3 research outputs found

    KARAKTERISASI FTIR MEMBRAN KOMPOSIT NILON-ARANG BERBAHAN DASAR LIMBAH JARING BENANG NILON DAN AMPAS TEBU

    No full text
    Membran merupakan suatu selaput semipermeabel berupa lapisan tipis yang berada diantara dua fasa dengan karakter berbeda. Salah satu kendala pengembangan teknologi membran adalah bahan baku utama dalam fabrikasi membran. Pemilihan limbah jaring benang nilon sebagai bahan baku pembuatan membrane, karena bahan ini mudah diperoleh khususnya di kawasan pesisir Pantai Puger, Kabupaten Jember. Nilon memiliki stabilitas termal dan kekuatan mekanik yang baik jika berinteraksi dengan unsur karbon dibandingkan dengan polimer lainnya. Unsur karbon pada arang dapat dibuat dari bahan baku ampas tebu yang merupakan limbah pertanian organik dari hasil pengolahan gula tebu di Pabrik Gula Semboro, Kabupaten Jember. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan sintesis membran komposit nilon-arang menggunakan bahan dari limbah jaring benang nilon dan ampas tebu, sehingga diharapkan menjadi solusi untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan. Sintesis membran komposit nilon-arang yang dihasilkan, kemudian dilakukan karakterisasi Fourier Transform Infrared (FTIR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan limbah jaring benang nilon dan ampas tebu pada sintesis membran komposit nilon-arang terhadap spektrum gugus fungsi yang dihasilkan menggunakan karakterisasi FTIR. Kegiatan penelitian dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: tahap pembuatan arang aktif, tahap sintesis membran, dan tahap karakterisasi membran. Secara umum tahap pembuatan arang aktif ampas tebu terdiri dari proses karbonisasi dan proses aktivasi. Tahap sintesis membran dilakukan dengan variasi fraksi massa arang aktif ampas tebu terhadap limbah jaring benang nilon sebesar 7% (Sampel B1), 8% (Sampel B2), 10% (Sampel B3) dan 11% (Sampel B4) serta membran nilon sebagai kontrol (Sampel A). Sedangkan tahap karakterisasi Fourier Transform Infrared (FTIR) digunakan untuk mengetahui spektrum gugus fungsi. Berdasarkan hasil karakterisasi FTIR, penambahan karbon dari arang aktif ampas tebu menyebabkan pergeseran bilangan gelombang dan perubahan puncak intensitas serapan dibandingkan dengan polimer aslinya (membran nilon Sampel A). Intensitas serapan paling besar terjadi pada gugus fungsi primary amide C=O stretching dari limbah jaring benang nilon, karena adanya tumpang tindih (overlap) dengan gugus fungsi primary amide C=C stretching dari arang aktif ampas tebu pada bilangan gelombang sekitar 1600 cm-1. Secara keseluruhan, membran komposit nilon-arang dengan fraksi massa 7% memiliki intensitas serapan yang paling besar dibandingkan dengan membran komposit nilon-arang lainnya. Intensitas serapan yang paling besar menunujukkan bahwa membra

    KARAKTERISASI FTIR MEMBRAN KOMPOSIT NILON-ARANG BERBAHAN DASAR LIMBAH JARING BENANG NILON DAN AMPAS TEBU

    No full text
    Membran merupakan suatu selaput semipermeabel berupa lapisan tipis yang berada diantara dua fasa dengan karakter berbeda. Salah satu kendala pengembangan teknologi membran adalah bahan baku utama dalam fabrikasi membran. Pemilihan limbah jaring benang nilon sebagai bahan baku pembuatan membrane, karena bahan ini mudah diperoleh khususnya di kawasan pesisir Pantai Puger, Kabupaten Jember. Nilon memiliki stabilitas termal dan kekuatan mekanik yang baik jika berinteraksi dengan unsur karbon dibandingkan dengan polimer lainnya. Unsur karbon pada arang dapat dibuat dari bahan baku ampas tebu yang merupakan limbah pertanian organik dari hasil pengolahan gula tebu di Pabrik Gula Semboro, Kabupaten Jember. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan sintesis membran komposit nilon-arang menggunakan bahan dari limbah jaring benang nilon dan ampas tebu, sehingga diharapkan menjadi solusi untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan. Sintesis membran komposit nilon-arang yang dihasilkan, kemudian dilakukan karakterisasi Fourier Transform Infrared (FTIR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan limbah jaring benang nilon dan ampas tebu pada sintesis membran komposit nilon-arang terhadap spektrum gugus fungsi yang dihasilkan menggunakan karakterisasi FTIR. Kegiatan penelitian dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: tahap pembuatan arang aktif, tahap sintesis membran, dan tahap karakterisasi membran. Secara umum tahap pembuatan arang aktif ampas tebu terdiri dari proses karbonisasi dan proses aktivasi. Tahap sintesis membran dilakukan dengan variasi fraksi massa arang aktif ampas tebu terhadap limbah jaring benang nilon sebesar 7% (Sampel B1), 8% (Sampel B2), 10% (Sampel B3) dan 11% (Sampel B4) serta membran nilon sebagai kontrol (Sampel A). Sedangkan tahap karakterisasi Fourier Transform Infrared (FTIR) digunakan untuk mengetahui spektrum gugus fungsi. Berdasarkan hasil karakterisasi FTIR, penambahan karbon dari arang aktif ampas tebu menyebabkan pergeseran bilangan gelombang dan perubahan puncak intensitas serapan dibandingkan dengan polimer aslinya (membran nilon Sampel A). Intensitas serapan paling besar terjadi pada gugus fungsi primary amide C=O stretching dari limbah jaring benang nilon, karena adanya tumpang tindih (overlap) dengan gugus fungsi primary amide C=C stretching dari arang aktif ampas tebu pada bilangan gelombang sekitar 1600 cm-1. Secara keseluruhan, membran komposit nilon-arang dengan fraksi massa 7% memiliki intensitas serapan yang paling besar dibandingkan dengan membran komposit nilon-arang lainny

    Evaluating the Effectiveness of Offsets as a Mechanism for Promoting Malaysian Defence Industrial and Technological Development

    No full text
    Cranfield UniversityOffsets have taken centre stage in defence trade. To date, more than 78 countries around the world practice offsets and outstanding offsets obligations run into billions of US dollars However, why have offsets gained such a momentum? Increasingly, both sellers and buyers in the arms trade view offsets as an efficient and effective economic compensation tool to justify arms deals. Buyers, consider offsets as a catalyst for industrial and technological development, employment, creation of value-added activities and skills development. Sellers, on the other hand, perceive offsets as providing product differentiation and competitive advantage in an already tough defence market. The question, though is whether, do offsets really work as claimed? The purpose of this dissertation is to empirically verify the above proposition by evaluating the effectiveness of defence offsets in developing a defence industrial and technological base, using Malaysia’s defence industry as a case study. This study employs a Multi-Method or Triangulation Methodological approach (comprising survey, archival sources and participatory observation) to gather data. Fieldwork research employing questionnaires and interviews were undertaken as part of a survey of Malaysian defence companies, international defence contractors and relevant offsets-related government and non-governmental agencies. These data were further substantiated and consolidated via archival sources, such as government and company reports and also participatory observation. Research analysis indicates that offsets have provided mixed results, in the case of Malaysia. The successes have been mainly focused on technology capability-building and human resource development, limited to through-life-support of the defence equipment and the ancillary systems purchased. Morover, offsets have been successfully used to diversify into civil sectors, mainly aerospace and electronics sectors, leading to increased exports, jobs, backward linkages and technology enhancement in these sectors. However, offsets have had minimal effect on creating joint-production, collaborative activities and R&D programmes, requisites for the process of Malaysianisation. Further, offsets have also been less than effective in increasing employment, and dual-use technology programmes that could provide longterm impact on Malaysia’s economic growth. Overall, Malaysia’s offsets policy has been pragmatic and flexible. The government has played a vital role in ensuring that the offsets policy operates in tandem with Malaysia’s national aspirations. Yet, offsets have had a limited impact on developing and sustaining Malaysia’s defence industrial and technology base. The offsets policy aim and objectives have not been clearly reflected in the offsets process and implementation. As defence offsets will continue to be of an essence in Malaysia’s defence procurement activity, initiatives should be taken to review the offsets policy and implementation processes. The review should augment the effectiveness of offsets in developing measurable and value-added programmes that build a sustainable and competitive Malaysian defence industry. To this end, and based on the research findings of this study, a number of important policy recommendations are advanced to raise the effectiveness of Malaysia’s offsets policy
    corecore