1,721,009 research outputs found

    Penyutradaraan Film Daniswara Dengan Pendekatan Ekspresionisme Skripsi Penciptaan

    No full text
    Mitos serta dimensi alam gaib memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di Jawa. Masyarakat Jawa memiliki tradisi Golek Pesugihan yaitu melakukan ritual-ritual yang berhubungan dengan makhluk halus, seperti pesugihan makam Ngujang yang berada di Tulungagung. Pesugihan lain yang masih banyak ditemui adalah pesugihan kalong atau kelelawar yang ada di Lumajang. Pesugihan kalong sama dengan pesugihan lain yang tidak mudah untuk melepasnya. Ketika pembuat janji pertama tutup usia, maka tahta pesugihan akan diwariskan pada anak turunnya. Pengkarya melihat kebiasaan masyarakat dalam mencapai kesuksesan menggunakan cara yang instan, membuat pengkarya mewujudkannya menjadi sebuah karya seni berupa film. Berawal dari naskah Muslimaturrosyiidah berjudul Daniswara yang menceritakan permasalahan pesugihan. Muslimaturrosyiidah ingin memberi gambaran kepada pembaca bahwa pada era modern seperti saat ini pesugihan masih digunakan banyak orang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Film Daniswara menceritakan tentang kegelisahan gangguan-gangguan mistis yang dialami tokoh Danis. Hal itu membuat Danis bimbang antara percaya kepada keluarganya, atau pesaing usaha keluarganya yang selalu bersikap baik kepada Danis. Konflik terjadi tidak hanya persoalan pesugihan melainkan persaingan dan kekeluargaan yang membuatnya harus memilih mana yang benar dan mana yang salah. Pengkarya sebagai sutradara mewujudkan karya film Daniswara menggunakan pendekatan ekspresionisme. Pendekatan ini digunakan karena genre horor merupakan genre yang merepresentasikan ketakutan, kegelisahan, dan emosi. Pengadeganan aktor dalam mendalami peran (dialek, suara, gerak tubuh, postur, dan sebagainya) dengan cara alami, sehingga penonton menerima viii dia sebagai orang yang nyata. Pengadeganan yang digunakan dalam film ini mencoba menunjukan perubahan emosi yang menekankan pada ekspresi dan gestur tubuh pemainnya. Konsep tata artistik dalam film Daniswara sesuai dengan tempat berlangsungnya peristiwa, agar terlihat lebih logis ketika muncul dalam sebuah film. Sinematografi film Daniswara memiliki visual yang tegas shot-nya. Didukung dengan penataan properti pada setting dan pengadeganan setiap aktor. Angle yang digunakan lebih pada sudut pandang tokoh Daniswara, hal tersebut dilakukan mengingat film ini memiliki sudut padang Daniswara. Desain suara dalam film Daniswara adalah diagetic sound dan non-diaetic sound dengan konsep menghadirkan suasana melalui ambient dan ilustrasi musik. Penyuntingan gambar menggunakan konsep editing continuity disusun untuk membangun waktu, ruang, dan tindakan yang sesuai dengan tuntutan cerita. Konsep penyutradaraan dengan pendekatan ekspresionisme memiliki banyak tantangan, karena harus menampilkan realitas kehidupan Daniswara ke dalam unsur pembentuk film yang nantinya dapat diterima penonton. Perencanaan praproduksi yang matang adalah kunci keberhasilan dalam kinerja kru dan pemain ketika produksi film Daniswara yang menerapkan konsep pendekatan eksprsionisme. Film Daniswara mampu menggambarkan kondisi sosial masyarakat Indonesia, khususnya fenomena pesugihan yang terjadi di masyarakat Jawa. Pengkarya beranggapan bahwa penyutradaraan dengan konsep pendekatan Ekspresionisme perlu dikembangkan dalam pengaplikasian, khususnya pada pola alur penceritaan, gaya mise en scene, dan variasi sinematografi, serta eksplorasi dalam penataan suara dan penyuntingan gambar

    Implementation of a Web-Based Waste Collection Data System Using QR Code Scanning

    Full text link
    The suboptimal management of waste collection in urban areas significantly impacts environmental quality and public health. Yogyakarta City, which generates 644.69 tons of waste annually, can only manage 583.80 tons per year. Various initiatives have been implemented to improve waste management, yet challenges persist, such as limited temporary disposal sites, irregular waste collection schedules, and the absence of an effective and efficient system to assist waste collection officers in recording and tracking waste collection for each household.This study aims to develop a web-based Waste Collection Data System using QR Code Scanning, employing the waterfall method, which consists of the following stages: requirement analysis, design, development, testing, and maintenance. The system enables waste collection officers to log waste collection activities by scanning a QR code at each household and allows residents to access information regarding waste collection status, mandatory fees, collection schedules, and waste processing. The testing results demonstrate that all features function effectively as intended. The implementation of this system is expected to enhance the efficiency of waste collection data management, improve environmental quality, and increase community satisfaction in Yogyakarta City

    Sensualitas dalam Mise En Scene Video Klip Friends lagu Anne Marie Feat Marshmello

    No full text
    Video klip merupakan salah satu media komunikasi yang efektif untuk menyampaikan sebuah pesan. Video klip adalah suatu karya audio visual dari sebuah lagu yang dihasilkan oleh grup musik, yang berfungsi sebagai cara mempromosikan atau mempopulerkan grup musik tersebut beserta lagu yang merek hasilkan. Video klip sampai saat ini masih menjadi media promosi yang kuat dan unggul. Informasi dan pesan yang terkandung dalam sebuah video klip selalu berhubungan dengan aspek kehidupan. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menganalisis sensualitas dalam sebuah video klip. Aspek sensualitas dari video klip tersebut akan dikaji menggunakan unsur – unsur mise en scene. Mise en scene merupakan segala hal yang terletak di depan kamera yang akan diambil gambarnya dalam sebuah produksi. Aspek utama Mise En Scene diantaranya Setting, kostum &make up, lighting, dan ekspresi serta gerak figur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan aspek – aspek mise en scene dalam menyajikan sensualitas pada video klip. Penelitian yang dilakukan menggunakan jenis metode penelitian kualitatif. Penelitian ini dipilih karena lebih mementingkan kualitas data bukan kuantitas data untuk memudahkan peneliti menjawab rumusan masalah dengan baik dan sesuai dengan tujuan penelitian. Objek penelitia ini adalah video klipFriends lagu Anne Marie feat Marshmello. Penelitian ini menggunakan aspek mise en scene dalam melihat sensualitas. Data – data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer berupascreenshot video klip Friends Anne Marie feat Marshmello berdurasi 03:51 detik dengan kualitas HD (High Definition). Data tersebut diunduh melalui website youtube.com pada tanggal 6 april 2018. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari buku, skripsi, video klip Friends, jurnal, dan internet yang berhubungan dengan mise en scene dan sensualitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa, video klip Friends merupakan video klip tipe Performance clip. Video klip ini termasuk tipe Performance clip hanya berfokus pada penampilan penyanyi atau grup musiknya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa dalam video klip Friends disajikan dengan cara yang berbeda. Hal tesebut dapat dianalisis melalui aspek – aspek mise en scene yang ada diantaranya setting, lighting, kostum,make up dan ekspresi serta gerak figur.Setting yang digunakan dalam video klip ini, dominan menggunakan setting berada di dalam rumah seperti kamar, ruang tamu, dapur, dan halaman rumah yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari – hari. Produksi video klip Friends ini menggunakan shot on location. Setting untuk scene ini tidak menciptakan secara virtual, tetapi menggunakan setting atau lokasi yang sesungguhnya. Penggunaan setting dalam pembuatan video klip Friends ini tergambarkan melalui kondisi setting yang dibangun, dengan konteks cerita yang dibuat Cahaya dalam video klip ini dominan menggunakan jenis cahaya low key lighting menciptakan batasan tegas antara area gelap dan terang, karakter warna cahaya dalam setiap scene yang dominan warna biru dan merah mendukung karakter yang ingin ditunjukan. Kostum dan make up yang digunakan tokoh perempuan dominan menggunakan baju yang minim dan celana pendek yang memperlihatkan bagian – bagian tubuh perempuan yang sensual. Ekspresi dan gerak figur yang ditonjolkan dalam setiap scenenya cenderung menunjukan kesan sensual, erotis, mengoda, kemolekan, dan kecantikan. Berdasarkan apa yang dilihat peneliti dari temuan pada vide

    Penggunaan Teknik Long Take Dalam Film Lingsem

    No full text
    Sinematografi memiliki banyak aspek yang membahas tentang teknik pengambilan dan penggabungan gambar sehingga menjadi rangkaian gambar untuk menyampaikan informasi. Teknik pengambilan gambar yang dimaksud adalah menyajikan informasi ke dalam bentuk visual sebagai gambaran terhadap alur yang dibawakan pada sebuah plot cerita. Hal ini menjadikan segala bentuk suasana dalam film bisa terealisasikan dengan baik melalui bentuk ruang dan waktu dalam gambar

    Pembuatan Video Klip The Arcadia band Menggunakan Penggabungan Teknik Animasi 2D dan Live Shoot

    No full text
    The Arcadia Band merupakan band beraliran rock and roll asal Kabupaten Jember yang berdiri sejak 2006, band ini berangkat dari roots dan rules Blues serta Rock n roll. Pengkarya sebagai sutradara akan menciptakan karya audio visual dalam bentuk video klip. Dalam pembuatan karya video klip ini pengkarya akan menggunakan jenis animasi digital animation atau biasa disebut dengan animasi 2 dimensi. Model animasi 2 dimensi di buat atau diedit di komputer menggunakan gambar bitmap 2D, atau dibuat dan diedit menggunakan gambar vektor 2D. Karya video klip ini diharapkan akan menjadi bentuk karya yang unik khususnya diindustri musik rock indie Indonesia dengan penerapan penggabungan teknik live shoot dan animasi 2D dan mengarahkan perhatian penonton pada visual yang menarik dengan tetap menonjolkan tampilan yang unik dan sesuai dengan cerita

    Film Sang Kiai: Representasi Sejarah Biografi K.H. Hasyim Asy’Ari Melalui Aspek Naratif

    No full text
    Skripsi membahas Film Sang Kiai merupakan sebuah film biopik produksi Rapi Films yang disutradarai oleh Rako Prijanto rilis tahun 2013 yang mengangkat kisah perjuangan ulama kharismatik Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, yaitu K.H. Hasyim Asy’ari. Film Sang Kiai menggambarkan sosok K.H. Hasyim Asy’ari yang memperjuangkan kemerdekaan melalui pendekatan agama. Kehadiran film Sang Kiai melengkapi sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia sehingga dapat merekonstruksi peristiwa sejarah, terutama perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada produksi film dokudrama biopik tidak dapat mengabaikan keberadaan fakta-fakta sejarah, terutama fakta sejarah tentang subjek atau tokoh. Pada prinsipnya, sejarah adalah merekonstruksi masa lalu, bukan membangun masa lalu untuk masa lalu (antikuarianisme). Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengkaji representasi biografi K.H. Hasyim Asy’ari pada film Sang Kiai melalui aspek naratif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan film Sang Kiai dalam merepresentasikan K.H. Hasyim Asy’ari melalui aspek naratif

    Dramatisasi Komposisi Gambar Untuk Membangun Dimensi Psikologi Dalam Film Megatruh

    No full text
    Film merupakan hasil pemikiran kreatif yang mengangkat berbagai latar belakang dalam kehidupan manusia. Kejadian mistis atau kenyataan tidak menjadi halangan pengkarya dalam mengemas ide kreatif sehingga dapat menjadi karya film yang dapat diterima penonton. Film Megatruh menceritakan bagaimana keadaan seorang anak kecil yang ditinggal Ibunya. Secara spesifik cerita dilatarbelakangi mitos tentang 40 hari setelah kematian. Mitos tersebut menceritakan bahwa seorang yang telah meninggal arwahnya akan tetap berada di tempat tinggalnya sebelum habis masa 40 harinya. Film Megatruh menceritakan keadaan psikologis seorang anak kecil sebagai tokoh utama. Pengkarya dalam tugas akhir ini mengambil mayor sebagai director of photography. Tahap penciptaan karya yaitu proses praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Pada tahap praproduksi pengkarya melakukan breakdown naskah untuk menerjemahkankan naskah menjadi bentuk gambar. Penerapan konsep sinematografi dilakukan pada proses produksi. Selanjutnya tahap pascaproduksi pengkarya mendampingi editor untuk menentukan warna pada proses color grading. Secara spesifik pengkarya menggunakan teori komposisi gambar sebagai teori utama dalam pembuatan tugas akhir tersebut. Komposisi tersebut digunakan untuk menggambarkan psikologi seorang tokoh anak kecil dalam film Megatruh. Hasil penerapan teori yang pengkarya gunakan yaitu dramatisasi pada komposisi gambar. Dramatisasi pada komposisi gambar dicapai dengan menggunakan teknik komposisi dinamis. Komposisi dinamis yang digunakan dapat menggambarkan psikologis seseorang yang sedang mengalami gangguan psikis. Pola dynamic symmetry sebagai teori pendukung dapat mewujudkan dramatisasi pada komposisi gambar

    Mise En Scene dalam Membangun Adegan Dramatik pada Film Grave Torture karya Joko Anwar

    No full text
    Film adalah suatu seni audio visual yang di dalamnya memuat suatu cerita, peristiwa, musik, komedi, dan sajian teknis lainnya. Film dapat diklasifikasikan berdasarkan genre. Salah satu genre film yang populer adalah genre horor. Film horor memiliki tujuan utama memberikan efek rasa takut, kejutan, serta teror bagi penonton. Pada tahun 2012, kanal Youtube YOMYOMF mengunggah film pendek Grave Torture yang disutradarai oleh Joko Anwar. Film Grave Torture mengangkat mitos siksa kubur, yaitu konsep tentang setiap orang jahat akan merasakan siksa kubur setelah mati. Ditinjau dari berbagai komentar di bawah postingan film, sebagian besar penonton film Grave Torture mengaku merasakan efek horor, menegangkan dan juga sedih dari film tersebut. Penonton dapat terpengaruh secara emosi dan merasa terlibat dalam cerita merupakan hasil dari adanya unsur dramatik dalam film. Unsur dramatik dalam film terbentuk tidak hanya melalui aspek naratif saja tetapi juga aspek sinematik, khususnya mise en scene. Berdasarkan paparan di atas, maka penelitian ini dilakukan guna mengetahui bagaimana mise en scene membangun adegan dramatik pada film Grave Torture karya Joko Anwar. Penelitian ini menggunakan teori unsur dramatik, mise en scene dan sinematografi. Unsur dramatik yakni konflik, suspense, curiosity, dan surprise digunakan untuk mengetahui adegan dramatik yang ada di dalam film Grave Torture. Unsur mise en scene seperti setting, kostum dan tata rias karakter, pencahayaan, dan pemain serta pergerakannya digunakan untuk menganalisis aspek-aspek visual dalam membangun adegan dramatik pada film Grave Torture. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Teknik analisis data dalam viii penelitian ini menggunakan teknik analisis interaktif yang terdiri atas reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat 5 adegan dramatik di dalam film Grave Torture. Unsur-unsur mise en scene seperti setting, kostum dan tata rias, pencahayaan, serta pemain dan pergerakannya turut membangun adegan dramatik pada film Grave Torture. Setting memberikan efek dramatik dengan menghadirkan properti lilin, korek api gas, foto kebersamaan tokoh anak dan ayahnya, dan juga suasana setting yang dibuat cenderung gelap. Kostum dan tata rias membantu memberikan identitas dan informasi cerita, terutama pada penggunaan warna dan jenis kostum. Pencahayaan penting dalam menciptakan efek dramatik, terutama pada penggunaan low key lighting, cahaya samping, cahaya depan, warna cahaya yang dominan kuning, dan unsur bayangan yang digunakan untuk menunjukkan pergerakan tokoh anak. Akting dan pergerakan juga membantu memberikan efek dramatik, khususnya pada ekspresi sedih dan ketakutan yang ditunjukkan tokoh anak. Mise en scene juga didukung oleh sinematografi dalam menambah kesan dramatik, khususnya pada penggunaan Dutch Angle Shot, shot subjektif dan POV

    Penyutradaraan Film Rawuh (Penerapan Central Character One Point of View Pada Karakter Tokoh Jumarno)

    Full text link
    Indonesia adalah salah satu negara yang memperlihatkan adanya fenomena migrasi internasional yakni menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), namun sayangnya masih banyak TKI memilih menjadi tenaga kerja non-prosedural atau ilegal. Alasan atas keputusan tersebut antara lain; masih kurangnya pemahaman masyarakat tentang prosedur penempatan dan perlindungan TKI, terbatasnya akses informasi pasar kerja dalam dan luar negeri, maraknya praktek percaloan, masih kurangnya perhatiaan dari pemerintah sebagai pelaku dan pelaksana regulasi TKI, dan praktek migrasi jalur „tikus. Akibatnya terjadi pemulangan TKI (Deportasi), kekerasan oleh majikan, gaji tidak dibayar, hingga perdagangan orang (human trafficking). Pengkarya akhirnya mengemas fenomena tersebut ke dalam film fiksi melalui sudut pandang orang tua yang ditinggalkan dirumah, yakni konsep penyutradaraan Central Character One Point of View. Central character one point of view adalah sebuah konsep penempatan sudut pandang film dari satu karakter tokoh utama, yang menyajikan sudut pandang film dari tokoh utama melalui segala interaksi karakternya. Mengeksplorasi hubungan karakter utama dengan pemikiran, perasaan, tindakan, dan lingkungan sosialnya. Pengkarya mengaplikasikan konsep ini dengan mengkontruksi unsur naratif dan unsur sinematik dalam film sehingga mengacu terhadap sudut pandang Jumarno. Unsur naratif dalam cerita film Rawuh pengkarya kontruksi dengan konsep sudut pandang karakter utama tunggal yakni Jumarno yang mengalami berbagai masalah dalam naskah. Pola penceritaan dalam film ini adalah linear dengan lokasi Jember bagian selatan yang mayoritas berbahasa Jawa dan latar waktu dalam cerita film pada bulan Ramadhan 2018. Unsur sinematik meliputi mise en scene, sinematografi, suara, dan editing. Pengkarya mengarahkan suasana atau mood film Rawuh adalah sociability dan obsessive. Konsep mise en scene meliputi Setting atau latar, dalam cerita film Rawuh menggunakan lingkungan keluarga desa dan menggunakan setting sesuai pekerjaan Jumarno, lalu tata cahaya menggunakan cahaya natural sesuai mood yang dibangun oleh karakter, selanjutnya tata rias dan tata busana menggunakan identitas kehidupan desa dan karakterial tokoh Jumarno sebagai makelar sapi, lalu pengadeganan menggunakan pendekatan performa naturalistik

    Visualisasi Transeksual Tokoh Einar Wegener dalam Film The Danish Girl

    No full text
    Film kini makin beragam dan memiliki berbagai genre. Genre yang paling umum di antaranya adalah drama, genre drama mampu berkombinasi dengan genre apapun, contohnya biografi. Film biografi adalah film yang menceritakan kisah nyata hidup sesorang yang berpengaruh untuk masa lalu dan masa kini. Film The Danish Girl yang disutradarai oleh tom Hooper merupakan film biografi yang telah memenangkan berbagai penghargaan. Meskipun film ini juga menuai kontroversi yang mana ketika film ini rilis, dunia sedang marak dengan permasalahan LGBT (Lesbian, gay, biseksual, dan transgender). Cerita The Danish Girl terinspirasi dari tokoh nyata pelopor transgender dunia bernama Einar Wegener. Ia adalah seorang pelukis pemandangan di Denmark. Ia memiliki istri bernama Gerda, yang juga seorang pelukis. Einar yang semula tampak memiliki orientasi seks heteroseksual, namun di tengah perjalanan rumah tangganya, ia mengalami perubahan orientasi seks menjadi homoseksual, dan melakukan pengubahan kelamin dengan jalur operasi. Penelitian ini menggunakan tokoh Einar sebagai objek penelitian. Kajian psikoanalisis dalam penelitian digunakan untuk meneliti karakter Einar dari segi psikologi, dan aspek mise-en-scene untuk menganalisis aspek visual perubahan Einar. Kajian psikoanalisis Sigmund Freud dan tahap cermin Jacques Lacan peneliti gunakan dalam mengkaji dari sisi perubahan psikologis Einar. Peneliti menggabungkan psikoanalisis Sigmund Freud (id, ego, dan superego) dan (Fase Imajiner / tahap cermin) Jacques Lacan untuk mengetahui bagaimana perubahan psikologi Einar, dan apa mempengaruhi perilaku dan orientasi seksualnya, sehingga ia terobsesi untuk mengubah identitas gendernya menjadi wanita. Tokoh Einar dalam film The Danish Girl cukup unik, karena menggambarkan dua peran, yaitu sebagai Einar dan Lili. Keduanya memiliki karakter dan penampilan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana aspek mise-en-scene menggambarkan transformasi Einar menjadi Lili. Aspek mise-en-scene yaitu setting, tata cahaya, tata rias dan kostum, serta pergerakan pemain digunakan untuk menganalisis aspek visual yang menggambarkan tahap-tahap perubahan Einar menjadi Lili, setelah dianalisis menggunakan psikoanalisis Sigmund Freud dan tahap cermin Jacques Lacan. Maka dapat diketahui dengan lebih detail tidak hanya dari aspek visual, namun peneliti memasukkan aspek psikologi untuk memperkuat hasil penelitian
    corecore