1,720,967 research outputs found

    Pengaruh Biophilic Design Terhadap Lingkungan Termal Dan Sirkulasi Udara Ruang Kerja Publik Era New Normal Pada Gartenhaus Co-Working Space

    No full text
    COVID-19 merupakan suatu penyakit yang ditetapkan sebagai pandemik dan menjadi suatu permasalahan darurat sejak tahun 2020. Keresahan akibat COVID-19 yang membuat pembatasan manusia terhadap lingkungan dan sesamanya menyebabkan banyak dampak, mulai dari sector ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Kesulitan yang dialami semenjak adanya COVID-19 ini, membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan baru untuk beraktivitas secara new normal. Kebijakan ini menilai mau tidak mau manusia harus hidup saling berdampingan dengan wabah ini untuk melanjutkan kehidupan, namun dengan syarat menerapkan protokol tertentu salah satunya dengan menghimbau penggunaan ruangan yang mengoptimalkan sirkulasi udara secara alami guna meminimalisir kesempatan bagi virus dan kuman untuk berkembangbiak. Kualitas Udara terhadap lingkungan termal dan sikulasi udara salah satunya dapat diperbaiki dengan peran elemen tanaman dan vegetasi melalui strategi design biophilic. Di Kota Malang, salah satu tempat yang banyak dikunjungi pada era new normal ini adalah Gartenhaus Co-working Space. Sebagai tempat yang dikunjungi oleh masyarakat, tentunya perlu untuk melakukan evaluasi terhadap lingkungan termal bangunan dan sirkulasi udara lingkungan sekitar berdasarkan standar kesehatan fisik udara yang telah ditetapkan oleh kementerian kesehatan dengan pendekatan melalui metode design biophilic untuk mendukung kinerja aturan new normal dalam mengoptimalkan sirkulasi udara, hasil yang diperoleh diharapkan dapat menjadi acuan dalam penerapan biophilic design untuk meningkatkan kualitas lingkungan termal dan sirkulasi udara pada suatu ruang kerja publik. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan kuantitatif deskriptif evaluatif untuk mengumpulkan dan mengukur data kualitas lingkungan termal udara pada objek eksisting menggunakan alat serta aliran sirkulasi udara yang telah ditetapkan, penjabaran metode kemudian disusun dengan narasi dilengkapi oleh penggunaan foto dokumentasi, hasil pengukuran yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan persamaan rata-rata terhadap suhu, kelembaban dan kecepatan angin serta penggunaan metode kualitatif melalui pendekatan penelitian yang didapatkan dengan mengumpulkan hasil analisis berdasarkan pengamatan secara visual dengan menilai elemen prinsip desain biophilic yang diterapkan pada objek penelitian yang kemudian hasil pengukuran kondisi eksisting dibandingkan dengan data primer yang telah didapatkan melalui tinjauan pustaka serta mencari hubungan antar kedua variable. Adapun data sekunder meliputi tinjauan terhadap new normal, kajian biophilic desain, kajian kualitas lingkungan termal, beserta kajian sirkulasi udara yang bersumber dari buku, penelitian terdahulu ataupun literatur lainnya

    Perancangan Perpustakaan Umum di Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang dengan Pendekatan Arsitektur Berkelanjutan

    No full text
    Menurut data UNESCO dan hasil perhitungan indeks Alibaca nasional, minat membaca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dan memprihatinkan, padahal membaca menjadi peran penting dalam dunia pendidikan. Kabupaten Tangerang merupakan salah satu daerah di Provinsi Banten yang memiliki minat baca tergolong rendah. Minat membaca rendah disebabkan oleh kondisi perpustakaan yang memprihatinkan dan desain perpustakaan yang kurang memadai. Oleh sebab itu dalam meningkatan minat membaca ada beberapa pihak yang semestinya terlibat yakni pemerintah, perpustakaan, pustakawan dan masyarakat. Dalam hal ini, perpustakaan menjadi titik sentral sebagai upaya meningkatkan minat membaca. Namun, minimnya minat baca masyarakat Kabupaten Tangerang membuat perpustakaan sulit berkembang dan menemukan banyak hambatan. Padahal Kabupaten Tangerang memiliki potensi jumlah penduduk tinggi dan tersebarnya fasilitas pendidikan sehingga sangat memungkinkan untuk merancang fasilitas yang dapat meningkatkan minat membaca yaitu perpustakaan. Dalam proses merancang perpustakaan digunakan metode empiris yang dimulai dari menganalisis fungsi, aktivitas, dan kebutuhan ruang, kemudian analisis tapak. Rancangan berupa perpustakaan umum ini menggunakan pendekatan Arsitektur Berkelanjutan untuk membuat citra perpustakaan yang baik dan mampu menarik perhatian masyarakat. Perpustakaan umum mengaplikasikan tiga strategi berkelanjutan utama, yaitu create, collaborate, dan communicate. Create yaitu dengan membuat program ramah lingkungan, collaborate yaitu dengan membuat fungsi kolaborasi dalam perpustakaan umum, dan communicate yaitu dengan memenuhi kebutuhan pemustaka secara optimal mulai dari anakanak, dewasa, dan difabel tuna netra

    Implementasi Rumah Sederhana Sehat Pada Perumahan Puri Kencana, Wagir, Kabupaten Malang

    No full text
    Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni yang dibangun sebagai kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi untuk kebutuhan keluarga, sebagai tempat tinggal. Perumahan warga seharusnya memenuhi berbagai macam persyaratan rumah sehat yang bisa mempengaruhi kualitas baik itu dari struktur bangunan ataupun hal lain yang berkaitan. Kondisi perumahan atau pemukiman merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan dan harus diawasi secara bersama-sama oleh sekelompok masyarakat yang tinggal didalam pemukiman tersebut dibantu dari pihak pemerintahan yang berwenang sebagai lembaga yang bertanggungjawab. Perumahan Puri Kencana Wagir di Kabupaten Malang merupakan salah satu kompleks perumahan sederhana yang berkembang pesat dan menawarkan solusi perumahan sederhana bagi berbagai lapisan masyarakat. Kompleks perumahan ini memiliki daya tarik bagi banyak keluarga yang mencari tempat tinggal yang terjangkau. Namun, untuk memastikan bahwa perumahan ini memenuhi standar kebutuhan tempat tinggal yang sehat, diperlukan analisis komprehensif terhadap kondisi rumah-rumah sederhana yang ada, terutama yang pada saat ini dikembangkan di Perumahan Puri Kencana Wagir. Pada penelitian ini dihasilkan bagaimana konsep-konsep yang berkaitan dengan Rumah Sederhana Sehat diimplementasikan pada Perumahan Puri Kencana Wagir

    Evaluasi Pencahayaan Buatan Pada Gor Bulutangkis Banda Baru Di Kota Batam.

    No full text
    GOR Banda Baru yang diresmikan langsung oleh ketua PBSI dan Gubernur provisi Kepri pada tahun 2006 memiliki sejumlah fasilitas yang dapat mendukung calon atlet muda. Namun sayangnya pada tahun yang sama, belum ada standar nasional yang dapat digunakan sebagai acuan. Sehingga kualitas GOR itupun masih jauh dari kebutuhan. Permasalahan dari GOR ini memiliki kualitas pencahayaan buatan yang cenderung kurang terang. Peneliti akan menggunakan jenis metode kuantitatif dengan proses deskriptif evaluatif. GOR ini memiliki arena yang berjumlah 8 lapangan, yang memiliki nilai intensitas cahaya rata-rata sekitar 75 Lux. Sedangkan standar yang dibutuhkan adalah 300 Lux untuk GOR turnamen lokal. Hal ini disebabkan oleh tata letak titik lampu dan penggunaan jenis lampu yang kurang baik. Sehingga rekomendasi desain dari penelitian ini menghadirkan penggunaan 2 jenis lampu dengan masing-masing tata letak. Jenis lampu yang pertama adalah Fluorescent Tube dengan nilai intensitas cahaya rata-rata sekitar 360 Lux. Kemudian jenis lampu yang kedua adalah Metalhalide High Bay dengan nilai intensitas cahaya rata-rata sekitar 340 Lux. Kedua jenis lampu ini berdasarkan panduan baik dari standar nasional maupun pustaka. Sehingga pihak pengelola memiliki pilihan dalam memperbaiki kualitas pencahayaan buatan pada GOR

    Strategi Pencahayaan Alami pada Ruang Kreatif M Bloc Space

    No full text
    Penggunaan kembali bangunan secara adaptif (adaptive reuse buildings) menjadi salah satu penyelesaian terhadap masalah global dan perubahan iklim yang terjadi untuk mengurangi upaya pembangunan berkelanjutan skala perkotaan dan memperpanjang umur bangunan. Salah satu produk dari konsep adaptive reuse buildings adalah lahan bagi 16 bekas rumah karyawan Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (PERURI) dan gudang percetakan uang yang terletak di Jln. Panglima Polim St No. 36 RT. 1/ RW. 1, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan yang dialih fungsikan menjadi Ruang Kreatif M Bloc Space. Alih fungsi menyebabkan perubahan sifat bangunan. Aset PERURI yang awalnya bersifat sebagai passive building karena terbengkalai selama bertahun-tahun berubah menjadi active building yang berfungsi sebagai Ruang Kreatif M Bloc Space yang terdiri dari ruang pertunjukan, restoran, ruang usaha untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang kuliner, seni rupa, film, kriya, musik, dan animasi. Perubahan fungsi dan sifat yang telah terjadi pada bangunan nyatanya tidak diikuti dengan desain dan aktivitas yang saling berkesinambungan. Bangunan yang berorientasi memanjang dari timur ke barat ini tidak memiliki tata ruang dalam yang bervariasi, posisi bukaan serta desain bukaan yang tidak dapat menyesuaikan kebutuhan masing-masing tenant yang ada. Desain dan aktivitas yang tidak sesuai dengan fungsi gedung mengakibatkan kebutuhan akan pencahayaan alami pada setiap ruang tidak tercapai. Adaptasi yang baik untuk mendukung perubahan sifat pada bangunan. Adaptasi dapat dilakukan baik pada ruang dalam ataupun ruang luar bangunan untuk menciptakan kesinambungan antara desain dengan kebutuhan pengguna pada fungsi yang baru, diantaranya adalah: tatanan dan bentuk massa bangunan, desain ruang dan ruang luar, serta ukuran dan desain bukaan. Adaptasi pada bangunan adalah untuk mencapai standar intensitas cahaya yang ada dan distribusi cahaya baik di dalam ataupun luar ruangan. Proses penerapan konsep adaptive reuse buildings perlu memperhatikan kesinambungan desain dan aktivitas dengan fungsi baru dari bangunan untuk mencapai kebutuhan pencahayaan alami pada setiap ruang

    Evaluasi Purna Huni Ruang Operasi Rumah Sakit Di Kabupaten Malang.

    No full text
    Pelayanan kesehatan merupakan perwujudan dari hak kesehatan kepada masyarakat yang dapat ditingkatkan dengan pengaplikasian peraturan dan standar pada bangunan rumah sakit. Namun masih terdapat ruang-ruang di rumah sakit yang masih belum sesuai dengan peraturan dan standar menurut jurnal-jurnal. Pada ruang-ruang di rumah sakit, ruang operasi menjadi ruang yang memiliki tingkat risiko sangat tinggi terjadi penularan penyakit. Rumah sakit di Kabupaten Malang ini merupakan rumah sakit kelas C yang menjadi rujukan utama bagi kecamatan-kecamatan di Kabupaten Malang bagian selatan. Rumah sakit di Kabupaten Malang memiliki ruang operasi yang teridentifikasi tidak sesuai standar ketika dilakukan observasi awal, yakni peralatan pada dinding dan langit-langit yang tidak dibenamkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan fisik ruang operasi rumah sakit setelah beroperasi sekian lama terhadap pada peraturan teknis yang berlaku. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah investigatif yakni menilai kesesuaian ruang operasi dengan parameter yang ada di Peraturan Menteri Kesehatan No. 24 Tahun 2016. Penilaian dilakukan dengan dua tingkatan penilaian “Layak” dan “Tidak Layak” dengan masing- masing kriterianya. Data diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara semi terstruktur kepada pihak rumah sakit dengan analisis data yang dijelaskan secara deskriptif. Hasil penelitian ini diperoleh ruang operasi rumah sakit di Kabupaten Malang mendapat nilai tidak layak terhadap peraturan yang berlaku dengan persentase 57.21 % kelayakan terhadap peraturan yang berlaku dari persentase evaluasi minimal yakni 81 % agar dapat ruang operasi Rumah Sakit di Kabupaten Malang dapat dikatakan layak. Rekomendasi berupa desain diberikan agar ruang operasi sedapat mungkin mendapatkan tingkat kelayakan sebesar 100% terhadap standar yang berlaku. perubahan dimensi ruang operasi; perubahan tata letak dan alur antar ruangan; perubahan material berupa pergantian vinyl homogeneous; pergantian pintu ruang operasi; penambahan dinding sandwich panel di pojok ruang; film viewer tipis dan jam listrik yang dibenamkan di dinding; pergantian lampu menjadi LED panel; orientasi meja operasi terhadap pintu pasien; dan penggunaan aliran udara laminar vertikal

    Psychological Care Center Penderita Depresi dan Ansietas di Jakarta dengan Pendekatan Biofilik.

    No full text
    Masalah kesehatan mental menjadi masalah yang belum sepenuhnya dapat ditangani, baik secara global maupun nasional. Di Indonesia, gangguan mental mengalami peningkatan setiap tahunnya, dengan depresi dan kecemasan menjadi gangguan dengan jumlah penderita terbanyak. Provinsi DKI Jakarta menjadi daerah dengan prevalensi gangguan mental cukup tinggi yaitu 10,1% (Riskesdas 2018). Sedangkan, layanan kesehatan mental yang tersedia di Jakarta masih tergolong minim. Selain masalah minimnya layanan kesehatan mental, fasilitas layanan mental yang sudah ada saat ini juga sering mengabaikan faktor lingkungan yang menjadi penyebab proses terapi berjalan tidak maksimal. Padahal, menurut Kaplan (2010), 40% faktor penyembuhan pasien adalah faktor lingkungan. Dalam hal ini, arsitektur dapat berperan dalam menciptakan lingkungan penyembuhan pada pusat layanan kesehatan mental bagi penderita depresi dan ansietas dengan menggunakan pendekatan arsitektur biofilik. Arsitektur biofilik adalah pendekatan desain yang menghubungkan antara manusia dengan alam yang mampu meningkatkan kesejahteraan hidup manusia baik secara fisik maupun mental. International WELL Building Insititute (2018) menyatakan bahwa pendekatan biofilik dapat memberikan dampak positif pada suasana hati, tingkat stress, kenyamanan tidur, dan status psikososial seseorang. Untuk menciptakan hal tersebut, dilakukan perancangan berdasarkan pada 14 pola utama biofilik. Perancangan Psychological Care Center, menggunakan enam pola dari ke-14 pola biofilik, lalu diterapkan pada desain. Ke-enam pola tersebut adalah visual connection with nature, non-visual connection with nature, thermal and airflow variability, presence of water, material connection with nature, dan prospect. Pola-pola ini ditranslasi menjadi sebuah kriteria desain dan diterapkan pada aspek perancangan yaitu tata lanskap, ruang hijau dan vegetasi, tata massa, bentuk bangunan, dan interior pada ketiga massa bangunan yang terdiri dari massa rawat jalan, rawat inap, serta massa edukasi dan pengelola

    Tata Akustik Ruang Pertemuan Fleksibel (Studi Kasus: Convention Hall Hotel Savana Kota Malang),

    No full text
    Ruang Pertemuan merupakan wadah sosial yang menjadi tempat bertemu atau berkumpul untuk melaksankan suatu kegiatan sosil dimana kebutuhan rangnya beragam seperti konser musik, pernikahan ataupun pertemuan bisnis yang artinya ruang butuh memiliki kebebasan dalam menyesuaikan kondisi serta kebutuhan acara. Convention Hall Hotel Savana Kota Malang merupakan salah satu dari tiga hotel berbintang empat yang menyediakan ruang pertemuan fleksibel di Kota Malang. Ragam fungsi ruang pada ruang pertemuan ini pun umumnya diatasi dengan pembuatan ruang yang sederhana dengan fungsi ruang fleksibel, yang mana menurut KBBI, Fleksibilitas berarti lentur, luwes, dan mudah menyesuaikan diri. Akustik dalam arsitektur sering dibagi menjadi akustik ruangan, yang berhubungan dengan suara yang diinginkan, dan kontrol kebisingan, yang berhubungan dengan suara yang tidak diinginkan. Kualitas akustik ruangan ialah dapat memaksimalkan fungsi ruangan dengan baik. Ruang akustik yang baik berarti pendengar dapat mendengar dan memahami suara yang dipancarkan oleh speaker atau instrumen dengan sempurna. Tugas Akhir ini membahas mengenai analisis kualitas akustik untuk ruang pertemuan fleksibel pada Hotel Savana Kota Malang yang mana bertujuan untuk mengetahui kualitas akustiknya menggunakan parameter ukur akustik ruang auditorium yang telah ditentukan serta melalui simulasi software EASE 4.4. Parameter-parameter akustik yang digunakan ialah TTB(Tingkat Tekanan Bunyi), Waktu Dengung (RT), Kebisingan (NC). Hasil analisis yang didapatkan ialah bahwa ruang pertemuan fleksibel Hotel Savana belum memenuhi standar akustik pada parameter yang sesuai dengan pedoman akustik ruang auditorium. Faktor tidak terpenuhinya parameter akustik tersebut ialah oleh penggunaan bahan material ruang serta letak pengeras suara yang digunakan, dikarenakan ruang fleksibel yang dapat dipartisi menjadi dua ruangan

    Preferensi Generasi Y Terhadap Rumah Sederhana Di Kota Malang.

    No full text
    Peningkatan populasi generasi Y pada kota-kota di Indonesia termasuk Kota Malang, turut menyebabkan terjadinya peningkatan kebutuhan akan rumah. Tingginya peningkatan kebutuhan akan rumah di perkotaan disebabkan oleh tingginya angka kedatangan penduduk lokal maupun pendatang ke Kota Malang untuk keperluan pendidikan dan pekerjaan, sehingga rumah sebagai kebutuhan primer hendaknya memiliki lokasi yang strategis, bangunan yang layak, dan lingkungan yang nyaman. Pembangunan rumah yang terkonsentrasi di kota menimbulkan masalah, yaitu terbatasnya jumlah lahan yang tersedia dan tingginya harga jual rumah. Permasalahan tersebut menjadi hal yang perlu dipertimbangkan matang-matang, karena tidak sebanding dengan kondisi generasi Y yang masih merintis karir dan belum memiliki penghasilan stabil, sehingga mayoritas dari generasi Y memilih untuk menunda pembelian rumah. Muncullah pilihan solusi yang tepat bagi generasi Y, yaitu rumah sederhana yang dibangun di atas lahan terbatas dengan ruang ruang yang sesuai dengan ketentuan. Rumah tipe ini dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal sehari-hari, sehingga penting bagi generasi Y untuk mengetahui faktor pembelian serta layak atau tidaknya suatu rumah sederhana yang hendak dibeli agar segala kebutuhan hidup dapat terpenuhi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui preferensi generasi Y terhadap faktor pembelian rumah sederhana di Kota Malang. Metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif digunakan untuk mendeskripsikan dan mengolah data yang diperoleh dari analisis deskriptif dan skoring. Melalui analisis, diperoleh urutan prioritas atau peringkat terhadap faktor pembelian rumah sederhana dari yang paling berpengaruh hingga tidak berpengaruh. Lokasi menjadi faktor pertama yang mempengaruhi generasi Y di Kota Malang dalam pembelian rumah sederhana, kemudian diikuti oleh faktor harga, faktor fasilitas, faktor aksesibilitas, faktor desain dan estetika (interior dan eksterior), faktor atribut (material dan strukur), faktor kepemilikan lahan, serta faktor reputasi developer

    Evaluasi Kenyamanan Termal Ruang Kelas SMAN 2 Malang

    No full text
    Ruang kelas merupakan fasilitas sekolah yang sering digunakan oleh para siswa. Sebagian besar kegiatan pembelajaran dilakukan di dalam kelas, olehsebab itu upaya menciptakan ruang kelas yang sehat dan nyaman merupakan salah satu faktor penting yang patut dilakukan khususnya oleh SMAN 2 Malang. Banyaknya keluhan dari para siswa SMAN 2 Malang yang mengeluh bahwa ruang kelas terasa pengap menjadi salah satu penyebab peneitian dilakukan pada objek ruang kelas SMAN 2 Malang. Penelitian berfokus pada evaluasi kenyamanan termal dengan pengukuran pada seluruh ruang kelas SMAN 2 Malang yang berjumlah 30 ruang kelas. Metode penelitian yang digunakan ada dua macam yakni kualitatif dan kuantitatif. Pada metode penelitian kualitatif berfokus pada tinjauan ruang kelas terhadap persyaratan/standar, analisis desain ruang kelas dan analisis desain ventilasi alami ruang kelas. Pada metode penelitian kuantitatif berfokus pada pengukuran faktor kenyamanan termal dan analisis desain bangunan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kesimpulan evaluasi kenyamanan termal pada ruang kelas, sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam meningkatkan fasilitas ruang kelas pada SMAN 2 Malang
    corecore