1,721,005 research outputs found

    Studi Quenching Media pada proses Hardening Material Baja Paduan SKJ Mod

    Full text link
    Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi nilai kerasan material pada Hardening adalah kemampuan cooling rate dari Quenching Media. Paper ini akan mencoba melakukan studi Quenching Media alternatif dengan harga relatif murah dan memiliki karakteristilc minimal mendekati Quenching Media standard seperti Issodur 220. Quenching Media alternatifyang dipilih adalah oli Mesin baru. Oli Mesin bekas. oli Gardan Baru dan bekas. Pada tahap awol dilakukan pengamatan lcecepatan pendinginan Quenching media alternaitf terse but. kemudian dibandingkan dengan Quenching Media bermerek yaitu Issodur 220. Hasil percobaan diperoleh data bahwa cooling rate keempat Quenching Media alternatif dan sebuah Quenching Media Issodur 220 adalah sebagai berikut: oli mesin bekas memiliki kecepatan pendinginan 48.6° per detik, oli bekas gardan mampu mendinginkan material uji dengan Ieece paton pendinginan 44'C per detik. Sedangkan jika dibanding dengan kemampuan pendinginan Quenching Media Issodur 220 yaitu 56 per detik, maka oli mesin bekas diperkirakan memiliki kemampuan sebagai Quenching Media. Tahap berikutnya adalah menguji kemampuan Quanching media dalam mengeraskan material uji. oli Mesin bekas mampu mengeraskan Baja SKJ Mod sampai dengan 60 HRC. sedangkan tiga oli quenching yang lain hanya dapat menghasilkan dibawah 58 HRC. Jika dibanding dengan lssodur 220. dimana dalam penggunaannya dapal menghasilkan kekerasan material 62 HRC. maka oli Mesin bekas dapat menjadi Quenching media alternatif dengan capaian kemampaun mengeraskan mendekati Issodur 220

    Peningkatan Unjuk Kerja Desain Flexible Shield untuk Pompa Sabun Dengan Menggunakan Metode Elemen Hingga

    No full text
    The flexible shield is a part of the pump system that dispenses soap-product. The function of the flexible shield is to protect the soap pump from intruding water. Investigation on performance of the current design flexible shield found that the current design of the flexible shield has not succeeded yet because there are no enough vertical reaction force in the upper part of the flexible shield after the deformation 9 mm to return to its rest position by itself (the requirement is 10 mm deformation). In the real experiment, the product must contain enough vertical reaction force on the upper part area of the flexible shield to return to its rest position independently. At that situation, there is no minimum turning point in the force against displacement graph. In the Ansys simulation, this condition is illustrated by the same graph force against displacement as the real experiment. To eliminate the locking mechanism during the deformation, the discontinuity should not exist, which means there should be no minimum turning point in the force against displacement graph. The combination of material and geometry are two very influencing factors to the performance of new design flexible shield. From the analysis using Finite Element Method, it is discovered that the displacement position of the minimum turning point in the force against displacement graph of the new design concept is bigger than the current design, which matches our requirement. The force-displacement relationship graphs the minimum turning point position (11 mm displacement). Abstract in Bahasa Indonesia : Flexible shield adalah bagian sistem pompa untuk mengeluarkan suatu produk sabun cair, disamping itu flexible shield juga berfungsi untuk memproteksi pompa sabun dari kemasukan air. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa desain flexible shield yang ada saat ini belum sepenuhnya berhasil. Hal ini disebabkan gaya reaksi vertikal pada flexible shield yang terjadi belum cukup untuk mengembalikan flexible shield ke posisi semula dengan sendirinya setelah mencapai deformasi 9 mm. Sedangkan kebutuhan desain flexible shield adalah dapat kembali keposisi semula dengan sendirinya setelah mencapai deformasi 10 mm. Pada percobaan sesungguhnya, agar flexible shield dapat kembali ke posisi semula, keadaan tersebut digambarkan dengan tidak adanya nilai minimum turning point pada grafik gaya sebagai fungsi perpindahan (force against displacement graph). Pada simulasi dengan menggunakan metode elemen hingga (ANSYS 5.7), kondisi tersebut diilustrasikan dengan grafik gaya sebagai fungsi perpindahan, sama seperti pada percobaan sesungguhnya. Minimum turning point pada force against displacement graph ini menggambarkan mekanisme penguncian yang menyebabkan flexible shield tidak dapat kembali ke posisi semula setelah terjadinya deformasi 9 mm. Untuk meniadakan pengaruh mekanisme penguncian selama proses deformasi, maka pada force against displacement graph haruslah tidak terdapat minimum turning point. Kombinasi material dan geometri adalah dua faktor yang sangat berpengaruh pada performansi desain flexible shield yang baru. Dengan menggunakan analisa dari Metode Elemen Hingga, dapat diketahui force against displacement graph dari setiap desain baru yang akan dibuat, sehingga dapat diketahui performansi dari setiap desain yang ada. Pada akhirnya desain baru dapat diketahui unjuk kerjanya dengan posisi minimum turning point 11 mm (melebihi dengan kebutuhan desain yang ditentukan). Kata kunci : flexible shield, metode elemen hingga, minimum turning point, grafik gaya sebagai fungsi perpindahan

    Karakteristik Laminar Burning Velocity dan Flammability Limit Pembakaran Biogas

    No full text
    Biogas merupakan bahan bakar gas yang mempunyai komposisi terbesar adalah methane (66,4%), carbon dioxide (30,6%) dan nitrogen (3%). Perbandingan prosentase antara gas methane sebagai gas yang bersifat flammable serta carbon dioxide dan nitrogen yang bersifat impurities (inhibitors) berpengaruh terhadap karakteristik laminar burning velocity dan flammability limit pembakaran premixed biogas. Tujuan penelitian ini adalah: menentukan pengaruh carbon dioxide dan nitrogen sebagai senyawa `pengotor` utama pada laminar burning velocity pembakaran biogas, menentukan pengaruh carbon dioxide dan nitrogen terhadap flammability limit dari pembakaran premixed biogas dan menentukan pengaruh penurunan tekanan terhadap laminar burning velocity dan flammability limit pembakaran premixed biogas. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode simulasi dan real experiment . Pada penelitian dengan simulasi digunakan Premix module of CHEMKIN yang berbasis Linux dan reaksi pembakaran GRI Mech 3.0 yang berisi 325 elementary chemical reactions and associated rate coefficient expressions and thermochemical parameters for the 53 species. Penelitian real experiment dilakukan laboratorium dengan menggunakan peralatan MKII combustion bomb , high speed camera Photosonics Phantom digital camera 2500 frames/s . Penelitian yang dilakukan laboratorium ini merupakan metode eksperimen dengan variabel bebas yaitu parameter komposisi impurities ( pure, intermediate composition and maximum composition ) dan equivalent ratio dari lower flammability limit sampai upper flammability limit . Variabel terikat yaitu flame propagation characteristics, variabel ini dinyatakan dalam parameter laminar burning velocity dan flammability limit yang direkam dengan schlieren cine´photography . Premix module of CHEMKIN Software dapat digunakan sebagai simulasi pembakaran biogas dengan komposisi inhibitors N 2 ( nitrogen ) sampai 10% dan CO 2 ( carbon dioxide ) sampai 50% serta memiliki hasil yang hampir sama (hanya terjadi sedikit perbedaaa) antara hasil simulasi dan real experiment yang telah dilakukan. Pada kondisi tekanan atmospher (P = 1 atm) maupun reduced pressure (P = 0,5 atm), laminar burning velocity pada equivalence ratio yang sama dari bahan bakar biogas adalah lebih kecil dibandingkan dengan laminar burning velocity pada bahan bakar CH 4 ( methane ) dan flammable region dari biogas lebih sempit dibandingkan dengan pada bahan bakar CH 4 ( methane ). Hal ini disebabkan oleh adanya carbon dioxide dan nitrogen yang bersifat inhibitors . Inhibitors ini menyerap panas yang dihasilkan oleh proses pembakaran dan menurunkan temperatur api yang dihasilkan serta menurunkan laju reaksi kimia. Pengaruh penurunan tekanan menyebabkan peningkatan laminar burning velocity dan mempersempit flammable region . Flammable region methane pada tekanan atmospher adalah equivalence ratio 0.6 sampai 1.3. Flammable region biogas pada tekanan atmospher adalah equivalence ratio 0.6 sampai 1.2. Flammable region methane pada reduced pressure (0.5 Atm) adalah equivalence ratio 0.7 sampai 1.0. Flammable region biogas pada reduced pressure adalah equivalence ratio 0.75 sampai 0.85. Pengaruh inhibitors (CO 2 dan N 2 ) mengurangi flammable region dan menurunkan laminar burning velocity baik pada tekanan atmospher maupun pada reduced pressure . Pengaruh inhibitors makin efektif pada daerah kaya dan hal ini dapat dilihat dengan puncak laminar burning velocity bergeser dari campuran kaya (pada methane ) menuju campuran miskin pada biogas dengan adanya pengaruh inhibitors . Pengaruh inhibitors ini makin hebat pada reduced pressure yang mengakibatkan flammable region biogas terbatas pada deerah yang sangat sempit. Pengaruh inhibitor carbon dioxide (CO 2 ) menurunkan laminar burning velocity dan mengurangi flammable region. Pengaruh CO 2 sebagai inhibitor lebih efektif dibanding N2 sebagai inhibitor . Pengaruh CO 2 disamping mengurangi laminar burning velocity yang cukup besar juga mengurangi flammable region nya dan pada kondisi reduced pressure fenomena ini dapat dilihat lebih jelas. Hal ini bisa dilihat dari bahan bakar 50%CO 2 methane yang tidak dapat terbakar pada berbagai equivalence ratio pada reduced pressure . Pengaruh inhibitor nitrogen (N 2 ) menurunkan laminar burning velocity (tidak terlalu besar) tetapi tidak sampai mengurangi flammable region nya. Hal ini disebabkan karena jumlah N 2 dalam biogas yang tidak terlalu besar (maksimun 10% dalam biogas) serta kemampuan N 2 dalam menyerap panas yang sangat kecil dibandingkan dengan CO 2 . Pengaruh penurunan tekanan (dari tekanan atmosphere ke reduced pressure ) meningkatkan laminar burning velocity dan mengurangi flammable region

    Peningkatan Unjuk Kerja Desain Flexible Shield untuk Pompa Sabun Dengan Menggunakan Metode Elemen Hingga

    No full text
    The flexible shield is a part of the pump system that dispenses soap-product. The function of the flexible shield is to protect the soap pump from intruding water. Investigation on performance of the current design flexible shield found that the current design of the flexible shield has not succeeded yet because there are no enough vertical reaction force in the upper part of the flexible shield after the deformation 9 mm to return to its rest position by itself (the requirement is 10 mm deformation). In the real experiment, the product must contain enough vertical reaction force on the upper part area of the flexible shield to return to its rest position independently. At that situation, there is no minimum turning point in the force against displacement graph. In the Ansys simulation, this condition is illustrated by the same graph force against displacement as the real experiment. To eliminate the locking mechanism during the deformation, the discontinuity should not exist, which means there should be no minimum turning point in the force against displacement graph. The combination of material and geometry are two very influencing factors to the performance of new design flexible shield. From the analysis using Finite Element Method, it is discovered that the displacement position of the minimum turning point in the force against displacement graph of the new design concept is bigger than the current design, which matches our requirement. The force-displacement relationship graphs the minimum turning point position (11 mm displacement). Abstract in Bahasa Indonesia : Flexible shield adalah bagian sistem pompa untuk mengeluarkan suatu produk sabun cair, disamping itu flexible shield juga berfungsi untuk memproteksi pompa sabun dari kemasukan air. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa desain flexible shield yang ada saat ini belum sepenuhnya berhasil. Hal ini disebabkan gaya reaksi vertikal pada flexible shield yang terjadi belum cukup untuk mengembalikan flexible shield ke posisi semula dengan sendirinya setelah mencapai deformasi 9 mm. Sedangkan kebutuhan desain flexible shield adalah dapat kembali keposisi semula dengan sendirinya setelah mencapai deformasi 10 mm. Pada percobaan sesungguhnya, agar flexible shield dapat kembali ke posisi semula, keadaan tersebut digambarkan dengan tidak adanya nilai minimum turning point pada grafik gaya sebagai fungsi perpindahan (force against displacement graph). Pada simulasi dengan menggunakan metode elemen hingga (ANSYS 5.7), kondisi tersebut diilustrasikan dengan grafik gaya sebagai fungsi perpindahan, sama seperti pada percobaan sesungguhnya. Minimum turning point pada force against displacement graph ini menggambarkan mekanisme penguncian yang menyebabkan flexible shield tidak dapat kembali ke posisi semula setelah terjadinya deformasi 9 mm. Untuk meniadakan pengaruh mekanisme penguncian selama proses deformasi, maka pada force against displacement graph haruslah tidak terdapat minimum turning point. Kombinasi material dan geometri adalah dua faktor yang sangat berpengaruh pada performansi desain flexible shield yang baru. Dengan menggunakan analisa dari Metode Elemen Hingga, dapat diketahui force against displacement graph dari setiap desain baru yang akan dibuat, sehingga dapat diketahui performansi dari setiap desain yang ada. Pada akhirnya desain baru dapat diketahui unjuk kerjanya dengan posisi minimum turning point 11 mm (melebihi dengan kebutuhan desain yang ditentukan). Kata kunci : flexible shield, metode elemen hingga, minimum turning point, grafik gaya sebagai fungsi perpindahan

    Peningkatan Unjuk Kerja Motor Diesel dengan Penambahan Pemanas Solar

    No full text
    The imperfect combustion process will be a problem in the development effort of diesel engine's performance. Nonhomogen air-fuel mixing process is one of the factors which cause the imperfect combustion. By heating up the diesel fuel up to a certain temperature before it goes through the high pressure injection pump will lower its density and viscosity. Therefore, when injected in the combustion chamber, it will formed smaller droplets of fuel spray which result in a more homogenious air-fuel mixture. Also by using higher temperature will make the diesel fuel easier to ignite in order to compensate the limited time which is available in high speed operating conditions. Diesel fuel heating can improve the combustion process to increase the power and decrease the fuel consumption optimally. Abstract in Bahasa Indonesia : Tidak sempurnanya proses pembakaran merupakan masalah yang akan dijumpai dalam usaha peningkatan kinerja motor diesel. Proses pencampuran udara dan bahan bakar yang kurang baik menjadi salah satu faktor penyebab ketidak sempurnaan tersebut. Dengan melakukan pemanasan terhadap solar sampai temperatur tertentu sebelum masuk ke dalam pompa tekanan tinggi akan menyebabkan penurunan density dan viskositas solar, sehingga bila diinjeksikan ke dalam ruang bakar akan membentuk butiran kabut bahan bakar yang lebih halus yang akan menyebabkan proses pencampuran bahan bakar dan udara menjadi lebih homogen. Disamping itu, dengan temperatur yang lebih tinggi akan membuat solar menjadi lebih mudah terbakar sehingga dapat mengimbangi singkatnya waktu yang tersedia untuk pembakaran pada putaran tinggi. Pemanasan solar dapat dipergunakan sebagai salah satu cara untuk menyempurnakan proses pembakaran sehingga dihasilkan peningkatan daya dan penurunan konsumsi bahan bakar yang optimal. Kata kunci : peningkatan daya, penurunan konsumsi bahan bakar, motor diesel, proses pembakara

    PREVENTIVE MAINTENANCE SYSTEM DENGAN MODULARITY DESIGN SEBAGAI SOLUSI PENURUNAN BIAYA MAINTAINANCE (Studi Kasus di Perusahaan Tepung Ikan)

    No full text
    Mofularity design has been applied in many European countries, especially in industrial assembling and manufacturing. Modularity design cause manufacture process and assembly process easier and cheaper. Many industries in Indonesia usually doing corrective maintenance or preventive maintenance. So, in this research, modularity design will be applied in preventive maintenance in fish mill Indonesian factory. In this research, corrective maintenance and preventive maintenance cost will be compared to preventive maintenance cost using modularity design. From the research, the application of preventive maintenance using modularity design reduces cost up to 35.98% from the initial condition (corrective maintenance) Abstract in Bahasa Indonesia : Modularity design telah banyak diterapkan di negara-negara Eropa terutama dalam hal perakitan dan manufaktur di bidang industri. Modularity design menyebabkan proses manufaktur dan perakitannya lebih sederhana dan murah. Perusahaan-perusahaan di Indonesia biasanya lebih banyak melakukan kegiatan corrective maintenance atau preventive mainternance. Dalam penelitian ini, modularity design dicoba diterapkan dalam kegiatan preventive maintenance di perusahaan tepung ikan di Indonesia. Pada penelitian ini dibandingkan biaya yang diperlukan untuk kegiatan corrective maintenance, preventive maintenance dan preventive maintenance dengan modularity design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan preventive maintenance dengan modularity design dapat menurunkan biaya sebesar 35,98% dari keadaan awal (corrective maintenance). Kata kunci: corrective maintenance, preventive maintenance, modularity design

    PREVENTIVE MAINTENANCE SYSTEM DENGAN MODULARITY DESIGN SEBAGAI SOLUSI PENURUNAN BIAYA MAINTAINANCE (Studi Kasus di Perusahaan Tepung Ikan)

    No full text
    Mofularity design has been applied in many European countries, especially in industrial assembling and manufacturing. Modularity design cause manufacture process and assembly process easier and cheaper. Many industries in Indonesia usually doing corrective maintenance or preventive maintenance. So, in this research, modularity design will be applied in preventive maintenance in fish mill Indonesian factory. In this research, corrective maintenance and preventive maintenance cost will be compared to preventive maintenance cost using modularity design. From the research, the application of preventive maintenance using modularity design reduces cost up to 35.98% from the initial condition (corrective maintenance) Abstract in Bahasa Indonesia : Modularity design telah banyak diterapkan di negara-negara Eropa terutama dalam hal perakitan dan manufaktur di bidang industri. Modularity design menyebabkan proses manufaktur dan perakitannya lebih sederhana dan murah. Perusahaan-perusahaan di Indonesia biasanya lebih banyak melakukan kegiatan corrective maintenance atau preventive mainternance. Dalam penelitian ini, modularity design dicoba diterapkan dalam kegiatan preventive maintenance di perusahaan tepung ikan di Indonesia. Pada penelitian ini dibandingkan biaya yang diperlukan untuk kegiatan corrective maintenance, preventive maintenance dan preventive maintenance dengan modularity design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan preventive maintenance dengan modularity design dapat menurunkan biaya sebesar 35,98% dari keadaan awal (corrective maintenance). Kata kunci: corrective maintenance, preventive maintenance, modularity design

    Peningkatan Unjuk Kerja Motor Diesel dengan Penambahan Pemanas Solar

    No full text
    The imperfect combustion process will be a problem in the development effort of diesel engine's performance. Nonhomogen air-fuel mixing process is one of the factors which cause the imperfect combustion. By heating up the diesel fuel up to a certain temperature before it goes through the high pressure injection pump will lower its density and viscosity. Therefore, when injected in the combustion chamber, it will formed smaller droplets of fuel spray which result in a more homogenious air-fuel mixture. Also by using higher temperature will make the diesel fuel easier to ignite in order to compensate the limited time which is available in high speed operating conditions. Diesel fuel heating can improve the combustion process to increase the power and decrease the fuel consumption optimally. Abstract in Bahasa Indonesia : Tidak sempurnanya proses pembakaran merupakan masalah yang akan dijumpai dalam usaha peningkatan kinerja motor diesel. Proses pencampuran udara dan bahan bakar yang kurang baik menjadi salah satu faktor penyebab ketidak sempurnaan tersebut. Dengan melakukan pemanasan terhadap solar sampai temperatur tertentu sebelum masuk ke dalam pompa tekanan tinggi akan menyebabkan penurunan density dan viskositas solar, sehingga bila diinjeksikan ke dalam ruang bakar akan membentuk butiran kabut bahan bakar yang lebih halus yang akan menyebabkan proses pencampuran bahan bakar dan udara menjadi lebih homogen. Disamping itu, dengan temperatur yang lebih tinggi akan membuat solar menjadi lebih mudah terbakar sehingga dapat mengimbangi singkatnya waktu yang tersedia untuk pembakaran pada putaran tinggi. Pemanasan solar dapat dipergunakan sebagai salah satu cara untuk menyempurnakan proses pembakaran sehingga dihasilkan peningkatan daya dan penurunan konsumsi bahan bakar yang optimal. Kata kunci : peningkatan daya, penurunan konsumsi bahan bakar, motor diesel, proses pembakara
    corecore