2 research outputs found
Pengaruh Penggunaan Berbagai Sistem Hidroponik Terhadap Produktivitas Tanaman Caisim (Brassica Sinensis L.) Dengan Pemanfaatan Lampu Led Grow Light
Tingginya tingkat pembangunan di Indonesia membuat lahan
pertanian semakin kecil. Salah satu alternatif untuk mencipatakan lahan
petanian ditengah tingginya tingkat pembangunan yaitu dengan
pertanian hidroponik. Sistem hidroponik yang dapat digunakan yaitu
sistem hidroponik Wick, DFT, NFT. Meskipun masalah lahan pertanian
cukup teratasi dengan pertanian hidroponik tetapi kendala yang banyak
terdapat pada pertannian hidroponik yaitu pada musim hujan dan ketika
lahan yang digunakan untuk pertanian hidroponik sangat sempit dan
tidak terkena sinar matahari. Hal tersebut menyebabkan tanaman tidak
dapat berfotosintesis dengan sempurna dikarenakan kurangnya
penerimmaan cahaya matahari. Alternatif yang bisa digunakan yaitu
dengan penggunaan LED grow light karena penggunaan lampu LED
grow light memiliki pengaruh yang baik bagi pertumbbuhan tanaman
serta perkembangan tanaman. Salah satu sayuran yang mampu
bertumbuh dalam pertanan hidroponik menggunakan LED grow light
yaitu sawi hijau atau Caisim.
Penelitian ini terdiri dari 4 tahap yaitu perakitan instalasi sistem
hidroponik (Wick, NFT, dan DFT); membuat pembeda jarak lampu 20
cm dan 15cm; penyemaian benih, pemberian nutrisi. Parameter yangviii
digunakan yaitu tinggi, jumlah daun, lebar daun, berat segar, dan berat
basah akar pada Caisim. Hasil terbaik yang telah didapatkan dari semua
parameter yaitu tinggi caisim hasil 33,5 cm, jumlah daun didapatkan 20
daun, lebar daun 10,25 cm, berat segar caisim di dapatkan 57,45 gram,
dan berat basah akar 4 gram. Berdasarkan hasil penelitian dan
pengamatan yang telah dilakukan, hasil yang telah didapatkan dari
semua parameter menunjukkan pada perlakuan variasi jarak 15 cm
dengan menggunakan sistem hidroponik NFT memberikan hasil terbaik
untuk semua paramete
Rantai Nilai Kopi Robusta Pada Kelompok Tani Ngudi Rahayu XI Desa Kebondalem, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang
This study aims to identify and analyze the robusta coffee value chain in the Ngudi Rahayu XI Farmer Group in Kebondalem Village, Jambu District, Semarang Regency to determine the added value that can be obtained from each stage of the process in the robusta coffee supply chain and development strategies that can increase farmers' income. The research method used descriptive qualitative analysis with data collection through observation, interviews and discussions with farmers and quantitative related to added value using the hayami method. The results showed that the processing and marketing stages of robusta coffee final products generate the greatest added value. In particular, processing into dried coffee ose produces a total value-added of Rp 2,510 and packaged ground coffee of Rp 7,672 for every kilogram of wet ground coffee. Evidently that further processing to finished products generates greater value-added than selling semi-finished products. However, fluctuating coffee prices, limited access to market information, and technology are problems that coffee farmer groups still face. Therefore, to increase competition and profits for robusta coffee farmers in Kebondalem Village, it is necessary to improve the value chain through innovations in the processing process. value chain improvement through innovations in processing, implementation of integrated quality management, and implementation of effective marketing strategies.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis rantai nilai kopi robusta pada Kelompok Tani Ngudi Rahayu XI di Desa Kebondalem, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang guna mengetahui nilai tambah yang dapat diperoleh dari setiap tahapan proses dalam rantai pasok kopi robusta serta strategi pengembangan yang dapat meningkatkan pendapatan petani. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan diskusi bersama petani serta kuantitatif terkait nilai tambah dengan menggunakan metode hayami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap pengolahan dan pemasaran produk akhir kopi robusta menghasilkan nilai tambah terbesar. Khususnya, pengolahan menjadi kopi ose kering menghasilkan nilai tambah total sebesar Rp 2.510 dan kopi bubuk kemasan sebesar Rp 7.672 untuk setiap kilogram kopi glondong basah. Terbukti bahwa pengolahan lanjutan hingga produk jadi menghasilkan nilai tambah yang lebih besar daripada penjualan produk setengah jadi. Namun, fluktuasi harga kopi, keterbatasan akses ke informasi pasar, dan teknologi adalah masalah yang masih dihadapi kelompok tani kopi. Oleh karena itu, untuk meningkatkan persaingan dan keuntungan petani kopi robusta Desa Kebondalem, diperlukan peningkatan rantai nilai melalui inovasi dalam proses pengolahan, penerapan manajemen mutu terpadu, dan penerapan strategi pemasaran yang efektif
