1,721,718 research outputs found
Replication data for: Election by Community Consensus: Effects on Political Selection and Governance
Arora, Ashna, (2022) “Election by Community Consensus: Effects on Political Selection and Governance.” Review of Economics and Statistics 104:2, 321–335
A study of the archaeozoological collection from the ashna-pando hillfort in the middle sura region
The article presents the results of processing of the archaeozoological collection from the excavations of the Ashna-Pando hillfort (Surskiy district of the Ulyanovsk region), carried out by P.D. Stepanov in 1949. The collection (2,760 bone fragments) belongs to three cultural layers identified at the site: the Fatyanovo-Balanovo culture of the Bronze Age, a specific local cultural group of the Early Iron Age and the Imenkovo culture of the late period of the Migrations era. It is the materials of the Migration period that are of the greatest interest. During that time, Ashna-Pando, in all likelihood, played the role of a local communal center — a place for meetings of the community. The collection of bones from the Imenkovo assemblage seems to reflect periodic joint meals rather than daily consumption. In general, the meat diet of the Imenkovo population, especially for the last period of the occupation of Ashna-Pando, was characterized by the increasing role of hunting for forest fauna, which, in combination with the finds of agricultural tools in Ashna-Pando as well as in other settlements of the Imenkovo in the Sura region, reflects the decisive role of slash-and-burn farming in the economic system
Creative Writing
Works by Ashna Ali, Beatrice Carnelutti, Megan Pindling, Robert Moscaliuc, and Asha Sali
UJI DAYA ANTIFUNGI EKSTRAK BIJI, DAUN DAN KULIT POHON TANJUNG (Mimusops
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antifungi ekstrak biji, daun, kulit pohon Tanjung terhadap pertumbuhan F.
moniliforme secara in vitro dan in vivo. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama dan Penyakit
Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Jember. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor
pertama konsentrasi perlakuan (K) yaitu 0% (K0), 25% (K1), 50% (K2), 75% (K3) dan 100% (K4). Faktor kedua bahan ekstrak yaitu
ekstrak biji (B), daun (D), kulit pohon tanjung (P). Uji antifungi ekstrak secara in vitro menggunakan metode difusi kertas cakram dan
secara in vivo menggunakan metode seed treatment. Hasil penelitian menunjukan ekstrak yang paling efektif dalam menghambat
pertumbuhan jamur F.moniliforme secara in vitro terdapat pada perlakuan ekstrak biji tanjung dengan konsentrasi 100% (K4B) dan
konsentrasi 75% (K3B). Sedangkan ekstrak yang memiliki efektifitas antifungi terendah terdapat pada perlakuan ekstrak daun tanjung
dengan konsentrasi 25% ( K1D). Pada uji in vivo pengaruh pemberian ekstrak biji, daun dan kulit pohon tanjung dengan konsentrasi yang
telah ditentukan tidak efektif dalam mengendalikan Intensitas serangan Fusarium moniliforme pada biji jagun
KAJIAN JENIS LIMBAH DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP DAYA TAHAN
Pseudomonas diminuta adalah agen hayati yang efektif mengendalikan Nematoda Sista Kentang/NSK (Globodera rostochiensis). Beberapa studi
menunjukkan P. diminuta mampu menurunkan jumlah populasi Nematoda Sista Kentang sampai 49% secara in vitro di rumah kaca yang berasal dari isolasi di
tanah perkebunan kentang. P. diminuta merupakan bakteri yang bersifat saprofit, yaitu dapat hidup dan berkembang pada sisa-sisa bahan organik. P. diminuta
disimpan pada media limbah organik cair berupa limbah air tahu, tetes tebu dan air kelapa, selama 9 minggu untuk mengetahui daya tahan bakteri tersebut.
Tujuan dari penelitian ini mengetahui jenis media limbah organik cair yang efektif untuk pembiakan bakteri P. diminuta serta mengetahui pengaruh lama
penyimpanan terhadap viabilitas dan populasi bakteri P. diminuta yang dibiakkan. Penggunaan media limbah organik cair untuk media P. diminuta, karena
media ini ekonomis, dan mudah di dapat serta bisa menambah nilai tambah yang baik. Penelitian ini dilakukan dengan berbagai tahapan, seperti Pembiakan P.
diminuta, Persiapan Limbah Organik Cair sebagai Media Alternatif untuk P. diminuta , Penyimpanan P. diminuta pada Media Limbah Organik Cair, Uji
Kepadatan Populasi, dan Uji Viabilitas. Media air kelapa merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan P. diminuta. Pertumbuhan selama 9 minggu
baik dari viabilitas dan populasi nya yang stabil dan cukup tinggi, membuat limbah ini menjadi media yang terbaik dibandingkan P. diminuta yang dibiakkan
pada media air tahu dan tetes tebu. Media terendah pertumbuhannya ada pada media tetes teb
PEMANFAATAN BIOFUNGISIDA CAIR BERBAHAN AKTIF Trichoderma sp. UNTUK
Antraknosa merupakan salah satu penyakit penting yang menyerang pertanaman cabai yang disebabkan oleh patogen Colletotricum sp. Pengendalian hayati
dengan memanfaatkan agen pengendali hayati (APH) merupakan pengendalian yang aman dan ramah lingkungan. APH yang dimanfaatkan adalah
Trichoderma harzianum, yaitu merupakan cendawan yang memiliki sifat antagonis tinggi dalam menghambat perkembangan patogen Colletotrichum sp.
pada tanaman cabai. Formulasi biofungisida dalam waktu penyimpanan tertentu menyebabkan perubahan terhadap efektivitas dalam mengendalikan patogen.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dan viabilitas biofungisida cair berbahan aktif T. harzianum pada berbagai media formulasi dan waktu
penyimpanan untuk mengendalikan penyakit antraknosa pada tanaman cabai besar yang dibandingkan dengan fungisida kimia. Berdasarkan hasil penelitian,
biofungisida cair berbahan aktif T. harzianum dengan media air kelapa dan waktu penyimpanan selama 2 bulan mampu memberikan pengaruh yang nyata
terhadap jumlah spora sebesar 7.67 × 108 , viabilitas spora T. harzianum sebesar 89,22 % dan menekan perkembangan penyakit antraknosa yang disebabkan
oleh patogen Colletotrichum sp. dengan persentase keparahan penyakit sebesar 33,77% pada cabai besar di lapang . Hasil tersebut lebih baik dibandingkan
dengan fungisida kimia maupun biofungisida dari media ekstrak kentan
EFEKTIVITAS FUNGISIDA BAHAN AKTIF TEBUCONAZOLE, PYRACHLOSTROBIN,
Penyakit bercak daun (patik) pada tembakau yang disebabkan oleh jamur Cercospora nicotianae L. merupakan penyakit penting pada
tanaman tembakau karena dapat menurunkan kualitas tembakau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas fungisida berbahan
aktif tebuconazole, pyrachlostrobin, dan mankozeb untuk mengendalikan jamur C. nicotianae pada tanaman tembakau. Penelitian dilakukan
di halaman rumah yang sudah dimodifikasi sesuai kebutuhan tumbuh tanaman tembakau di desa Kepatihan, kecamatan Kaliwates, jalan
Trunojoyo. Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan RAL (Rancangan Acak Lengkap) menggunakan 2 faktor percobaan dan 3
ulangan. Faktor pertama varietas terdiri dari V1=Besuki, dan V2=Kasturi. Faktor kedua faktor fungisida terdiri dari P1=bahan aktif
Mankozeb, P2=bahan aktif Tebuconazole, P3=bahan aktif Pyrachlostrobin, P4=kombinasi Tebuconazole dan Pyrachlostrobin dan
P5=Kontrol. Penanaman dilakukan di polybag dengan jumlah tiap polybag yaitu 1 tanaman tembakau. Jumlah populasi seluruhnya=30
tanaman, sedangkan untuk jarak tanam varietas Besuki (V1) dan Kasturi (V2) yaitu 60 x 40cm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
penggunaan secara tunggal bahan aktif mankozeb lebih efektif dalam menekan intensitas serangan C. nicotianae. Tingkat efektivitas
penggunaan kombinasi tebuconazole dan pyrachlostrobin menunjukkan hasil yang paling efektif dibandingkan perlakuan lain secara tunggal
yaitu tebuconazole, pyrachlostrobin, dan mankozeb
EFEKTIVITAS BEBERAPA ISOLAT Pseudomonas fluorescens UNTUK MENGENDALIKAN
Rhizoctonia solani merupakan salah satu jenis jamur patogen tular tanah (soil borne) yang sulit untuk dikendalikan. Jamur ini dapat menghasilkan sklerotia
yang mampu bertahan di dalam tanah dalam jangka waktu lama. Salah satu upaya pengendalian yang aman adalah menggunakan agen pengendali hayati
diantaranya adalah P. fluorescens. P. fluorescens mampu mengkoloni dan beradaptasi dengan baik pada akar tanaman. P. fluorescens menggunakan eksudat
akar untuk mensintesis metabolit yang mampu menghambat pertumbuhan dan aktifitas patogen atau menginduksi ketahanan sistemik tanaman terhadap
patogen. Setiap isolat P. Fluorescens yang diisolasi dari rizosfer yang berbeda memiliki daya hambat yang berbeda beda pula. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui potensi beberapa isolat P. fluorescens dalam mengendalikan patogen jamur R. solani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
dua tahap, tahap pertama yaitu uji in-vitro dan tahap kedua yaitu uji in-vivo. Uji in-vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan
tiga kali ulangan, sedangkan uji in-vivo menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor dengan tiga kali ulangan. Terdapat 16 kombinasi dengan
tiga ulangan. Data dianalisis dengan menggunakan analisis varian (ANOVA), dan dilanjutkan dengan Uji Duncan 5%. Parameter yang diamati untuk uji invitro
yaitu menghitung daya hambat P.fluorescens terhadap patogen R. solani, untuk uji in-vivo yaitu menghitung Insidensi penyakit, intensitas serangan dan
laju infeksi. Hasil pengamatan secara in-vitro strain yang paling efektif terdapat pada P. fluorescens strain 1 (77%). Hasil pengamatan selanjutnya secara Invivo
strain lebih efektif terdapat pada P. fluorescens strain 3 dengan nilai Insidensi Penyakit (27%), Intensitas Serangan (20%), dan Laju infeksi (0.045
unit/hari)
EFEKTIVITAS BEBERAPA ISOLAT Bacillus spp UNTUK MENGENDALIKAN PATOGEN
Rhizoctonia solani adalah salah satu patogen tular tanah. R.solani ini sangat sulit dikendalikan dikarenakan dapat membentuk sklerotia didalam tanah,
penggunaan pestisida tidak efektif dikarenakan pestisida tidak secara spesifik membunuh jamur R.solani yang telah membentuk sklerotia serta penggunaan
pestisida secara berlebihan dan tidak sesuai anjuran untuk pengendalian akan berdampak negatif terhadap lingkungan, sehingga diperlukan pengendalian lain
dengan menggunakan agens hayati, salah satunya yaitu bakteri antagonis Bacillus spp. Bacillus spp. merupakan salah satu kelompok bakteri gram positif yang
sering digunakan sebagai pengendali hayati penyakit akar. Anggota genus ini memiliki kelebihan, karena bakteri membentuk spora yang mudah disimpan,
mempunyai daya tahan hidup lama, dan relatif mudah diinokulasi ke dalam tanah. Dalam penelitian ini Bacillus spp. digunakan unutk mengendalikan jamur
Rhizoctonia solani dengan pengujian secara in-vitro dan secara in-vivo. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dan dilanjutkan
uji Duncan taraf 5%. Pada uji in-vitro menggunakan 1 faktor yaitu perlakuan Bacillus spp dengan 7 taraf (Bacillus spp strain 1 sampai Bacillus spp strain 7).
Pada uji in-vivo menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 2 faktor, faktor pertama menggunakan (A) Rhizoctonia solani (RS) dengan 2 taraf
(A0 = Tanpa R.solani, A1= dengan R.solani) faktor kedua adalah faktor (B) dengan 7 taraf Bacillus spp (Bacillus spp strain 1 sampai Bacillus spp strain 7).
Hasil penelitian ini menunjukkan pada uji in-vitro dengan parameter daya hambat perlakuan BS1 (100%) dan BS4 (100%) menunjukkan hasil yang paling
baik dan pada uji in-vivo perlakuan BS6 menunjukkan hasil yang paling baik
- …
