Jurnal TENGKAWANG
Not a member yet
    119 research outputs found

    PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KALSIUM (CA) TEH DAUN KELAKAI (STENOCHLARNA PALUTRIS) DENGAN TREATMENT ASAM LEMON (CITRUS LIMON)

    Full text link
    The plant kelakai (Stenochlarna palutris) is found in peat, alluvial soil, and marsh soil. comprising pinnate leaves, rhizome roots, and many fern species. Calcium (Ca) is one of the numerous nutrients found in kelakai. Lemon acid treatment (Citrus limun) is used in the processing of kelakai tea powder in an attempt to boost the plant's nutritional value. The purpose of this study is to ascertain how temperature and brewing time affect the calcium levels in lemon acid (Citrus limun) treated kelakai leaf tea (Stenochlarna palutris). This study uses a factorial completely randomized design (CRD) and is experimental in nature. There are two factors, the first is the temperature at which the brewing takes place (40, 50, and 60 degrees Celsius), and the second is the number of repeats (1, 5, and 10 minutes). Two Way Analysis of Variance (Anova) was utilized in the data analysis, along with an additional 5% Honest Significant Difference (BNJ) test. The findings demonstrated the highly significant effects of brewing temperature, brewing time, and the combination of temperature and brewing time. The amount of calcium produced increases with increasing brewing temperature. With an average of 46,964 ppm, the T3 brewing temperature treatment (60oC) had the greatest quantities of calcium. The effect of brewing time on calcium levels gives low results at short times (S1), high results at medium times (S2) and decreases when teh brewing time is longer (S3). The highest brewing duration was in S2 (5 minutes) with an average of 46,685 ppm. The highest interaction between two factors was in teh T3S2 combination with an average of 17,146 ppm. The best treatment was at brewing temperature T3 (60oC) and the best brewing time was at S2 (5 minutes) and the best treatment combination was at T3S2.Keywords: Brewing temperature, Brewing time, Calcium (Ca), Kalakai leaf tea (Stenochlarna palutris), Lemon acid pretreatment (Citrus lemon).AbstrakTanaman kelakai (Stenochlarna palutris) banyak ditemukan pada lahan gambut, tanah aluvial, dan tanah rawa. terdiri dari daun menyirip, akar rimpang, dan banyak jenis pakis. Kalsium (Ca) adalah salah satu dari banyak nutrisi yang ditemukan di kelakai. Perlakuan asam lemon (Citrus limun) digunakan dalam pengolahan bubuk teh kelakai sebagai upaya untuk meningkatkan nilai gizi tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana suhu dan waktu penyeduhan mempengaruhi kadar kalsium pada teh daun kelakai (Stenochlarna palutris) yang diolah dengan asam lemon (Citrus limun).  Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dan bersifat eksperimental. Ada dua faktor: yang pertama adalah suhu saat penyeduhan dilakukan (40, 50, dan 60 derajat Celcius), dan yang kedua adalah jumlah pengulangan (1, 5, dan 10 menit). Analisis Varians Dua Arah (Anova) digunakan dalam analisis data, bersama dengan tambahan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 5%. Temuan ini menunjukkan pengaruh yang sangat signifikan dari suhu penyeduhan, waktu penyeduhan, dan kombinasi suhu dan waktu penyeduhan. Jumlah kalsium yang dihasilkan meningkat seiring dengan meningkatnya suhu penyeduhan. Dengan rata-rata 46,964 ppm, perlakuan suhu penyeduhan T3 (60 oC) memiliki jumlah kalsium paling besar.  Pengaruh waktu penyeduhan pada kadar kalsium memberikan hasil rendah pada waktu yang singkat (S1), tinggi pada waktu medium (S2) dan menurun ketika waktu seduh semakin lama (S3). Perlakuan waktu penyeduhan tertinggi pada S2 (5 menit) dengan rerata sebesar 46,685 ppm. Interaksi dua faktor tertinggi pada kombinasi T3S2 dengan rerata sebesar 17,146 ppm. Perlakuan terbaik terdapat pada suhu penyeduhan T3 (60oC) dan lama penyeduhan terbaik pada S2 (5 menit) dan kombinasi perlakuan terbaik pada T3S2.Kata kunci: Suhu penyeduhan, Lama penyeduhan, Kalsium (Ca), Teh daun Kalakai (Stenochlarna palutris), Pretreatment asam lemon (Citrus lemon)

    POLA PEMANFAATAN TUMBUHAN OLEH MASYARAKAT DI DESA RAUT MUARA KABUPATEN SANGGAU DALAM KEMANDIRIAN PANGAN

    Full text link
    Utilizing plants that grow around your home is an effective way to meet food needs and is a concrete manifestation of food independence. This research aims to analyze the pattern of the use of plants as a food source by the people of Raut Muara Village to achieve food independence. The study was carried out by conducting interviews with selected respondents. Respondents were selected using the purposive sampling method. A total of 108 selected respondents were successfully interviewed. The people of Raut Muara Village use 104 types of plants as food. These plants are used as vegetables, fruit, grains, sources of carbohydrates, spices, drinks, and traditional medicines. Plants that have the highest use value (UV) are pilo leaves or cassava leaves (Manihot esculenta) and rice (Zea mays) with the highest UV value (1). All categories of food plant utilization found in the Raut Muara Village community were classified as high (0.94-0.98). The highest FL value (100%) was found in almost all utilization categories except the category of utilization as traditional medicine. The people of Raut Muara Village have extensive experience in utilizing the surrounding environment to cultivate several types of food plants, especially plants that produce fruit, vegetables, and sources of carbohydrates. This is an effort to achieve food independence.Keywords: Community, edible plants, food security, utilization, Raut Muara village, AbstrakPemanfaatan tumbuhan yang tumbuh disekitar tempat tinggal merupakan cara yang efektif untuk memenuhi kebutuhan pangan dan sebagai wujud nyata dalam kemandiran pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pemanfaatan tumbuhan sebagai sumber pangan oleh masyarakat Desa Raut Muara sebagai Upaya untuk mencapai kemandirian pangan. Penelitian dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap responden terpilih. Responden dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling. Sebanyak 108 responden terpilih berhasil diwawancarai. Masyarakat Desa Raut Muara menggunakan 104 jenis tumbuhan sebagai bahan pangan. Tumbuhan tersebut digunakan sebagai sayuran, buah-buahan, biji-bijian, sumber karbohidrat, bumbu, minuman, dan obat tradisional. Tumbuhan yang memiliki nilai guna tertinggi (UV) adalah daun pilo atau daun singkong (M. esculenta) dan padi (Z. mays) dengan nilai UV tertinggi (1). Semua kategori pemanfaatan tumbuhan pangan yang ditemukan pada masyarakat Desa Raut Muara tergolong tinggi (0,94-0,98). Nilai FL tertinggi (100%) ditemukan pada hampir semua kategori pemanfaatan kecuali kategori pemanfaatan sebagai obat tradisional. Masyarakat Desa Raut Muara memiliki pengalaman yang tinggi dalam memanfaatkan lingkungan sekitarnya untuk membudidayakan beberapa jenis tumbuhan pangan, terutama tumbuhan sebagai penghasil buah, sayuran dan sumber karbohidrat. Hal ini merupakan Upaya untuk mencapai kemandirian pangan.Kata kunci: Desa Raut Muara, kemandiran pangan, masyarakat, pemanfaatan, tumbuhan panga

    PEMASARAN HASIL USAHA PERHUTANAN SOSIAL (STUDI KASUS DI LMDH SASAKA PATANGAN, KPH BANDUNG SELATAN)

    Full text link
    Product management and marketing strategies in the context of developing social forestry enterprises at the Sasaka Patengan Village Forest Community Institution (LMDH), South Bandung Forest District, West Java, are examined in this study. The primary focus is on the characteristics of farmers, marketing structures, and the efficiency of the marketing channels employed. This research aims to analyze the management and marketing of social forestry enterprise groups. Respondent selection utilized snowball sampling, with data analysis conducted through descriptive analysis. The study found that agroforestry product marketing occurs through two main channels: (1) direct sales to collectors and (2) through retail traders. While the first channel enables quick sales, the second channel offers higher cost-effectiveness and marketing margins. Marketing efficiency analysis using marketing margin and farmer's share methods indicated that the second marketing channel is more efficient in adding value to farmers. The research underscores the importance of developing social forestry enterprises by enhancing product management and marketing, including through increased involvement of Social Forestry Enterprise Groups (KUPS) in organizing and facilitating marketing channels. Keywords: business development, management, marketing, social forestryAbstrakStrategi pengelolaan dan pemasaran produk dalam konteks pengembangan usaha perhutanan sosial di Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sasaka Patengan, KPH Bandung Selatan, Jawa Barat. Fokus utama adalah pada karakteristik petani, struktur pemasaran, dan efisiensi saluran pemasaran yang digunakan. Studi ini bertujuan menganalisis pemasaran hasil kelompok usaha perhutanan sosial. Metode pemilihan responden menggunakan snowball sampling dengan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil yang didapatkan dari pemasaran produk agroforestri yang dilakukan melalui dua saluran utama: (1) penjualan langsung kepada pengumpul dan (2) melalui pedagang eceran. Meskipun saluran pertama memungkinkan penjualan yang cepat, saluran kedua memberikan keuntungan biaya dan marjin pemasaran yang lebih tinggi. Analisis efisiensi pemasaran menggunakan metode marjin pemasaran dan bagian petani menunjukkan bahwa saluran pemasaran kedua lebih efisien dalam memberikan nilai tambah kepada petani. Penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan usaha perhutanan sosial dengan memperbaiki pengelolaan dan pemasaran produk, termasuk melalui peningkatan peran Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dalam mengorganisir dan memfasilitasi saluran pemasaran.Kata kunci:  pemasaran, pengelolaan, pengembangan usaha, perhutanan sosia

    ANALISIS PENGARUH BERAT LABUR, JENIS KOMBINASI DAN INTERAKSINYA TERHADAP SIFAT FISIKA MEKANIKA PAPAN LAMINASI KOMBINASI KAYU KEMIRI BAMBU PETUNG DAN SENGON BAMBU PETUNG

    Full text link
    From small-scale to large-scale timber companies, there is great potential for the development of laminated products made from candlenut, sengon and petung bamboo. This is due to the relatively simple technique used, which goes through the following stages: preparation of raw materials in the form of boards, application of paint, and gluing with high pressure or with a clamping system. The gluing procedure has a significant impact on the strength of the resulting laminated board, in addition to the raw material component. Therefore, the objective of this study was to investigate the impact of labor weight, raw material type, and their combination on mechanical and physical properties. This study used an experimental approach and a factorial completely randomized design (CRD) with two factors, four treatments, and three replications. Apart from the Modulus of Elasticity (MoE) test which had a considerable influence, the physical and mechanical properties of laminated boards were not influenced by either the weight of the mortar, the type of raw material combination, or their interaction. Sifat fisiknya telah memenuhi SNI 01-6240-2000 dan JAS 234:2007, meskipun hasil pengujian mekanisnya tidak memenuhi. Berdasarkan evaluasi sifat mekanik dan fisiknya, papan laminasi yang terbuat dari kombinasi bambu petung sengon dan bambu petung kemiri dapat digolongkan dalam kelas kuat III dari hasil penelitian, yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan berat yang terlindungi.  Kelas kuat kayu meningkat dari kelas kuat IV menjadi kelas kuat III ketika bambu dan kayu dikombinasikan untuk membuat papan laminasi.Keywords: candlenut wood, heavy labur, laminated board, petung bamboo, sengon wood,.AbstrakDari perusahaan kayu skala kecil hingga skala besar, terdapat potensi besar untuk pengembangan produk laminasi berbahan baku kayu kemiri, sengon, dan bambu petung. Hal ini disebabkan oleh teknik yang digunakan relatif sederhana, yaitu melalui beberapa tahapan berikut: penyiapan bahan baku berupa papan, pengaplikasian cat, dan pengempaan dengan tekanan tinggi atau dengan sistem penjepit. Prosedur perekatan memiliki dampak yang signifikan terhadap kekuatan papan laminasi yang dihasilkan, selain komponen bahan baku. Oleh karea itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki dampak dari berat labur, jenis bahan baku, dan kombinasinya terhadap sifat mekanik dan fisik. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental dan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, empat perlakuan, dan tiga ulangan. Selain uji Modulus Elastisitas (MoE) yang memiliki pengaruh yang cukup besar, sifat fisik dan mekanik papan laminasi tidak dipengaruhi oleh baik dari berat labur, jenis kombinasi bahan baku, maupun interaksinya. Dari hasil pengujian sifat fisika sudah memenuhi persyaratan SNI 01-6240-2000 dan JAS 234:2007, namun hasil pengujian mekanika belum memenuhi. Dari hasil penelitian, papan laminasi yang terbuat dari kombinasi bambu petung sengon dan kayu kemiri bambu petung dapat diklasifikasikan sebagai kelas kuat III yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan berat yang terlindungi, sesuai dengan hasil evaluasi sifat mekanik dan fisiknya.  Ketika bambu dan kayu dicampur untuk membuat papan laminasi, kelas kuat kayu meningkat dari kelas kuat IV menjadi kelas kuat III.Kata kunci: Kayu kemiri, berat labur, papan laminasi, bambu petung, kayu sengon

    PENERAPAN METODE BENT LAMINATION PADA PROSES PELENGKUNGAN KOMPONEN KURSI

    Full text link
    Currently, furniture products use wooden components in a curved shape to highlight their aesthetic value. However, the components in the curved form are still mostly done in the conventional way. The aim of this study is to apply the bent lamination method to the components of the back legs and the backrest of the chair product. The stages of work started with making a chair design that has a curved shape on the back legs and backrest. Next was the preparation of laminate from teak wood with a thickness of 3 mm each as many as 14 for the back legs and 10 for the backrest. The lamination process was carried out with a polyurethane adhesive and pressing for 3 hours on a bending mal. After the bending process, observations of changes in the shape of each component were carried out. The application of the bent lamination method produces a curved back legs component with a radius of 100 mm, 250 mm, and 290 mm, a thickness of 40 mm and a width of 30 mm, and a curved backrest component with a radius of 205 mm, a thickness of 30 mm and a width of 40 mm. The results of observations of changes in shape were not found after the bending process.Keywords: bent lamination, chair, furniture, teakAbstrakSaat ini banyak produk furnitur menggunakan komponen kayu dalam bentuk lengkung untuk menonjolkan nilai estetikanya. Namun hingga saat ini komponen dalam bentuk lengkung tersebut masih banyak dilakukan dengan cara konvensional. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menerapkan metode bent lamination pada komponen kaki belakang dan sandaran punggung produk kursi. Tahapan pengerjaan dimulai dari pembuatan desain kursi yang memiliki bentuk lengkung pada kaki belakang dan sandaran punggung. Selanjutnya yaitu penyiapan lamina dari kayu jati dengan tebal 3 mm masing-masing sebanyak 14 untuk komponen kaki belakang dan 10 untuk sandaran punggung. Proses laminasi dilakukan dengan perekat jenis poliuretan dan pengempaan selama 3 jam pada mal pelengkung. Setelah proses pelengkungan dilakukan pengamatan perubahan bentuk pada masing-masing komponen. Penerapan metode bent lamination menghasilkan komponen kaki belakang bentuk lengkung dengan radius 100 mm, 250 mm, dan 290 mm, tebal 40 mm serta lebar 30 mm serta komponen sandaran bentuk lengkung dengan radius 205 mm, tebal 30 mm dan lebar 40 mm. Hasil pengamatan perubahan bentuk tidak ditemukan setelah proses pelengkungan.Kata kunci: bent lamination; furniture, jati, kurs

    PENGARUH PROSES BLEACHING TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS KAYU PINUS (Pinus sp.) TERSERANG BLUE STAIN

    Full text link
    The weakness of pine wood as a furniture material is that it is easily attacked by blue stain which causes changes in the color of the wood. In previous research, it was reported that bleaching material i.e. sodium hypochlorite 25% had a significant effect on the color change of pine wood affected by blue stain, but the effect on its physical and mechanical properties was not yet known. The aim of this research was to determine the effect of bleaching materials on the physical and mechanical properties of pine wood attacked by blue stain. Bleaching treatment was carried out at three different concentrations, namely a mixture of bleaching material and water 1:1, 1:2, and 2:1. Then the pine woods that has been treated with bleaching were tested for moisture content, density, modulus of elasticity (MOE) and modulus of rupture (MOR)) referring to the BS 372-1957 standard. The test results showed that the bleaching treatment had a significant effect on moisture content, MOE, and MOR, but did not affect density. The moisture content of pine woods attacked by blue stains that were treated with bleaching tended to be higher than the control. Meanwhile, the lowest MOE and MOR values were found in pine wood that was treated with bleaching 2:1.Keywords: bleaching, blue stain, mechanical, pine, physical.AbstrakKelemahan dari kayu pinus sebagai bahan furnitur yaitu mudah terserang blue stain yang menyebabkan terjadinya perubahan warna kayu. Pada penelitian sebelumnya telah dilaporkan bahwa bahan bleaching sodium hipoklorit 25% berpengaruh signifikan terhadap perubahan warna kayu pinus terserang blue stain, namun belum diketahui pengaruh terhadap sifat fisis dan mekanisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisis dan mekanis kayu pinus terserang blue stain yang diberi perlakuan bleaching. Perlakuan bleaching pada kayu pinus terserang blue stain dilakukan pada tiga konsentrasi berbeda yaitu campuran bahan bleaching dan air 1:1, 1:2, dan 2:1. Kemudian kayu pinus yang telah diberi perlakuan bleaching diuji kadar air, kerapatan, modulus of elasticity (MOE) dan modulus of rupture (MOR)) mengacu pada standar BS 372-1957. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan bleaching berpengaruh signifikan terhadap kadar air, MOE, dan MOR, namun tidak beroengaruh terhadap kerapatan. Kayu pinus terserang blue stain yang diberi perlakuan bleaching memiliki kadar air yang lebih tinggi dibanding kontrol. Sedangkan nilai MOE dan MOR yang paling rendah ditemukan pada kayu pinus yang diberi perlakuan bleaching 2:1.  Kata kunci: bleaching, blue stain, fisis, mekanis, pinus.

    ANALISIS PERSEPSI PENGUNJUNG TERHADAP KENYAMANAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TONJENG BERU KELURAHAN PRAPEN KECAMATAN PRAYA

    Full text link
    Based on Law Number 26 of 2007 concerning spatial planning, what is meant by Green Open Space (RTH) is an elongated area, path or group whose users are more open, where plants grow, both those that grow naturally and those that are deliberately planted.  This research aims to analyze visitors’ perceptions of the comfort of the Tonjeng Beru Green Open Space (RTH).  This research uses a quantitative descriptive approach to measure and evaluate visitors’ perceptions of various aspects of RTH comfort, including cleanliness, safety, aesthetics and availability of facilities. Data was obtained through a survey using a questionnaire filled in by RTH visitors.  The research results indicate that visitors perceive the Tonjeng Beru Green Open Space as a comfortable place, although there are several areas that require attention and improvement.  This study contributes to a better understanding of the factors that influence the perception of comfort in green open spaces and provides recommendations for the management and improvement of green open space in the future.Keywords: 4A Tourism Component, Comfort, Green Open Space, Perception, Visitors.AbstrakBerdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang yang dimaksud dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area memanjang, jalur atau kelompok yang penggunanya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanami. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi pengunjung terhadap kenyamanan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tonjeng Beru. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif untuk mengukur dan mengevaluasi persepsi pengunjung terhadap berbagai aspek kenyamanan RTH, termasuk kebersihan, keamanan, estetika, dan ketersediaan fasilitas. Data diperoleh melalui survei dengan menggunakan kuesioner yang diisi oleh pengunjung RTH. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa pengunjung mempersepsikan RTH Tonjeng Beru sebagai tempat yang nyaman, meskipun terdapat beberapa area yang memerlukan perhatian dan peningkatan. Studi ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi kenyamanan di ruang terbuka hijau dan memberikan rekomendasi bagi pengelolaan dan perbaikan RTH di masa depan.Kata kunci: Komponen pariwisata 4A, kenyamanan, ruang terbuka hijau, Persepsi, pengunjun

    PROSES BLEACHING: IMPLIKASINYA PADA PERUBAHAN WARNA DAN SIFAT FISIS KAYU KARET (Hevea Brasiliensis) TERKENA BLUE STAIN

    Full text link
    Blue stain can cause discoloration of wood. This causes the selling price of wood affected by blue stain to decrease in the market, especially if it is used as raw material for furniture. One type of wood that is commonly used to make furniture but is easily affected by blue stain is rubber wood. Effort that can be made to overcome this problem are by bleaching the wood attacked by blue stain. Previous research has been carried out on pine wood with various bleaching compositions. The best results in terms of physical properties and color change were obtained in 25% sodium hypochlorite treatment with a water ratio of 1:2. Therefore, it is necessary to conduct similar studies to analyze the effect of the bleaching process using 25% sodium hypochlorite on the discoloration and physical properties of rubber wood. In this research, rubber wood was treated with bleaching with a composition of 25% sodium hypochlorite:water 1:2. The results obtained showed that the wood after the bleaching process experienced an increase in brightness and a color difference compared to the control. Apart from that, the moisture content value also increases after the bleaching process.Keywords: bleaching, blue stain, rubber wood, sodium hypochlorite.AbstrakJamur pewarna (blue stain) dapat menyebabkan perubahan warna pada kayu. Hal tersebut mengakibatkan penurunan harga jual kayu yang terserang blue stain, terutama jika digunakan sebagai bahan baku furnitur. Salah satu jenis kayu yang sering dimanfaatkan untuk pembuatan furnitur namun mudah terserang blue stain adalah kayu karet. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan proses bleaching pada kayu yang terserang blue stain. Penelitian sebelumnya telah dilakukan pada kayu pinus dengan berbagai komposisi bahan bleaching, dan hasil terbaik dari segi sifat fisik dan perubahan warna diperoleh pada perlakuan sodium hipoklorit 25% dengan perbandingan air 1:2. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian serupa untuk menganalisis pengaruh proses bleaching menggunakan sodium hipoklorit 25% terhadap perubahan warna dan sifat fisis kayu karet. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kayu karet setelah proses bleaching mengalami peningkatan kecerahan dan perbedaan warna dibandingkan kontrol. Selain itu, nilai kadar air juga meningkat setelah proses bleaching.Kata kunci: pemutihan, jamur pewarna, kayu karet, sodium hipoklorit

    THE INFLUENCE OF CLASSIC AND MODERN TYPES OF JOINT CONSTRUCTION ON THE STRENGTH OF WOOD-BASED PRODUCT

    Full text link
    In furniture products, joints represented susceptible areas where damage or structural issues might arise. Consequently, selecting the appropriate joint technique was crucial to reduce the likelihood of failures in furniture joint connections. The objective of this study was to furnish insights into the failure patterns under diagonal compression loads for various wood joints (both traditional and contemporary) constructed with a Medium-Density Fiberboard (MDF). The chosen joint techniques included Dowel (D), tongue and groove (T), Minifix (M), and Insert nut (N). Two compression test scenarios were implemented to evaluate the performance of each joint under external loads. The findings revealed that the Insert nut (N) joint emerged as the most preferable method, demonstrating resilience against the highest external loads and ease of installation, particularly suitable for knock-down furniture items. Conversely, the minifix joint (M) is not recommended due to its intricate construction process, and the compression test results indicated that it exhibited the lowest resistance to external loads.Keywords: Furniture, knock-down, properties, compression test.AbstrakDalam produk furnitur, sambungan merupakan area yang rentan terhadap kerusakan atau masalah struktural yang mungkin timbul. Oleh karena itu, pemilihan teknik sambungan yang tepat sangat penting untuk mengurangi kemungkinan kegagalan dalam sambungan furnitur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan wawasan tentang pola kegagalan di bawah beban kompresi diagonal untuk berbagai jenis sambungan kayu (baik yang tradisional maupun kontemporer) yang dibuat dengan Medium-Density Fiberboard (MDF). Teknik sambungan yang dipilih meliputi Dowel (D), tongue and groove (T), Minifix (M), dan Insert nut (N). Dua skenario uji kompresi diterapkan untuk mengevaluasi kinerja setiap sambungan di bawah beban eksternal. Temuan menunjukkan bahwa sambungan Insert nut (N) muncul sebagai metode yang paling disukai, menunjukkan ketahanan terhadap beban eksternal tertinggi dan kemudahan pemasangan, khususnya cocok untuk furnitur yang dapat dirakit. Sebaliknya, sambungan minifix (M) tidak disarankan karena proses konstruksi yang rumit, dan hasil uji kompresi menunjukkan bahwa sambungan ini menunjukkan resistensi terendah terhadap beban eksternal.Kata kunci: Furnitur, knock-down, properti, uji tekan

    JENIS VEGETASI DAN PERANANNYA TERHADAP SUMBER MATA AIR DI KAWASAN HUTAN LINDUNG BIFEMNASI SONMAHOLE DESA TAEKAS

    Full text link
    Vegetation around springs acts as a water absorber, filter and protects water quality. The presence of vegetation helps prevent erosion, waterlogging, and maintains a balanced ecosystem. This research was conducted to analyze the type of vegetation around the spring in the Bifemnasi Sonmahole Protected Forest Area, Taekas Village. The results of the research can be concluded that the type of vegetation around the Oel Lete spring has 13 types of vegetation with a total of 90 individual types and 8 families. the type Syzygium cumini with a total of 27 individuals, while the species found the least was the type Ficus variegata with the number of individuals 1. The highest INP value was Syzygium cumini (76.04%) and the one with the lowest INP was Terminalia catappa (4.75%).Keywords: Protected Forest Area, Role of Vegetation, Water sources. AbstrakVegetasi di sekitar sumber mata air berperan sebagai penyerap air, penyaring, dan melindungi kualitas air. Kehadiran vegetasi membantu mencegah erosi, genangan air, dan menjaga ekosistem yang seimbang. Penelitian ini dilakukan menganalisis jenis vegetasi sekitar sumber mata air di Kawasan Hutan Lindung Bifemnasi Sonmahole Desa Taekas. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jenis vegetasi di sekitar sumber mata air Oel Lete memiliki 13 jenis vegetasi dengan total individu 90 jenis dan 8 famili. jenis Syzygium cumini dengan jumlah individu 27 sedangkan jenis yang paling sedikit dijumpai adalah jenis Ficus variegata dengan jumlah individu 1. Nilai INP tertinggi adalah Syzygium cumini (76,04%) dan yang memiliki INP terendah adalah Terminalia catappa (4,75%).Kata kunci: Kawasan Hutan Lindung, Peran Vegetasi, Sumber mata air

    112

    full texts

    119

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal TENGKAWANG
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇