebagai akibat dari kesalahan tersebut, makna kalimat menjadi rancu, sehingga sulit dipahami oleh pembaca. Selain itu, kesalahan struktur kalimat dapat menyebabkan perbedaan makna yang ditumbulkan dalam suatu putusan
PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA DAERAH BERBASIS MULTIKULTURAL DALAM MEWUJUDKAN PENDIDIKAN YANG BERKARAKTER DI ERA GLOBALISASI
Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, budaya, dan bahasa daerah, ralitas tersebut secara positif menggambarkan kekayaan masyarakat yang bertipe pluralis, namun potensi keberagaman sering menjadi pemicu lahirnya suatu masalah. Setiap etnik atau ras cenderung memunyai semangat dan ideologi yang etnosentris, yang menyatakan bahwa kelompoknya lebih superior daripada kelompok etnik atau ras lain. Kondisi tersebut disebabkan oleh masyarakat yang tidak merasa nyaman, karena tidak saling mengenal identitas budaya orang lain. Salah satu penyebabnya adalah ketidakpahaman dengan nilai-nilai budaya yang dikomunikasikan melalui bahasa daerah setiap etnik. Adanya pengetahuan yang minim tentang budaya-budaya yang ada, mendorong meningkatnya prasangka terhadap orang lain, bahkan berujung sikap antipati yang didasarkan pada kesalahan generalisasi. Salah satu hal yang dapat dilakukan dalam membentuk pendidikan yang berkarakter di tengah masyarakat yang beragam adalah mengkaji secara bersama-sama, bahasa dan sastra daerah yang ada pada kelompok-kelompok masyarakat sebagai kekayaan nasional. Model pendidikan seperti ini akan mendorong siswa mengakui keberadaan budaya yang beragam, membantu siswa dalam mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka, menyadarkan siswa bahwa konflik nilai sering menjadi penyebab konflik antar kelompok masyarakat, dan melahirkan generasi yang memiliki cara pandang nasionalis. Selain hal tersebu, melalui pengetahuan awal bahasa daerah yang beragam, menjadi modal utama siswa dalam mempelajari budaya lainnya. Berdasarkan pembahasan makalah ini dapat disimpulkan bahwa, pembelajaran bahasa dan sastra daerah berbasis multikultural, dapat meningkatkan kesadaran diri siswa terhadap nilai-nilai keberbedaan dan keberagaman yang melekat pada kehidupan lokal, sebagai faktor yang sangat potensial dalam membangun cara pandang generasi muda yang berwawasan nasionalis di era globalisasi ini
Dr. Edhy Rustan, M.Pd's Quick Files
The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity
KOMUNIKASI VERBAL ANAK PESISIR USIA 7-8 TAHUN PADA TRANSAKSI PENJUALAN PRODUK KEBUDAYAAN DENGAN TURIS MANCANEGARA
This study aims to obtain a description of children’s second language verbal communication skills aged 7-8 years in the activity of buying and selling transactions with foreign tourists. This research was conducted in South Coastal Coast of Central Lombok Regency of West Nusa Tenggara. This research is case study with Milles and Hubberman model data analysis; including four stages of interalain analysis (1) data collection, (2) data reduction, (3) data display and (4) drawing conclusion. The results of this study indicate that the verbal communication skills of coastal children are obtained partially covering three linguistic components; vocabulary, shipping and grammatical arrangement. The process of acquiring verbal communication skills is influenced by two factors; family pressure and self-exposure of children to the coastal tourism environment. These factors encourage children to sell cultural products to foreign tourists. For these purposes, coastal children use two common patterns of second language verbal communication, direct verbal communication patterns (spoken word) and indirect verbal communication patterns (writing word)
BUDAYA LELUHUR DALAM MEMPERKUKUH TATANAN MASYARAKAT DI ERA GLOBALISASI
Nilai-nilai utama kebudayaan lama etnis perlu digali, dikaji dan dipopulerkan kembali sebagai alternatif pengengembangan budaya pada era globalisasi. Tidak ada alternatif lain selain memilih memadukan antara budaya lama atau budaya etnis dengan budaya modern, demi mempertahankan kepribadian bangsa yang asli, namun tetap maju.
Makalah ini mencoba mengambil beberapa kutipan dari naskah kuno (Lontaraq) yang merupakan sumber peninggalan budaya leluhur bangsa Indonesia, khususnya etnis Bugis. Kutipan yang dipaparkan dalam tulisan ini tentunya bersumber dari ideologi kehidupan manusia Bugis pada masa lampau, dan dipandang masih relevan untuk pembangunan kebudayaan masa kini dan di masa depan. Kutipan tersebut menyangkut beberapa aspek, antara lain: aspek kepemimpinan (politik), aspek sosial (kemanusiaan), dan aspek hukum. Selain hal tersebut, dapat diuraiakan nilai utama kebudayaan masyarakat Bugis dalam Lontaraq yang masih dapat dibina dan dipertahankan hingga saat ini, yaitu: amaccang (kecendekiaan); appasitinajang (kepatutan); siri’ (rasa malu); lempu (kejujuran); getteng (keteguhan); reso (usaha); awaraningeng (keberanian); dan mapesona ridewatae (berserah diri kepada Sang pencipta).
Memang disadari bahwa pandangan serta penafsiran setiap nilai-nilai utama kebudayaan tersebut senantiasa berubah seiring dengan perkembangan manusia Bugis itu sendiri. Makalah ini tidaklah bermaksud menjelaskan segala hal menyangkut kebudayaan masyarakat Bugis itu sendiri atau menonjolkan suatu etnis tertentu, malainkan hanya bertujuan untuk menunjukkan, bahwa budaya leluhur yang merupakan warisan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Bugis mengandung banyak manfaat apabila dapat kita jadikan sebagai penuntun dalam kehidupan bersama dalam bingkai NKRI pada era globalisasi. Untuk mencapai tujuan yang dimaksud, perlu dilakukan pelestarian aksara, pengkajian dan penerjemahan budaya lama, serta penghargaan terhadap budaya lama, dan pengaplikasian nilai yang tekandung dengan cara nemadukan dengan budaya modern, agar bangsa ini tetap memiliki jati diri
PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA DAERAH BERBASIS MULTIKULTURAL DALAM MEWUJUDKAN PENDIDIKAN YANG BERKARAKTER DI ERA GLOBALISASI
Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, budaya, dan bahasa daerah, ralitas tersebut secara positif menggambarkan kekayaan masyarakat yang bertipe pluralis, namun potensi keberagaman sering menjadi pemicu lahirnya suatu masalah. Setiap etnik atau ras cenderung memunyai semangat dan ideologi yang etnosentris, yang menyatakan bahwa kelompoknya lebih superior daripada kelompok etnik atau ras lain. Kondisi tersebut disebabkan oleh masyarakat yang tidak merasa nyaman, karena tidak saling mengenal identitas budaya orang lain. Salah satu penyebabnya adalah ketidakpahaman dengan nilai-nilai budaya yang dikomunikasikan melalui bahasa daerah setiap etnik. Adanya pengetahuan yang minim tentang budaya-budaya yang ada, mendorong meningkatnya prasangka terhadap orang lain, bahkan berujung sikap antipati yang didasarkan pada kesalahan generalisasi. Salah satu hal yang dapat dilakukan dalam membentuk pendidikan yang berkarakter di tengah masyarakat yang beragam adalah mengkaji secara bersama-sama, bahasa dan sastra daerah yang ada pada kelompok-kelompok masyarakat sebagai kekayaan nasional. Model pendidikan seperti ini akan mendorong siswa mengakui keberadaan budaya yang beragam, membantu siswa dalam mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka, menyadarkan siswa bahwa konflik nilai sering menjadi penyebab konflik antar kelompok masyarakat, dan melahirkan generasi yang memiliki cara pandang nasionalis. Selain hal tersebu, melalui pengetahuan awal bahasa daerah yang beragam, menjadi modal utama siswa dalam mempelajari budaya lainnya. Berdasarkan pembahasan makalah ini dapat disimpulkan bahwa, pembelajaran bahasa dan sastra daerah berbasis multikultural, dapat meningkatkan kesadaran diri siswa terhadap nilai-nilai keberbedaan dan keberagaman yang melekat pada kehidupan lokal, sebagai faktor yang sangat potensial dalam membangun cara pandang generasi muda yang berwawasan nasionalis di era globalisasi ini
NILAI-NILAI SASTRA KABHANCI DALAM MEMBANGUN KEBUDAYAAN MASYARAKAT DI ERA GLOBALISASI
Nilai-nilai utama kebudayaan lama etnis perlu digali, dikaji dan dipopulerkan kembali sebagai alternatif pengembangan budaya pada era globalisasi. Tidak ada alternatif lain selain memilih memadukan antara budaya lama atau budaya etnis dengan budaya modern, demi mempertahankan kepribadian bangsa yang asli, namun tetap maju dan berkembang.
Tulisan ini mengambil beberapa kutipan dari sastra lisan Kabhanci yang merupakan peninggalan budaya leluhur bangsa Indonesia, khususnya etnis penutur bahasa Cia-cia, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Kutipan yang dipaparkan dalam tulisan ini, oleh penulis dipandang memiliki nilai yang relevan untuk pembangunan kebudayaan masa kini dan di masa mendatang. Bahasan makalah ini lebih memokuskan pada kandungan nilai yang terdapat dalam sastra lisan Kabhanci Kambata, Soree, Mangu-Mangu, Sarauda, MaleMale, dan Bhatanda yang dianggap dapat dibina dan dipertahankan hingga saat ini. Berdasarkan pengelasifikasian nilai yang didatkan dalam beberapa jenis sastra lisan Kabhanci tersebut, pada tulisan ini dapat dikategorikan dalam nilai sosial, nilai pendidikan, nilai religius (keagamaan), nilai estetis (keindahan), dan nilai kemanusiaan.
Disadari bahwa, pandangan serta penafsiran setiap nilai-nilai utama kebudayaan senantiasa dapat berubah seiring dengan perkembangan manusia itu sendiri, sehingga berpeluang jauh dari nilai dasarnya, dan bahkan ditinggalkan. Makalah ini tidaklah bermaksud menjelaskan segala hal menyangkut kebudayaan masyarakat etnis penutur bahasa Cia-cia itu sendiri atau menonjolkan suatu etnik tertentu. Ulasan dalam makalah ini hanya bertujuan untuk menunjukkan, bahwa kesusatraan leluhur yang merupakan warisan masyarakat Indonesia, khususnya sastra lisan Cia-cia mengandung banyak manfaat bila dapat di jadikan sebagai penuntun kehidupan bersama dalam bingkai NKRI pada era globalisasi
BUDAYA LELUHUR DALAM MEMPERKUKUH TATANAN MASYARAKAT DI ERA GLOBALISASI
Nilai-nilai utama kebudayaan lama etnis perlu digali, dikaji dan dipopulerkan kembali sebagai alternatif pengengembangan budaya pada era globalisasi. Tidak ada alternatif lain selain memilih memadukan antara budaya lama atau budaya etnis dengan budaya modern, demi mempertahankan kepribadian bangsa yang asli, namun tetap maju.
Makalah ini mencoba mengambil beberapa kutipan dari naskah kuno (Lontaraq) yang merupakan sumber peninggalan budaya leluhur bangsa Indonesia, khususnya etnis Bugis. Kutipan yang dipaparkan dalam tulisan ini tentunya bersumber dari ideologi kehidupan manusia Bugis pada masa lampau, dan dipandang masih relevan untuk pembangunan kebudayaan masa kini dan di masa depan. Kutipan tersebut menyangkut beberapa aspek, antara lain: aspek kepemimpinan (politik), aspek sosial (kemanusiaan), dan aspek hukum. Selain hal tersebut, dapat diuraiakan nilai utama kebudayaan masyarakat Bugis dalam Lontaraq yang masih dapat dibina dan dipertahankan hingga saat ini, yaitu: amaccang (kecendekiaan); appasitinajang (kepatutan); siri’ (rasa malu); lempu (kejujuran); getteng (keteguhan); reso (usaha); awaraningeng (keberanian); dan mapesona ridewatae (berserah diri kepada Sang pencipta).
Memang disadari bahwa pandangan serta penafsiran setiap nilai-nilai utama kebudayaan tersebut senantiasa berubah seiring dengan perkembangan manusia Bugis itu sendiri. Makalah ini tidaklah bermaksud menjelaskan segala hal menyangkut kebudayaan masyarakat Bugis itu sendiri atau menonjolkan suatu etnis tertentu, malainkan hanya bertujuan untuk menunjukkan, bahwa budaya leluhur yang merupakan warisan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Bugis mengandung banyak manfaat apabila dapat kita jadikan sebagai penuntun dalam kehidupan bersama dalam bingkai NKRI pada era globalisasi. Untuk mencapai tujuan yang dimaksud, perlu dilakukan pelestarian aksara, pengkajian dan penerjemahan budaya lama, serta penghargaan terhadap budaya lama, dan pengaplikasian nilai yang tekandung dengan cara nemadukan dengan budaya modern, agar bangsa ini tetap memiliki jati diri
- …
