2 research outputs found

    Membangun Tanpa Mengurangi: Hunian Vertikal Hutan Bambu Dengan Pendekatan Arsitektur Biomorfik

    No full text
    Dengan semakin bertambahnya populasi manusia, maka kebutuhan akan tempat tinggal akan semakin meningkat juga, karena tempat tinggal merpuakan salah satu aspek penting pada manusia. Pada Kota Surabaya sendiri terjadi peningkatan kebutuhan rumah tinggal setiap tahunnya. Kebutuhan rumah tinggal naik sebesar 665.545 unit tiap tahunnya dengan pertambahan sebesar 5.000 unit pertahun. Rancangan ini memiliki tujuan menjadi media dalam memenuhi kebutuhan hunian yang terus meningkat di Kota Surabaya tanpa mengabaikan kebutuhan ruang untuk tumbuh dari alam. Rancangan ini juga bertujuan untuk menghubungkan kembali hubungan manusia dengan alam pada kehidupan sehari-hari. Berlokasi didekat Hutan Bambu Keputih rancangan ini menggunakan pendekatan arsitektur biomorfik dan metode perancangan concept-based framework yang desainnya berangkat pada analogi morfologi bambu yang direpresentasikan sebagai sebuah hunian vertikal. Hal ini bertujuan untuk memunculkan analogi bahwa rancangan ini merupakan perluasan dari hutan bambu yang terletak didekat lahan rancangan. Dengan berangkat dari analogi morfologi tanaman bambu perancangan hunian ini dapat menyediakan 352 unit hunian beserta fasilitas penunjang dan pengelolanya pada lahan sebesar 10.732 m² dengan komposisi sekitar 65% dari lahan adalah ruang hijau. Berdasarkan hal tersebut, perancangan ini dapat menyediakan kebutuhan hunian yang terus meningkat tiap tahunnya pada Kota Surabaya serta menyediakan ruang untuk alam bertumbuh sekaligus menghubungkan kembali hubungan antara manusia dengan alam. ===================================================================================================================================== With the increasing human population, the need for a place to live will increase as well, because the place of residence is one of the important aspects in humans. In the city of Surabaya itself there is an increase in the need for residential houses every year. The need for residential housing increases by 665,545 units every year with an increase of 5,000 units per year. This design aims to be a medium in meeting the increasing residential needs in the city of Surabaya without neglecting the need for space to grow from nature. This design also aims to reconnect the relationship between humans and nature in everyday life. Located near the Keputih Bamboo Forest, this design uses a biomorphic architectural approach and a concept-based framework design method whose design comes from the morphological analogy of bamboo which is represented as a vertical residence. This aims to give rise to an analogy that this design is an extension of the bamboo forest located near the design land. By designing from the morphological analogy of bamboo plants, this residential design can provide 352 residential units along with supporting facilities and their managers on an area of 10.732 m²with a composition of about 65% of the land is green space. Based on this, this design can provide residential needs that continue to increase every year in the city of Surabaya and provide space for nature to grow while reconnecting the relationship between humans and nature

    Analogi Morfologi Bambu Pada Perancangan Menara Apartemen

    Get PDF
    Dengan semakin bertambahnya populasi manusia, maka kebutuhan akan tempat tinggal akan semakin meningkat juga, karena tempat tinggal merupakan salah satu aspek penting pada manusia. Masalah ini juga akan berdampak dengan ketersediaan lahan untuk alam. Untuk menyelesaikan permasalahan ini rancangan ini akan melihat alam sebagai solusinya. Manusia seringkali mencari solusi dalam sebuah masalah namun seringkali lupa bahwa jawaban dari masalah-masalah tersebut secara tidak langsung terdapat pada bentuk, tekstur, atau proses alami yang selalu terjadi pada alam. Hal ini dapat dimanfaatkan pada bidang ilmu arsitektur sebagai dasar dalam merespon isu yang diangkat pada sebuah rancangan. Dalam istilah arsitektur, desain biomorfik berkaitan dengan bentuk dan pola yang terinspirasi oleh alam. Morfologi pada unsur alam dapat menjadi salah satu aspek yang dapat ditiru pada rancangan bangunan. Perancangan hunian tower apartemen ini akan didasari oleh analogi dari morfologi tanamana bambu yang berumpun sehingga hunian tower ini memiliki 8 unit tower yang terpisah namun tetap terhubung oleh jembatan penghubung. Masing-masinig tower berbentuk miring mengikuti kemiringan bambu dan memiliki struktur core yang dapat dimanfaatkan sebagai saluran distribusi utilitas yang terinspirasi dari rongga bambu dan proses alaminya
    corecore