1,721,031 research outputs found
PENGARUH KONSUMSI KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) TERHADAP DAYA TAHAN OTOT DIUKUR DENGAN ONE MINUTE SIT UP TEST
Minum kopi sudah menjadi kebiasaan sehari-hari bagi banyak orang, bahkan di beberapa negara minum kopi sudah menjadi tradisi. Lebih dari 400 miliar cangkir kopi dikonsumsi setiap tahun dan masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan meminum kopi satu sampai dua cangkir setiap harinya. Jika dulu kopi rata-rata digemari orang tua, kini peminum kopi terbanyak ialah orang berusia 18-39 tahun. Olahraga merupakan suatu kebutuhan bagi manusia. Salah satu komponen yang diperhatikan dalam olahraga adalah performa otot yang terdiri dari kekuatan otot dan ketahanan otot. Ketahanan otot adalah kemampuan kerja otot atau sekelompok otot dalam jangka waktu tertentu. Salah satu pengukuran daya tahan otot yang dapat dilakukan adalah sit up. Tes sit up ini khususnya untuk mengukur daya tahan otot pada otot perut. Akhir-akhir ini dalam dunia latihan kebugaran, para olahragawan sering mengonsumsi kopi untuk meningkatkan performa latihan dan menghambat terjadinya kelelahan. Di dunia perdagangan dikenal beberapa golongan kopi, tetapi yang paling sering dibudidayakan hanya kopi arabika, robusta, dan liberika. Diantara ketiga kopi tersebut, kopi robusta memiliki nilai kafein tertinggi.
Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh konsumsi kopi robusta (Coffea canephora) terhadap daya tahan otot yang diukur dengan one minute sit up test. Hasil penelitian diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan individu dan masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsi kopi dengan kadar kafein tertentu dan meminimalkan dampak negatif yang timbul.
Jenis penelitian ini adalah uji klinis (clinical trial) yaitu penelitian dengan rancangan eksperimental terhadap manusia untuk membandingkan efek akibat intervensi antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Desain penelitian yang digunakan adalah uji klinis rancangan silang (cross over design clinical trial). Penelitian ini dilakukan kepada mahasiswa Universitas Jember. Besar sampel dari penelitian ini adalah 30 mahasiswa yang dibagi menjadi dua kelompok secara acak dengan metode pengundian. Masing-masing kelompok terdiri dari 15 orang. Kelompok pertama adalah kelompok kontrol yang diberi plasebo yaitu diberi 20 ml perisa kopi moka dan 130 ml air, sedangkan kelompok kedua adalah kelompok perlakuan yang diberi 4 gram kopi robusta dan 150 ml air. Setelah periode washing out selama satu minggu, kedua kelompok saling bertukar peran kelompok kontrol akan menjadi kelompok perlakuan dan sebaliknya.
Hasil dari penelitian ini berdasarkan T-test yang dilakukan terhadap nilai rata-rata repetisi one minute sit up test setelah dilakukan pengukuran pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan diperoleh nilai p < 0,05, yaitu 0,000. Pada perbandingan tersebut artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata repetisi one minute sit up test kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Hal ini karena kafein yang terkandung dalam kopi robusta meningkatkan cyclic 3’5’ Adenosine Monophosphate (c-AMP) dengan menghambat phospodiesterase di otot dan sel lemak. c-AMP dikenal efektif dalam mengontrol metabolisme glikogen dan lipolisis perifer. Kafein menghambat aktivitas cyclic nucleotide phosphodiesterase yaitu enzim yang membantu pemecahan c-AMP. Hal ini menyebabkan peningkatan lipolisis dengan meningkatkan kadar c-AMP sehingga terjadi peningkatan asam lemak selama latihan dan menyebabkan efek penghematan glikogen pada latihan daya tahan otot jangka panjang
PEMBERIAN DARK CHOCOLATE BAR PER ORAL TERHADAP KADAR PUNCAK (Cmax), WAKTU PUNCAK (Tmax), WAKTU PARUH (t½) DAN BERSIHAN TEOBROMIN PADA SUKARELAWAN SEHAT
Cokelat merupakan salah satu olahan yang dapat berbentuk sebagai makanan dan juga minuman. Kreasi pengolahan biji kakao tersebut terus dikembangkan, begitu pula terhadap perkembangan pengolahan cokelat. Kini, cokelat yang dipasarkan dapat ditemukan dengan berbagai bentuk, campuran dan tingkat kemanisan. Masing-masing dari produk olahan memiliki komposisi yang berbeda-beda. Diantara keempat olahan produk tersebut yang memiliki kadar kakao tertinggi adalah dark chocolate.
Dark chocolate mengandung antioksidan (flavonoid dan polifenol) dan vitamin (terutama vitamin E). Dark chocolate juga kaya akan mineral seperti kalsium, kalium, zat besi dan terutama magnesium alami. Selain itu dark chocolate juga mengandung dua derivat metilsantin yaitu kafein (1,3,7-trimetilsantin) dan teobromin (3,7 dimetilsantin), akan tetapi pada dark chocolate kandungan teobromin lebih banyak jika dibandingkan dengan kandungan kafein. Teobromin dalam tubuh dapat memberikan beberapa efek bagi kesehatan. Kadar teobromin dalam plasma ditentukan oleh faktor-faktor farmakokinetik. Parameter farmakokinetik meliputi kadar puncak (Cmax), waktu puncak (Tmax), waktu paruh (t½) dan bersihan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang pemberian dark chocolate bar terhadap farmakokinetik teobromin pada sukarelawan sehat. Parameter farmakokinetik yang diteliti adalah kadar puncak (Cmax), waktu puncak (Tmax), waktu paruh (t½) dan bersihan. Hasil penelitian diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan individu, masyarakat ataupun institusi sebagai salah satu cara implementasi suatu zat atau obat. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel plasma pada sukarelawan sehat. Pengambilan sampel dilaksanakan di Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Dark chocolate bar yang digunakan adalah cokelat dengan netto 60 gram yang diproduksi oleh Pusat Penelitian Biji Kopi dan Kakao Jember. Alat yang digunakan untuk memperoleh data penelitian ini adalah Informed Consent, High Performance Liquid Chromatography (HPLC) dan sampel plasma sukarelawan sehat.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Experimental Design dengan bentuk Time-Series Design. Setelah data terkumpul, dilanjutkan dengan membuat kurva kadar teobromin per satuan waktu. Kemudian menghitung nilai kadar puncak (Cmax), waktu puncak (Tmax), waktu paruh (t1/2) dan bersihan teobromin.
Hasil penelitian yang telah didapatkan menunjukkan nilai parameter farmakokinetik dari teobromin. Waktu puncak (Tmax) teobromin pada plasma adalah pada jam ke 2,501. Pada waktu puncak tersebut maka didapatkan pula kadar puncak (Cmax) teobromin dalam plasma. Hasil penelitian ini menunjukkan kadar puncak teobromin dalam plasma adalah 4,714 mg/L. Waktu paruh (t1/2) yang didapatkan adalah 4,880 jam. Hasil dari perhitungan bersihan sesuai dengan data analisis adalah 14,2 ml/kg/jam. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan parameter farmakokinetik teobromin dalam plasma setelah mengkonsumsi dark chocolate bar per oral. Dengan mengetahui profil atau parameter farmakokinetik teobromin di dalam plasma akan diperoleh banyak informasi yang bermanfaat terutama untuk terapi penyakit tertentu, menentukan drug of choice dan menagemen pemberian terap
Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Meniran (Phyllanthus Niruri L.) Terhadap Kematian Larva Nyamuk Aedes Aegypti
Demam berdarah dengue (DBD) adalah salah satu penyakit yang di terapi
secara suportif dan ditunjukkan dengan empat manifestasi klinis utama yaitu
demam tinggi, manifestasi perdarahan, hepatomegali, dan tanda-tanda kegagalan
sirkulasi darah. Demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue
yang ditularkan oleh nyamuk betina Aedes aegypti dan Indonesia dilaporkan
sebagai negara ke-2 dengan kasus DBD terbesar diantara 30 negara wilayah
endemis. Pengendalian penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih
bergantung pada pemberantasan vektor sehingga bubuk larvasida sebagai salah
satu cara pengendali vektor virus dengue. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh ekstrak etanol daun meniran (Phyllanthus niruri L) terhadap
kematian nyamuk Aedes aegypti.
Jenis penelitian ini adalah metode quasi experimental dengan rancangan
penelitian post test only controlled group design. Sampel dibagi dalam 7
kelompok yaitu, 1 kontrol positif (Temephos), 1 kontrol negatif (air ledeng), dan 5
kelompok perlakuan (ekstrak 0,0625%, 0,125%, 0,25%, 0,5%, dan 1%) yang
masing-masing kelompok diulang sebanyak 4 kali. Jumlah sampel larva Aedes
aegypti pada masing-masing kelompok adalah 20 ekor. Setelah 24 jam perlakuan,
dilakukan observasi jumlah kematian larva Aedes aegypti. Kemudian dilakukan
analisis data dengan uji normalitas Shapiro-wilk, uji regresi dan uji probit.
Hasil penelitian didapatkan pada kelompok dengan pemberian ekstrak
daun meniran, didapatkan hasil jumlah kematian larva mencapai 100% pada
kelompok dengan konsentrasi 0,5% dan 1%. Uji Shapiro-Wilk diperoleh hasil p
(probabilitas) pada P1, P2, dan P3, lebih dari 0,05 sedangkan p pada P4 dan P5
tidak keluar karena memiliki hasil yang konstan atau sama. Hasil dari uji probit
didapatkan nilai LC50 sebesar 0,174% dengan interval kepercayaan 95% (0,155–
0,195) dan uji regresi linear untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun meniran
terhadap kematian larva Ae. aegypti diperoleh R2=0,652 yang berarti pengaruh
ekstrak daun meniran terhadap jumlah kematian larva Ae. aegypti sebesar 65,2%.
Dari uji regresi linear, didapatkan persamaan y=12,95+4,38x. Kesimpulan dari
penelitian ini adalah ekstrak etanol daun meniran (P. niruri L.) memiliki aktivitas
larvasida terhadap larva Ae. aegypti instar III yang berbanding lurus dengan
konsentrasi dan mempunyai nilai LC50 0,174% dengan interval kepercayaan 95%
(0,155-0,195)
UJI BIOAVAILABILITAS DAN VOLUME DISTRIBUSI TEOBROMIN SETELAH PEMBERIAN DARK CHOCOLATE BAR PER ORAL PADA SUKARELAWAN SEHAT
Metilxantin, yang terdiri dari kafein, teobromin, dan teofilin, merupakan
salah satu dari tiga senyawa terbanyak yang terkandung dalam cokelat, dengan
jumlah yang tertinggi adalah teobromin. Teobromin merupakan zat aktif yang
memiliki sifat lebih lemah daripada kafein, berefek diuretik yang lemah, relaksan otot
polos bronkus, dan stimulan yang lemah pada sistem saraf pusat. Efek teobromin
bergantung pada besarnya dosis. Telah diketahui bahwa semakin tinggi dosis
teobromin maka menimbulkan efek negatif pada sistem saraf pusat, seperti disforia.
Hingga saat ini, masyarakat mengonsumsi cokelat sacara luas, bebas, dan tanpa
aturan tertentu. Fenomena tersebut menjadi tujuan dari penelitian ini, yaitu
mengetahui bioavailabilitas dan volume distribusi teobromin setelah konsumsi dark
chocolate bar per oral, pada akhirnya dapat menentukan keamanan cokelat yang
dikonsumsi.
Jenis penelitian ini adalah Pre-Experimental Design dengan bentuk One-
Shot Case Study.Penelitian ini menggunakan tiga sukarelawan sehat yang
mengonsumsi dark chocolate bar dengan berat 70 gram. Masing-masing sukarelawan
diambil darahnya sebanyak enam kali dengan cara pungsi vena pada vena mediana
cubiti, pertama pada jam ke-0 sebelum sukarelawan mengonsumsi dark chocolate.
Selanjutnya dilakukan pengambilan pada jam ke-11/2, 3, 6, 10, dan 24 setelah dark
chocolate habis dikonsumsi oleh sukarelawan. Darah disimpan dalam heparin tube,
kemudian dilakukan sentrifugasi sehingga didapatkan plasma. Plasma yang didapat dilakukan preparasi terlebih dahulu sebelum diinjeksikan ke dalam instrumen High
Performance Liquid Chromatography (HPLC).
Hasil dari penelitian ini didapatkan rata-rata konsentrasi teobromin pada jam
ke-0, 11/2, 3, 6, 10, dan 24 berturut-turut adalah 0,271; 4,009; 4,497; 3,556; 2,675;
0,955 dalam mg/L. Kadar teobromin dalam dark chocolate bar yang digunakan
dalam penelitian ini adalah 301,379 mg/70 gram. Bioavailabilitas dan volume
distribusi teobromin yang didapatkan adalah 0,69 dan 0,566 L/kg. Sehingga
pemberian satu batang dark chocolate bar yang digunakan dalam penelitian ini masih
dalam batas aman untuk dikonsumsi
Uji Toksisitas Akut Oral Ekstrak Etanol Daun Kemangi (Ocimum sanctum) dengan Parameter Nilai LD50 dan Histopatologi Hati
Kemangi termasuk tanaman obat dan memiliki banyak kandungan antioksidan dan fitonutrien. Meskipun ekstrak daun kemangi telah terbukti banyak manfaat, pada dosis tertentu suatu senyawa tetap dapat menyebabkan toksisitas dalam tubuh. Uji toksisitas dilakukan untuk mengetahui berapa dosis atau konsentrasi suatu senyawa yang dapat menyebabkan efek toksik dalam tubuh. Efek toksik dapat dilihat dengan nilai LD50 dan secara mikroskopik pada organ hati yang merupakan tempat pertama metabolisme senyawa asing seperti obat yang masuk dalam tubuh. Sampai saat ini belum terdapat uji toksisitas akut oral pada ekstrak etanol 70% daun kemangi (Ocimum sanctum) pada mencit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toksisitas akut oral ekstrak etanol daun kemangi dengan parameter nilai LD50 dan gambaran histopatologi hati mencit.
Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experimental dengan rancangan penelitian post test non-equivalent control group design. Uji toksisitas akut oral dilakukan dengan metode OECD 420 (fix dose procedure). Dosis ekstrak etanol daun kemangi merupakan tingkatan fix dose: 5, 50, 300 dan 2000 mg/kgBB yang dapat diturunkan atau dinaikkan sesuai kematian dan tanda toksisitas dari hewan uji. Dosis awal menggunakan dosis 2000 mg/kgBB ekstrak dan kelompok kontrol yang diberikan tween 80 sebanyak 0,01ml/20 gram mencit dengan masing-masing kelompok 5 ekor mencit. Pengamatan dilakukan secara intensif setiap 30 menit selama 4 jam pertama, setiap 4 jam selama 24 jam dan sehari sekali selama 14 hari. Tanda toksisitas yang diamati berupa perubahan aktivitas otonom hewan uji seperti piloereksi, konvulsi (kejang), tremor (gemetar), nyeri, hipersalivasi, lakrimasi dan mati. Pada uji utama dilakukan tidak terdapat ≥ 1 bukti toksisitas dan/atau ≤ 1 kematian hewan uji maka tidak dapat langsung ditentukan kisaran nilai LD50. Selain itu, tidak terdapat ≥2 hewan uji dan tidak terbukti adanya bukti toksisitas maka termasuk kategori 5 GHS. Uji pembatasan 5000 mg/kgBB tidak dilakukan untuk melindungi kesejahteraan hewan, serta memiliki relevansi langsung untuk melindungi kesehatan hewan atau manusia. Setelah 14 hari pengamatan, hewan dikorbankan dan diambil organ hati untuk dilakukan pengamatan histopatologi. Kemudian dilakukan analisis data dengan uji nonparametrik Mann-Whitney.
Hasil penelitian didapatkan kisaran nilai LD50 ekstrak etanol daun kemangi (Ocimum sanctum) >2000 mg/kgBB yang termasuk kategori senyawa tidak toksik. Uji Mann- Whitney menghasilkan nilai signifikansi sebesar p=0,005 (p<0,05) yang menunjukkan hasil rata-rata skoring histopatologi hati antara dua kelompok berbeda bermakna. Perbedaan ini terletak pada kelompok kontrol yang tampak normal pada histopatologi hati, sedangkan pada kelompok perlakuan tampak degenerasi hidrofik pada seluruh lapang pandang. Ekstrak etanol daun kemangi (Ocimum sanctum) termasuk kategori GHS 5/unclassified dimana tidak terdapat toksisitas secara akut, namun terdapat perubahan gambaran histopatologi hati mencit berupa degenerasi hidrofik pada pemberian oral akut ekstrak etanol daun kemangi 2000 mg/kgBB
PENGARUH PEMBERIAN NATRIUM BIKARBONAT TERHADAP KELELAHAN DAN NYERI OTOT SETELAH MELAKUKAN TREADMILL
Treadmill merupakan salah satu bentuk latihan fisik yang mengalami
transisi penggunaan energi dari proses metabolisme aerobik menuju metabolisme anaerobik.
Metabolisme anaerobik akan menghasilkan akumulasi asam laktat dan dapat menyebabkan kelelahan dan
nyeri otot. Pada umumnya, nyeri ini timbul setelah latihan dan mencapai puncak pada 24 sampai 48
jam setelahnya. Secara fisiologis, akumulasi asam laktat sebagai akibat dari latihan intensitas
tinggi akan dinetralkan oleh beberapa sistem penyangga dalam tubuh. Ketika kapasitas penyangga di
intraseluler terlampaui, asam laktat akan berdifusi ke dalam darah. Pada saat itu, mekanisme
penyangga ekstraseluler seperti sistem bikarbonat akan
dirangsang. Penambahan bioavaiabilitas dari ion bikarbonat (HCO3-) ekstraseluler
akan menetralisir asam yang berlebih. Natrium bikarbonat (NaHCO3) dapat berfungsi sebagai senyawa
penyangga dari luar tubuh dengan menambah bioavailabilitas [HCO3-] kemudian mengikat H+ untuk
membentuk asam karbonat (H2CO3). H2CO3 secara reversibel diubah menjadi H2O dan CO2 oleh enzim
karbonat anhidrase (CA).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian natrium bikarbonat terhadap
berkurangnya kelelahan dan nyeri otot setelah melakukan treadmill. Penelitian ini menggunakan
metode quasi eksperimental dengan rancangan eksperimental seri dimana sukarelawan menjadi kontrol
atas dirinya sendiri. Sampel menggunakan 20 orang yang dipilih dari populasi mahasiswa tingkat
sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Semua sukarelawan masuk ke dalam kelompok kontrol
dan mengkonsumsi minuman jeruk yang mengandung natrium klorida 100mg/kgBB. Satu jam setelahnya
sukarelawan melakukan treadmill hingga mencapai kelelahan otot maksimal. Lama waktu yang dicapai
kemudian dicatat kemudian dilakukan pengukuran intensitas nyeri dengan Visual Analog Scale (VAS)
sesaat setelah treadmill, 24 jam, 48 jam, dan 72 jam
setelah melakukan treadmill. Seminggu setelahnya sukarelawan berperan sebagai kelompok perlakuan
melakukan protokol yang sama dengan mengkonsumsi minuman jeruk yang mengandung natrium bikarbonat
300mg/kgBB.
Hasil penelitian ini antara lain didapatkan lama treadmill rata-rata kelompok kontrol yaitu 717
detik, sedangkan kelompok perlakuan yaitu 787 detik. Pemeriksaan intensitas nyeri yang dilakukan
sesaat setelah treadmill memiliki nilai rata-rata sebesar 55,4 satuan pada kelompok kontrol dan
44,7 satuan pada kelompok perlakuan. Pada 24 jam setelah treadmill, nilai rata-rata intensitas
nyeri otot kelompok kontrol adalah 4,9 satuan, sedangkan pada kelompok perlakuan adalah 4,3 satuan.
Pada 48 dan 72 jam setelah treadmill, semua sukarelawan pada kelompok kontrol maupun perlakuan
sudah tidak merasakan nyeri otot.
Berdasarkan analisis data dengan T-paired test, pemberian natrium bikarbonat pada kelompok
perlakuan meningkatkan lama treadmill dan menurunkan intensitas nyeri sesaat setelah treadmill
secara signifikan (p<0,05) jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Namun intensitas nyeri tunda
pada kelompok perlakuan tidak menurun secara signifikan (p>0,05)
Profil Tingkat Kesegaran Jasmani Pemain Sepakbola Persid
Penelitian tentang profl tingkat kesegaran jasmani pemain sepakbola PERSID bertujuan untuk mengetahui tingkat kesegaran jasmani para pemain PERSID yang diukur dengan Modified Harvard Step Test Rancangan penelitian yang digunakan adalah "Post Test Only", Sampel diambil dari pemain sepakbola PERSID sebanyak 16 orang yang memenuhi kriteria (Purposive samping) yaitu sehat fisik atau tidak dalam keadaan sakit, tidak menderita penyakit jantung atau hiprtensi, melakukan olahraga secara teratur dan tidak menggunakan obat-obat perangsang. Didapatkan hasil bahwa indeks kesegaran jasmani rata-rata pemain sepakbola PERSID dengan perhitungan cara lambat termasuk dalam kategori indeks kesegaran jasmani yang baik
PENGARUH KONSUMSI KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) TERHADAP DAYA TAHAN OTOT BICEPS PADA LATIHAN BEBAN MENGGUNAKAN METODE BICEPS ARM CURL
Olahraga kebugaran otot dewasa ini merupakan olahraga yang marak dan
terkenal di masyarakat. Otot sebagai salah satu komponen yang dapat menghasilkan
gerakan dalam latihan beban membutuhkan komponen-komponen untuk
menghasilkan performa yang tinggi. Performa otot yang tinggi tersebut ditentukan
oleh kekuatan dan daya tahan otot. Daya tahan otot adalah kemampuan otot atau
sekelompok otot untuk melakukan kontraksi berulang selama waktu tertentu hingga
mencapai kelelahan. Untuk mendukung performa dalam olahraga angkat beban,
olahragawan mengonsumsi berbagai makanan dan minuman suplemen seperti
minuman berenergi. Namun dalam dunia latihan kebugaran saat ini, olahragawan
sering mengonsumsi kopi sebagai pengganti minuman berenergi yang selain mudah
didapat dan murah, juga berguna untuk meningkatkan performa latihan dan
menghambat terjadinya kelelahan. Ada banyak varietas biji kopi, namun yang utama
dalam budidaya kopi di berbagai negara hanya beberapa varietas yaitu kopi arabika,
robusta, dan liberika. Arabika merupakan kopi tradisional dan dianggap paling enak
rasanya, sedangkan robusta memiliki kafein yang lebih tinggi.
Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh konsumsi kopi robusta (Coffea
canephora) terhadap daya tahan otot biceps pada latihan beban menggunakan metode
biceps arm curl. Hasil penelitian diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan
pertimbangan individu dan masyarakat untuk menggunakan kopi sebagai suplemen
sebelum melakukan latihan beban untuk meningkatkan performa otot.
Penelitian ini merupakan uji klinik (clinical trial) dengan metode quasi
eksperimental. Uji klinik yaitu suatu bentuk penelitian dengan rancangan
eksperimental terhadap manusia untuk membandingkan efek akibat intervensi antara
kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Desain penelitian yang digunakan
adalah uji klinis rancangan silang (cross over design clinical trial). Pada rancangan
ini setiap subjek studi diberlakukan sebagai eksperimen maupun sebagai kontrol.
Pada penelitian ini dilakukan single blind study dimana peneliti mengetahui mana
yang plasebo mana yang obat, tetapi subjek penelitian tidak mengetahuinya. Besar
sampel dari penelitian ini adalah 30 mahasiswa Universitas Jember yang dibagi
menjadi dua kelompok secara simple random sampling dengan metode undian yaitu
kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dimana masing-masing kelompok terdiri
dari 15 orang. Kelompok kontrol diberi plasebo yaitu diberi segelas perisa kopi moka
yang terdiri dari 20 ml perisa kopi moka dan 130 ml air, sedangkan kelompok
perlakuan diberi segelas kopi robusta yang terdiri dari 4 gram kopi robusta dan 150
ml air. Setelah periode washing out selama satu minggu kedua kelompok saling
bertukar peran, kelompok kontrol akan menjadi kelompok perlakuan dan sebaliknya.
Data yang diperoleh berupa jumlah repetisi biceps arm curl yang berhasil dilakukan
oleh sukarelawan hingga mencapai kelelahan. Rata-rata repetisi kelompok kontrol
dan perlakuan kemudian dianalisis menggunakan uji statistik parametrik uji T (Tpaired
test).
Hasil dari penelitian ini adalah rata-rata repetisi pada kelompok yang tidak
mengonsumsi kopi robusta adalah 13,8 ± 5,95; sedangkan rata-rata repetisi pada
kelompok yang mengonsumsi kopi robusta adalah 16,5 ± 6,79. Jadi dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata repetisi yang signifikan (analisis data
menggunakan T-paired test dengan nilai p < 0,05) pada latihan beban dengan
menggunakan metode biceps arm curl yang berhasil dilakukan oleh kelompok yang
tidak mengonsumsi kopi robusta dengan kelompok yang mengonsumsi kopi robusta.
Pada kelompok yang mengonsumsi kopi robusta memiliki nilai rata-rata repetisi lebih
tinggi dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengonsumsi kopi robusta
Perbedaan Lokasi Tanah dengan Risiko Kontaminasi Telur dan Larva Soil-transmitted Helminths (Studi Observasional Area Perkebunan Kopi di Kecamatan Silo Kabupaten Jember)
Penyakit kecacingan merupakan infestasi cacing yang disebabkan oleh
beberapa jenis cacing atau nematoda usus. Salah satunya adalah Soil Transmitted
Helminth (STH). STH merupakan kelompok cacing yang siklus hidupnya melalui
tanah. Spesies dari STH adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing
cambuk (Trichuris trichiura), cacing tambang (Necator
americanus dan Ancylostoma duodenal), dan Strongyloides stercoralis. Menurut
data World Health Organization (WHO) pada tahun 2018, lebih dari 1,5 miliar
orang atau 24% dari populasi dunia terinfeksi STH di seluruh dunia. Sedangkan
prevalensi penyakit kecacingan di Indonesia bervariasi antara 2,5%-62%
terutama pada penduduk yang kurang mampu dengan sanitasi yang buruk.
Kabupaten Jember memiliki banyak wilayah perkebunan yang belum diteliti
mengenai kontaminasi tanah oleh telur dan larva STH. Salah satu perkebunan di
Kabupaten Jember adalah perkebunan Garahan Kidul yang berada di desa
Sidomulyo, kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Tanah di perkebunan ini
cenderung lembab dan gembur. Kondisi tersebut ideal untuk perkembangan telur
dan larva STH. Tujuan umum dari penelitian ini untuk membedakan angka
kontaminasi tanah oleh telur dan larva STH pada sampel tanah di area kebun, tepi
sungai, dan perumahan pekerja yang diambil di area perkebunan kopi di
Kecamatan Silo Kabupaten Jember
HUBUNGAN LAJU ULTRAFILTRASI DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI INTRADIALISIS PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK STADIUM V DI RSD DR. SOEBANDI JEMBER
Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional (potong lintang). Penelitian dilaksanakan di poli hemodialisis SMF Ilmu Penyakit Dalam RSD Dr. Soebandi Jember, pada September-November 2017. Sampel penelitian berjumlah 69 orang dengan kriteria inklusi sampel: (1) Pasien ≥18 tahun (2) Pasien penyakit ginjal kronik stadium V yang menjalani hemodialisis rutin 2 kali tiap minggu ≥ 3 bulan (3) Pasien yang selama masa pengobatan tetap meminum obat-obatan yang telah diresepkan dokter (4) Pasien yang menyetujui Informed Consent dan kriteria eksklusi sampel: (1)Pasien yang tekanan darahnya tidak terukur dengan prosedur standar (2) Pasien yang mengalami komplikasi berbahaya selama menjalani
hemodialisis seperti krisis hipertensi (3) Pasien Acute Kidney Injury (4) Pasien dalam kondisi tidak mungkin diukur berat badannya. Peneliti menggunakan data primer yaitu pengukuran tekanan darah 5 menit sebelum dan sesudah hemodialisis, serta data sekunder yang didapatkan dari rekam medik atau buku rapor pasien. Data hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan nilai signifikansi p<0,05. Setelah dilakukan uji bivariat menggunakan uji Chi-Square. Software yang digunakan dalam pengolahan data adalah IBM SPSS Statistics.
Data yang diambil berupa laju ultrafiltrasi yaitu kecepatan cairan yang dipindahkan dari kompartemen darah menuju kompartemen dialisat yang dihubungkan dengan kejadian hipertensi intradialisis. Pada penelitian ini didapatkan sampel sebanyak 69 sampel. Prevalensi hipertensi intradialisis pada pasien PGK stadium V di RSD Dr. Soebandi Jember yaitu 63,8%.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data antara hubungan laju ultrafiltrasi dengan kejadian hipertensi intradialisis, didapatkan hasil p=0,4 dengan nilai Odds Ratio sebesar 0,7. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan tidak didapatkan hubungan yang signifikan antara laju ultrafiltrasi dengan kejadian hipertensi intradialisis.
Berdasarkan uji analisis data faktor-faktor lain yang diduga berhubungan yaitu usia, jenis kelamin, lama menjalani hemodialisis, dan Interdialytic Weight Gain (IDWG) didapatkan nilai signifikansi masing-masing adalah p=0,9, p=0,9, p=0,2, dan p=0,096. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor usia, jenis kelamin, lama menjalani hemodialisis dan IDWG juga tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian hipertensi intradialisis
- …
