28 research outputs found
A noninvasive molecular approach: exploiting species-locus-specific PCR primers in defeating numts and DNA cross-contamination of cercopithecidae
The lack of a standardized, noninvasive molecular approach to studying genetic aspects of primates has made it hard for primatologists to decode the evolutionary history of these species. Researchers must optimize their own techniques to fully exploit the available samples. Lack of species-locus-specific primers also contributes to difficulties in using noninvasive genetic samples. Thus, the objectives of this study were to develop a standardized technique to collecting samples noninvasively, propose newly designed species-locus-specific primers, and optimize conditions for polymerase chain reaction (PCR) for Macaca fascicularis, M. nemestrina, Trachypithecus cristatus, and T. obscurus. Nine new species-locus-specific primers for three different loci of mitochondrial DNA, namely D-loop, cytochrome oxidase subunit I (COI), and cytochrome b, were successfully designed. These primers proved to be efficient in amplifying larger datasets (up to ~1,000 bp) of the targeted species in the optimized PCR conditions. The species-locus-specific primers are able to anneal to host DNA alone in highly contaminated feces of highlighted species. They can also offer alternatives measures in avoiding contamination related to nuclear insertion of mitochondrial pseudogenes (numts)
Pemikiran al-qâdhî ‘abd al-jabbâr tentang qiyâs
Pemikiran al-Qâdhî ‘Abd al-Jabbâr tentang Qiyâs. selain sebagai tokoh teolog rasional Muktazilah, Al-Qâdhî ‘Abd al-Jabbâr memiliki pemikiran di
bidang usul fikih seperti tertuang dalam karyanya al-Mughnî fî Abwâb al-Tawhîd
wa al-‘Adl. Dalam salah satu pembahasannya ia berbicara tentang kehujjahan qiyas
sebagai dalil syara‘. Tulisan ini berusaha mengelaborasi pandangan al-Qâdhî tentang
kehujjahan qiyas sebagai dalil hukum. Penulis menemukan bahwa ‘illat dengan
sendirinya memiliki konsekuensi hukum sekalipun tanpa adanya aturan syara‘. Pendapat ini berbeda dengan pandangan mayoritas ulama Sunni yang menyatakan
bahwa ‘illat tidak memberi implikasi hukum, kecuali ada dalil syara‘ yang menjelaskannya.
Sebagai contoh, memabukkan dalam minuman keras sebelum ada syariat pengharaman bukanlah ‘illat pengharaman khamr dan ‘illat dijatuhkannya hukum hadd kepada
peminumnya. Pemikiran al-Qâdhî ini tampaknya diwarnai oleh ajaran Muktazilah yang menjadikan akal sebagai penentu baik dan buruk serta alat bagi kewajiban
menjalankan yang kebaikan dan meninggalkan keburukan
