39 research outputs found
Uji Daya Antiseptik Perasan Dan Ekstrak Polar Rimpang Temu Giring(Curcuma heyneana VAL & V. ZIJP)
Temu glring (Curcuma heyneana Val & V. Zijp) digunakan penduduk antara lain untuk
mengobati demam /sakit perut, bahan kosmetika obat bercak darah ingus/ disentri akut dan
antiseptika kulit. Pada penelitian sebelumnya diketahui, bahwa ekstrak etanol rimpang temu giring (pada kadar 40%) dapat menghambat pertumbuhan bakteri Sarcina lutea
Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, B. stearothermophilus, Salmonella typhi, dan Candida
albicans (Wahyudi, dkk., 2000). Pada penelitian ini akan diuji daya antiseptik dari perasan dan
fraksi polar rimpang temu giring terhadap bakteri S. aureus dengan metode Reddish. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perasan (hingga kadar 100%)
dan fraksi polar (hingga kadar
20% dari ekstrak kental) rimpang temu giring tidak mempunyai daya antiseptik terhadap mikroba uji
Efek ekstrak metanolik dan fraksi metanolik sisa buah mengkudu terhadap peningkatan jumlah protein GLUT-4
Sampai saat ini masih terus dicari obat baru yang dapat ditoleransi
dengan baik dan efektif oleh penderita Diabetes Mellitus. Alternatif yang diminati
saat ini adalah tanaman obat tradisional. Tanaman obat tradisional yang dipakai
pada penelitian ini adalah mengkudu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
peningkatan jumlah protein GLUT-4 pada tikus Diabetes Mellitus tipe 2 yang
diberi ekstrak metanolik dan fraksi metanolik sisa buah mengkudu. Tikus dibuat
diabetes dengan pemberian insulin eksogen secara intraperitoneal selama
10 hari. Setelah tikus mengalami Diabetes Mellitus yang ditandai dengan
hiperglikemik kemudian tikus diberi ekstrak metanolik dan fraksi metanolik sisa
dari buah mengkudu selama 4 hari secara oral. Pada hari ke 5 setelah terapi,
glukosa darah puasa tikus putih jantan diukur kemudian tikus dikorbankan dan
diambil jaringan otot paha untuk dibuat preparat imunohistokimia. Dari preparat
imunohistokimia dihitung jumlah protein GLUT-4. Berdasarkan hasil penelitian
diketahui bahwa ekstrak metanolik dan fraksi metanolik sisa buah mengkudu
dapat meningkatkan jumlah protein GLUT-4 tapi tidak dapat menurunkan kadar
glukosa darah puasa tikus putih jantan
STUDI PERBANDINGAN MIKROSKOPIK SERBUK DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS - SPEKTROFOTODENSITOMETRI KANDUNGAN MINYAK ATSIRI RIMPANG TEMU PUTIH [Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe] DAN TEMU MANGGA [Curcuma mangga Val.]
Rimpang temu putih [Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe] diketahui mempunyai kandungan minyak atsiri disamping kandungan-kandungan lainnya. Khasiat dari rimpang tersebut antara lain sebagai stimulansia, karminatifum, antiemetikum, antipiretikum dan diuretikum. Di negara Cina, rimpang temu putih digunakan untuk mengobati berbagai jenis tumor tertentu. Di daerah tertentu untuk rimpang temu putih [Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe] kadang kita mendapatkan rimpang yang lain yaitu rimpang temu mangga [Curcuma mangga Val.1 Untuk dapat membedakan antara dua macam rimpang tersebut, maka dilakukan studi perbandingan mikroskopik serbuk dan analisa kromatografi lapis tipis - spektrofotodensitometri kandungan minyak atsirinya. Hasil menunjukkan secara mikroskopik serbuk kedua rimpang sulit dibedakan. Hasil analisa KLT kandungan minyak atsiri kedua rimpang dengan menggunakan fase diam silikagel GF254, fase gerak chloroform atau toluol-etilasetat (93:7) menunjukkan profil yang berbeda dengan penampak noda sinar U.V. 254 nm, pereaksi anisaldehid-asam sulfat atau pereaksi vanilin-asam sulfat. Demikian pula dengan hasil spektrofotodensitometrinya pada ~254 nm
Uji Analgesik Ekstrak Etanol Rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana Val & V. Zijp) Pada Mencit Dengan Metode Writhing Reflex
Telah dilakukan pengujian efek analgesik ekstrak etanol rimpang temu giring (Curcuma heyneana Val & V.Zijp) pada mencit dengan metode writhing reflex yang diberi induksi nyeri asam asetat secara intraperitoneal. Rimpang temu
giring dibuat ekstrak dengan cara soxhletasi menggunakan etanol 80%. Ekstrak uji dibuat dalam konsentrasi 6% (kurang lebih 1,5 g/kg bb), 12% (kurang lebih 3 g/kg bb), dan 18% (kurang lebih 4,5 g/kg bb) diberikan secara oral dengan volume pemberian 0,5 ml/ 20 g bb.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak etanol rimpang temu giring (Curcuma heyneana Val & V.Zijp.) dengan konsentrasi 12% (kurang lebih 3 g/kg bb) dan 18% (kurang lebih 4,5 g/kg bb) meniberikan efek analgesik yang lebih besar daripada suspensi acetosal 60 mg/kg bb sebagai pembanding. Sedangkan konsentrasi 6% (kurang lebih 1,5 g/kg bb) mempunyai efek analgesik yang setara dengan suspensi acetosal 60mg/kg bb
The Effects of Processing Time on the Total Phenolic, Flavonoid Content, and Antioxidant Activity of Multi Bulb and Single Bulb Black Garlic
Black garlic is produced by processing multi-bulb garlic (Allium sativum) or single-bulb garlic in high temperature and high humidity for several days. Black garlic has many health benefits, such as an antioxidant activity resulting from its compound, including groups of flavonoid and phenolic compounds. This study aimed to analyze the effect of aging time on multi-bulb and single bulb black garlic on the content of total phenolic, flavonoid, and antioxidant activity. Black garlic was processed at a 60-70°C heating temperature and 70-80% relative humidity for 25 days. Determination of total phenol and flavonoid contents using spectrophotometric methods with gallic acid as a standard of total phenolic and quercetin as a standard of flavonoid, while the antioxidant activity was determined by DPPH radical reduction. The results generate that total phenolic contents (% w/w GAE), flavonoids contents (% w/w QE), and EC50 values at 0 until day 25 increase on a particular day in multi-bulb and single-bulb black garlic. The optimal total phenolic content of both black garlic was obtained by heating for 20th days, flavonoid content of multi-bulb garlic at 10th days, and single-bulb black garlic at 15th days. Highest antioxidant activity was obtained on days 20 and 25 for single-bulb black garlic and multi-bulb black garlic, respectively. In conclusion, the aging time of black garlic affects total phenolic, flavonoid content, and antioxidant activity. Longer processing time caused an increase in the total phenolic content, flavonoid content, and antioxidant activity at a particular time. Conversely, content and activity were decreased if the processing time was too long. Multi-bulb black garlic showed higher contents and activity than single-bulb black garlic
Uji Daya Antimikroba Minyak Atsiri Rimpang Segar Dan Rimpang Kering Temu Giring (Curcuma Heyneana Val & V.Zijp) Terhadap Pertumbuhan Sarcina Lutea Dan Candida Albicans
Telah dilakukan penelitian daya antimikroba minyak atsiri rimpang segar dan rimpang kering temu giring (Curcuma heyneana Val & V.Zijp). Minyak atsiri dihasilkan dari penyulingan dengan air rimpang yang didapat dari daerah Surabaya Jawa Timur. Uji dilakukan dengan cara difusi menggunakan metode cylinder cup pada media agar Antibiotik 1 dan dicoba terhadap Sarcina lutea dan Candida albicans. Hasil penelitian menunjukkan kedua minyak atsiri bersifat menghambat pertumbuhan Sarcina lutea maupun Candida albicans. Minyak atsiri rimpang segar menunjukkan efektivitas daya hambat yang lebih besar dan secara statistik berbeda bermakna dibanding dengan minyak atsiri rimpang kering. Profil kromatogram KLT minyak atsiri rimpang temu giring hasil spektrofotodensitometri pada 254 nm dari kedua rimpang segar dan kering sama secara kualitatif tetapi berbeda secara kuantitatif
Simple TLC-densitometric method for the quantification of asiaticoside in Centella asiatica from different origins for its standardization
Gotu kola (Centella asiatica (L.) Urb.) is one of the “Jamu Saintifik” ingredients that contains various active compounds, including asiaticoside. Asiaticoside content depends on several factors, such as the plant’s origin, age, and harvesting season. This study was conducted to analyze the concentration of asiaticoside in gotu kola crude drug obtained from nine different planting locations using a TLC-densitometer. The TLC used silica gel 60 F254 as the stationary phase, ethyl acetate-methanol-water (10:2.5:1) as the mobile phase, and anisaldehyde sulfuric acid as a derivatizing agent. The developed method met the specificity parameters, as characterized by the identical visible spectrum of the asiaticoside in the sample extract to that of the asiaticoside standard, with a maximum wavelength of 594 nm. The standard curve showed good linearity in the concentration range of 1.05–10.5 µg/band with an r-value of 0.989437. The limits of detection (LOD) and quantification (LOQ) were 0.48820 and 1.47939 µg/band, respectively. This method was repeatable and precise, with relative standard deviations between 2.72 and 7.16% for intraday precision and 2.82% for interday precision. Except for two samples, all the asiaticoside concentrations were quantifiable and ranged between 0.53933 and 3.46866 mg/g of crude drugs. In conclusion, they vary across the C. asiatica samples collected from different origins in Indonesia. The gotu kola
crude drugs obtained from Lombok Barat, Magelang, and Hulu Sungai Selatan have the highest asiaticoside content among
the nine samples studied
UJI EFEK PEREDAM RADIKAL BEBAS EKSTRAK METANOL RIMPANG TEMU MANGGA (Curcuma mangga Val.) TERHADAP RADIKAL BEBAS 1,1-DIPHENYL-2-PICRYLHYDRAZYL
Dalam upaya mencari senyawa antioksidan dari tumbuhan suku
Zingiberaceae, telah dilakukan uji peredam radikal bebas terhadap 1,1- Diphenil-2-Picrylhydrazyl (DPPH) dari ekstrak metanol rimpang temu mangga (Curcuma mangga Val.). Serbuk rimpang temu mangga diekstraksi berturut - turut dengan pelarut n-heksan dan metanol menggunakan soxhlet. Ekstrak metanol setelah diuapkan pelarutnya dengan pengurangan
tekanan, dilakukan uji peredam radikal bebas terhadap DPPH secara KLT menurut metode Calis et al, dan secara Spektrofotometri menurut metode Joyeux et al, untuk menentukan harga EC50-nya. Sebagai pembanding digunakan ekstrak metanol temulawak yang diekstraksi dari kapsul
temulawak yang beredar di pasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam ekstrak temu mangga terdapat senyawa yang meredam DPPH dengan harga EC50 = 63,4 mg%, sedangkan ekstrak metanol temulawak dengan harga EC50 = 32,8mg%, yang berbeda bermakna secara statistik t-tes
Heavy Metals Concentrations in The Biota of The Rivers and The Sea Around Estuary of East Surabaya Shore (PAMURBAYA)
The concentration analysis of heavy metals: Cd, Cr, Cu, Hg and Pb in the biota in the Kalisari,
Wonokromo and Wonorejo rivers anu the sea around the river's of East Surabaya Shore
(PAMURBA Y A) using Grab sampling have already done. The samples biota preparations using
digestion method using concentrated HN03 and H20 2• In the Kalisari river, the researchers could
not find the biota, while in the sea around estuary, the researchers found Yoldia Iucida with
concentrations of Cd, Cr, Cu, Hg and Pb are: 0.881 ± 0.0646; 1.644 ± 0.0101; 10.130 ± 0.0172;
23.783 ± 0.0277 and 2.506 ± 0.0144 ug/g, also Anadara granosa with concentrations of Cu and Hg
are: 0.849 ± 0.0032 and 12.931 ± 0.0020 ug/g. On the resaerch in Wonokromo river, the researchers
found Tel/ina alternata with concentrations of Cd, Cu, Hg and Pb are: 0.713 ± 0.0006; 1.335 ±
0.0079; 7.668 ± 0.0001 and 0.853 ± 0.0006 ug/g also Meretrix meretrix with concentrations of Cd,
Cr, Cu, Hg and Pb are: 2.923 ± 0.0022; 1.349 ± 0.0079; 10.369 ± 0.0143; 19.090 ± 0.0164 and
3.573 ± 0.0097 ug/g. In the sea around estuary of this river, the researchers found Anadara granosa
with concentrations of Cu and Hg are: 0.524 ± 0.0035 and 44.3 10 ± 0.0334 ug/g, also Corbula
contracta with concentrations of Cr, Cu and Hg are: 0.360 ± 0.0027; 1.814 ± 0.0097; 9.934 ±
0.0 I 31 ug/g and Meretrix meretrix with concentrations of Cr, Cu, Hg and Pb are 2.245 ± 0.0050;
2.812 ± 0.0057; 22.498 ± 0.0147 and 2.849 ± 0.1790 ug/g dry weight samples respectively. In the
Wonorejo river and the sea around estuary, the researchers could not fmd biota. The tolerance limit
for Cd was 400-500 ug/person/week, Cr was 35 ug/day, Cu was 10 ug/day/woman or 12
ug/day/man and Pb was 3 mglpersonlweek, while concentration of Hg was not tolerated
