1,721,352 research outputs found

    Ketersediaan Hara Mikro Fe, Mn, Cu, dan Zn pada Ultisol Jasinga yang DIberi Perlakuan Kapur, Kompos, Arang, dan Fosfat Alam

    No full text
    Upaya yang umum dilakukan untuk meningkatkan produktivitas Ultisol adalah pemberian amelioran, diantaranya pengapuran dan penambahan bahan organik, serta pemupukan. Namun demikian, ameliorasi dengan dosis tinggi pada tanah yang memiliki kadar Al-dd atau kejenuhan Al tinggi seperti pada Ultisol Jasinga (17,52 cmolc.kg-1 Al-dd) dikhawatirkan dapat menyebabkan berkurangnya ketersediaan hara mikro Fe, Mn, Cu, dan, Zn akibat reaksi presipitasi menjadi hidroksidanya. Penelitian ini ditujukan untuk mempelajari pengaruh pemberian dolomit, kompos (kulit kakao dan kotoran sapi dengan nisbah 2:1), dan arang (sekam padi dan kayu sengon), serta fosfat alam terhadap ketersedian hara mikro Fe, Mn, Cu, dan Zn pada Ultisol Jasinga. Telah dilaksanakan inkubasi dalam percobaan pot menggunakan rancangan acak lengkap dua perlakuan. Perlakuan pertama adalah pemberian amelioran yang terdiri atas tanpa amelioran, kapur setara ¼ Al-dd, kapur setara ½ Al-dd, kapur setara 1 Al-dd, kompos 5%, kompos 10%, arang sekam 4% dan arang sengon 4%. Perlakuan kedua adalah tanpa dan dengan pemberian fosfat alam setara 400 ppm P. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ameliorasi Ultisol Jasinga dengan dolomit, kompos, dan arang meningkatkan ketersediaan Fe, Mn, Cu, dan Zn tanah. Pemberian fosfat alam juga meningkatkan ketersediaan keempat hara mikro, kecuali terhadap Mn pada perlakuan kompos 10%, dan perlakuan arang. Terdapat interaksi nyata antara perlakuan amelioran dengan fosfat alam. Pemberian kompos 5% tanpa dan dengan fosfat alam berpengaruh sangat nyata dan tertinggi dalam meningkatkan ketersediaan Mn, Fe, Cu, dan Zn, namun peningkatan dosis kompos menjadi 10% justru menurunkan ketersediaan keempat hara mikro. Terdapat korelasi positif antara pH tanah dan ketersediaan Fe, Mn, Cu, dan Zn. Pengapuran setara 1 Al-dd (17 ton.ha-1 dolomit) pada Ultisol Jasinga hanya meningkatkan pH tanah dari 3,9 menjadi 4,7 dan belum mengakibatkan pengendapan hara mikro Fe, Mn, Cu, dan Z

    Aplikasi Fraksi Kleinano dari Bahan Tuf Volkan sebagai Adsorben Nitrat Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit

    No full text
    Limbah cair pabrik kelapa sawit (PKS) dapat dimanfaatkan sebagai amelioran tanah dengan teknik aplikasi lahan (land application). Kadar nitrat yang tinggi pada limbah cair PKS dilaporkan menimbulkan dampak negatif dari praktik aplikasi lahan berupa kontaminasi nitrat pada perairan di sekitar lahan perkebunan. Pada penelitian sebelumnya, dengan teknik ultrasonik-sentrifusi dan waktu ekuilibrasi 72 jamdapat diekstrak dari bahan tuf volkan G. Salak fraksi kleinano (ukuran diameter 135 cm(tv4) dapat diekstraksi 7.72 mg kn4/g tv4. Pada akhir waktu ekuilibrasi 12, 24, dan 48 jam, erapan maksimum kn3 terhadap nitrat (25.06, 32.25, dan 48.30 mg/g) lebih tinggi daripada kn4 (21.41, 25.97, dan 40.00 mg/g), sehingga energi ikatan nitrat oleh kn3 (0.40, 0.37, dan 0.31 L/g) lebih rendah daripada kn4 (0.50, 0.39, dan 0.36 L/g). Erapan maksimum nitrat pada fraksi kleinano terekstrak dengan waktu ekuilibrasi 12 jam tidak berbeda nyata dengan 24 jam, namun dengan waktu ekuilibrasi 48 jam nyata lebih tinggi daripada 12, 24, dan 72 jam. Waktu ekuilibrasi terefektif adalah 48 jam. Penurunan kadar nitrat limbah cair PKS dari 62 mg/L ke 20 mg/L membutuhkan 29.81 mg kn3/L atau 39.34 mg kn4/L limbah cair

    Kajian Risiko Kesehatan Lingkungan Masyarakat Bantaran Sungai Kuantan Akibat Pajanan Merkuri di Kabupaten Kuantan Singingi

    No full text
    Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI), masih marak terjadi di Sungai Kuantan. Kegiatan PETI selalu dikaitkan dengan kebutuhan ekonomi individu maupun kelompok. Terdapat kelompok yang diuntungkan dan kelompok yang dirugikan seperti masyarakat yang menerima dampak lingkungan. PETI dapat berdampak pada pencemaran Hg pada air sungai, air sumur, sedimen dan ikan. Perairan yang tercemar Hg dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan akibat penurunan kualitas perairan tersebut. Saat ini belum ada penelitian yang melihat dampak kualitas perairan terhadap risiko kesehatan di Kabupaten Kuantan Singingi, sehingga diperlukan kajian mendalam yang dapat memperkirakan tingkat risiko kesehatan dan manajemen risiko pengendalian pencemaran. Tujuan utama penelitian ini adalah mengkaji risiko kesehatan lingkungan masyarakat bantaran Sungai Kuantan di Kabupaten Kuantan Singingi. Tujuan utama ini dicapai dengan tujuan khusus yaitu; (1) mengetahui gambaran kandungan merkuri pada air sungai, air sumur, sedimen dan ikan ditinjau dari hulu, tengah dan hilir sungai; (2) mengetahui gambaran sosio-demografi, pola aktivitas, pola konsumsi, dan gangguan kesehatan masyarakat; (3) analisis besaran asupan pajanan merkuri pada masyarakat dari adsorbsi air sungai, asupan air sumur dan ikan; (4) analisis besaran risiko kesehatan non karsinogenik pada masyarakat ditinjau dari hulu, tengah dan hilir sungai; dan (5) merumuskan manajemen risiko yang tepat guna meminimalisirkan dampak pajanan merkuri pada masyarakat. Pengambilan sampel lingkungan yaitu air sungai, air sumur, sedimen, ikan baung dan ikan kapiek dilakukan di tiga lokasi yaitu, Kec. Hulu Kuantan (hulu), Kec. Kuantan Tengah (tengah) dan Kec. Kuantan Hilir (hilir). Pengambilan sampel masyarakat yaitu 50 responden dewasa dan 50 responden anak (7 – 15 tahun) di setiap lokasi sehingga terdapat 300 responden. Selain itu terdapat enam responden tenaga kesehatan. Kandungan merkuri (Hg) pada masing-masing sampel lingkungan dianalisis sesuai dengan metode APHA dan SNI (Standar Nasional Indonesia). Data hasil analisis dibandingkan dengan baku mutu pencemaran. Data masyarakat diambil dengan teknik kusioner dan wawancara, data hasil analisis dijadikan variabel dalam perhitungan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Hasil menunjukkan konsentrasi Hg pada air sungai, air sumur (tengah dan hilir), sedimen berada di atas baku mutu pencemaran, sedangkan pada sampel ikan baung dan ikan kapiek masih berada di bawah standar baku mutu pencemaran. Konsentrasi Hg secara signifikan meningkat dari lokasi hulu sampai hilir pada air sungai dan sedimen. Konsentrasi Hg secara signifikan meningkat pada dua sumur warga di lokasi tengah dan hilir. Konsentrasi Hg secara signifikan terdapat pada ikan kapiek yang ditangkap di lokasi tengah sungai, namun tidak signifikan pada konsentrasi Hg ikan baung antar lokasi penelitian. Gambaran masyarakat yang ditinjau dari sosio-demografi, pola konsumsi, pola aktivitas, dan gangguan kesehatan lokasi hulu dan hilir mirip, sedangkan lokasi tengah berberbeda dari lokasi lainnya. Rata-rata adsorbsi dermal air sungai, asupan air sumur, ikan baung dan ikan kapiek mayoritas tertinggi terdapat pada responden lokasi hilir dan terendah pada responden lokasi tengah. Adsrobsi dermal air sungai berada di bawah standar risiko, sehingga belum diperlukan manajemen risiko. Asupan air sumur tengah dan hilir, asupan ikan baung dan kapiek hulu dan hilir berada diatas standar risiko, sehingga diperlukan manajemen risiko. Namun demikian perlu diperhatikan pada lokasi tengah adanya nilai yang sudah mendekati standar risiko. Manajemen risiko untuk asupan air sumur tengah dan hilir adalah menurunkan konsentrasi dari rata-rata keseluruhan 0,03195 mg/l menjadi batas konsentrasi real time – life time, yaitu 0,0034 – 0,0043 mg/l (responden dewasa) dan 0,002 – 0,0054 mg/l (responden anak). Manajemen risiko untuk asupan ikan baung dan ikan kapiek hulu dan hilir dari 0,1173 mg/kg dan 0,1250 mg/kg menjadi 0,0797 – 0,1002 mg/kg dan 0,0891 mg/kg (life time responden anak), dengan batas frekuensi konsumsi 2 – 3 kali dalam seminggu (hulu dan tengah) dan 1 – 2 kali dalam seminggu (hilir) dengan asumsi pola konsumsi sama. Kata kunci : amalgamasi, antropometri, ARKL, baku mutu pencemaran, PETI

    Karakteristik Erapan dan Pelepasan Fosfor pada Tanah Sawah di Pulau Jawa.

    No full text
    Fosfor (P) merupakan unsur hara makro esensial yang diperlukan dalam proses pertumbuhan dan produksi tanaman. Ketersediaan P di dalam tanah ditentukan oleh proses erapan dan pelepasan. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai karakteristik P dierap dan dilepaskan pada tanah sawah perlu diketahui. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik erapan dan pelepasan P pada tanah sawah di Pulau Jawa dan hubungannya dengan sifat-sifat fisikokimia tanah. Percobaan erapan dan pelepasan P dilakukan pada 22 contoh tanah sawah yang tersebar di Pulau Jawa. Data erapan dan pelepasan P disimulasikan menggunakan persamaan Langmuir untuk mendapatkan nilai erapan P maksimum (b), energi ikatan P oleh partikel tanah (k), dan standar kebutuhan P tanaman (P0.2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan Langmuir dengan baik mensimulasikan pola erapan P. Nilai b tanah sawah di Pulau Jawa berkisar dari 443 mg P kg-1 (Jombang) hingga 2090 mg P kg-1 (Demak). Nilai k memiliki nilai dari 0.02 L mg-1 (Jombang) hingga 0.64 L mg-1 (Jatisari). P0.2 dengan nilai terendah 1.96 mg P kg-1 (Jombang) dan tertinggi 194.43 mg P kg-1 (Jatisari). Setelah pelepasan P, nilai k pada contoh tanah mengalami peningkatan. Pelepasan P terendah adalah 1.54% (Cicalengka dan Buntu) dan yang tertinggi adalah 43.57% (Jombang). Nilai b berkorelasi positif dengan total C, Fe yang diekstrak dithionit-sitrat-bikarbonat (Fed), dan kadar klei. Nilai k berkorelasi negatif dengan pH (H2O) dan berkorelasi positif dengan total C, Fe yang diekstrak ammonium oksalat (Feo), Fed, dan kadar klei. Jumlah P yang mampu dilepas dalam persen berkorelasi positif dengan pH (H2O) dan berkorelasi negatif dengan total C, Feo, Fed, kadar klei, nilai b, dan nilai k. Oleh karena itu, semakin tinggi nilai Fed, Feo, dan kadar klei maka semakin tinggi nilai erapan P maksimum dan menurunkan nilai pelepasan P

    Aplikasi Teknik Inaktivasi In Situ Pada Tanah Dieemari Cu: Keterkaitan Antara Konsentrasi Cu Pada Tajuk Tomat Dengan Sifat-Sifat Kimia Tanah

    No full text
    Lahan pertanian perkotaan di sekitar kawasan industri rentan terhadap peneemaran logarn berat. Salah satu logarn peneemar tersebut adalah Tembaga (Cu). Teknik inaktivasi in situ merupakan salah satu metode remediasi tanah tereemar logarn berat yang sesuai untuk lahan pertanian. Dalarn teknik ini digunakan arnelioran dan pupuk untuk mengubah fraksi atau bentuk kimia logarn berat dalarn tanah dari yang mudah diserap tanarnan ke bentuk yang lebih stabil, sehingga mengurangi transfer logarn berat dari tanah ke tanaman dan rantai makanan berikutnya. Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya yang bertujuan mengevaluasi: (1) pengaruh perlakuan ameliorasi dan pemupukan pada empat seri pengkayaan kadar Cu-tanah terhadap sifat-sifat kimia tanah, termasuk kadar Cu-tersedia dan bobot kering tomat dan (2) hubungan antara sifat-sifat kimia tanah dengan bobot kering tomato Adapun tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi: (1) pengaruh perlakuan arneliorasi dan pemupukan pada empat seri pengkayaan kadar Cu-tanah terhadap konsentrasi Cu, N, P, S, K, Ca, dan Mg pada tajuk tomat dan (2) keterkaitan antara konsentrasi Cu dengan sifat-sifat kimia tanah, termasuk Cu-tersedia dan Cu-total serta (3) keterkaitannya dengan konsentrasi N, P, S, K, Ca dan Mg pada tajuk tomat

    Dinamika Amonium dan Nitrat pada Inceptisol Petir, Darmaga Bogor dengan Perlakuan Lumpur dan Air Kolam Ikan

    No full text
    Desa Petir adalah salah satu wilayah di Kabupaten Bogor yang didominasi oleh lahan kering dengan order tanah Inceptisol. Kegiatan dalam sektor pertanian secara luas di Desa Petir sangat intensif. Salah satunya adalah budidaya ikan air tawar. Petani memberikan kotoran ayam sebagai perlakuan dasar dan pelet sebagai pakan ikan dalam jangka waktu yang lama. Residu pelet tersisa dan kotoran ikan tersedimentasi dalam lumpur kolam ikan dan larut dalam air kolam ikan. Petani biasanya memanfaatkan lumpur kolam ikan sebagai penguat batas kolam sedangkan air kolam ikan dibuang ke kanal. Air kolam ikan kemudian mengalir mencemari sungai sehingga terjadi pencemaran nitrat dan fosfat pada sistem air. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi dinamika amonium (N-NH4+) dan nitrat (N-NO3-) pada tanah Inceptisol yang diberi perlakuan lumpur dan air kolam ikan, dan membandingkannya dengan tanah yang diberi perlakuan pupuk kandang kambing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode inkubasi. Perlakuan pada penelitian ini adalah kontrol, lumpur kolam ikan, kombinasi lumpur dan air kolam ikan, dan pupuk kandang kambing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap kadar N-NH4+ pada minggu ke-6 inkubasi. Pada inkubasi minggu ke-6, perlakuan lumpur kolam ikan memiliki kadar N-NH4+, N-NO3-, dan N-tersedia lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Perlakuan berpengaruh nyata terhadap kadar N-NO3- pada minggu ke-4 hingga minggu ke-15 inkubasi. Pada inkubasi minggu ke-15, perlakuan lumpur kolam ikan memiliki kadar N-NO3- tertinggi sebesar 449 mg kg-1. Kadar N-NH4+ dan N-NO3- pada perlakuan lumpur kolam ikan dan kombinasi lumpur dan air kolam ikan pada minggu ke-10 dan minggu ke-15 relatif sebanding dengan perlakuan pupuk kandang kambing. Hal ini menunjukkan perlakuan lumpur kolam ikan dan kombinasi lumpur dan air kolam ikan dapat mendukung penyediaan kebutuhan N-NH4+ dan N-NO3- sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif sumber nitrogen untuk memenuhi kebutuhan tanaman

    Kandungan Logam Berat (Pb dan Cd) pada Air, Sedimen, dan Kerang Hijau (Perna viridis) di Perairan Kebupaten Cirebon

    No full text
    Bahan pencemar yang masuk ke dalam perairan laut berasal dari industri dan domestik melalui aliran sungai, kemudian mengalir ke dalam lingkungan laut melalui pengadukan atau turbulensi dan arus laut. Pada wilayah-wilayah laut yang luas dan terbuka, bahan pencemar ini akan terurai dan terbuang ke perairan laut yang lebih luas sehingga dapat meminimalkan konsentrasi akumulasinya dalam suatu badan perairan. Logam berat yang terdapat di air sedikit demi sedikit akan meningkat seiring meningkatnya aktivitas manusia. Logam berat tersebut akan terserap dan dalam jangka waktu tertentu akan terakumulasi di sedimen dan tubuh kerang hijau, karena kerang hijau merupakan organisme yang hidupnya menetap di dasar perairan dan merupakan filter feeder. Kerang hijau merupakan komoditas unggulan perikanan budidaya di Kabupaten Cirebon. Kegiatan budidaya kerang hijau di kabupaten ini dilakukan baik sebagai kegiatan utama ataupun kegiatan sampingan. Kegiatan sampingan artinya aktivitas budidaya ini dilakukan oleh para nelayan saat aktivitas penangkapan ikan tidak dilakukan. Dengan potensi lahan yang dimiliki, menjadikan aktivitas budidaya kerang hijau cukup berkembang di kabupaten ini. Dukungan pasar juga terbuka luas, yang umumnya dipasarkan ke wilayah Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) menganalisis status pencemaran pada Perairan Mundu dan Suranenggala; (2) menganalisis kandungan logam berat Pb dan Cd pada air, sedimen, dan daging kerang hijau; (3) merumuskan alternatif strategi dalam pengelolaan kualitas perairan untuk meningkatkan produktivitas kerang hijau di Kabupaten Cirebon. Pengumpulan data primer dilakukan melalui survei lapangan, pengukuran langsung di lapangan dan di laboratorium terhadap parameter fisik-kimia air, kandungan logam berat pada air, sedimen dan kerang hijau. Data sekunder diperoleh dengan pencarian pustaka ke instansi terkait dan literatur terutama hasil-hasil penelitian dengan kasus yang serupa. Analisis status pencemaran menggunakan metode STORET sesuai Kepmen-LH No. 115 Tahun 2003. Analisis konsentrasi logam berat pada air menggunakan baku mutu Kepmen-LH No. 51 Tahun 2004. Analisis konsentrasi logam berat pada sedimen menggunakan baku mutu CCME Tahun 2001. Analisis logam berat pada daging kerang hijau menggunakan baku mutu dari BPOM Tahun 2009. Untuk menentukan strategi alternatif pengelolaan kualitas perairan menggunakan metode SWOT. Berdasarkan hasil penelitian, status pencemaran di Perairan Mundu tergolong tercemar sedang dengan skor -30, sedangkan untuk Perairan Suranenggala tergolong tercemar berat dengan skor -52. Berdasarkan data BLHD, TSS dan salinitas pada tahun 2015 dan 2016 pada Perairan Mundu dan Suranenggala telah melampaui baku mutu Kepmen-LH No. 51 Tahun 2004. Suhu berdasarkan data BLHD tahun 2016 pada Perairan Mundu sudah melampaui baku mutu Kepmen-LH No. 51 Tahun 2004 dengan nilai 32,4oC pada stasiun M1 dan 32oC pada stasiun M2, namun logam berat Pb dan Cd pada air masih dibawah baku mutu. Pb pada sedimen di Perairan Suranenggala melebihi baku mutu CCME Tahun 2001, sedangkan untuk Cd pada sedimen baik di Perairan Mundu ii ataupun Perairan Suranenggala telah melampaui baku mutu CCME Tahun 2001. Kandungan logam berat Pb dan Cd pada daging kerang hijau belum melampaui baku mutu yang ditetapkan BPOM Tahun 2009 yaitu 1,5 mg/kg untuk Pb dan 1,0 mg/kg untuk Cd. Analisis SWOT untuk pengelolaan kualitas Perairan Kabupaten Cirebon menghasilkan enam strategi Prioritas strategi W-O yaitu; penanggulangan atau pengendalian pencemaran perairan untuk budidaya kerang hijau. Strategi S-O menghasilkan dua strategi, yaitu; (1) meningkatkan hasil budidaya perikanan khususnya kerang hijau untuk memenuhi permintaan pasar internasional, dan (2) memperbaiki sarana dan prasarana guna meningkatkan hasil budidaya kerang hijau. Strategi W-T menghasilkan satu strategi yaitu mengikut sertakan masyarakat dalam menjaga kualitas perairan. Strategi S-T menghasilkan dua strategi, yaitu; (1) meningkatkan kerjasama LSM dan Stakeholder dalam menanggulangi sumber pencemar perairan, dan (2) peningkatan pemahaman masyarakat terhadap kualitas perairan untuk meningkatkan produktivitas perikanan

    Pengaruh Ameliorasi Dolomit, Kompos, dan Arang Sekam terhadap Ketersediaan Cu dan Zn pada Latosol dan Podsolik dengan Kejenuhan Aluminium Berbeda.

    No full text
    Budidaya tanaman pada tanah masam di Indonesia dihadapkan pada berbagai faktor pembatas kesuburan tanah yang meliputi reaksi masam, kejenuhan aluminium tinggi, serta kadar bahan organik dan hara esensial rendah. Hal ini berdampak pada rendahnya efisiensi pemupukan. Pertumbuhan dan produktivitas tanaman yang optimum hanya dapat dicapai jika semua hara esensial dalam tanah, termasuk hara mikro Cu dan Zn, berada dalam kadar cukup dan dalam bentuk kimia tersedia. Ameliorasi dolomit, kompos, atau arang sekam diharapkan dapat mengatasi faktor pembatas tersebut pada tanah masam di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ameliorasi dolomit, kompos, atau arang sekam terhadap ketersediaan hara mikro Cu dan Zn pada tiga tanah dengan kejenuhan Al berbeda. Percobaan faktor tunggal ameliorasi dolomit, kompos atau arang sekam dengan 11 taraf dan 3 ulangan dilakukan di rumah kaca pada Latosol, Podsolik 1, dan Podsolik 2, berturut-turut dengan tingkat kejenuhan Al 42%, 52%, dan 81%, sehingga secara keseluruhan terdiri dari 297 satuan percobaan. Inkubasi perlakuan dilakukan selama 30 hari pada kondisi kadar air kapasitas lapang. Analisis ketersediaan Cu dan Zn tanah dilakukan menggunakan pengekstrak DTPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ameliorasi dolomit, kompos, atau arang sekam secara umum menurunkan ketersediaan Cu pada Latosol, namun sebaliknya pada Podsolik 1 dan Podsolik 2, kecuali ameliorasi kompos yang meningkatkan ketersediaan Cu hingga dosis tertentu dan sebaliknya pada dosis yang lebih tinggi. Demikian pula halnya dengan ameliorasi dolomit, kompos, atau arang sekam hingga dosis tertentu meningkatkan ketersediaan Zn pada Podsolik 1 dan Podsolik 2, namun menurunkan ketersediaan Zn pada Latosol. Dinamika ketersediaan Cu dan Zn pada penelitian ini berhubungan dengan dinamika pH tanah

    Kontaminasi Timbal pada Empat Tipe Penggunaan Lahan Pertanian di Kawasan Urban-Industri Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

    No full text
    Lahan pertanian yang berada di kawasan urban-industri rentan terhadap kontaminasi logam berat. Salah satu logam berat tersebut adalah timbal (Pb). Meskipun bukan hara esensial, bila berada dalam bentuk kimia yang dapat diserap tanaman, maka Pb tanah dapat menyebabkan fitotoksisitas dan masuk ke rantai makanan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi tingkat kontaminasi Pb tanah di empat tipe penggunaan lahan pertanian di kawasan urban-industri Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan mengevaluasi pengaruh faktor pH, kadar klei dan kadar bahan organik tanah serta waktu terhadap kadar total-Pb tanah. Lokasi penelitian merupakan lahan pertanian di kawasan urban-industri yang meliputi wilayah Kecamatan Citeureup, Gunung Putri, Kalapa Nunggal dan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Contoh tanah diambil secara komposit pada kedalaman 0-10, 10-20 dan 20-30 cm di musim hujan November 2013 di 15 titik yang mewakili empat tipe penggunaan lahan, yaitu pekarangan, lahan kering, sawah tadah hujan dan kebun campuran. Analisis tanah dilakukan di Lab Kimia dan Kesuburan Tanah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB terhadap kadar total-Pb (Aqua Regia; HClp:HNO3p=3:1; PbAR), pH H2O 1:1, C-organik (Walkley & Black) dan tekstur (Pipet). Tingkat kontaminasi/ pencemaran Pb tanah dievaluasi berdasarkan nilai indeks c/p menurut prosedur Lacatusu (1998). Nilai indeks c/p = kadar PbAR / (50 + kadar klei + kadar bahan organik). Kontaminasi (c/p1) merujuk pada kisaran kadar Pb tanah yang telah mengakibatkan dampak negatif terhadap komponen lingkungan. Rataan kadar PbAR (mg/kg) yang terukur pada lahan pekarangan (35.36) > kebun campuran (29.22) > lahan kering (20.87) > sawah tadah hujan (20.64), dengan nilai indeks c/p Pb pada lahan pekarangan (0.78, terkontaminasi sangat berat) > sawah tadah hujan (0.54, terkontaminasi berat) > kebun campuran (0.49, terkontaminasi sedang) > lahan kering (0.37, terkontaminasi sedang). Kadar PbAR berkorelasi positif nyata dengan kadar bahan organik, kecuali di kebun campuran. Pada sawah tadah hujan, kadar klei juga berpengaruh nyata terhadap PbAR. Kadar PbAR pada musim hujan 2006 lebih tinggi daripada musim hujan 2013. Salah satu penyebabnya karena sejak 2006 penggunaan bahan bakar minyak bertimbal sudah dihentikan di Indonesia

    Aplikasi Kleinano dari Tuf Volkan Gunung Salak sebagai Adsorben Alami Kontaminan Anionik: Fosfat Perairan dan Air Limbah

    No full text
    Peningkatan kadar kontaminan anionik seperti fosfat di lingkungan perairan dari berbagai sumber, khususnya dari aktivitas pertanian, industri, dan domestik menyebabkan degradasi mutu perairan hingga terjadinya eutrofikasi. Dalam proses pengendalian kontaminasi fosfat di ekosistem perairan dan pengelolaan air limbah diperlukan teknologi yang efektif, efisien dan ramah lingkungan. Kontaminasi fosfat dapat dikendalikan dengan teknik sedimentasi menggunakan adsorben bermuatan positif melalui reaksi penjerapan. Semakin kecil ukuran adsorben, semakin tinggi efektivitas penjerapannya. Dalam Ilmu Tanah, partikel dengan dimensi fisik 135 cm) dari profil Andisol di lereng Gunung Salak pada elevasi 670 mdpl yang berlokasi di Desa Sukajadi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dari bahan tv3 dan tv4 diseparasi dan diekstraksi fraksi kleinano kn3 dan kn4 menggunakan teknik dispersi-ultrasonikasi-sentrifugasi, dan suspensi kleinano terekstraksi selanjutnya dipurifikasi menggunakan teknik membran dialisis. Uji jerapan fosfat dilakukan menurut metode isotermal Langmuir. Untuk aplikasi pengelolaan perairan, uji jerapan fosfat dilakukan dengan mempersiapkan 3x3 set percobaan yang merepresentasikan 3 waktu ekuilibrasi dan 3 ulangan. Setiap set percobaan terdiri atas 10 tabung polietilen-50 ml berisi 5 ml suspensi fraksi kleinano dan 5 ml 0.01 N CaCl2 sebagai background electrolyte. Selanjutnya ditambahkan deret perlakuan larutan fosfat inorganik bersumber dari KH2PO4 dengan kadar 0, 2.5, 5, 10, 20, 40, 80, 160, 320 dan 640 mg P/L serta aquadest hingga bervolume total 50 ml. Untuk aplikasi pengelolaan air limbah, uji jerapan fosfat juga dilakukan dengan 3x3 set percobaan yang masing-masing terdiri atas 6 tabung polietilen-50 ml berisi 20 ml air limbah industri tahu dengan kadar 42.83 mg P/L dan 5 ml 0.01 N CaCl2. Selanjutnya ditambahkan 0, 2.5, 5, 10, 15 dan 20 ml suspensi fraksi kleinano serta aquadest hingga bervolume total 50 ml. Ekuilibrasi dalam penelitian ini dilakukan selama 12, 24, dan 48 jam. Dari penelitian sebelumnya, diperoleh data untuk waktu ekuilibrasi 72 jam. Pada jam ke 0, 6, 12, 18, 24, 30, 36, 42, 48, dan 72 jam dilakukan agitasi menggunakan mesin pengocok selama 30 menit. Untuk memperoleh efek agitasi maksimal, tabung percobaan diposisikan horizontal. Setelah 12, 24, 48, dan 72 jam, kadar fosfat kesetimbangan diukur secara kolorimetri menurut prosedur Murphy dan Riley menggunakan spektrofotometer pada λ 660 nm. Signifikansi perbedaan jerapan maksimum fosfat pada fraksi kleinano setelah ekuilibrasi 12, 24, 48, dan 72 jam dievaluasi dengan Uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari bahan tuf volkan tv3 dapat diekstraksi 2.82 mg fraksi kleinano kn3/g tv3 dan dari tuf volkan tv4 terekstraksi 4.29 mg fraksi kleinano kn4/g tv4. Jerapan maksimum fosfat dengan waktu ekuilibrasi 48 jam nyata lebih tinggi daripada 12, 24, dan 72 jam, sehingga waktu ekuilibrasi terefektif adalah 48 jam. Jerapan maksimum kn3 terhadap fosfat perairan maupun air limbah lebih tinggi daripada kn4. Lebih lanjut, jerapan maksimum fraksi kleinano terhadap fosfat dalam sistem perairan (117.54 mg P/g kn3 dan 71.99 mg P/g kn4) lebih tinggi daripada dalam sistem air limbah (24.15 mg P/g kn3 dan 19.31 mg P/g kn4). Rentang nisbah adsorbat terhadap adsorben atau kadar fosfat dalam deret perlakuan fosfat terhadap bobot fraksi kleinano pada sistem perairan (0–0.335 mg P/mg kn3 dan 0–0.221 mg P/mg kn4) lebih tinggi dibandingkan pada sistem air limbah (0–0.022 mg P/mg kn3 dan 0–0.015 mg P/mg kn4). Semakin tinggi nisbah adsorbat:adsorben, semakin tinggi pula efektivitas tercapainya kondisi penjerapan maksimum adsorbat fosfat pada adsorben fraksi kleinano dalam waktu ekuilibrasi yang sama. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa fraksi kleinano yang terekstraksi dari bahan tuf volkan G. Salak Indonesia berpotensi dan prospektif untuk diman-faatkan sebagai adsorben alami kontaminan anionik seperti fosfat dalam sistem perairan dan air limbah. Penurunan kadar fosfat perairan eutrofik yang diasumsikan berkadar 4.895 mg P/L ke 0.2 mg P/L agar memenuhi baku mutu perairan kelas I atau II menurut PPRI No.82/2001 membutuhkan 3.11 mg kn3/L atau 3.78 mgkn4/L, sedangkan penurunan kadar fosfat air limbah dari 42.83 mg P/L ke 5 mg P/L agar memenuhi baku mutu perairan kelas IV menurut regulasi yang sama membutuhkan 193.2 mg kn3/L atau 229.84 mg kn4/L
    corecore