Jurnal Kedokteran Universitas Lampung
Not a member yet
131 research outputs found
Sort by
Uji Kepekaan terhadap Antibiotik
Uji kepekaan antimikroba dimulai ketika WHO memprakarsai pertemuan di Jenewa pada tahun 1977, perhatian yang lebih luas mengenai resistensi antimikroba yang berhubungan dengan infeksi pada manusia atau hewan. Hal ini memicu program pengawasan untuk memantau resistensi antimikroba menggunakan metode yang tepat. Sensitivitas tes antimikroba akan membantu dokter untuk menentukan antimikroba yang tepat dalam mengobati infeksi. Untuk mendapatkan hasil yang akurat, tes sensitivitas harus dilakukan dengan metode yang akurat dan tepat, yang merupakan metode langsung dapat digunakan untuk mendukung upaya pengobatan. Kriteria penting dalam metode uji sensitivitas adalah untuk melakukan dengan respon pasien terhadap terapi antimikroba. [JuKe Unila 2015; 5(9):119-123
Oksigen Hiperbarik: Terapi Percepatan Penyembuhan Luka
Terapi oksigen hiperbarik adalah penggunaan 100% oksigen pada tekanan yang lebih besar dari tekanan atmosfer. Terapi ini telah digunakan sebagai terapi tambahan untuk mempercepat penyembuhan luka. Penyembuhan luka pada dasarnya memiliki tiga mekanisme, yaitu kontraksi, epitelialisasi, dan pertumbuhan jaringan pengikat. Perawatan luka yang baik melibatkan kondisi pasien secara lokal maupun sistemik terkait dengan penyembuhan luka sejak proses awal. Oksigen harus ada dalam jumlah yang memadai agar merangsang perkembangan fibroblas dan produksi kolagen. [JuKe Unila 2015; 5(9):124-128
Effectiveness of Accommodating Intra Ocular Lens
Cataract surgery is effective in restoring distance vision. However, standard monofocal intraocular lenses (IOLs) have a fixed refractive power, leaving patients presbyopic and dependent on spectacles for near vision. Restoring the accommodative ability in pseudophakic patients is still challenging. This literature research focus to review the result of near visual acuity and amplitude of accommodation of available accommodating IOLs. Conducted from the Pubmed database and library research for journal articles that were published and related to accommodating IOLs using the keywords accommodating intraocular lens or monofocal intraocular lens or pseudophakic accommodation. Subjective and objective and measurement of amplitude of accommodation was observed. Subjectively, amplitude of accommodation is measured by defocus and near point of accommodation. Accommodation amplitude was measured by dynamic streak retinoscopy, power refractor and IOL movement objectively. Defocus measurement of accommodating IOL showed that the accommodative amplitude was between 0.94 D to 1.90 D and near point of accommodation (NPA) resulted in power around 0.5 D to 3.83 D meanwhile in the monofocal IOL, defocus power was between 0 to 1.52 D and NPA was between 0.42 D to 2.4 D. Dynamic retinoscopy of accommodating IOL showed power between 0.98 D to 0.99 D while monofocal IOL ranged between 0.17 D to 0.24 D. The movement of accommodating IOL was between 0.151 mm to 0.82 mm while it ranged between 0.02 mm to 0.4 mm for monofocal IOLs. Measurement by using power refractor showed that the power was between 0.39 D to 1.00 D for accommodatin IOL while it was 0.10 D to 0.17 D for monofocal IOL. Conclusion, accommodating IOL provided better near vision compared to monofocal IOL. [JuKe Unila 2015; 5(9):147-153
Pengaruh Herbisida Paraquat Dichlorida Oral terhadap Derajat Kerusakan pada Esofagus Tikus
Penggunaan herbisida di Indonesia terutama di sektor pertanian akhir−akhir ini ternyata semakin meningkat. Paraquat merupakan salah satu bahan aktif herbisida jenis gramoxone yang merupakan jenis herbisida yang paling banyak digunakan. Penggunaan paraquat dengan sembarangan dapat merusak berbagai macam organ termasuk traktus gastrointestinal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya efek paparan herbisida golongan paraquat diklorida terhadap gambaran histopatologi esofagus tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorik dengan desain post test only control group design. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 25 ekor tikus yang terbagi kedalam 5 kelompok. K merupakan kelompok kontrol yang diberi akuades, P1 yang diberi paraquat 25 mg/KgBB, P2 yang diberi paraquat 50 mg/KgBB, P3 yang diberi paraquat 100 mg/KgBB dan P4 yang diberi paraquat 200 mg/KgBB. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan uji One Way ANOVA dan uji alternatifnya yaitu uji Kruskal Wallis. Sedangkan untuk melihat keeratan hubungan antar variabelnya digunakan uji Man Whitney. Hasil penelitian menunjukan ada pengaruh pemberian herbisida golongan paraquat diklorida per−oral terhadap gambaran histopatologi esofagus tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley (p=0,002). Hasil penelitian juga menunjukan ada pengaruh peningkatan dosis herbisida golongan paraquat diklorida terhadap derajat kerusakan esofagus tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague dawley. Simpulan, terdapat pengaruh herbisida paraquat dichlorida oral terhadap derajat kerusakan pada esofagus tikus. [JuKe Unila 2015; 5(9):9-12
Faktor Risiko Pola Makan dan Hubungannya dengan Penyakit Jantung pada Pria dan Wanita Dewasa di Provinsi Lampung
Penyakit jantung adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia termasuk Indonesia. Perubahan gaya hidup seperti pola makan yang menjurus ke sajian siap santap yang tidak sehat dan tidak seimbang karena mengandung kalori, lemak, protein, dan garam tinggi tapi rendah serat pangan disinyalir menjadi faktor risiko meningkatnya prevalensi penyakit jantung. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis faktor risiko pola makan dan hubungannya dengan penyakit jantung pada pria dan wanita dewasa di Provinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan disain penelitian cross-sectional. Penelitian ini menganalisis faktor risiko pola makan yang berhubungan dengan penyakit jantung antara lain kebiasaan konsumsi sayur dan buah, kebiasaan konsumsi makanan berlemak, kebiasaan makanan asin, kebiasaan konsumsi alkohol pada pria dan wanita dewasa di Provinsi Lampung. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diambil dari data Riset Kesehatan Dasar 2007 Provinsi Lampung oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Indonesia. Prevalensi penyakit jantung pada pria dan wanita dewasa di Provinsi Lampung adalah 3,8 %. Terdapat hubungan antara konsumsi makanan asin dengan penyakit jantung (OR=1,17). Tidak terdapat hubungan antara riwayat konsumsi alkohol dalam 12 bulan terakhir dengan penyakit jantung (p=0,226). Didapatkan konsumsi sayur dan buah merupakan faktor protektif terhadap penyakit jantung (OR=0,83). Simpulan, penderita jantung Provinsi Lampung harus memperhatikan pola makan meliputi mengurangi konsumsi makanan asin dan meningkatkan konsumsi sayur dan buah. [JuKe Unila 2015; 5(9):18-22
Evaluasi Penatalaksanaan Abses Leher Dalam di Departemen THT-KL Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2012–Desember 2012
Abses leher dalam didefinisikan sebagai kumpulan nanah setempat yang terbentuk dalam ruang potensial diantara fasia leher dalam akibat kerusakan jaringan yang berasal dari penjalaran infeksi gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah, dan leher. Penatalaksanaan bertujuan menurunkan angka morbiditas dan terutama mortalitas, meliputi insisi dan drainase serta pemberian antibiotik yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penatalaksanaan abses leher dalam di Departemen THT-KL Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif retrospektif pada penderita yang terdiagnosis abses leher dalam berdasarkan data rekam medik periode Januari-Desember 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan 28 pasien, laki–laki (68%) dan perempuan (32%), terjadi pada kelompok usia terbanyak 20-39 tahun (50%), dengan tingkat sosial ekonomi rendah (64%). Berdasarkan jenis atau lokasi abses didapatkan terbanyak abses peritonsiller (32%) dengan sumber infeksi terbanyak dari odontogenik (50%). Penatalaksanaan terbanyak, antibiotik disertai insisi drainase (43%). Lama perawatan diperoleh terbanyak <7 hari (39%) dengan kondisi saat pulang terdapat perbaikan (71%). Simpulan penatalaksanaan abses leher dalam di Departemen THT-KL RSHS Bandung periode Januari-Desember 2012 memperlihatkan kondisi pasien saat pulang dengan perbaikan. [JuKe Unila 2015; 5(9):33-37
Pengaruh Pemberian Infusa Kopi dalam Menurunkan Kadar Glukosa Darah Mencit yang Diinduksi Aloksan
Diabetes adalah penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa yang tinggi pada darah. Penyakit ini menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Penanganan penyakit diabetes dilakukan dengan pemberian insulin atau obat antidiabetes. Namun demikian, pemberian obat ini sering menimbulkan efek samping bagi penderita diabetes. Oleh karena itu, perlu dicari obat antidiabetes yang aman dan dapat menurunkan kadar glukosa darah. Salah satu alternatif adalah dengan menggunakan infusa kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian infusa kopi terhadap kadar glukosa darah mencit yang diinduksi aloksan. Penelitian ini menggunakan 27 ekor mencit yang dibagi menjadi 9 kelompok. Satu kelompok mencit digunakan sebagai kontrol normal dan kelompok mencit lainnya diinduksi aloksan 4,8 mg/g bb dan diberikan infusa kopi dosis 0, 6, 12, 18, 24, 30, 36, dan 42 mg/kg bb sehari sekali selama 7 hari mulai hari ke-8 pasca induksi aloksan. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan pada hari ke-7 dan ke-28 setelah induksi aloksan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infusa kopi dosis 36 mg/kg bb dapat menurunkan kadar glukosa darah menjadi normal dengan kadar glukosa darah sebesar 154 mg/dL. Simpulan, infusa kopi dapat menurukan kadar glukosa darah. [JuKe Unila 2015; 5(9):1-8
Karakteristik Pasien Kanker Ovarium di Rumah Sakit Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung Tahun 2009-2013
Tumor ovarium merupakan salah satu neoplasma yang dijumpai pada sistem genitalia wanita. Tumor ovarium dikategorikan menjadi tiga kelompok yaitu tumor jinak, bordeline, dan tumor ganas. Tumor ovarium diperkirakan 30% dari seluruh kanker pada sistem genitalia wanita. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif retrospektif dengan menggunakan sampel dari penderita kanker ovarium di RSUD dr. H. Abdul Moeloek (RSAM) Bandar Lampung dari tahun 2009-2013. Didapatkan sampel sebanyak 24 orang. Dianalisis dengan analisis univariat. Dari penelitian ini didapatkan usia penderita kanker ovarium di RSAM Bandar Lampung yang terbanyak adalah berusia 31-40 tahun yaitu 10 orang (41,7%). Ukuran kanker ovarium yang terbanyak yaitu berukuran 10 cm dan 15 cm yaitu masing-masing sebanyak 8 orang (33,3%). Jenis kanker yang terbanyak adalah karsinoma epitelial yaitu 16 orang (66,7%) dengan jenis terbanyak adalah adenokarsinoma jenis serosum sebanyak 5 orang (20,8%). Simpulan, sebagian besar penderita penyakit kanker ovarium di RSAM Bandar Lampung periode 2009-2013 berusia 31-40 tahun, dengan diameter 10 cm dan 15 cm. Jenis kanker yang paling sering dijumpai adalah karsinoma epitelial yaitu adenokarsinoma jenis serosum. [JuKe Unila 2015; 5(9):43-47