Jurnal Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
    258 research outputs found

    Bioaccumulation of Iron (Fe) in Sepat Fish (Trichogaster trichopterus) in Miai River Waters Banjarmasin City

    No full text
    Miai River is one of the rivers with various anthropogenic activities such as dense settlements, factories, and landfills. Industrial waste and domestic waste generated by residents are suspected to result in water contamination by toxic materials. Fe pollution is a major concern in aquatic ecosystems, especially in the Miai River of Banjarmasin City. This study aimed to evaluate the concentration of Fe in water and sepat fish and determine its relationship with fish weight. This research was conducted by taking samples of fish and water at 2 different locations and for testing the heavy metal content was analyzed by AAS. The results of Fe levels in river water at point 1 averaged 1.155 mg/L and at point 2 averaged 2.102 mg/L, exceeding the specified quality standards. The results of Fe levels in fish at point 1 averaged 26.450 mg/Kg and at point 2 averaged 22.466 mg/Kg exceeded the standard limit. The relationship between Fe in water and in fish is r = -0.999, meaning that the correlation is very strong and opposite. The relationship between Fe in fish and fish body weight is very low with a value of r = 0.164

    PEMETAAN HABITAT BENTIK BERBASIS PIXEL MENGGUNAKAN CITRA SPOT-7 DI PERAIRAN DESA PENGUDANG KABUPATEN BINTAN

    Get PDF
    Habitat bentik, yang merupakan bagian dari daerah pesisir, meliputi ekosistem terumbu karang dan lamun, keduanya sangat produktif dan vital bagi kehidupan laut. Ekosistem ini memberikan manfaat besar dalam bentuk barang dan jasa lingkungan. Desa Pengudang di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, memiliki ekosistem laut yang beragam dan sehat, termasuk ekosistem lamun dan terumbu karang. Wilayah ini telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi lamun dan daerah wisata, namun menghadapi perubahan ekosistem, termasuk kerusakan dan kehilangan, yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia. Oleh karena itu, pemetaan dan pemantauan habitat bentik sangat penting untuk melacak perubahan yang terjadi. Citra satelit SPOT-7 digunakan untuk mengamati perubahan ini. Pengumpulan data dilakukan dari 10 Juni 2023 hingga 15 Januari 2024, dengan 250 titik observasi di Desa Pengudang, Kecamatan Teluk Sebong. Penelitian ini menggunakan algoritma Maximum Likelihood Classification (MLC) untuk pemrosesan citra. Komponen penyusun habitat bentik di perairan Desa Pengudang terdiri dari enam jenis habitat yaitu Alga bercampur dengan Karang Mati (AKM), Karang Mati bercampur dengan Pasir (KMP), Lamun (L), Lamun bercampur dengan Pasir (LP), Pasir (P), dan Pasir bercampur dengan Karang Hidup (PKH). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan yang signifikan dalam tutupan habitat bentik dalam kurun waktu 6 tahun di perairan Desa Pengudang dari tahun 2016 hingga 2022. Overall Accuracy (OA) dari hasil klasifikasi adalah 65,33% untuk citra tahun 2016 dan 76% untuk citra tahun 2022. Pemetaan ini membantu untuk menilai kondisi ekosistem dan memberikan wawasan tentang perubahan lingkungan laut di wilayah tersebut

    PERBANDINGAN STOK KARBON PADA VEGETASI MANGROVE ALAMI DAN HASIL REHABILITASI DI PROVINSI BANTEN

    Get PDF
    Rehabilitasi mangrove dilakukan dalam rangka mengembalikan jasa ekosistem mangrove yang hilang akibat dari kerusakan ekosistem. Salah satu jasa ekosistem yang dipulihkan adalah kemampuan vegetasi mangrove untuk menyerap karbon. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan stok karbon pada vegetasi mangrove alami dan hasil rehabilitasi di Provinsi Banten. Penelitian dilakukan pada 3 stasiun: Pertama Lontar sebagai stasiun pengamatan pada vegetasi mangrove hasil rehabilitasi; Kedua, Citeureup sebagai stasiun pengamatan vegetasi mangrove alami yang berada di muara sungai; Ketiga, Cigorondong sebagai stasiun pengamatan vegetasi mangrove alami sempadan pantai. Pengamatan dilakukan pada minimal 2 plot 10x10 m2 tiap stasiun, dengan parameter jenis mangrove dan lingkar batang yang dicatat menggunakan aplikasi MonMang 2.0. Hasil pengamatan pada ketiga stasiun ditemukan 7 spesies alami dan 1 spesies hasil rehabilitasi. Stok karbon tertinggi (129,89 – 177,08 ton/ha) ditemukan pada jenis mangrove Avicennia marina yang merupakan spesies alami dari stasiun Lontar dan Cigorondong. Sedangkan spesies rehabilitasi Rhizophora stylosa hanya terdapat stok karbon sebesar 20,38 ton/ha, nilai ini lebih kecil dari beberapa spesies alami lain. Hal ini dikarenakan biomassa tegakan mangrove jenis R. stylosa juga lebih kecil yang dipengaruhi oleh diameter batang yang kecil. Diameter batang yang kecil ini diduga karena pola penanaman yang terlalu rapat sehingga terjadi persaingan intraspesifik antar mangrove. Selain pengukuran stok karbon pada vegetasi, perlu juga dilakukan pengukuran stok pada kolam penyimpanan karbon lain

    Pemetaan Batimetri dan Analisis Kondisi Fisik dan Kimia Perairan Pulau Putri-Kayu Angin, Kepulauan Seribu, Jakarta

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan batimetri dan analisis kondisi fisik serta kimia perairan di sekitar Pulau Putri dan Pulau Kayu Angin, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Metode penelitian yang digunakan mencakup pengukuran kedalaman laut menggunakan echosounder GPS MAP 585 S untuk pembuatan peta batimetri, serta pengumpulan data pasang surut menggunakan data dari Dishidros TNI AL. Selain itu, sampel air diambil pada beberapa titik untuk menganalisis parameter fisik dan kimis seperti suhu, salinitas, pH, dan oksigen terlarut. Data batimetri yang diperoleh diolah menggunakan perangkat lunak GIS untuk menghasilkan peta topografi bawah laut yang akurat. Analisis data fisik dan kimia perairan memberikan gambaran tentang kualitas air dan kondisi lingkungan di area penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perairan di perairan Pulau Putri – Kayu Angin mempunyai dasar perairan yang cukup landai dan beberapa ada yang curam dari kedalaman 3 m hingga 29,7 m. Analisa data pasang surut memperlihatkan pasang surut di daerah tersebut termasuk pada tipe harian tunggal. Secara umum, kondisi perairan yang baik dapat diamati dari hasil pengukuran kualitas perairan yang tidak melebihi baku mutu air laut untuk biota laut Temuan ini memberikan dasar ilmiah untuk pengelolaan lingkungan dan konservasi sumber daya perairan di Kepulauan Seribu

    MIKROPLASTIK DALAM SALURAN PERNCERNAAN IKAN DI WADUK JATIGEDE

    Get PDF
    Jatigede Reservoir receives water masses and materials from the Cimanuk River, such as nutrients, sediments, and waste, including microplastics. This study aims to analyze the presence of microplastics in the digestive tract of caught fish in Jatigede Reservoir. Fish samples were obtained from fishermen, fish collectors, and fish farmers. Microplastic observations were carried out in the stomach and intestines of fish through the stages of observing fish eating habits, extraction, followed by FTIR analysis to determine the presence, abundance, and type of polymer. Carnivorous fish have the highest amount of microplastics. There is a marked difference between the amount of microplastics and the origin of fish intake. The shorter the fish's gut, the greater the amount of microplastics found. Based on their shape, the type of microplastic is dominated by fibers with a blue color. The most common polymer found is nylon. The digestive tract of fish in Jatigede Reservoir already contains microplastics of various types and colors, with varying amounts, according to the nature of eating fish

    KOMPOSISI MIKROPLASTIK PADA AIR DAN SEDIMEN DI PULAU TEGAS, KABUPATEN PESAWARAN, LAMPUNG

    No full text
    Sampah plastik masih menjadi masalah yang cukup serius di wilayah pesisir, termasuk Pulau Tegal. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat sampah makroplastik di Pulau Tegal pada kurun waktu 2017-2022 dan menemukan bahwa sampah plastik mendominasi lebih dari 50%. Sampah makroplastik ini akan mengalami berbagai proses penghancuran selama perjalanannya, sehingga ukurannya menjadi lebih kecil, yang biasa disebut mikroplastik. Keberadaan mikroplastik di perairan dapat membahayakan biota laut. Mikroplastik yang tertelan oleh biota laut dapat terakumulasi dan berpindah ke tingkat trofik yang lebih tinggi hingga mencapai manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan kelimpahan mikroplastik di perairan dan sedimen Pulau Tegal. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2024. Sampel air dan sedimen diambil pada 4 stasiun dengan kedalaman <1meter dan >15 meter. Sampel air diambil sebanyak 200 ml, sedangkan sedimen sebanyak 200 g. Analisis laboratorium sampel air meliputi tahap-tahap berikut: penyaringan, degradasi bahan organik dengan H2O2 30%, pemisahan densitas menggunakan sampel NaCl 6 gram/20 ml, dan pengamatan mikroplastik. Analisis sampel sedimen dilakukan melalui tahap-tahap berikut: pengeringan sampel, pemisahan densitas menggunakan NaCl 150 ml, degradasi bahan organik dengan H2O2 30%, penyaringan, dan identifikasi. Mikroplastik yang ditemukan di perairan Pulau Tegal terdiri dari bentuk fiber, film, fragmen, dan pellet. Kelimpahan pada perairan tercatat sejumlah 164,3 partikel/m3 yang didominasi warna hitam. Pada sedimen Pulau Tegal ditemukan mikroplastik berbentuk fiber dan film. Kelimpahan pada sedimen tercatat sejumlah 275,3 partikel/kg yang didominasi warna hitam. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara deskriptif kuantitatif serta disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan gambar

    ETNOZOOLOGI TANGKAPAN NELAYAN DI DERMAGA BOM, KECAMATAN KALIANDA, LAMPUNG SELATAN

    Get PDF
    Provinsi Lampung terkenal dengan hasil lautnya yang sangat melimpah. Salah satunya di Kabupaten Lampung Selatan yang pesisir pantainya panjang dan kaya akan hasil laut, sehingga mempunyai potensi yang sangat besar dalam industri ikan tangkap. Tujuan dari penelitian ini adalah identifikasi hasil tangkapan ikan nelayan di Dermaga Bom, Kecamatan Kalianda, mengetahui teknik penangkapan ikan hasil tangkapan nelayan di Dermaga Bom, serta untuk mengetahui pengelolaan hasil tangkapan nelayan oleh masyarakat Kalianda Bawah. Pengambilan data dilakukan menggunakan jenis pendekatan deskriptif kualitatif dengan observasi, kemudian melakukan wawancara dan dokumentasi. Metode wawancara semi-struktural dilakukan dengan 30 responden, terbagi atas 10 orang sebagai nelayan, 15 sebagai pedagang ikan dan 5 orang masyarakat Kalianda Bawah terpilih mengenai jenis-jenis ikan tangkapan nelayan, teknik penangkapan ikan oleh nelayan dan pengelolaan hasil tangkapan nelayan. Hasil dari penelitian ditemukan 21 jenis tangkapan nelayan yang tergolong dalam 16 famili. Teknik dalam penangkapan ini menggunakan jaring rampus,jaring congkel,jaring congkel, dan pancingan. Pengelolaan hasil tangkapan masyarakat yang dilakukan kalianda bawah ada yang dikonsumsi langsung sebagai makanan sehari-hari atau diolah menjadi produk olahan seperti bakso ikan, otak-otak, dan pempek, serta ada yang diolah menjadi ikan asin

    Optimizing Quality and Growth of Gracilaria verrucosa (Gracilariaceae: Gracilariales) in Extensive Ponds

    Get PDF
    Faktor penting dalam budidaya rumput laut Gracilaria verrucosa di tambak ekstensif  adalah penentuan kepadatan komoditas yang tepat, pemberian pupuk sebagai nutrisi untuk mendukung pertumbuhan rumput laut, dan tanah tambak sebagai penampung nutrisi dan menjaga kestabilan rumput laut di tambak selama proses budidaya. Indikator keberhasilan kegiatan budidaya rumput laut pada tambak ekstensif diukur dari  kualitas agar, rendemn, viskositas, dan kekuatan gel yang optimal. Tujuan penelitian ini untuk memahami sejauh mana faktor-faktor pertumbuhan, jumlah sel, dan kandungan unsur hara berkontribusi terhadap peningkatan kualitas agar rumput laut dalam bentuk model jalur, serta memastikan bahwa kondisi air dan tanah di tambak memenuhi standar yang diperlukan untuk mendukung produksi rumput laut yang berkualitas tinggi. Substrat tanah khususnya di daerah pantura jawa timur sudah banyak terkontaminasi bahan kimia dari aktivitas industri, sehingga kami ingin menguji apakah tanah dengan kondisi tersebut di atas masih layak untuk digunakan dalam peningkatan kualtias agar rumput laut. Penelitian ini dilakukan di hamparan tambak  dengan menggunakan 3 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu: A (Kepadatan Terbaik + Tanpa Pupuk Vermicompost + Substrat Tanah Tambak), B (Kepadatan Terbaik + Pupuk Vermicompost + Substrat Tanah Tambak) dan C (Kepadatan Terbaik + Pupuk Vermicompost + Tanpa Substrat Tanah Tambak). Berdasarkan model analisis jalur yang dihasilkan menunjukkan pertumbuhan, jumlah sel serta unsur hara (kandungan gizi) masing-masing memiliki hubungan medium, kuat, dan sangat kuat dalam menghasilkan peningkatan kualitas agar rumput laut  di tambak ekstensif. Kemudian, kualitas air dan tanah secara deskriptif termasuk dalam kategori layak untuk mendukung pertumbuhan dan kualitas rumput laut di tambak.

    Pengembangan Tata Kelola Ekonomi Biru Untuk Memperkuat Blue Economy Development Index di Indonesia

    Get PDF
    Meskipun ekonomi biru mempunyai potensi untuk berperan dalam pembangunan kelautan yang berkelanjutan, hingga saat ini praktik-praktik untuk menerapkan konsep ekonomi biru jumlahnya masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sektor-sektor yang potensial untuk mendukung pembangunan ekonomi biru, menganalisis elemen-elemen yang terlibat dalam tata kelola ekonomi biru, serta menganalisis model struktural elemen-elemen tersebut guna meningkatkan Blue Economy Development Index di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran untuk mencapai tujuan tersebut: analisis kebijakan dan kelembagaan, wawancara semi terstruktur dengan pelaku ekonomi biru, dan survei lapangan. Metode analisis yang digunakan adalah interpretive structural modeling. Temuan penelitian ini menunjukan adanya enam sektor ekonomi biru di Pulau Untung Jawa: keberadaan galangan kapal, penangkapan ikan, aquakultur, wisata bahari, transportasi laut, dan desalinasi air laut. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa penegakan hukum dan peraturan terkait ekonomi biru sebagai elemen kunci, dilanjutkan dengan elemen dukungan pemangku kepentingan terkait ekonomi biru. Sedangkan untuk kelembagaan tata kelola ekonomi biru yang berkelanjutan, penelitian ini menemukan kepemimpinan dan komitmen pemerintah sebagai elemen kunci kelembagaan tata kelola ekonomi biru

    Efektivitas pakan moist berbasis singkong dan keong pada budidaya lobster air tawar (Cherax quadricarinatus)

    Get PDF
    The  feed plays a critical role in the success of freshwater lobster cultivation, but it often presents challenges due to its relatively high cost, accounting for up to 60% of production expenses. To address this issue, farmers in Sukabumi have devised various alternative feeds by harnessing different protein sources to reduce the expenditure on commercial pellets. One such innovation is a moist feed composed of a blend of pellets, cassava, and snails in a ratio of 1:1:1.4. However, there hasn't been prior testing of its nutritional content. Consequently, this study aims to evaluate the nutritional composition of this moist feed and assess its impact on the growth of freshwater lobsters as well as water quality. For this research, a total of 300 lobsters, ranging in size from 7 to 10 grams, were reared in fiberglass tanks. The lobsters were fed twice daily. The proximate analysis of the cassava and snail-based moist feed revealed protein content (20.52%), fat (2.61%), carbohydrates (12.87%), moisture content (50.64%), and ash content (13.36%). The lobsters exhibited a growth rate of 0.3% per day, and the water quality remained favorable, with parameters such as temperature (23-25°C), pH (6.5-7), dissolved oxygen (5-7 mg/L), nitrate (1.907 mg/L), nitrite (0.141 mg/L), ammonia (0.442 mg/L), phosphate (0.032 mg/L), and alkalinity (237.4 mg CaCO3/L) within acceptable ranges. These findings suggest that the moist feed provided by farmers lacks sufficient protein content to fully meet the nutritional requirements of lobsters, resulting in slower growth. On the other hand, water quality remains conducive for successful lobster farming

    199

    full texts

    258

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Perikanan dan Kelautan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇