2 research outputs found
The Value of Islamic Education in The Book of Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai by Emha Ainun Nadjib
This study is trying to describe the results of the analysis of Islamic Educational Values in the book of Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai by Emha Ainun Nadjib or commonly called Cak Nun and at the same time looking at the reconstruction of the concept or values of education offered with the needs and challenges of today's education. This study uses a library research approach with direct data sources from the book of Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai and Emha's books relevant to this research based on the analytical methods and content analysis. The results of this study or the Islamic Educational Values that the author found in the book of Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai talk about the peak of one's faith is monotheism, the net is through piety, and its manifestation is Rahmatan Lil 'Alamin. Then, the value of moral education is to question our attitude toward non-Muslims, re-understanding the meaning of Ukhuwah Islamiyah broadly and deeply. What is contained in the value of Islamic Education includes worship as a Manifestation of Love for Allah by understanding the concept of reward more broadly, Prayer, Fasting, Zakat, and Hajj. Meanwhile, the meaning of an educator, according to "Emha Ainun Nadjib in the book of Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai, is someone who can not only educate but can also position himself as a student anytime, anywhere, and to anyone
Problematika pembelajaran pendidikan Agama Islam dan solusinya di SMP Negeri 4 Kepanjen Kabupaten Malang
ABSTRAK
Pada dasarnya pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia untuk mengembangkan kemampuan atau potensi individu sebagai anggota masyarakat serta memiliki nilai-nilai moral maupun sebagai pedoman hidupnya. Dalam pendidikan Islam disebutkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah memiliki kepribadian muslim yaitu suatu kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran Islam yang disebut muttaqiin.
Ini dapat diwujudkan melalui pendidikan formal yang disebut sekolah. Karena pendidikan sekolahlah yang mempunyai tujuan yang jelas. Pendidikan agama Islam di sekolah harus mempunyai kualitas yang bagus dalam rangka membentuk kepribadian tersebut sehingga anak didik mampu menghadapi tantangan yang ada. Dalam rangka meningkatkan kualitasnya masih banyak terjadi hambatan-hambatan terutama dalam pembelajaran baik itu dari anak didik, pendidik, kurikulum, maupun alat pendidikan.
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis mengambil judul Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Solusinya. Dengan rumusan masalah yaitu bagaimana pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam dan apa saja problem yang dihadapi dalam pembelajaran pendidikan agama Islam serta bagaimana cara mengatasinya.
Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam dan juga untuk mengetahui problem-problem yang dihadapi dalam pembelajaran pendidikan agama Islam serta cara mengatasinya. Dan yang menjadi obyek penelitian adalah SMP Negeri 4 Kepanjen.
Metode yang penulis gunakan dalam penulisan skripsi ini di awali dengan penentuan populasi dan sample, dan pengumpulan data menggunakan metode interview, observasi, dan documenter, serta analisis data yang digunakan adalah diskriptif kualitatif. Karena data yang diperoleh tidak berbentuk angka-angka, akan tetapi merupakan uraian yang didapatkan dari hasil interview, observasi, dan documenter.
Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diperoleh kesimpulan bahwa pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 4 Kepanjen menggunakan dua model pembelajaran yakni memakai kurikulum 1994 untuk kelas 2 dan 3, dan kurikulum berbasis kompetensi untuk kelas 1, dengan alokasi waktu 2jam pelajaran dalam seminngu (2x45 menit). Guru yang mengajar PAI sebanyak 3 orang. Problem-problem yang dihadapi dalam pembelajaran PAI antara lain : 1) masalah anak didik, yaitu minat belajar siswa terhadap pendidikan agama Islam kurang, dan latar belakang orang tua yang kurang mendukung. 2) masalah pendidik yaitu pengetahuan atau wawasan guru kurang luas. 3) masalah kurikulum yaitu perubahan kurikulum 1994 ke kurikulum berbasis kompetensi dan alokasi waktu yang minim. 4) masalah alat pendidikan yaitu alat pendidikan kurang memadai khususnya buku paket, ruang belajar dan alat praktek ibadah. Dan 5) masalah lingkungan yaitu keberadaan sekolah yang kurang mendukung, hal ini disebabkan karena lokasi SMP Negeri 4 Kepanjen yang letaknya berada di tengah kota yang dekat dengan keramaian.
Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan guru agama untuk mengatasi problematika yang dihadapi di SMP Negeri 4 Kepanjen antara lain adalah : 1) masalah anak didik yaitu guru agama memberikan dorongan atau motivasi serta pemahaman kepada anak didik tentang pentingnya pendidikan agama bagi kehidupan sehari-hari, dan memberikan nasehat kepada orang tua anak didik supaya untuk selalu membimbing, mendidik dan mengarahkan anaknya untuk belajar pendidikan agama. 2) masalah pendidik yaitu guru agama memperdalam pengetahuan dengan sering mengikuti seminar atau penataran-penataran dan memperbanyak baca buku yang berkaitan dengan KBK dan saling komunikasi dengan guru lain untuk bertukar wawasan mengenai KBK. 3) masalah kurikulum yaitu memberikan jam tambahan di luar jam pelajaran yakni pada jam ekstra kurikuler dan bekerja sama dengan guru pelajaran yang lain agar dalam mengajar memberikan pesan-pesan moral agama atau tingkah laku yang baik yang menjadi bagian dari materi PAI, guru mengikuti penataran-penataran atau MGMP yang diadakan oleh sekolah maupun luar sekolah. 4) masalah alat pendidikan yaitu guru agama mengajukan permohonan kepada kepala sekolah, supaya menambah buku paket dan melengkapi atau memenuhi perlengkapan media atau alat praktek ibadah yang kurang. Dan guru agama menganjurkan kepada siswa untuk memiliki atau membeli LKS atau buku penunjang yang lain selain buku paket. Dan 5) masalah lingkungan yaitu guru agama sering melakukan pembinaan agama terhadap anak didik melalui kajian-kajian ilmiah dan kerja sama dengan masyarakat sekitar sekolah dan juga kepolisian dalam rangka menjaga ketertiban, kenyamanan maupun keamanan bagi sekolah
