239 research outputs found
Dziki w mieście: analiza potocznych debat online
Artykuł przedstawia analizę dyskusji internetowych o obecności dzików w mieście w szerszym kontekście wiedzy o tym gatunku i relacjach ludzi z dziką przyrodą. Przedmiotem analizy były komentarze zamieszczone pod filmami przedstawiającymi dziki w przestrzeni Trójmiasta, nagranymi i opublikowanymi przez mieszkańców. W wyniku analizy stwierdzono, że ekspresja i przypisywanie innym określonych tożsamości światopoglądowych zdawały się być ważniejsze niż szukanie rozwiązań w przedmiocie sporu i przyczyniały się do utrwalania podziałów między osobami, które miały inny obraz sytuacji. Najbardziej problematyczna była tendencja zawężenia debaty do kwestii odstrzału zwierząt oraz silne akcentowanie strachu i zagrożeń. Powodowało to, że trudniej było osobom dyskutującym dostrzec podobieństwa stanowisk w kwestiach, co do których panowała zgoda i zniechęcało do wyrażania stanowisk umiarkowanych lub ambiwalentnych. Tymczasem w obszarze podobnych i podzielanych doświadczeń leżał niewykorzystany, ze względu na infrastrukturę komunikacji, potencjał współpracy w rozwiązywaniu problemów z dzikami
Cyprian Bazylik as the Author of <i>Proteus</i>
The anonymous poem Proteus was published in 1564 as the first literary response to Jan Kochanowski’s Satyr albo Dziki mąż (Satyr, or the Wild Man). In this article, authorship of Proteus is attributed on the basis of literary network analysis, the confessional sympathies that are present in the text (the influences of anti-trinitarianism), and the connections to the court of Mikołaj Radziwiłł the Black. The author of Proteus is Cyprian Bazylik, a poet, musician, printer, and translator who in the 1560s was associated with Radziwiłł’s court and was a follower of anti-trinitarianism
Alcohol-intoxicated patients at admission room -analysis of legal aspects of rendered medical services
Zajdel J, Zajdel R, Dziki A, Wallner G. Alcohol-intoxicated patients at admission room -analysis of legal aspects of rendered medical services. Ann Agric Environ Med. 2012; 19(4): 701-706. Abstract Current legal regulations do not explicitly state whether the doctor should or should not ignore the patient's refusal to be provided with medical services when such refusal is given by the patients who is temporarily unable to take conscious decisions. The fact that there is no clear jurisdiction over the issue makes the relation between doctor and patient legally complicated. The doctor has no doubts whether he/she should or should not initiate the medical procedure when the patient clearly expresses the declaration of will, in which either refusal or consent is given to be provided with medical care. However, the patient remaining under the in uence of alcohol, i.e. a substance which to some or great extent impairs cognitive functions, rational thinking, and the ability to evaluate incoming information. Alcohol makes the patient unable to interpret the information given by the doctor. Thus, the patient's consent or refusal to be provided with medical care is lacking in the needed elements of "informing" and "conscious declaration of will", which are considered by doctors and lawyers to be absolutely necessary to make such will valid. There are no clear, unambiguous regulations explaining how the doctor should behave in such cases. The authors of the presented study state that it is highly important to determine whether the intoxicated patient is able to understand the incoming information, evaluate it, make a conscious decision and nally, express an explicit (and therefore binding) refusal to accept recommended medical services. In the opinion of the authors, while dealing with such patients, the doctor should bear in mind the patient's right to make autonomous decisions, but that it is also the doctor's duty to provide the patient with medical services
FENOMENA TABARRUJ DALAM KELUARGA MUSLIM MENURUT PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (Studi Kasus di Desa Jatirejo Kecamatan Nganjuk Kabupaten Nganjuk)
Ahmad Dziki Rijaludin K, 12102183140, Fenomena Tabarruj Dalam Keluarga
Muslim Menurut Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus di Desa
Jatirejo Kecamatan Nganjuk Kabupaten Nganjuk), Program Studi
Hukum Keluarga Islam, Jurusan Syariah, Fakultas Syariah dan Ilmu
Hukum, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah 2022,
Pembimbing Ladin, S.H.I. M.H
Kata Kunci: Fenomena Tabarruj, Keluarga Muslim, Hukum Islam
Banyak dari kalangan wanita khususnya para istri yang suka berhias diri
apalagi dengan wajah glow up yang menjadi trend saat ini, dalam islam juga
mengatakan bahwa jika sang suami tidak mengizinkan maka sang istri harus menurut
perintahnya. Hal ini berbeda dengan fakta pada masa sekarang yang terjadi
dikalangan masyarakat dan hal ini tidak banyak juga yang melatarbelakangi
pertengkaran atau perdebatan dalam hubungan keluarga. Berdasarkan fitrahnya
wanita memang suka berhias, islam pun membolehkan wanita untuk merias diri,
selama itu tidak akan membangkitkan nafsu syahwat atau menarik perhatian kaum
adam yang bukan mahramnya.
Rumusan dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana faktor yang melatar
belakangi terjadinya fenomena tabarruj dalam keluarga muslim di Desa Jatirejo
Kecamatan Nganjuk Kabupaten Nganjuk?, 2) Bagaimana pandangan masyarakat
terhadap fenomena tabarruj dalam keluarga muslim di Desa Jatirejo Kecamatan
Nganjuk Kabupaten Nganjuk?, 3) Bagaimana dampak tabarruj menurut perspektif
hukum islam?
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Teknik
pengumpulan data berupa Observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis
data yang digunakan data Collecting, data editing, data verifikasi, dan data reducting.
Teknik keabsahan data digunkan dalam penelitian ini adalah Trianggulasi yang
menggabungkan dari dua teknik pengumpulan data dan dari sumber yang telah ada.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Fenomena tabarruj dalam
keluarga muslim terjadi karena beberapa factor. Bisa dari teman, ilmu pengetahuan,
latar belakang pendidikan agama, budaya, media sosial dan lingkungan setempat.
Dengan demikian dapat disimpulkan faktor yang menyebabkan terjadinya fenomena
tabarruj dalam keluarga muslim yaitu latar belakang pendidikan agama (minimnya
keimanan) serta media sosial karena hal ini cepat dan mudah sekali untuk diakses
untuk segala kalangan. 2) Pandangan masyarakat tentang fenomena tabarruj dalam
keluarga muslim tidak semuanya ditolak, dikarenakan dalam keluarga para suami
juga butuh dimanja oleh istri yang salah satunya dengan cara berdandan. Selain ituxvii
tabarruj merupakan perilaku yang wajar selama dalam keluarga tentunya selagi para
suami memberi izin kepada istri dan juga tidak berlebihan. 3) Dampak fenomena
tabarruj dalam keluarga muslim dibagi menjadi dua yaitu positif dan negatif,
positifnya tabarruj menjadikan istri tampil menawan didepan suami sehingga
menjadikan keluarga semakin harmonis dan tabarruj dapat mencegah para suami
untuk melirik wanita lain selain itu tabarruj juga dapat menambah kepercayaan diri
ketika tampil didepan umum selagi tidak berlebihan. Negatifnya tabarruj jika terlalu
berlebihan dapat menjadikan kerenggangan dalam rumah tangga dan dapat
menimbulkan pertengkaran antara suami dan istri, selain itu juga dapat menimbulkan
suatu kesempatan bagi orang lain untuk bertindak kejahatan
- …
