78 research outputs found

    Tradisi Alek Pisang Manih dalam Upacara Perkawinan di Nagari Panyakalan dalam Analisis Teori Fungsionalisme

    No full text
    AbstrakPenelitian ini menganalisis tradisi Alek Pisang Manih dalam upacara perkawinan masyarakat Nagari Panyakalan, yang unik dan disertai sanksi adat serta moral, menggunakan teori Fungsionalisme Bronislaw Malinowski untuk mengungkap fungsi budayanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tradisi ini mencakup unsur sistem pengetahuan, bahasa, peralatan, dan organisasi sosial dari adat salingka nagari, serta bagian dari rangkaian adat perkawinan yang dilestarikan hingga kini, mencerminkan nilai budaya dan harapan rumah tangga harmonis. Berdasarkan teori Fungsionalisme Malinowski, tradisi berfungsi menjaga struktur sosial matrilineal, menguatkan kekerabatan dan solidaritas, pisang tando sebagai sarana estetika, serta lembaga adat sebagai penjaga nilai dan tata tertib." Kata kunci: Tradisi Alek Pisang Manih, Fungsi, Struktur Sosial Matrilineal, Solidaritas Sosial. Abstract This research analyzes the Alek Pisang Manih tradition in the wedding ceremony of the Nagari Panyakalan community, which is unique and accompanied by customary and moral sanctions, using Bronislaw Malinowski's Functionalism theory to reveal its cultural functions. This research employs a descriptive qualitative approach with data collection through observation, interviews, and documentation. This tradition encompasses elements of knowledge systems, language, equipment, and social organization from the adat salingka nagari, as well as part of the wedding custom series that is preserved to this day, reflecting cultural values and hopes for a harmonious household. Based on Malinowski's Functionalism theory, the tradition functions to maintain the matrilineal social structure, strengthen kinship and social solidarity, pisang tando as aesthetics medium, and customary institutions as guardians of values and order. Keywords: Alek Pisang Manih Tradition, Function, Matrilineal Social Structure, Social Solidarity

    Interpretasi Legenda Dadong Guliang dalam Karya Tari Rwa Bhineda Karmaphala

    No full text
    AbstrakPenelitian penciptaan karya tari Rwa Bhineda Karmaphala ini terinspirasi dari legenda Dadong Guliang dari Bali, namun proses interpretasi serta penciptaannya belum terdokumentasi secara akademis. Penelitian penciptaan ini bertujuan untuk menganalisis proses adaptasi naratif folklor ke dalam karya koreografi dan pertunjukan, serta selanjutnya menciptakan satu karya tari kontemporer yang diinterpretasikan dari legenda Dadong Guliang. Penelitian penciptaan ini menggunakan pendekatan practice-based research dengan metode penciptaan melalui eksplorasi gerak, improvisasi, dan komposisi. Penelitian dilakukan secara kualitatif melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan tim kreatif, dan dokumentasi audio-visual. Karya tari Rwa Bhineda Karmaphala yang yang dihasilkan, terstruktur dalam empat adegan simbolis menggunakan tiga strategi interpretasi utama yaitu transposisi naratif, simbolisasi gerak, dan kontekstualisasi sosio-spiritual. Karya ini dinilai dapat mempertahankan basis filosofis legenda namun sekaligus dapat menghadirkan relevansi kontemporer terkait isu marginalisasi dan ketidakadilan gender. Penelitian penciptaan karya ini menunjukkan bahwa seni dapat berfungsi menjadi medium hermeneutis yang efektif dalam merevitalisasi warisan budaya. Karya ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan metodologi penciptaan berbasis riset dalam pendidikan seni. Kata kunci: penelitian penciptaan, interpretasi, legenda Dadong Guliang, tari kontemporer AbstractThe Interpretation of the Dadong Guliang Legend in the Dance Work Rwa Bhineda Karmaphala. This creation research of the dance work Rwa Bhineda Karmaphala is inspired by the Dadong Guliang legend from Bali; however, its interpretation and creation processes have not been academically documented. This creation research aims to analyze the adaptation process of folklore narrative into choreographic and performative works, and subsequently create a contemporary dance piece interpreted from the Dadong Guliang legend. This study employs a practice-based research approach through movement exploration, improvisation, and composition methods. The research was conducted qualitatively via participant observation, in-depth interviews with the creative team, and audio-visual documentation. The resulting dance work, Rwa Bhineda Karmaphala, is structured into four symbolic episodes using three main interpretation strategies: narrative transposition, movement symbolization, and socio-spiritual contextualization. This work is considered capable of maintaining the philosophical foundation of the legend while also presenting contemporary relevance regarding issues of marginalization and gender injustice. This creation research demonstrates that art can function as an effective hermeneutic medium for revitalizing cultural heritage. It is hoped that this work can contribute to the development of research-based creation methodologies in arts education. Keywords: creation research, interpretation, Dadong Guliang legend, contemporary danc

    Musik Nusantara sebagai Praktik Budaya dalam Pendidikan Humanitas di Perguruan Tinggi

    No full text
    AbstrakMusik Nusantara merupakan bagian penting dari kebudayaan Indonesia yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memuat nilai sosial, identitas budaya, dan pengalaman kolektif masyarakat pendukungnya. Dalam konteks pendidikan tinggi, khususnya pada Program Studi Studi Humanitas, Musik Nusantara diposisikan sebagai praktik budaya yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran kontekstual dan reflektif untuk memahami kebudayaan secara lebih nyata. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran mata kuliah Musik Nusantara dan Kajian Budayanya dalam pembelajaran Studi Humanitas di perguruan tinggi, serta menganalisis bagaimana mahasiswa terutama yang tidak memiliki latar belakang musik memaknai Musik Nusantara sebagai praktik kebudayaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus pada mata kuliah Musik Nusantara dan Kajian Budayanya di Program Studi Studi Humanitas Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Data diperoleh melalui observasi proses pembelajaran, analisis materi perkuliahan, serta refleksi tertulis mahasiswa mengenai pengalaman belajar mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mata kuliah ini berfungsi sebagai media pembelajaran lintas disiplin yang menghubungkan seni, budaya, sejarah, dan kehidupan sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi orisinal dengan menunjukkan bahwa Musik Nusantara dapat dipahami dan dimaknai secara kritis oleh mahasiswa non-musik sebagai praktik budaya yang hidup, bukan sekadar objek estetis atau keterampilan teknis. Temuan ini memperkaya kajian pendidikan humanitas dengan menempatkan musik sebagai sarana pembentukan kesadaran budaya reflektif, apresiatif terhadap keberagaman, dan pemahaman kontekstual terhadap dinamika masyarakat Indonesia.Kata kunci: Musik Nusantara, Pendidikan Humanitas, Praktik Budaya; Mahasiswa Non-Musik, Studi Kasus. AbstractNusantara Music is an essential part of Indonesian culture that functions not only as entertainment but also as a medium through which social values, cultural identity, and collective experiences are expressed. In the context of higher education, particularly within Humanities study programs, Nusantara Music is positioned as a cultural practice that serves as a contextual and reflective learning medium for understanding culture. This article aims to examine the role of the course Nusantara Music and Its Cultural Studies in Humanities education at the university level and to analyze how students especially those without a musical background—interpret Nusantara Music as a form of cultural practice. This study employs a descriptive qualitative approach using a case study design conducted in the Humanities Study Program at Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Data were collected through classroom observations, analysis of course materials, and students’ written reflections on their learning experiences. The findings indicate that the course functions as an interdisciplinary learning medium that connects art, culture, history, and social life. This study offers an original contribution by demonstrating that Nusantara Music can be critically understood and meaningfully interpreted by non-music students as a living cultural practice rather than merely as an aesthetic object or technical musical skill. These findings enrich Humanities education discourse by positioning music as a pedagogical tool for fostering reflective cultural awareness, appreciation of diversity, and contextual understanding of Indonesian socio-cultural dynamics.Keywords: Nusantara Music, Humanities Education, Cultural Practice, Non-Music Students, Case Study

    Eksploitasi Tambang Pasir di Kabupaten Garut sebagai Inspirasi Penciptaan Naskah Drama Uga Wangsit Siliwangi

    No full text
    AbstrakPenelitian penciptaan ini bertujuan untuk menghasilkan naskah drama Uga Wangsit Siliwangi berdasarkan kritik terhadap kerusakan lingkungan serta konflik sosial akibat eksploitasi tambang pasir di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penulisan naskah ini juga hendak menghidupkan kembali legenda Prabu Siliwangi sebagai simbol pelestarian alam. Metode penciptaan menggunakan pendekatan berbasis praktik seni yang diangkat dari realitas sosial. Observasi lapangan dilakukan di wilayah Leles, Garut, dengan wawancara dengan narasumber terkait. Studi pustaka terhadap naskah Carita Parahyangan, serta perumusan treatment, penokohan, alur berbasis perkembangan watak, dan latar Leuweung Sancang dan Buwana Larang. Hasil karya adalah berupa naskah drama tiga babak yang mengaplikasikan pendekatan estetika surealisme satir politis. Naskah ini memadukan bahasa Sunda buhun dan keseharian, serta menyajikan elemen surealis (seperti tembok pasir) dan satir politik melalui dialog-dialog sindiran. Naskah yang dihasilkan menawarkan pendekatan penceritaan baru dalam teater ekologis melalui perpaduan unik antara surealisme satir politik, bahasa Sunda, dan narasi folklor yang diadaptasi secara kritis. Kata kunci: teater ekologis, Uga Wangsit Siliwangi, satir politik, surealisme, tambang pasir. AbstractSand Mining in Garut Regency as Inspiration for the Creation of the Drama Script Uga Wangsit Siliwangi. This creative research aims to produce a play script titled Uga Wangsit Siliwangi, based on a critique of environmental degradation and social conflicts resulting from sand mining exploitation in Garut Regency, West Java. The script also intends to revitalize the legend of Prabu Siliwangi as a symbol of nature conservation. The creation method employs an arts-based practice approach derived from social reality. Data collection included field observations in Leles, Garut, and interviews with relevant informants. Additionally, a literature study was conducted on the Carita Parahyangan manuscript, followed by the formulation of the treatment, characterization, character-driven plot, and settings in Leuweung Sancang and Buwana Larang. The final work is a three-act play script that applies a political-satiric surrealist aesthetic. The script blends archaic (buhun) and colloquial Sundanese, featuring surreal elements—such as walls of sand—and political satire through satirical dialogue. The resulting script offers a new storytelling approach in ecological theater through a unique synthesis of political satiric surrealism, Sundanese language, and critically adapted folklore narratives. Keywords: Ecological theater, Uga Wangsit Siliwangi, political satire, surrealism, sand mining

    Metode Penciptaan Musik Iringan untuk Seni Pertunjukan: Pendekatan Interdisipliner bagi Mahasiswa Seni Musik

    No full text
    AbstrakSeni pertunjukan, seperti tari dan teater, merupakan bentuk ekspresi budaya yang kompleks di mana musik iringan memegang peranan krusial dalam membangun suasana, mendukung narasi, serta memperkuat emosi. Namun, penciptaan musik iringan yang efektif sering menjadi tantangan bagi mahasiswa seni musik. Masalah utama yang dihadapi adalah kesulitan mengintegrasikan pengetahuan musik yang mereka miliki dengan pemahaman mendalam tentang elemen-elemen seni pertunjukan lainnya, seperti koreografi, alur cerita, dan karakteristik gerak atau dialog. Akibatnya, musik yang dihasilkan seringkali kurang selaras dengan kebutuhan pertunjukan secara keseluruhan. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman konteks pertunjukan secara holistik, dengan mempertimbangkan aspek koreografi, narasi teater, dan desain panggung. Melalui integrasi wawasan dari berbagai disiplin ilmu seperti musikologi, koreografi, dramaturgi, dan teknologi audio, serta penekanan pada kolaborasi, pendekatan interdisipliner menawarkan solusi yang lebih relevan untuk mengatasi tantangan tersebut. Tujuannya adalah membekali mahasiswa dengan kemampuan menciptakan musik iringan yang tidak hanya kompeten secara musikal tetapi juga menyatu secara efektif dengan visi artistik pertunjukan secara menyeluruh.Kata kunci: musik iringan, metodologi, interdisipliner, seni pertunjukan AbstractThe Method of Creating Musical Accompaniment for Performing Arts: An Interdisciplinary Approach for Music Arts Students. Performing arts, such as dance and theater, are complex forms of cultural expression in which accompaniment music plays a crucial role in building atmosphere, supporting narrative, and reinforcing emotion. However, the creation of effective accompaniment music often presents a challenge for music students. The primary problem faced is the difficulty in integrating their existing musical knowledge with a deep understanding of other performing arts elements, such as choreography, storyline, and the characteristics of movement or dialogue. Consequently, the resulting music often lacks harmony with the overall needs of the performance. This article highlights the importance of an interdisciplinary approach in the methodology of creating accompaniment music for music students. This approach enables a holistic understanding of the performance context, considering aspects of choreography, theatrical narrative, and stage design. Through the integration of insights from various disciplines such as musicology, choreography, dramaturgy, and audio technology, along with an emphasis on collaboration, the interdisciplinary approach offers a more relevant solution to address these challenges. Its aim is to equip students with the ability to create accompaniment music that is not only musically competent but also effectively integrates with the overall artistic vision of the performance.Keywords: musical accompaniment, methodology, interdisciplinary, performing art

    Tradisi Manggusuak pada Pernikahan di Nagari Paninggahan, Solok, Sumatera Barat

    No full text
    AbstrakArtikel ini merupakan luaran penelitian yang mendeskripsikan tradisi Manggusuak di masyarakat Nagari Paninggahan, Solok, Sumatera Barat. Tradisi ini menjadi bagian penting dari siklus pernikahan yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini menggunakan teori dari Clifford Geertz. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan teknik pengumpulan data observasi lapangan, wawancara, dokumentasi. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Manggusuak merupakan prosesi luluran calon pengantin wanita dengan ramuan tradisional sebagai bentuk simbolis penyucian diri sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Prosesi ini dilaksanakan tiga hari sebelum acara baraelek (pesta pernikahan). Ramuan ini terdiri dari berbagai bahan alami yang masing-masingnya memiliki makna simbolik. Tradisi Manggusuak tidak hanya berfungsi sebagai proses penyucian calon pengantin perempuan secara fisik, tetapi juga menjadi media pewarisan nilai-nilai luhur masyarakat Minangkabau mengenai kesiapan memasuki kehidupan rumah tangga. Prosesnya yang kompleks, dimulai dari pengumpulan bahan alami, pengolahan secara tradisional, hingga peluluran yang disertai petuah dan doa, menjadikan Manggusuak tidak hanya sebagai upacara perawatan diri, namun juga cermin dari sistem pengetahuan lokal yang hidup dalam keseharian masyarakat.Kata kunci: Tradisi, Manggusuak, PaninggahanAbstractManggusuak in Nagari Paninggahan: Local Specificity within Minangkabau Matrimonial Traditions. This article presents the findings of a research project that describes the Manggusuak tradition practiced by the community of Nagari Paninggahan, Solok, West Sumatra. This tradition forms an integral part of the marriage cycle and has been passed down through generations. The study employs Clifford Geertz’s interpretive cultural theory and adopts a qualitative approach, utilizing field observation, interviews, and documentation as data collection techniques. Data were analyzed through reduction, presentation, conclusion drawing, and verification. Manggusuak is a ritual in which the bride-to-be undergoes a traditional body scrub using herbal mixtures, symbolizing purification before entering married life. The ritual is performed three days prior to the baraelek (wedding celebration). The herbal mixture consists of various natural ingredients, each bearing symbolic meaning. Beyond its function as physical cleansing, Manggusuak serves as a medium for transmitting the Minangkabau community’s core values regarding readiness for marriage. Its intricate process—from gathering natural materials and preparing them traditionally to the act of scrubbing accompanied by advice and prayers—positions Manggusuak not merely as a beauty ritual, but as a reflection of local knowledge systems embedded in everyday life.Keywords: Tradition, Manggusuak, Paninggahan

    Maaghak suwek: Tradisi Syukuran Panen Padi Masyarakat Pulau Birandang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau

    No full text
    AbstrakPenelitian ini mengkaji Tradisi Maaghak Suwek yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Pulau Birandang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Prosesi yang dilangsungkan sarat simbolisme, seperti arak-arakan, makan bajambau, doa bersama, serta penggunaan Ubek Padi—ramuan berbahan dasar dedaunan sebagai obat tradisional untuk tanaman padi. Urgensi penelitian ini terletak pada upaya pelestarian budaya dan kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai spiritual, sosial, dan ekologis yang semakin dilupakan oleh generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teori Tradisi dari C.A. Van Peursen dan teori interpretasi simbolik dari Clifford Geertz. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Maaghak Suwek berakar dari nasihat para alim ulama terdahulu sebagai bentuk ikhtiar masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Tradisi ini tidak hanya bermakna sebagai warisan budaya, namun juga sebagai bentuk adaptasi ekologis dan spiritual masyarakat terhadap lingkungan. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai luhur budaya lokal dan menjadi dasar perumusan program pelestarian budaya berbasis komunitas. Penelitian ini juga diharapkan dapat memperkaya studi antropologi budaya dengan memberikan contoh konkret tentang sinergi antara tradisi lokal, agama, dan lingkungan dalam satu sistem sosial yang utuh.Kata kunci: Tradisi, Maaghak Suwek, Pulau Birandang AbstractMaaghak Suwek: A Rice Harvest Thanksgiving Ritual in Birandang Island, Riau, Indonesia. This research examines the Maaghak Suwek tradition practiced by the community of Pulau Birandang Village, Kampar Regency, Riau Province. The ceremonial procession is rich in symbolism, featuring elements such as a ritual parade, a bajambau communal feast, collective prayers, and the use of Ubek Padi—a traditional herbal concoction made from leaves used to treat rice plants. The urgency of this study lies in the endeavor to preserve a cultural and local wisdom containing spiritual, social, and ecological values that are increasingly fading from the awareness of the younger generation. Employing a qualitative approach, this study utilizes C.A. Van Peursen's theory of Tradition and Clifford Geertz's theory of symbolic interpretation. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, documentation, and literature study. The findings indicate that the Maaghak Suwek tradition is rooted in the counsel of past religious scholars, representing the community's earnest effort to maintain balance between humans, nature, and God. This tradition holds significance not merely as a cultural heritage but also as a form of the community's ecological and spiritual adaptation to their environment. The implications of this research contribute directly to the community by raising awareness of the values embedded in their local culture, while also providing a foundation for formulating community-based cultural preservation programs. This study enriches the field of cultural anthropology by providing a concrete example of the synergy between local tradition, religion, and the environment within a cohesive social system.Keywords: Tradition, Maaghak Suwek, Birandang Islan

    Keselarasan Interaksi Musisi dalam Proses Latihan Band

    No full text
    AbstrakProses latihan musik ansambel memiliki beberapa kendala, hal tersebut dikarenakan terdapat adanya penyatuan dari banyak personil yang harus menjadi satu kesatuan. Dari hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengatasi interferensi yang terjadi dalam interaksi antar musisi dalam proses latihan bermusik secara ansambel untuk mencapai keselarasan harmoni secara sosial dan musikal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengamatan dan pengumpulan data yang bertahap melalui koding. Penelitian dilakukan pada ansambel musik yang terdiri oleh musisi dengan beragam latar belakang baik itu secara sosial dan secara pengalaman musikal. Interferensi komunikasi yang terjadi ketika proses latihan musik dapat teratasi dengan melakukan komunikasi yang sudah disetujui oleh para musisi dalam ansambel musik tersebut, komunikasi tersebut dilakukan secara verbal dengan berbicara dan non-verbal dengan menggunakan tangan, anggukan kepala, atau hembusan nafas. Hal ini dikarenakan oleh habitus para musisi dalam ansambel tersebut yang mempunyai pandangan yang sama untuk komunikasi non-verbal maka dari itu keselarasan interaksi musisi bisa didapatkan kembali. Kata kunci: keselarasan; interaksi musisi; band  AbstractThe Synchronization of Musicians’ Interaction in Band Rehearsal Processes. The process of practicing ensemble music has several obstacles, this is because there is a unification of many personnel who must become one unit. From this, this study aims to determine and overcome the interference that occurs in the interaction between musicians in the process of practicing music as an ensemble to achieve social and musical harmony. The research method used is a qualitative method with observation techniques and gradual data collection through coding. The study was conducted on a music ensemble consisting of musicians with various backgrounds, both socially and in terms of musical experience. The results of the study showed that communication interference that occurs during the music practice process can be overcome by communicating that has been agreed upon by the musicians in the music ensemble, the communication is carried out verbally and non-verbally. This is because the habitus of the musicians in the ensemble has the same view for non-verbal communication, therefore the harmony of musician interaction can be obtained again. Keywords: harmony; musician interaction; ban

    Prosesi dan Makna Simbolik Tradisi Maanton Tando di Nagari Lubuk Ulang Aling Hari, Solok Selatan

    No full text
    AbstrakTradisi Maanton Tando dalam adat Minangkabau merupakan prosesi seserahan tando (ikatan janji) oleh pihak laki-laki kepada perempuan sebagai ikatan menuju pernikahan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prosesi dan menginterpretasikan makna simboliknya. Dengan pendekatan kualitatif dan teori interpretatif simbolik Clifford Geertz, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa prosesi terdiri dari beberapa tahapan seperti persiapan seserahan, mamopek siriah, baarak, batombe, baretong, dan mancaliak-caliak. Setiap isi tando mengandung makna simbolis mendalam, seperti cincin (janji), gambiu (penguat hubungan), sirih-pinang (kesopanan dan ketulusan), serta kelapa tua berlukis (dinamika rumah tangga). Tradisi ini memiliki nilai sosial sebagai pengikat hubungan keluarga dan spiritual sebagai pemberi makna sakral dalam pernikahan. Temuan juga menunjukkan adaptasi isi tando terhadap modernitas tanpa meninggalkan nilai adat, mengindikasikan bahwa tradisi bersifat dinamis dan dapat berevolusi seiring zaman selama nilai-nilai dasar tradisinya tetap terjaga. Kata kunci: Maanton Tando, interpretasi, makna, budaya, spiritual AbstractThe Procession and Symbolic Meaning of the Maanton Tando Tradition in South Solok, West Sumatra. The Maanton Tando tradition in Minangkabau culture is a procession where the male party presents the tando (pledge gifts) to the female party as a binding commitment toward marriage. This study aims to describe the procession and interpret its symbolic meanings. Using a qualitative approach and Clifford Geertz's symbolic interpretive theory, data were collected through observation, interviews, and documentation. The results reveal that the procession consists of several stages, such as preparation of offerings (persiapan seserahan), wrapping betel leaves (mamopek siriah), ceremonial parade (baarak), poetic recitation (batombe), dialogue (baretong), and ceremonial visit (mancaliak-caliak). Each item in the tando carries profound symbolic meanings, such as the ring (promise), gambier (strengthening relationships), betel and areca nut (courtesy and sincerity), and painted mature coconut (dynamics of household life). This tradition holds social value as a binder of family relationships and spiritual value as a sacred element of marriage. The findings also show adaptations in the content of the tando to modernity without abandoning traditional values, indicating that tradition is dynamic and can evolve over time as long as its core values are preserved. Keywords: Maanton Tando, interpretation, meaning, culture, spiritua

    Bentuk dan Fungsi Gamelan dalam Kidung Surajaya

    No full text
    AbstrakKidung Surajaya adalah naskah skriptorium Merapi-Merbabu yang bergenre santri lelana brata serta bertema kegamaan Hindu-Buddha. Teks menceritakan perjalanan Ki Singamada yang merupakan anak dari seorang penguasa di Majapahit menuju ke hutan-hutan dan pertapaan-pertapaan di pegunungan serta perjalanan spiritualnya untuk mencapai moksa. Masa penulisan teks diperkirakan berasal abad 17 Masehi di sekitar pegunungan Merapi-Merbabu sehingga dapat menjadi acuan untuk menelisik kebudayaan masyarakat Jawa pada masa itu salah satunya adalah karawitan atau gamelan Jawa. Gamelan dalam teks Kidung Surajaya ini memiliki berbagai fungsi yaitu sebagai pengiring dalam peribadatan, berkidung, peperangan, dan juga sebagai selingan pembentuk suasana keindahan dalam alur cerita Kidung Surajaya. Kata kunci: Kidung Surajaya, Karawitan, Gamelan, Manuskrip, Musik, Jawa  AbstractThe Form and Function of Gamelan in Kidung Surajaya. Kidung Surajaya is a manuscript from the Merapi-Merbabu scriptorium, categorized as a "santri lelana brata" (wandering student seeking for soul liberation) genre and featuring Hindu-Buddhist religious themes. The text narrates the journey of Ki Singamada, the son of a ruler in Majapahit, to the forests and hermitages in the mountains, as well as his spiritual journey to attain moksha (liberation). The estimated period of the text's composition is around the 17th century AD in the Merapi-Merbabu highlands, making it a reference for examining Javanese culture of that time, one aspect of which is karawitan or Javanese gamelan. The gamelan in the Kidung Surajaya text serves various functions, namely as accompaniment in worship, chanting, warfare, and also as an interlude to create an atmosphere of beauty within the storyline of the Kidung Surajaya. Keywords: Kidung Surajaya, Karawitan, Gamelan, Manuscript, Music, Jav

    47

    full texts

    78

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    EKSPRESI
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇