1,720,972 research outputs found

    Pranata & manajemen di bidang arsitektur / Ary Deddy Putranto

    No full text

    Pengaruh Green roof terhadap Kenyamanan Termal Green House Pendopo Sabha Swagatha Blambangan Banyuwangi

    No full text
    RINGKASAN Rizki Amanatush Shalihah, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Juli 2022, Pengaruh Green roof terhadap Kenyamanan Termal Green House Pendopo Sabha Swagatha Blambangan Banyuwangi, Dosen Pembimbing: Ary Deddy Putranto. Seiring dengan perkembangan pembangunan di perkotaan, keterbatasan lahan akan menjadi penyebab tren alih fungsi lahan dari daerah hijau menjadi daerah terbangun yang berdampak pada menyusutnya Ruang Terbuka Hijau dengan fungsi mereduksi emisi CO2 sehingga pemanasan global dan fenomena Urban Heat Island tidak bisa dihindari. Fenomena ini akan menyebabkan temperatur perkotaan menjadi lebih tinggi dari daerah sekitar sehingga kebutuhan energi penghawaan buatan untuk mencapai kenyamanan termal optimal bagi pengguna ruang semakin tinggi. Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) di perkotaan dirancang untuk mengantisipasi perkembangan perkotaan dengan meningkatnya aktivitas dan kebutuhan ruang, namun pada kenyataannya permintaan akan lahan terbangun baik untuk pemukiman ataupun komersil semakin meningkat sehingga alih fungsi lahan tidak terhentikan. Salah satu solusi untuk masalah lingkungan di perkotaan adalah dengan penerapan konsep arsitektur hijau berupa atap hijau (green roof). Green roof sebagai salah satu jenis penutup atap bangunan berfungsi sebagai penyedia ruang terbuka hijau dengan adanya lapisan media tanam untuk penghijauan dan juga untuk ruang beraktivitas. Green House Pendopo Sabha Swagatha Blambangan Banyuwangi adalah bangunan pertama di Kota Banyuwangi yang menerapkan konsep arsitektur hijau dengan green roof yang dimanfaatkan sebagai lanskap hijau dan ruang aktivitas. Kawasan Pendopo Sabha Swagatha Blambangan Banyuwangi merupakan rumah dinas Bupati Banyuwangi yang setelah direnovasi pada tahun 2012 sebagian besar dibuka untuk umum dengan fungsi bangunan akomodasi (guest house), kantor, ruang pameran/diskusi (pendopo) dan lain sebagainya dengan tujuan mendekatkan penguasa dengan masyarakat. Penerapan green roof dalam konsep arsitektur bangunan di Indonesia masih sedikit meskipun merupakan salah satu solusi masalah iklim dan lingkungan di Indonesia sehingga menjadi latar belakang penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pengaruh temperatur udara, kelembapan udara, kecepatan angin, laju metabolisme dan insulasi pakaian serta green roof terhadap kenyamanan termal Pendopo Sabha Swagatha Blambangan Banyuwangi. Tinjauan teori pada penelitian ini didapatkan dari literatur berupa buku, jurnal, online, data pemerintah serta studi penelitian terdahulu dengan topik yang sama. Acuan yang digunakan berupa Standar ASHRAE dan SNI. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif dengan pendekatan eksperimental berupa pengukuran kondisi termal di lapangan, penyebaran kuesioner untuk mengetahui sensasi termal yang dirasakan pengguna dan pengolahan data dengan analisis desktiptif, analisis regresi linear untuk mengetahui hubungan antar variabel, dan mengolah data kondisi termal dengan CBE Thermal Comfort Tool untuk menghitung nilai PMV-PPD serta simulasi model bangunan dengan software Autodesk Ecotect Analysis 2011 untuk membandingkan green roof dengan penerapan jenis material atap genteng tanah liat dan dak beton serta jenis tanaman green roof rumput gajah mini, tanaman kucai jepang mini dan tanaman bayam merah mini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna ruang merasa hangat (nyaman) dalam melakukan aktivitas di dalam ruang. Hasil perbandingan kondisi temperatur luar dan temperatur dalam ruang berdasarkan analisa data termal lapangan menunjukkan bahwa penerapan green roof dapat menurunkan temperatur dalam ruang. Hasil perbandingan dari simulasi model bangunan menunjukkan bahwa penerapan green roof lebih efektif daripada atap genteng tanah liat dan dak beton dalam penurunan temperatur dalam, sedangkan jenis vegetasi green roof yang paling efektif adalah rumput gajah mini daripada tanaman kucai jepang dan tanaman bayam merah. Selain itu juga dilakukan rekomendasi desain lanjutan dengan penambahan ventilasi pada bangunan agar kenyamanan termal dalam ruang bangunan lebih mudah tercapai dengan penghawaan alami. Kata kunci: green roof, kenyamanan termal, temperatur udara, Ecotect, guest hous

    Pengaruh Biophilic Design Terhadap Lingkungan Termal Dan Sirkulasi Udara Ruang Kerja Publik Era New Normal Pada Gartenhaus Co-Working Space

    No full text
    COVID-19 merupakan suatu penyakit yang ditetapkan sebagai pandemik dan menjadi suatu permasalahan darurat sejak tahun 2020. Keresahan akibat COVID-19 yang membuat pembatasan manusia terhadap lingkungan dan sesamanya menyebabkan banyak dampak, mulai dari sector ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Kesulitan yang dialami semenjak adanya COVID-19 ini, membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan baru untuk beraktivitas secara new normal. Kebijakan ini menilai mau tidak mau manusia harus hidup saling berdampingan dengan wabah ini untuk melanjutkan kehidupan, namun dengan syarat menerapkan protokol tertentu salah satunya dengan menghimbau penggunaan ruangan yang mengoptimalkan sirkulasi udara secara alami guna meminimalisir kesempatan bagi virus dan kuman untuk berkembangbiak. Kualitas Udara terhadap lingkungan termal dan sikulasi udara salah satunya dapat diperbaiki dengan peran elemen tanaman dan vegetasi melalui strategi design biophilic. Di Kota Malang, salah satu tempat yang banyak dikunjungi pada era new normal ini adalah Gartenhaus Co-working Space. Sebagai tempat yang dikunjungi oleh masyarakat, tentunya perlu untuk melakukan evaluasi terhadap lingkungan termal bangunan dan sirkulasi udara lingkungan sekitar berdasarkan standar kesehatan fisik udara yang telah ditetapkan oleh kementerian kesehatan dengan pendekatan melalui metode design biophilic untuk mendukung kinerja aturan new normal dalam mengoptimalkan sirkulasi udara, hasil yang diperoleh diharapkan dapat menjadi acuan dalam penerapan biophilic design untuk meningkatkan kualitas lingkungan termal dan sirkulasi udara pada suatu ruang kerja publik. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan kuantitatif deskriptif evaluatif untuk mengumpulkan dan mengukur data kualitas lingkungan termal udara pada objek eksisting menggunakan alat serta aliran sirkulasi udara yang telah ditetapkan, penjabaran metode kemudian disusun dengan narasi dilengkapi oleh penggunaan foto dokumentasi, hasil pengukuran yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan persamaan rata-rata terhadap suhu, kelembaban dan kecepatan angin serta penggunaan metode kualitatif melalui pendekatan penelitian yang didapatkan dengan mengumpulkan hasil analisis berdasarkan pengamatan secara visual dengan menilai elemen prinsip desain biophilic yang diterapkan pada objek penelitian yang kemudian hasil pengukuran kondisi eksisting dibandingkan dengan data primer yang telah didapatkan melalui tinjauan pustaka serta mencari hubungan antar kedua variable. Adapun data sekunder meliputi tinjauan terhadap new normal, kajian biophilic desain, kajian kualitas lingkungan termal, beserta kajian sirkulasi udara yang bersumber dari buku, penelitian terdahulu ataupun literatur lainnya

    Perancangan Perpustakaan Umum di Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang dengan Pendekatan Arsitektur Berkelanjutan

    No full text
    Menurut data UNESCO dan hasil perhitungan indeks Alibaca nasional, minat membaca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dan memprihatinkan, padahal membaca menjadi peran penting dalam dunia pendidikan. Kabupaten Tangerang merupakan salah satu daerah di Provinsi Banten yang memiliki minat baca tergolong rendah. Minat membaca rendah disebabkan oleh kondisi perpustakaan yang memprihatinkan dan desain perpustakaan yang kurang memadai. Oleh sebab itu dalam meningkatan minat membaca ada beberapa pihak yang semestinya terlibat yakni pemerintah, perpustakaan, pustakawan dan masyarakat. Dalam hal ini, perpustakaan menjadi titik sentral sebagai upaya meningkatkan minat membaca. Namun, minimnya minat baca masyarakat Kabupaten Tangerang membuat perpustakaan sulit berkembang dan menemukan banyak hambatan. Padahal Kabupaten Tangerang memiliki potensi jumlah penduduk tinggi dan tersebarnya fasilitas pendidikan sehingga sangat memungkinkan untuk merancang fasilitas yang dapat meningkatkan minat membaca yaitu perpustakaan. Dalam proses merancang perpustakaan digunakan metode empiris yang dimulai dari menganalisis fungsi, aktivitas, dan kebutuhan ruang, kemudian analisis tapak. Rancangan berupa perpustakaan umum ini menggunakan pendekatan Arsitektur Berkelanjutan untuk membuat citra perpustakaan yang baik dan mampu menarik perhatian masyarakat. Perpustakaan umum mengaplikasikan tiga strategi berkelanjutan utama, yaitu create, collaborate, dan communicate. Create yaitu dengan membuat program ramah lingkungan, collaborate yaitu dengan membuat fungsi kolaborasi dalam perpustakaan umum, dan communicate yaitu dengan memenuhi kebutuhan pemustaka secara optimal mulai dari anakanak, dewasa, dan difabel tuna netra

    Implementasi Rumah Sederhana Sehat Pada Perumahan Puri Kencana, Wagir, Kabupaten Malang

    No full text
    Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni yang dibangun sebagai kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi untuk kebutuhan keluarga, sebagai tempat tinggal. Perumahan warga seharusnya memenuhi berbagai macam persyaratan rumah sehat yang bisa mempengaruhi kualitas baik itu dari struktur bangunan ataupun hal lain yang berkaitan. Kondisi perumahan atau pemukiman merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan dan harus diawasi secara bersama-sama oleh sekelompok masyarakat yang tinggal didalam pemukiman tersebut dibantu dari pihak pemerintahan yang berwenang sebagai lembaga yang bertanggungjawab. Perumahan Puri Kencana Wagir di Kabupaten Malang merupakan salah satu kompleks perumahan sederhana yang berkembang pesat dan menawarkan solusi perumahan sederhana bagi berbagai lapisan masyarakat. Kompleks perumahan ini memiliki daya tarik bagi banyak keluarga yang mencari tempat tinggal yang terjangkau. Namun, untuk memastikan bahwa perumahan ini memenuhi standar kebutuhan tempat tinggal yang sehat, diperlukan analisis komprehensif terhadap kondisi rumah-rumah sederhana yang ada, terutama yang pada saat ini dikembangkan di Perumahan Puri Kencana Wagir. Pada penelitian ini dihasilkan bagaimana konsep-konsep yang berkaitan dengan Rumah Sederhana Sehat diimplementasikan pada Perumahan Puri Kencana Wagir

    Kinerja Selubung Bangunan untuk Menurunkan Suhu Ruang Kelas Gedung Kuliah Bersama A20 Universitas Negeri Malang

    No full text
    Bangunan melalui sistem pendinginan merupakan salah satu beban lingkungan yang terbesar. Gedung Kuliah Bersama A20 Universitas Negeri Malang memiliki dinding kaca yang luas dimana paparan radiasi matahari cukup tinggi sehingga mengakibatkan suhu dalam ruangan meningkat menjadi beban utama pendinginan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kinerja selubung bangunan dan memberikan rekomendasi desain yang tepat untuk menurunkan suhu dalam ruang kelas Gedung Kuliah Bersama A20 Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis data termal ruangan dan pendekatan kualitatif untuk menganalisis data visual bangunan. Teknik pengolahan data dengan metode eksperimental menggunakan Software Ecotect 2011. Pengambilan data dilakukan pada ruang kelas di lantai 3, 4 dan 7. Waktu pengambilan data dilakukan selama empat hari berturut- turut mulai dari tanggal 28 September 2021 hingga 1 Oktober 2021. Hasil pengukuran lapangan menunjukkan suhu dalam ruang kelas masih diatas standar nyaman menurut SNI-03-6572-2001 dan suhu nyaman Kota Malang. Rekomendasi desain berupa mengganti jenis material kaca dengan nilai SC (shading coefficient) yang lebih rendah dapat menurunkan suhu ruangan secara signifikan

    Evaluasi Pencahayaan Buatan Pada Gor Bulutangkis Banda Baru Di Kota Batam.

    No full text
    GOR Banda Baru yang diresmikan langsung oleh ketua PBSI dan Gubernur provisi Kepri pada tahun 2006 memiliki sejumlah fasilitas yang dapat mendukung calon atlet muda. Namun sayangnya pada tahun yang sama, belum ada standar nasional yang dapat digunakan sebagai acuan. Sehingga kualitas GOR itupun masih jauh dari kebutuhan. Permasalahan dari GOR ini memiliki kualitas pencahayaan buatan yang cenderung kurang terang. Peneliti akan menggunakan jenis metode kuantitatif dengan proses deskriptif evaluatif. GOR ini memiliki arena yang berjumlah 8 lapangan, yang memiliki nilai intensitas cahaya rata-rata sekitar 75 Lux. Sedangkan standar yang dibutuhkan adalah 300 Lux untuk GOR turnamen lokal. Hal ini disebabkan oleh tata letak titik lampu dan penggunaan jenis lampu yang kurang baik. Sehingga rekomendasi desain dari penelitian ini menghadirkan penggunaan 2 jenis lampu dengan masing-masing tata letak. Jenis lampu yang pertama adalah Fluorescent Tube dengan nilai intensitas cahaya rata-rata sekitar 360 Lux. Kemudian jenis lampu yang kedua adalah Metalhalide High Bay dengan nilai intensitas cahaya rata-rata sekitar 340 Lux. Kedua jenis lampu ini berdasarkan panduan baik dari standar nasional maupun pustaka. Sehingga pihak pengelola memiliki pilihan dalam memperbaiki kualitas pencahayaan buatan pada GOR

    Strategi Pencahayaan Alami pada Ruang Kreatif M Bloc Space

    No full text
    Penggunaan kembali bangunan secara adaptif (adaptive reuse buildings) menjadi salah satu penyelesaian terhadap masalah global dan perubahan iklim yang terjadi untuk mengurangi upaya pembangunan berkelanjutan skala perkotaan dan memperpanjang umur bangunan. Salah satu produk dari konsep adaptive reuse buildings adalah lahan bagi 16 bekas rumah karyawan Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (PERURI) dan gudang percetakan uang yang terletak di Jln. Panglima Polim St No. 36 RT. 1/ RW. 1, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan yang dialih fungsikan menjadi Ruang Kreatif M Bloc Space. Alih fungsi menyebabkan perubahan sifat bangunan. Aset PERURI yang awalnya bersifat sebagai passive building karena terbengkalai selama bertahun-tahun berubah menjadi active building yang berfungsi sebagai Ruang Kreatif M Bloc Space yang terdiri dari ruang pertunjukan, restoran, ruang usaha untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang kuliner, seni rupa, film, kriya, musik, dan animasi. Perubahan fungsi dan sifat yang telah terjadi pada bangunan nyatanya tidak diikuti dengan desain dan aktivitas yang saling berkesinambungan. Bangunan yang berorientasi memanjang dari timur ke barat ini tidak memiliki tata ruang dalam yang bervariasi, posisi bukaan serta desain bukaan yang tidak dapat menyesuaikan kebutuhan masing-masing tenant yang ada. Desain dan aktivitas yang tidak sesuai dengan fungsi gedung mengakibatkan kebutuhan akan pencahayaan alami pada setiap ruang tidak tercapai. Adaptasi yang baik untuk mendukung perubahan sifat pada bangunan. Adaptasi dapat dilakukan baik pada ruang dalam ataupun ruang luar bangunan untuk menciptakan kesinambungan antara desain dengan kebutuhan pengguna pada fungsi yang baru, diantaranya adalah: tatanan dan bentuk massa bangunan, desain ruang dan ruang luar, serta ukuran dan desain bukaan. Adaptasi pada bangunan adalah untuk mencapai standar intensitas cahaya yang ada dan distribusi cahaya baik di dalam ataupun luar ruangan. Proses penerapan konsep adaptive reuse buildings perlu memperhatikan kesinambungan desain dan aktivitas dengan fungsi baru dari bangunan untuk mencapai kebutuhan pencahayaan alami pada setiap ruang
    corecore