1,721,182 research outputs found
Khasiat Ekstrak Buah Markisa Kuning (P. Edulis Sims) Sebagai Antiinflamasi Terhadap Jumlah Monosit Pada Tikus Wistar Jantan (Rattus norvegicus)
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan
rancangan penelitian post test control group design. Sampel yang digunakan adalah
12 ekor tikus Wistar jantan yang dikelompokan menjadi 3 kelompok yaitu
kelompok normal tanpa perlakuan, kelompok kontrol diinjeksi bakteri
Enterococcus faecalis dan diberi aquades steril, dan kelompok perlakuan diinjeksi
bakteri Enterococcus faecalis dan ekstrak buah markisa kuning. Pasca sondase
dilakukan pengambilan darah melalui ekor tikus untuk membuat hapusan darah dan
dilakukan pewarnaan giemsa, kemudian dilakukan penghitungan jumlah sel
monosit.
Data yang di peroleh menunjukan adanya perbedaan yang signifikan antar
semua kelompok dengan jumlah sel monosit pada kelompok kontrol lebih tinggi
dibandingkan dengan kelompok yang diberi ekstrak markisa kuning dan kelompok
normal. Dari penelitian ini, dapat disimpulan bahwa pemberian ekstrak buah
markisa kuning (P. Edulis Sims) dengan konsentrasi 100% efektif dapat
menurunkan jumlah sel monosit tikus wistar jantan yang diinjeksi E. Faecalis
VIABILITAS SEL NEUTROFIL YANG DIINKUBASI DENGAN EKSTRAK DAUN SINGKONG (Manihot esculenta) DAN DIPAPAR LIPOPOLISAKARIDA (LPS)
Inflamasi merupakan suatu respon fisiologis terhadap kerusakan jaringan akibat
infeksi, toksin bakteri, maupun adanya antigen yang menstimulasi respon imunologis.
Salah satu penyebab terjadinya inflamasi adalah lipopolisakarida (LPS) yaitu
endotoksin pada bakteri Gram negatif.
Ketika terjadi invasi bakteri ke dalam tubuh, neutrofil sebagai garis pertahanan
tubuh yang pertama akan melakukan kemotaksis ke tempat bakteri berada. Neutrofil
akan membunuh bakteri dengan membentuk fagolisosom dan mengeluarkan oksidan
seperti hidrogen peroksida, nitrogen monoksida, dan radikal oksigen. Apabila oksidan
yang dikeluarkan neutrofil berlebihan, dan fagolisosom gagal membunuh bakteri,
maka proses ini akan menyebabkan neutrofil lisis dan fungsi selnya rusak, sehingga
viabilitas sel neutrofil tidak dapat dipertahankan.
Tanaman obat sebagai terapi alternatif mempunyai efek samping yang lebih
kecil dibandingkan obat kimia. Contoh tanaman obat yang dapat digunakan untuk
mengatasi keradangan adalah daun singkong. Daun singkong memiliki kandungan
flavonoid, saponin, tannin, dan vitamin C. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa
flavonoid, tannin, dan vitamin C berfungsi sebagai antioksidan yang dapat
meningkatkan viabilitas sel neutrofil karena dapat menurunkan tingkat reaksi oksidasi
ketika terjadi proses inflamasi, sedangkan saponin yang berinteraksi dengan bakteri
akan meningkatkan permeabilitas membran sel bakteri sehingga bakteri lisis.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui viabilitas sel neutrofil yang
diinkubasi dengan ekstrak daun singkong (Manihot esculenta) dan dipapar
lipopolisakarida (LPS).
Jenis penelitian adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian
adalah the post-test only control group design. Penelitian dilaksanakan di
Laboratorium Bio Science Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Jember. Sampel
yang digunakan adalah isolat neutrofil yang dibagi menjadi empat kelompok
perlakuan yaitu, kelompok I adalah isolat neutrofil tanpa inkubasi ekstrak daun
singkong dan paparan LPS (kontrol negatif), kelompok II adalah isolat neutrofil
dengan paparan LPS (kontrol positif), kelompok III adalah isolat neutrofil yang
diinkubasi ekstrak daun singkong 12,5% dan dipapar LPS (P1), dan kelompok IV
adalah isolat neutrofil yang diinkubasi ekstrak daun singkong 25% dan dipapar LPS
(P2).
Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05) antar semua
kelompok penelitian, kecuali pada kelompok kontrol negatif dan kelompok P1.
Kesimpulan hasil penelitian ini, ekstrak daun singkong (Manihot esculenta)
dapat meningkatkan viabilitas sel neutrofil yang dipapar LPS dan viabilitas sel
neutrofil pada kelompok dengan inkubasi ekstrak daun singkong 25% lebih tinggi
dibandingkan dengan kelompok inkubasi ekstrak daun singkong 12,5%
Viabilitas Neutrofil yang Diinkubasi Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dan Dipapar dengan Streptococcus mutans Viability of Neutrophil Incubated Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) Rhizome Extract and Exposed by Streptococcus mutans
Streptococcus mutans merupakan bakteri yang mempunyai peranan penting dalam proses terjadinya
karies. Ketika lesi karies berkembang, S. mutans dapat mengadakan invasi ke jaringan gigi yang lebih
dalam (pulpa) dan terjadinya respon pertahanan seluler seperti neutrofil. Neutrofil merupakan sel
darah putih yang berperan terhadap proses fagositosis. Apabila neutrofil mengalami kegagalan dalam
fagositosis, neutrofil dapat lisis sehingga viabilitas neutrofil tidak dapat dipertahankan. Ekstrak
rimpang temulawak diduga dapat meningkatkan viabilitas neutrofil yang dipapar S. mutans karena
mempunyai kandungan kurkuminoid, minyak atsiri, saponin, flavonoid, dan tanin. Tujuan penelitian
ini adalah untuk mengetahui viabilitas neutrofil yang dipapar S. mutans dan diinkubasi dengan ekstrak
rimpang temulawak konsentrasi 2,5 %, 5 %, 7,5 %, 10 %, dan 20 %. Sampel berjumlah 24 yang
terbagi menjadi 6 kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok dengan ekstrak rimpang temulawak
konsentrasi 2,5 %, 5 %, 7,5 %, 10 %, dan 20 %. Viabilitas neutrofil diamati di bawah mikroskop
inverted dengan pewarnaan tyrpan blue. Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak rimpang temulawak
konsentrasi 2,5 %, 5 %, 7,5 %, 10 % dapat meningkatkan viabilitas neutrofil yang dipapar S. mutans.
Konsentrasi paling efektif dalam meningkatkan viabilitas neutrofil adalah ekstrak rimpang temulawak
5
VIABILITAS SEL NEUTROFIL YANG DIINKUBASI DENGAN EKSTRAK DAUN SINGKONG (Manihot esculenta) DAN DIPAPAR LIPOPOLISAKARIDA (LPS)
Inflamasi merupakan suatu respon fisiologis terhadap kerusakan jaringan akibat
infeksi, toksin bakteri, maupun adanya antigen yang menstimulasi respon imunologis.
Salah satu penyebab terjadinya inflamasi adalah lipopolisakarida (LPS) yaitu
endotoksin pada bakteri Gram negatif.
Ketika terjadi invasi bakteri ke dalam tubuh, neutrofil sebagai garis pertahanan
tubuh yang pertama akan melakukan kemotaksis ke tempat bakteri berada. Neutrofil
akan membunuh bakteri dengan membentuk fagolisosom dan mengeluarkan oksidan
seperti hidrogen peroksida, nitrogen monoksida, dan radikal oksigen. Apabila oksidan
yang dikeluarkan neutrofil berlebihan, dan fagolisosom gagal membunuh bakteri,
maka proses ini akan menyebabkan neutrofil lisis dan fungsi selnya rusak, sehingga
viabilitas sel neutrofil tidak dapat dipertahankan.
Tanaman obat sebagai terapi alternatif mempunyai efek samping yang lebih
kecil dibandingkan obat kimia. Contoh tanaman obat yang dapat digunakan untuk
mengatasi keradangan adalah daun singkong. Daun singkong memiliki kandungan
flavonoid, saponin, tannin, dan vitamin C. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa
flavonoid, tannin, dan vitamin C berfungsi sebagai antioksidan yang dapat
meningkatkan viabilitas sel neutrofil karena dapat menurunkan tingkat reaksi oksidasi
ketika terjadi proses inflamasi, sedangkan saponin yang berinteraksi dengan bakteri
akan meningkatkan permeabilitas membran sel bakteri sehingga bakteri lisis.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui viabilitas sel neutrofil yang
diinkubasi dengan ekstrak daun singkong (Manihot esculenta) dan dipapar
lipopolisakarida (LPS). Jenis penelitian adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian
adalah the post-test only control group design. Penelitian dilaksanakan di
Laboratorium Bio Science Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Jember. Sampel
yang digunakan adalah isolat neutrofil yang dibagi menjadi empat kelompok
perlakuan yaitu, kelompok I adalah isolat neutrofil tanpa inkubasi ekstrak daun
singkong dan paparan LPS (kontrol negatif), kelompok II adalah isolat neutrofil
dengan paparan LPS (kontrol positif), kelompok III adalah isolat neutrofil yang
diinkubasi ekstrak daun singkong 12,5% dan dipapar LPS (P1), dan kelompok IV
adalah isolat neutrofil yang diinkubasi ekstrak daun singkong 25% dan dipapar LPS
(P2).
Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05) antar semua
kelompok penelitian, kecuali pada kelompok kontrol negatif dan kelompok P1.
Kesimpulan hasil penelitian ini, ekstrak daun singkong (Manihot esculenta)
dapat meningkatkan viabilitas sel neutrofil yang dipapar LPS dan viabilitas sel
neutrofil pada kelompok dengan inkubasi ekstrak daun singkong 25% lebih tinggi
dibandingkan dengan kelompok inkubasi ekstrak daun singkong 12,5%
Uji Ketahanan dDari Infusum Rimpang Valerjana Favanjca Pada mencit Dengan Uji Renang.
Valerian merupakan salah satu tanaman obat yang bisa dikembangkan untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas.Tumbuhan ini tumbuh di pulau jawa dan hanya tumbuh di daerah dataran tinggi
Uji Antiinflamasi Perasan Buah Naga (Hylocereus Undatus (Haw) Britt Dan Rose) Dari Daerah Rembangan Jember Pada Tikus Putih (Strain Wistar) Yang Diinduksi Dengan Karagen
Penelitian Ini Menjelaskan Tentang Apakah Perasan Buah Naga Memiliki Efek Anti Inflamasi Pada Tikus Putih ?
Uji Efek Antipiretik dari Perasan Rimpang Jahe (Zingiber) Pada Tikus Putih Jantan (Strain Wistar)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antipiretik dari perasan jahe dengan beberapa konsentrasi terhadap tikus putih. Penelitian ini adalah experimental laboratoris. Data didapatkan dengan cara membagi 20 ekor tikus putih dalam 5 kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 4 ekor tikus putih jantan.Hasil penelitian ini menunjukkan perasan rimpang jahe 100% mempunyai efek antipiretik yang paling baik bila dibandingkan dengan perasan rimpang jahe 75% dan 50%. Hal ini disebabkan perasan rimpang jahe 100% memiliki dosis yang lebih tinggi dibanding perasan rimpang jahe 75% dan 50%
UJI WAKTU PERDARAHAN PERASAN KENCUR (Kaempferia Galanga L) DIBANDING JAMU BERAS KENCUR PADA MENCIT JANTAN (Strain Balb-c)
Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian the post-test only control group design dengan menggunakan mencit jantan strain balb-c sebagai hewan coba. Kelompok I diberi CMC, kelompok II diberi asetosal, kelompok III diberi perasan kencur dan kelompok IV diberi jamu beras kencur secara oral dengan menggunakan sonde lambung. Dosis yang digunakan pada penelitian ini disesuaikan dengan berat badan mencit. Pemberian perlakuan ini dilakukan selama tujuh hari kemudian dilakukan pemotongan ujung ekor mencit sepanjang 0,5 cm dengan menggunakan gunting yang tajam dan setiap 30 detik darah yang keluar diteteskan pada kertas saring hingga perdarahan berhenti, kemudian dilakukan perhitungan jumlah darah yang menetes pada kertas saring sehingga didapatkan waktu perdarahan pada setiap sampel.
Hasil yang diperoleh yaitu perasan kencur dan jamu beras kencur dapat menyebabkan perpanjangan waktu perdarahan pada mencit strain balb-c. Pada uji statistik tidak terdapat perbedaan signifikan antara perasan kencur dan jamu beras kencur terhadap perpanjangan perdarahan pada mencit strain balb-c. Namun, dari hasil perhitungan rata-rata perpanjangan waktu perdarahan perasan kencur mempunyai waktu perdarahan lebih panjang dibandingkan jamu beras kencur
Uji Anti Jamur Kapsul Bawang Putih Terhadapa Candida albicans
Hasil uji Anova satu arah dan uji LSD menunjukkan bahwa larutan kapsul bawang putih Mycostatin, dan Aquades steril mempunyai perbandingan perbedaan daya hambat yang bermakna. Kesimpulan penelitian ini adalah kapsul bawang putih mempunyai daya ant ijantur terhadap Candida albicans
Pengaruh Pemberian Etil Para Metoksi Sinamat (Isolat Rimpang Kencur) Terhadap Perubahan Jumlah trombosit Pada Mencit Jantan.
Pengobatan dangan bahan alam telah sering di gunakan salah satunya adalah kencur .Tumbuhan ini di gunakan oleh masyarakat sebagai obat berbagai penyakit maupun minuman
- …
