2 research outputs found
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Generasi Z Dalam Penggunaan MyBCA Menggunakan TAM
Perkembangan teknologi informasi telah mendorong transformasi layanan perbankan dari konvensional ke digital. Generasi Z, sebagai generasi yang tumbuh terbiasa menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari menjadi target utama layanan ini. Dikarenakan, adopsi aplikasi mobile banking seperti MyBCA relatif tinggi. Dalam penelitian ini dilakukan analisa penyebab yang memengaruhi adopsi MyBCA oleh Generasi Z di Indonesia menggunakan Technology Acceptance Model (TAM). Data diperoleh dari responden melalui teknik purposive sampling dan dianalisis menggunakan SEM. Berdasarkan data karakteristik responden, diketahui bahwa mayoritas peserta penelitian merupakan mahasiswa (61%) yang tergolong dalam kategori usia Generasi Z. Sebagian besar dari mereka tercatat menggunakan aplikasi MyBCA secara rutin, yaitu sebanyak 1–2 kali per minggu (64,3%). Variabel Perceived Ease of Use, Perceived Credibility, dan Normative Pressure tidak memengaruhi secara signifikan terhadap Attitude Toward Use. Attitude Toward Use tidak memengaruhi Adoption Intention secara signifikan. Temuan ini memberikan masukan bagi pengembangan strategi peningkatan adopsi mobile banking di kalangan Generasi Z
Perancangan Aplikasi Kegawatdaruratan Terintegrasi "Sigap 24/7" dengan Pendekatan User Centered Design
Tingginya tingkat kegawatdaruratan di Indonesia, dengan rata-rata 2.500 bencana alam dan 18.000 kasus kecelakaan lalu lintas per tahun (BNPB, 2023), menuntut sistem penanganan yang responsif. Penelitian ini mengembangkan "Sigap 24/7", aplikasi kegawatdaruratan berbasis Android yang diuji coba pada 150 pengguna dengan pendekatan User-Centered Design (UCD). Hasil pengujian menunjukkan peningkatan efisiensi respon darurat sebesar 65% dibanding sistem konvensional, dengan waktu rata-rata pelaporan berkurang dari 4,2 menit menjadi 1,5 menit. Aplikasi ini menawarkan dua mode pelaporan: (1) layanan SOS dengan akurasi GPS 98,7% dalam radius 50 meter, dan (2) layanan Non-SOS yang meningkatkan kelengkapan data insiden sebesar 80% melalui formulir terstruktur. Uji coba multi-instansi melibatkan 5 lembaga darurat menunjukkan peningkatan koordinasi sebesar 72% dalam simulasi penanganan bencana. Evaluasi SUS (System Usability Scale) menghasilkan skor 86,4/100, menunjukkan tingkat penerimaan pengguna yang sangat baik. Solusi ini berpotensi mengurangi waktu respon darurat hingga 40% sekaligus meningkatkan akurasi data insiden untuk penanganan yang lebih tepat
