2 research outputs found

    PROBLEMATIKA SYARAT-SYARAT HADIS MU’AN’AN DALAM PRESPEKTIF KITAB IJMĀ’ AL-MUHADDIṠĪN

    Get PDF
    Para ulama memiliki perhatian besar terhadap hadis mu’an’an karena sifatnya yang berpotensi mengandung tadlis, yaitu kemungkinan adanya perawi yang menyembunyikan kelemahan sanadnya dengan tidak menyebutkan secara eksplisit perawi di antara mereka. Permasalahan dalam hadis mu’an’an muncul karena terdapat kemungkinan adanya keterputusan atau keambiguan dalam rantai perawi. Dalam penentuan syarat-syaratnya para ulama memperdebatkan syarat yang lebih unggul diantara para imam hadis. Hingga terindikasi ada salah satu syarat yang dinisbatkan secara sengaja kepada salah satu imam supaya lebih unggul dengan imam lainnya. Penelitian ini berfokus pada problematika yang terjadi dalam syarat-syarat hadis mu’an’an berdasarkan prespektif kitab Ijmā’ al-Muḥaddiṡīn ‘Alā ‘Adami Isytirāṭi al-‘Ilmi bi as-Samā’i fī al-Ḥadiṭi al- Mu’an’ani Bayna al-Muta’āṣirīn. Rumusan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah; Pertama, bagaimana sistematika kitab Ijmā’ Al-Muhaddiṡīn?; Kedua, bagaimana definisi dan problematika hadis mu’an’an?; Ketiga, bagaimana diskursus syarat-syarat hadis mu’an’an dalam kitab Ijmā’ Al-Muhaddiṡīn?. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistematika kitab Ijmā’ Al-Muhaddiṡīn, kemudian mengetahui definisi dan problematika yang terjadi dalam syarat hadis mu’an’an, serta mengetahui diskursus syarat-syarat hadis mu’an’an dalam kitab Ijmā’ Al-Muhaddiṡīn. Metode yang digunakan kualitatif dengan teknik pengumpulan data kepustakaan (library research) serta menggunakan teori pendekatan analitis-deskriptif untuk menguraikan setiap data yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukan bahwa: Pertama, isi dari kitab Ijmā’ Al-Muhaddiṡīn lebih mendukung pendapat yang dikutip oleh Imam Muslim daripada Imam Bukhari; Kedua, dalam kitab ini tertuliskan bahwa Imam Bukhari tidak pernah mengatakan secara eksplisit mengenai syarat hadis mu’an’an; Ketiga, Syekh Syarif Hatim al-Auni menegaskan bahwa orang yang pertama menisbahkan syarat hadis mu’an’an kepada Imam Bukhari setelah Imam Muslim menegaskan bahwa syarat tersebut bid’ah adalah al-Qadhi Iyadh

    AKTUALISASI MODERASI KEBERAGAMAAN DALAM MEMPERKUAT INTEGRASI SOSIAL PRESPEKTIF KH. AHMAD ASRORI AL-ISHAQI

    Get PDF
    Problematika antar umat Islam semakin lama tidak hanya menyangkut aspek teologis saja, tetapi sudah menyebar berbagai aspek kehidupan, hingga aspek politik. tercatat bahwa Islam sudah terpecah menjadi beberapa golongan yang dilatarbelakangi politik. Serta adanya perbedaan tersebut berimplikasi terhadap kehidupan sosial bermasyarakat, di mana masyarakat sering mencaci-maki kelompok masyarakat yang lain dan menganggap kelompok yang tidak sesuai dengan ajaran dari kelompok yang lebih dominan akan dianggap sesat. Penulisan artikel ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan metode library research dengan pendekatan analisis wacana kritis ala Van Dijk. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa kerukunan umat dapat dibangun melalui konsep kesetaraan kedudukan antar umat dan kedamaian, dimana dalam nilai-nilainya mengandung arti: Pertama, pentingnya menjadi sosok pemuka agama memiliki sifat tawadhu (rendah hati). Kedua, perlunya sebagai sosok pemuka agama dalam mengajarkan bagaimana ajaran agama secara damai serta moderat sehingga mudah diterima oleh segala kalangan. Ketiga, Hak sosial tanpa membedakan satu sama lain atas strata sosial, sehingga kedamaian tercipta dan duduk bersama dalam satu tujuan, tanpa adanya sebuah sikap eksklusivisme. Penelitian ini diharapkan mampu menjawab problematika keutuhan umat serta mampu memberikan kontribusi terhadap pemahaman cara bermasyarakat moderat
    corecore