2 research outputs found

    Upaya Peningkatan Produksi Usahatani Kubis (Brassica Oleracea L.): Melalui Analisis Efisiensi Teknis Dengan Pendekatan Stochastic Frontier Analysis (Sfa) (Kasus Di Desa Wonomulyo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang)

    No full text
    Tanaman kubis (Brassica oleracea L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang produksinya turut memberikan sumbangan pada nilai ekonomi, memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, memiliki persebaran yang luas, serta memiliki keunggulan kompetitif maupun komparatif. Permintaan akan produk hortikultura akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya peningkatan pada konsumsi dan pengeluaran kubis di Indonesia pada tahun 2018 hingga 2021. Provinsi Jawa Timur ada dalam tiga besar provinsi penghasil kubis tertinggi di Indonesia. Angka produktivitas kubis di Jawa Timur cenderung mengalami penurunan paling besar pada tahun 2019 ke 2020. Salah satu wilayah penunjang produksi kubis tertinggi di Jawa Timur adalah Kabupaten Malang dengan 35,5 persen kontribusi dengan kontribusi tertinggi dari Kecamatan Poncokusumo. Meskipun angka luas panen dan produksi kubis di Kecamatan Poncokusumo merupakan yang tertinggi, namun produktivitasnya masih belum maksimal apabila dibandingkan dengan Kecamatan Pujon, Kecamatan Wajak, dan Kecamatan Pakis. Angka produksi kubis di Kecamatan Poncokusumo salah satunya berasal dari Desa Wonomulyo sebagai salah satu daerah sentra penghasil kubis dengan kondisi alam yang mendukung. Adanya isu terkait inefisiensi timbul dari asumsi bahwa petani pada usahatani kubis melakukan cara untuk memaksimalkan keuntungan, namun tidak mengaplikasikan sumber dayanya secara efisien, maka potensi peningkatan dalam produksi dan pendapatan, serta keuntungan (profit) sulit tercapai. Tidak hanya ketidakmaksimalan penggunaan sumber daya, namun juga penyalahgunaan sumber daya/input produksi yang memunculkan adanya inefisiensi dalam usahatani. Berdasarkan permasalahan tersebut, terdapat tiga tujuan, yaitu: (1) Menganalisis sejauh mana faktor-faktor produksi luas lahan, jumlah bibit, pupuk kandang, urea, NPK, ZA, SP-36, KCL, pestisida, dan tenaga kerja berpengaruh terhadap produksi usahatani kubis di Desa Wonomulyo, Kecamatan Poncokusumo; (2) Menganalisis tingkat efisiensi teknis usahatani kubis di daerah penelitian.; (3) Menganalisis pengaruh faktor sosial ekonomi dan pengetahuan petani tentang risiko produksi terhadap tingkat inefisiensi teknis usahatani kubis di daerah penelitian. Pada penelitian ini terpilih 60 responden dengan metode simple random sampling. Pada tujuan pertama dan kedua penelitian ini menggunakan fungsi produksi stochastic Frontier menggunakan aplikasi Frontier 4.1 dengan pendekatan Maximum Likelihood Estimation (MLE). Tujuan ketiga dianalisis dengan metode regresi Tobit menggunakan aplikasi Stata16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik petani kubis di daerah penelitian berada di usia tergolong masih cukup produktif, yaitu 50-61 tahun dengan mayoritas pengalaman dalam usahatani berkisar 18-31 tahun. Pendidikan terakhir mayoritas petani kubis adalah SMP/sederajat, anggota keluarga mayoritas berjumlah 4 orang. Petani responden mayoritas juga terdaftar dalam kelompok tani sebanyak 53 orang dari total 60 orang responden. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata pada produksi kubis adalah luas lahan, jumlah bibit, pupuk kandang, dan pupuk urea berpengaruh nyata dan positif pada taraf kepercayaan 99 persen. Tenaga kerja berpengaruh nyata dan negatif pada taraf kepercayaan 95 persen. Pupuk ZA dan pestisida berpengaruh nyata dan positif pada taraf kepercayaan 90 persen, sedangkan variabel faktor produksi pupuk NPK, SP-36, dan pupuk KCL tidak menunjukkan adanya pengaruh nyata pada produksi kubis. Nilai efisiensi teknis rata-rata usahatani kubis di Desa Wonomulyo adalah 77 persen, sehingga masih terdapat peluang untuk meningkatkan efisiensi teknis sebesar 23 persen. Nilai efisiensi teknis tertinggi adalah 0,914 dan nilai efisiensi teknis terendah adalah 0,439. Hasil analisis menggunakan Regresi Tobit didapati hasil bahwa pengetahuan petani tentang risiko produksi berupa serangan hama dan penyakit berpengaruh nyata dan negatif terhadap tingkat inefisiensi teknis pada taraf kepercayaan 99 persen. Faktor sosial ekonomi yang berpengaruh nyata dan negatif terhadap inefisiensi teknis usahatani kubis adalah tingkat pendidikan dan keanggotaan kelompok tani dengan taraf kepercayaan 95 persen. Pengalaman usahatani berpengaruh nyata dan negatif pada taraf kepercayaan 90 persen. Faktor sosial ekonomi usia, jumlah anggota keluarga, dan status kepemilikan lahan tidak berpengaruh nyata pada inefisiensi teknis

    Penerapan Analisis SWOT dan Analytical Network Process dalam Strategi Pengembangan BUMDes di Jawa Timur

    No full text
    Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam peningkatan perekonomian masyarakat daerah melalui program unggulan, salah satunya adalah upaya pengelolaan ekonomi produktif masyarakat desa melalui pendirian BUMDes. BUMDes dibangun didasarkan atas elemen-elemen penguat antara lain kooperatif, partisipatif, emansipatif, transparan, akuntabel, dan berkelanjutan. Keberadaan BUMDes sangat penting dalam peningkatan ekonomi terkait dengan pengelolaan yang tepat dan strategi pembangunan untuk menghidupkan kembali upaya demokrasi sosial yang ada. Penelitian ini memiliki tujuan mengetahui pengembangan BUMDes terpilih melalui alternatif strategi yang dilakukan di wilayah Jawa Timur. Penelitian ini merupakan studi kasus pada BUMDes yang dipilih secara purposif di Malang, Blitar dan Probolinggo. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis SWOT dalam menyusun strategi dalam mengoptimalkan potensi dengan menggunakan metode Analytical Network Process. Dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT melalui matriks Evaluasi Faktor Internal dan Faktor Eksternal untuk menganalisis faktor-faktor yang menjadi peluang dan ancaman yang dimiliki BUMDes. Analytical Network Process digunakan dalam mengolah data pemilihan pemasok untuk mendapatkan nilai bobot dari kriteria atau subkriteria dan kinerja BUMDes. Dari hasil evaluasi diperoleh, 36 kriteria faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan 34 kriteria faktor eskstenal (peluang dan ancaman). Hasil analisis juga menunjukkan bahwa alternatif strategi terpenting dalam pengembangan BUMDes di Jawa Timur adalah mengurangi kegiatan usaha yang kurang produktif
    corecore