1,720,964 research outputs found
KAJIAN TAFSIR ALQURAN DI FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA IAIN ANTASARI (REFLEKSI ATAS SKRIPSI MAHASISWA JURUSAN ILMU ALQURANDAN TAFSIR TAHUN 1993---2014)
The effort to study and explore the meaning of the Qur'an has been done by Muslims through various approaches of knowledge, among others by interpreting methodologically as many previous mufassir done, such as ijmali method, tahlili, maudhu'i, and muqaran. This method is also applied (developed) at the level of educational institutions in the Department of Qur’anic and Tafsir Studies, Faculty of Ushuluddin and Humanities IAIN Antasari. Based on the results of students’ research, this study provides an indication that the themes of Qur'anic commentary studies show many variations, especially in the application of the developed interpretation methodology
MENGKAJI MAKNA KEDEKATAN DAN KEBERSAMAAN ALLAH DENGAN MAKHLUK-NYA DALAM TAFSĪR AL-MISHBĀH
Knowing Allah and uniting Him is a concept of monotheism which is called for by the Qur'an and conveyed by the Prophet Muhammad. to his people. Thus it is an obligation for Muslims to study it seriously and deeply. Among the teachings of this monotheism are the verses that inform that Allah is close to His creatures, even Allah Himself is with His creatures wherever they are. These verses and their meanings can cause some Muslims to misunderstand them. Because, the verses seem to state that God is in the heart or God is united or together with His creatures, even God is everywhere. Information on the verse of the Qur'an that mentions Allah is near or Allah is with His servants, of course it cannot be understood simply that Allah is close as close to one thing as another. Or God is one with man as understood by some Sufis. If this is the case, it is clearly contrary to the principles of monotheism taught by the holy Qur'an. To find out what the meaning of the closeness and togetherness of Allah is, this paper tries to trace the answer through M. Quraish Shihab's Tafsīr al-Mishbāh
KAJIAN TAFSIR ALQURAN DI FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA IAIN ANTASARI (REFLEKSI ATAS SKRIPSI MAHASISWA JURUSAN ILMU ALQURANDAN TAFSIR TAHUN 1993---2014)
The effort to study and explore the meaning of the Qur'an has been done by Muslims through various approaches of knowledge, among others by interpreting methodologically as many previous mufassir done, such as ijmali method, tahlili, maudhu'i, and muqaran. This method is also applied (developed) at the level of educational institutions in the Department of Qur’anic and Tafsir Studies, Faculty of Ushuluddin and Humanities IAIN Antasari. Based on the results of students’ research, this study provides an indication that the themes of Qur'anic commentary studies show many variations, especially in the application of the developed interpretation methodology
KAJIAN TAFSIR ALQURAN DI FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA IAIN ANTASARI (REFLEKSI ATAS SKRIPSI MAHASISWA JURUSAN ILMU ALQURANDAN TAFSIR TAHUN 1993---2014)
KONSEP SHIDQ DALAM PERSPEKTIF TASAWUF
Dalamkajiantasawuf,istilah"shidq"(kejujuran,kebenaran) tidak difahamisecarasempitsebagaisalahsatu sifat (karakter) seorangmuslimyang baik,melainkanmendapatluasan-luasan maknayang mendalam.Shidq merupakan salah satu bentuk pendakianparasālik(sufi) yanginginmendekatkandirikepada Allah untuk selanjutnyasecaraberjenjang menujumaqam makrifah,suatu maqamyang menjadidambaan kaumsufi. Bagiorang-orang sufi,shidq(kejujuran,kebenaran)adalah pilar semuaperkara,karenanyashidqmemilikisuatukekuatan sehingga DzunNun al-Mishrimengatakan bahwa, shidq (kebenaran)adalahpedang Allah;tidak adasesuatupunyang ditempatinyamelainkan diputusnya. Dalam memberikanrumusanhakekatshidq(kebenaran, kejujuran) ini,diantaraparasufisendiricukupbervarisi.Meski demikian, beberapa ungkapan sufi yang menerangkannya terdapat hal yang menarik, yaitu bahwa di dalam shidq (kebenaran)ituterdapat jiwakeberanianyangdidasarkanatas kebenaran tersebut serta tidak merasa ketergantungan dengan yanglain, selain Allah.tidak difahamisecarasempitsebagaisalahsatu sifat (karakter) seorangmuslimyang baik,melainkanmendapatluasan-luasan maknayang mendalam.Shidq merupakan salah satu bentuk pendakianparasālik(sufi) yanginginmendekatkandirikepada Allah untuk selanjutnyasecaraberjenjang menujumaqam makrifah,suatu maqamyang menjadidambaan kaumsufi. Bagiorang-orang sufi,shidq(kejujuran,kebenaran)adalah pilar semuaperkara,karenanyashidqmemilikisuatukekuatan sehingga DzunNun al-Mishrimengatakan bahwa, shidq (kebenaran)adalahpedang Allah;tidak adasesuatupunyang ditempatinyamelainkan diputusnya. Dalam memberikanrumusanhakekatshidq(kebenaran, kejujuran) ini,diantaraparasufisendiricukupbervarisi.Meski demikian, beberapa ungkapan sufi yang menerangkannya terdapat hal yang menarik, yaitu bahwa di dalam shidq (kebenaran)ituterdapat jiwakeberanianyangdidasarkanatas kebenaran tersebut serta tidak merasa ketergantungan dengan yanglain, selain Allah
PEER REVIEW "MODEL PENAFSIRAN KHATIB (STUDI TERHADAP KHUTBAH JUMAT DI KOTAMADYA BANJARMASIN)"
Islamisme dan Habib Preneur: Dinamika Bisnis Para Habib di Kalimantan
There is something interesting about the business of these habibs, namely their "involvement" in taking advantage of their status as habibs, who incidentally are descendants of the Prophet Muhammad SAW, making the habib's business different from other businessmen. This study is important because there are no serious studies on this issue. This study uses the phenomenological method, phenomenology assumes that the real reality and data of a phenomenon is what is behind the phenomenon, in-depth interviews and observations are carried out in extracting data, the focus of this research is various models of the commodification of religion and the application of the spiritual economy in business ventures habibs in South Kalimantan. Many Hadhrami descendants from the Sayyid group are also active preachers in business, whether as actors, owners, financiers or joint owners. Many habib preachers use religious narratives to support their business. Habib the preacher got many advantages, both morally and materially. In addition, the religious narrative presented by the habib preacher group also presents a wedge between religion and prosperity, thus adding to the ways the habib group promotes itself to the Muslim community, namely by combining that of a pious figure who has wealth and prosperity. Ada yang menarik dari bisnis para habib ini, yaitu “keterlibatan” mereka dalam memanfaatkan statusnya sebagai habib yang notabene adalah keturunan Nabi Muhammad SAW, membuat bisnis para habib berbeda dengan pebisnis lainnya. Kajian ini penting karena belum ada kajian yang serius mengenai masalah ini. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi, fenomenologi beranggapan bahwa kenyataan dan data yang sebenarnya dari suatu fenomena adalah apa yang ada di balik fenomena tersebut, wawancara mendalam dan observasi dilakukan dalam penggalian data, fokus penelitian ini adalah berbagai model komodifikasi komoditas. agama dan penerapan ekonomi spiritual dalam usaha bisnis para habib di Kalimantan Selatan. Banyak keturunan Hadhrami dari kelompok Sayyid juga aktif berdakwah dalam bisnis, baik sebagai pelaku, pemilik, pemodal atau pemilik bersama. Banyak pendakwah habib menggunakan narasi agama untuk mendukung usahanya. Habib sang da'i mendapat banyak manfaat, baik secara moril maupun materiil. Selain itu, narasi keagamaan yang dibawakan oleh kelompok dai habib juga menghadirkan sekat antara agama dan kesejahteraan, sehingga menambah cara kelompok habib mempromosikan diri kepada masyarakat muslim, yaitu dengan memadukan sosok soleh yang memiliki kekayaan dan kemakmuran
Islamisme dan Habib Preneur: Dinamika Bisnis Para Habib di Kalimantan
There is something interesting about the business of these habibs, namely their "involvement" in taking advantage of their status as habibs, who incidentally are descendants of the Prophet Muhammad SAW, making the habib's business different from other businessmen. This study is important because there are no serious studies on this issue. This study uses the phenomenological method, phenomenology assumes that the real reality and data of a phenomenon is what is behind the phenomenon, in-depth interviews and observations are carried out in extracting data, the focus of this research is various models of the commodification of religion and the application of the spiritual economy in business ventures habibs in South Kalimantan. Many Hadhrami descendants from the Sayyid group are also active preachers in business, whether as actors, owners, financiers or joint owners. Many habib preachers use religious narratives to support their business. Habib the preacher got many advantages, both morally and materially. In addition, the religious narrative presented by the habib preacher group also presents a wedge between religion and prosperity, thus adding to the ways the habib group promotes itself to the Muslim community, namely by combining that of a pious figure who has wealth and prosperity.
Ada yang menarik dari bisnis para habib ini, yaitu “keterlibatan” mereka dalam memanfaatkan statusnya sebagai habib yang notabene adalah keturunan Nabi Muhammad SAW, membuat bisnis para habib berbeda dengan pebisnis lainnya. Kajian ini penting karena belum ada kajian yang serius mengenai masalah ini. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi, fenomenologi beranggapan bahwa kenyataan dan data yang sebenarnya dari suatu fenomena adalah apa yang ada di balik fenomena tersebut, wawancara mendalam dan observasi dilakukan dalam penggalian data, fokus penelitian ini adalah berbagai model komodifikasi komoditas. agama dan penerapan ekonomi spiritual dalam usaha bisnis para habib di Kalimantan Selatan. Banyak keturunan Hadhrami dari kelompok Sayyid juga aktif berdakwah dalam bisnis, baik sebagai pelaku, pemilik, pemodal atau pemilik bersama. Banyak pendakwah habib menggunakan narasi agama untuk mendukung usahanya. Habib sang da'i mendapat banyak manfaat, baik secara moril maupun materiil. Selain itu, narasi keagamaan yang dibawakan oleh kelompok dai habib juga menghadirkan sekat antara agama dan kesejahteraan, sehingga menambah cara kelompok habib mempromosikan diri kepada masyarakat muslim, yaitu dengan memadukan sosok soleh yang memiliki kekayaan dan kemakmuran
Study Pelacakan (Tracer Study) Alumni Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin Dan Humaniora di Wilayah Kota Banjarmasin
Tracer Study merupakan pendekatan untuk memperoleh informasi tentang kekurangan yang mungkin terjadi dalam proses pendidikan dan pembelajaran serta perencanaan aktivitas penyempurnaan di masa mendatang. Selain iu, hasil Tracer Study dapat digunakan perguruan tinggi untuk mengetahui keberhasilan proses pendidikan yang telah dilakukan terhadap anak didiknya. Bahkan dalam program hibah kompetisi maupun akreditasi selalu mempersyaratkan adanya data hasil Tracer Study tersebut melalui parameter masa tunggu lulusan, persen lulusan yang sudah bekerja, dan penghasilan pertama yang diperoleh.
Hasil Tracer Study yang dilakukan oleh Jurusan Perbandingan Agama pada Fakultas Ushuluddin dan Humaniora menunjukkan bahwa alumi jurusan ini telah bekerja dengan berbagai profesi pekerjaan, baik swasta maupun di instansi pemerintahan. Masa tunggu masing-masing mendapatkan pekerjaan pertama cukup bervariasi: sudah bekerja sebelum wisuda 13 orang (41,93 %), 1—5 bulan 3 orang (9,67 %); 1—6 bulan 2 orang (6,46 %); 7 bulan—1 tahun 6 orang (19,35 %); 1—2 tahun 7 orang (22,58 %); tidak ada jawaban 1 orang (3,22 %).
Penghasilan pertama yang diperoleh di bawah Rp 500.000,- 21 orang (67,74 %); Rp 501.000 sd Rp 1000.000,- 8 orang (25,80 %); Rp1001.000 sd. Rp 2000.000,- 2 orang (6,45 %), di atas Rp 2000.000,- 0%. Kemudian terkait antara relevansi pendidikan atau mata kuliah dengan pekerjaan yang menyatakan sesuai sebanyak 22 orang (70,96 %) dan yang menyatakan tidak sesuai sebanyak 9 orang (29,04 %). Dari sini alumni memberikan umpan balik perlu adanya perbaikan dan pembenahan kurikulum baik mata kuliah kompetensi utama maupun pendukung jurusan agar sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu dan dunia kerja
- …
