International Journal on Integration of Knowledge
Not a member yet
    12 research outputs found

    SPIRITUAL HOMO DEUS: MULYADHI KARTANEGARA INDIGENOUS ISLAMIC ENVIRONMENTALISM THOUGHT

    Full text link
    This study seeks to explore Mulyadhi Kartanegara's idea of Indigenous Islamic Environmentalism. It is called indigenous because, in Mulyadhi's perspective, there is a problem with uprooting Muslims from their intellectual tradition (indigenous knowledge). For Mulyadhi, this disconnection provides an opportunity for the inclusion of a materialistic western conception of cosmology and influences the perspective of Muslims in general. Because of this trend, the behavior of Muslims towards nature is not much different from modern humans in general, who view nature as an object that can be exploited without limits. To fight the tendency of this dominating relationship, Mulyadhi attempted to formulate alternative ecological ideas based on inspiration from the indigenous Islamic intellectual tradition that developed in the medieval Islamic world: the views of the Ikhwan Al-Shafa/ brethren of purity (peripatetic tradition) and Rumi (gnosis tradition). The ecological ideas developed by Mulyadhi centered on the theistic evolutionary concept of the universe. For Mulyadhi, this universe is a living entity and has a strong sense of love for God. The reason is, the love that nature has is divine, seeking perfection. At the same time, God is a perfect being itself. In this context, the universe with its love carries out a transformative motion to get closer to God. One of the fruits of this transformative movement is humans, who the Ikhwan position as a microcosm. The reason is that the nature of the universe is wholly contained in humans (minerals, vegetable souls, animal souls, and rational souls). However, Rumi states that man is a macrocosm because he is the vital goal of the transformation process, like fruit (man) produced from the tree of life (nature). So, for Mulyadhi, humans are the essential evolutionary stage of the universe, like the mouth to the body. At the peak of creation, humans are expected to be the liaison between God and the universe. With the help of a human, the universe can feel the blessings of this divine connection. As an inseparable part of nature, humans also become a kind of mirror that will reflect the natural reality outside of themselves. If the inner state of a human being experiences darkness, it will also impact the destruction of nature or vice versa. So, this ecological idea demands the transformation of the human soul as a prerequisite for overcoming environmental problems. The change in question is the continuity of human spiritual Evolution (trans cosmic voyage), which will give birth to a new person termed Insan Kamil (the perfect man), namely humans who can "manifest" the attributes of God in everyday life. Using Harari term, Insan Kamil (the perfect man) is a "Spiritual" Homo Deus. ABSTRAK: Penelitian ini berupaya menggali gagasan Mulyadhi Kartanegara tentang Environmentalisme Islam yang bersifat indigeneous. Disebut indigeneous karena dalam pandangan Mulyadhi ada persoalan mencabut umat Islam dari tradisi intelektualnya (indigenous knowledge). Bagi Mulyadhi, keterputusan ini memberikan peluang masuknya konsepsi kosmologi barat yang materialistis dimana mempengaruhi cara pandang umat Islam secara umum. Karena kecenderungan tersebut, perilaku umat Islam terhadap alam tidak jauh berbeda dengan manusia modern pada umumnya yang memandang alam sebagai objek yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Untuk melawan kecenderungan hubungan yang mendominasi tersebut, Mulyadhi berupaya merumuskan gagasan-gagasan ekologi alternatif berdasarkan inspirasi tradisi intelektual Islam indigeneous yang berkembang di dunia Islam pada abad pertengahan yakni pandangan Ikhwan Al-Shafa (tradisi peripatetik) dan Rumi (tradisi gnosis). Ide ekologi yang dikembangkan Mulyadhi berpusat pada konsep evolusi teistik tentang alam semesta. Bagi Mulyadhi, alam semesta ini merupakan satu kesatuan yang hidup dan memiliki rasa cinta yang kuat terhadap Tuhan. Menurutnya, cinta yang dimiliki alam bersifat ilahi yakni mencari kesempurnaan. Pada saat yang sama, Tuhan diposisikan sebagai Dzat yang Maha Sempurna. Dalam konteks ini, alam semesta dengan kecintaannya melakukan gerak evolusi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Salah satu buah dari gerakan transformatif ini adalah kemunculan manusia yang diposisikan Ikhwan sebagai mikrokosmos. Alasannya karena hakikat alam semesta seluruhnya terkandung dalam diri manusia (mineral, jiwa nabati, jiwa hewani, dan jiwa rasional). Berbeda dengan Ikhwan, Rumi menyatakan bahwa manusia adalah makrokosmos karena ia adalah tujuan akhir dari proses evolusi, kayaknya buah (manusia) yang dihasilkan melalui pohon kehidupan (alam). Jadi, bagi Mulyadhi, manusia adalah tahap evolusi paling esensial dari alam semesta, ibaratnya perjalanan dari mulut menuju tubuh. Sebagai puncak dari proses evolusi/penciptaan, manusia diharapkan menjadi penghubung antara Tuhan dan alam semesta. Dengan bantuan manusia-lah, alam semesta dapat merasakan berkah Ilahi. Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alam, manusia menjadi semacam cermin yang mencerminkan realitas alam di luar dirinya. Maka, jika keadaan batin manusia mengalami kegelapan secara otomatis akan berdampak pula pada rusaknya alam, begitupun sebaliknya. Jadi, gagasan ekologi indigeneous ini menuntut transformasi jiwa manusia sebagai prasyarat untuk mengatasi permasalahan lingkungan. Perubahan yang dimaksud adalah urgensi melanjutkan Evolusi pada tataran spiritual manusia (transcosmic voyage) yang akan melahirkan manusia baru yang diistilahkan dengan julukan Insan Kamil (manusia sempurna), yaitu manusia yang dapat “mewujudkan” sifat-sifat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Jika meminjam istilah Harari, Insan Kamil (manusia sempurna) dapat dikatakan adaalah manifestasi dari Homo Deus yang bercorak spiritual.Penelitian ini berupaya menggali gagasan Mulyadhi Kartanegara tentang Environmentalisme Islam yang bersifat indigeneous. Disebut indigeneous karena dalam pandangan Mulyadhi ada persoalan mencabut umat Islam dari tradisi intelektualnya (indigenous knowledge). Bagi Mulyadhi, keterputusan ini memberikan peluang masuknya konsepsi kosmologi barat yang materialistis dimana mempengaruhi cara pandang umat Islam secara umum. Karena kecenderungan tersebut, perilaku umat Islam terhadap alam tidak jauh berbeda dengan manusia modern pada umumnya yang memandang alam sebagai objek yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Untuk melawan kecenderungan hubungan yang mendominasi tersebut, Mulyadhi berupaya merumuskan gagasan-gagasan ekologi alternatif berdasarkan inspirasi tradisi intelektual Islam indigeneous yang berkembang di dunia Islam pada abad pertengahan yakni pandangan Ikhwan Al-Shafa (tradisi peripatetik) dan Rumi (tradisi gnosis). Ide ekologi yang dikembangkan Mulyadhi berpusat pada konsep evolusi teistik tentang alam semesta. Bagi Mulyadhi, alam semesta ini merupakan satu kesatuan yang hidup dan memiliki rasa cinta yang kuat terhadap Tuhan. Menurutnya, cinta yang dimiliki alam bersifat ilahi yakni mencari kesempurnaan. Pada saat yang sama, Tuhan diposisikan sebagai Dzat yang Maha Sempurna. Dalam konteks ini, alam semesta dengan kecintaannya melakukan gerak evolusi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Salah satu buah dari gerakan transformatif ini adalah kemunculan manusia yang diposisikan Ikhwan sebagai mikrokosmos. Alasannya karena hakikat alam semesta seluruhnya terkandung dalam diri manusia (mineral, jiwa nabati, jiwa hewani, dan jiwa rasional). Berbeda dengan Ikhwan, Rumi menyatakan bahwa manusia adalah makrokosmos karena ia adalah tujuan akhir dari proses evolusi, kayaknya buah (manusia) yang dihasilkan melalui pohon kehidupan (alam). Jadi, bagi Mulyadhi, manusia adalah tahap evolusi paling esensial dari alam semesta, ibaratnya perjalanan dari mulut menuju tubuh. Sebagai puncak dari proses evolusi/penciptaan, manusia diharapkan menjadi penghubung antara Tuhan dan alam semesta. Dengan bantuan manusia-lah, alam semesta dapat merasakan berkah Ilahi. Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alam, manusia menjadi semacam cermin yang mencerminkan realitas alam di luar dirinya. Maka, jika keadaan batin manusia mengalami kegelapan secara otomatis akan berdampak pula pada rusaknya alam, begitupun sebaliknya. Jadi, gagasan ekologi indigeneous ini menuntut transformasi jiwa manusia sebagai prasyarat untuk mengatasi permasalahan lingkungan. Perubahan yang dimaksud adalah urgensi melanjutkan Evolusi pada tataran spiritual manusia (transcosmic voyage) yang akan melahirkan manusia baru yang diistilahkan dengan julukan Insan Kamil (manusia sempurna), yaitu manusia yang dapat “mewujudkan” sifat-sifat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Jika meminjam istilah Harari, Insan Kamil (manusia sempurna) dapat dikatakan adaalah manifestasi dari Homo Deus yang bercorak spiritual

    TELEWORKING MONITORING SYSTEM USING NILM AND K-NN ALGORITHMS: A STRATEGY FOR SUSTAINABLE SMART CITIES

    Full text link
    Working from home or teleworking has become a common practice for most office employees during certain special situations such as pandemic. One of the challenges faced by employers, however, is monitoring workers who are working from home. Webcam, live video feed, or mobile phone tracking deemed to be intrusive. Therefore, in this work, a non-intrusive monitoring approach is used to effectively help employers to keep track of teleworking employees through specific electrical appliances operating condition while maintaining users’ privacies. This strategy uses non-intrusive load monitoring (NILM) approach to recognize four electrical appliances’ switching events used during teleworking measured from a single power point. Together with an event classification method known as K-Nearest Neighbor (k-NN) algorithm, the teleworking event and duration can be identified. The results were presented using classification metrics that consist of confusion matrix and accuracy score. An accuracy of up to 62% has been achieved for the classifier. It is observed that the similarity of appliances’ power usage affects the model accuracy and confusion matrix is constructed to help identify the number of events that are correctly classified as well as wrongly classified. Results from NILM and k-NN strategy can be implemented in the smart city towards sustainability to create a sustainable and employees well-being. It is also useful for an organization to evaluate an employee’s performance who opt for teleworking. ABSTRAK: Bekerja dari rumah telah menjadi amalan biasa bagi kebanyakan pekerja-pekerja pejabat semasa situasi khas tertentu seperti wabak penyakit. Salah satu cabaran yang dihadapi oleh para majikan, adalah memantau para pekerja yang bekerja dari rumah. Kamera web, suapan video langsung atau penjejakan telefon mudah alih adalah dianggap mengganggu privasi. Oleh itu, dalam kajian ini, pendekatan pemantauan tidak mengganggu privasi digunakan untuk membantu para majikan dengan berkesan menjejak para pekerja yang bekerja dari rumah melalui keadaan operasi peralatan-peralatan elektrik tertentu sambil mengekalkan privasi pengguna. Strategi ini menggunakan pendekatan pemantauan beban elektrik tanpa gangguan (NILM) untuk mengenali empat situasi pensuisan peralatan-peralatan elektrik yang digunakan semasa bekerja dari rumah diukur dari satu titik kuasa. Bersama-sama dengan kaedah-kaedah pengkelasan situation yang dikenali sebagai algoritma K-Nearest Neighbor (k-NN), acara bekerja dari rumah dan tempoh boleh dikenal pasti. Keputusan telah dibentangkan menggunakan metrik klasifikasi yang terdiri daripada matriks kekeliruan dan skor ketepatan. Ketepatan sehingga 62% telah dicapai untuk pengkelasan. Adalah diperhatikan bahawa persamaan penggunaan kuasa peralatan-peralatan elektrik mempengaruhi ketepatan model dan matriks kekeliruan dibina untuk membantu mengenal pasti bilangan peristiwa yang dikelaskan dengan betul serta dikelaskan secara salah. Hasil daripada strategi NILM dan k-NN boleh dilaksanakan di bandar pintar ke arah kemampanan untuk mewujudkan kesejahteraan para pekerja dan mampan. Ia juga berguna untuk organisasi menilai prestasi para pekerja yang memilih untuk bekerja dari rumah.Bekerja dari rumah telah menjadi amalan biasa bagi kebanyakan pekerja-pekerja pejabat semasa situasi khas tertentu seperti wabak penyakit. Salah satu cabaran yang dihadapi oleh para majikan, adalah memantau para pekerja yang bekerja dari rumah. Kamera web, suapan video langsung atau penjejakan telefon mudah alih adalah dianggap mengganggu privasi. Oleh itu, dalam kajian ini, pendekatan pemantauan tidak mengganggu privasi digunakan untuk membantu para majikan dengan berkesan menjejak para pekerja yang bekerja dari rumah melalui keadaan operasi peralatan-peralatan elektrik tertentu sambil mengekalkan privasi pengguna. Strategi ini menggunakan pendekatan pemantauan beban elektrik tanpa gangguan (NILM) untuk mengenali empat situasi pensuisan peralatan-peralatan elektrik yang digunakan semasa bekerja dari rumah diukur dari satu titik kuasa. Bersama-sama dengan kaedah-kaedah pengkelasan situation yang dikenali sebagai algoritma K-Nearest Neighbor (k-NN), acara bekerja dari rumah dan tempoh boleh dikenal pasti. Keputusan telah dibentangkan menggunakan metrik klasifikasi yang terdiri daripada matriks kekeliruan dan skor ketepatan. Ketepatan sehingga 62% telah dicapai untuk pengkelasan. Adalah diperhatikan bahawa persamaan penggunaan kuasa peralatan-peralatan elektrik mempengaruhi ketepatan model dan matriks kekeliruan dibina untuk membantu mengenal pasti bilangan peristiwa yang dikelaskan dengan betul serta dikelaskan secara salah. Hasil daripada strategi NILM dan k-NN boleh dilaksanakan di bandar pintar ke arah kemampanan untuk mewujudkan kesejahteraan para pekerja dan mampan. Ia juga berguna untuk organisasi menilai prestasi para pekerja yang memilih untuk bekerja dari rumah

    PERSUASIVE MASTERY: EXPLORING A MUSLIM CELEBRITY PODCASTER'S APPEALS IN 'LIGHT UPON DARKNESS'

    Full text link
    This study explores the persuasive appeals of logical, emotional, and credibility appeals employed in the podcast series "Light Upon Darkness" by a prominent Muslim celebrity turned influencer. Thematic analysis using elements from the Toulmin Model, Maslow’s Hierarchy of Needs, and Aristotle’s Rhetoric of Ethos reveals that the podcaster employs a diverse approach, utilizing some elements of the Toulmin Model to strengthen logic, integrating all of Maslow’s Hierarchy of Needs to evoke emotional resonance with the audience and establishes credibility by sharing personal background, life experiences, expertise, and thoughts while showing respect to the audience. These findings offer insights into the dynamics of persuasive communication in podcasting and contribute to a broader understanding of the role of appeals in shaping effective communication within the digital realm. ABSTRAK: Kajian ini meneroka daya tarikan persuasif rayuan logik, emosi dan kredibiliti yang digunakan dalam siri podcast "Light Upon Darkness" oleh seorang selebriti Muslim terkenal yang menjadi pempengaruh. Analisis tematik menggunakan unsur-unsur daripada Model Toulmin, Hierarki Keperluan Maslow dan Retorik Ethos Aristotle mendedahkan bahawa pelbagai pendekatan telah digunakan dari beberapa elemen Model Toulmin untuk mengukuhkan logik, menyepadukan semua Hierarki Keperluan Maslow untuk membangkitkan resonans emosi dengan pendengar dan mewujudkan kredibiliti dengan berkongsi latar belakang peribadi, pengalaman hidup, kepakaran dan pemikiran sambil menunjukkan rasa hormat kepada pendengar. Penemuan ini menawarkan pandangan tentang dinamik komunikasi persuasif dalam podcasting dan menyumbang kepada pemahaman yang lebih luas tentang peranan rayuan dalam membentuk komunikasi yang berkesan dalam alam digital

    Editorial Information

    No full text
    CHIEF EDITOR Prof. Dr. Amir Akramin Shafie, IIUM, Malaysia  DEPUTY EDITOR-IN-CHIEF & TECHNICAL EDITOR Prof. Dr. Ahmad Fadzil Ismail IIUM, Malaysia DEPUTY EDITOR-IN-CHIEF Prof. Dr. AHM Zahirul Alam, IIUM, Malaysia Asst. Prof. Dr. Norhanis Diyana Binti Nizarudin, IIUM, Malaysia EDITORS (IIUM, Malaysia) Prof. Dr. Gairuazmi Mat Ghani Prof. Dr. Farid Sufian Shuaib Prof. Dr. Shukran Abd. Rahman Prof. Dr Jamalludin Ab Rahman Prof. Dr. Noor Lide Abu Kassim Prof. Ar. Dr. Abdul Razak Sapian Prof Dr Abd Rahman Ahlan Prof. Dr. Zainul Ahmad Rajion Prof. Dr. Rusni Hassan Prof. Dr. Ida Madieha Abdul Ghani Azmi Prof. Hamzah Mohd. Salleh Prof Dr AbdelAziz Berghout Prof Dr Ahmad Aidil Arafat bin Dzulkarnain Assoc. Prof. Dr. Badri Najib bin Zubir Assoc. Prof. Dr. Sany Izan Ihsan Assoc. Prof Dr Jesni Shamsul Shaari Asst. Prof. Dr. Mohd Azrul Azlen Abd Hamid Asst. Prof. Dr. Muhammad Kamil Che Hasan Asst. Prof. Dr. Juliana binti Md. Jaffri   LANGUAGE EDITORS (IIUM, Malaysia) English Language Division          Assoc. Prof. Datin Dr. Engku Haliza Engku Ibrahim Dr. Faridah Abdul Malik Bahasa Melayu Division Nurma bintiAbd Karim Nurul Husni binti Zawawil Anwar Quranic Language Division Dr. Zakaria Omar Dr. Nordin Ahmad ADVISORY COMMITTEE Prof. Emeritus Tan Sri Dato’ Dzulkifli Abdul Razak Prof. Emeritus Tan Sri. Dr. Mohd Kamal Bin Hassan Prof. Datuk Dr. Asma binti Ismail EDITORIAL COMMITTEE MEMBERS Prof. Dr. Nasser Mohammad Amjad   AIMS & SCOPE OF INTERNATIONAL JOURNAL ON INTEGRATION OF KNOWLEDGE (IJIoK) The International Journal on Integration of Knowledge aims to promote excellence by providing avenues for academics and professionals to publish current and significant research in integrating knowledge that tests, extends, or builds theories.   This multidisciplinary journal considers review and research articles related to Social Sciences and Humanities, Science and Technology, Health and Life Science, Finance and Commerce, and Language and Literature. IJIoK accepts submissions from all fields and any source for fundamental and applied investigations related to the Integration of Knowledge with peer review, ensuring high-quality articles. REFEREES’ NETWORK All papers submitted to the International Journal on Integration of Knowledge will be subjected to rigorous review through a worldwide network of specialized and competent referees. Each accepted paper should have at least two positive referees’ assessments. SUBMISSION OF A MANUSCRIPT A manuscript should be submitted online to the IIUM Journal website at https://journals.iium.edu.my/ij/index.php/iok. The journal website can also be used for further correspondence on the paper's status.   Published by: IIUM Press, International Islamic University Malaysia Jalan Gombak, 53100 Kuala Lumpur, Malaysia Phone (+603) 6421-5014, Fax: (+603) 6421-6298   Whilst the publisher and editorial board make every effort to see that no inaccurate or misleading data, opinion or statement appears in this Journal, they wish to make it clear that the data and opinions appearing in the articles and advertisement herein are the responsibility of the contributor or advertiser concerned. Accordingly, the publisher and the editorial committee accept no liability whatsoever for the consequence of any such inaccurate or misleading data, opinion or statement

    ENGINEERING ETHICS FOR GENERATION Z: A REVIEW OF CURRENT APPROACHES AND PROPOSAL FOR FUTURE DIRECTIONS

    Full text link
    The engineering profession has a crucial role to play in shaping the future of our society, and with the increasing complexity of technology, there is a growing need for engineers to have a strong understanding of ethical principles. This paper provides a comprehensive review of the current approaches to teaching engineering ethics, with a specific focus on how these approaches can be tailored to meet the needs of the Generation Z students. The authors examine the current approaches and its key challenges faced by this generation, such as the impact of technology on the teaching and learning approaches. The role of case studies and experiential learning in promoting ethical decision-making among this group of generation is also reviewed. Finally, the paper discusses the future directions for teaching engineering ethics, including the use of emerging technologies such as virtual and augmented reality. The paper concludes with a call for further research to better understand the ethical challenges facing the engineering profession and to develop effective strategies for addressing these challenges and for the students to internalize the importance of the ethical decision and become the agent of change in the society for the betterment of Ummah. ABSTRAK: Profesion kejuruteraan mempunyai peranan penting dalam membentuk masa depan masyarakat kita, dan dengan peningkatan kerumitan teknologi, adalah satu keperluan bagi jurutera untuk mempunyai pemahaman yang kukuh tentang prinsip-prinsip etika seorang jurutera. Kertas kerja ini menyediakan ulasan menyeluruh tentang pendekatan semasa untuk mengajar etika kejuruteraan, dengan tumpuan khususnya bagaimana cara pendekatan ini boleh disesuaikan untuk memenuhi keperluan pelajar Generasi Z. Penulis mengkaji pendekatan semasa dan cabaran utama yang dihadapi oleh generasi ini, sebagai contoh kesan teknologi terhadap pendekatan pengajaran dan pembelajaran. Selain itu, peranan kajian kes dan pembelajaran berasaskan pengalaman dalam membuat keputusan beretika dalam kalangan kumpulan generasi ini juga dikaji. Akhir sekali, kertas kerja ini membincangkan hala tuju masa depan untuk mengajar etika kejuruteraan, termasuk penggunaan teknologi baru seperti realiti maya dan reality terimbuh. Kertas kerja ini diakhiri dengan saranan bagi melauskan penyelidikan di masa hadapan untuk lebih memahami cabaran etika yang dihadapi oleh profesion kejuruteraan dan untuk membangunkan strategi yang berkesan bagi menangani cabaran ini supaya pelajar lebih memahami kepentingan keputusan beretika dan menjadi agen perubahan dalam masyarakat untuk kebaikan ummah.Profesion kejuruteraan mempunyai peranan penting dalam membentuk masa depan masyarakat kita, dan dengan peningkatan kerumitan teknologi, adalah satu keperluan bagi jurutera untuk mempunyai pemahaman yang kukuh tentang prinsip-prinsip etika seorang jurutera. Kertas kerja ini menyediakan ulasan menyeluruh tentang pendekatan semasa untuk mengajar etika kejuruteraan, dengan tumpuan khususnya bagaimana cara pendekatan ini boleh disesuaikan untuk memenuhi keperluan pelajar Generasi Z. Penulis mengkaji pendekatan semasa dan cabaran utama yang dihadapi oleh generasi ini, sebagai contoh kesan teknologi terhadap pendekatan pengajaran dan pembelajaran. Selain itu, peranan kajian kes dan pembelajaran berasaskan pengalaman dalam membuat keputusan beretika dalam kalangan kumpulan generasi ini juga dikaji. Akhir sekali, kertas kerja ini membincangkan hala tuju masa depan untuk mengajar etika kejuruteraan, termasuk penggunaan teknologi baru seperti realiti maya dan reality terimbuh. Kertas kerja ini diakhiri dengan saranan bagi melauskan penyelidikan di masa hadapan untuk lebih memahami cabaran etika yang dihadapi oleh profesion kejuruteraan dan untuk membangunkan strategi yang berkesan bagi menangani cabaran ini supaya pelajar lebih memahami kepentingan keputusan beretika dan menjadi agen perubahan dalam masyarakat untuk kebaikan ummah

    ELECTRICITY GENERATION OF ELECTRIC COASTER IN TRAPPING SOLAR HEAT: Electric generation

    No full text
    ABSTRACT:  Environmental concerns and shortages of electricity and battery capacity limitations have prompted efforts aimed at the mass production of biodegradable materials. Renewable energy from solar trap heat is the optimal way to prevent climate change and decarbonization. The new technology of the EV body made with Al2O3 Epoxy Resin (ER) filler sandwiched by Carbon Fiber and Lithium thin plates is an advanced technology used to generate electricity by trapping solar heat. The developed laboratory-scale model car body will be able to generate 15% energy from the 8.46 kWh battery pack and reduce 20% of the 30-kWh traction power by reducing 15% of the car's total weight of 1800 kg. Furthermore, the proposed body is very environmentally friendly as it can be easily recycled for new products. Based on the overall benefits, the proposed car body has the potential to reduce oil dependence and environmental emissions. However, the main limiting factors are thermal behavior and ionic conductivity at high temperatures. ABSTRAK: Kebimbangan alam sekitar dan kekurangan tenaga elektrik dan had kapasiti bateri telah mendorong usaha yang bertujuan untuk pengeluaran besar-besaran bahan terbiodegradasi. Tenaga boleh diperbaharui daripada haba perangkap suria adalah cara optimum untuk mencegah perubahan iklim dan penyahkarbonan. Teknologi baharu badan EV yang dibuat dengan pengisi Al2O3 Epoxy Resin (ER) diapit oleh plat nipis Serat Karbon dan Litium ialah teknologi canggih yang digunakan untuk menjana elektrik dengan memerangkap haba suria. Badan kereta model skala makmal yang dibangunkan akan dapat menjana 15% tenaga daripada pek bateri 8.46 kWj, dan mengurangkan 20% daripada kuasa cengkaman 30 kWj dengan mengurangkan 15% daripada jumlah berat kereta sebanyak 1800 kg. Tambahan pula, badan yang dicadangkan itu sangat mesra alam kerana ia boleh dikitar semula dengan mudah untuk produk baharu. Berdasarkan manfaat keseluruhan, badan kereta yang dicadangkan itu berpotensi untuk mengurangkan pergantungan minyak dan pelepasan alam sekitar. Walau bagaimanapun, faktor pengehad utama ialah kelakuan terma dan kekonduksian ionik pada suhu tinggi

    THE POTENTIAL EFFECTS OF AN ADAPTED NURSING DISCHARGE PLAN AMONG PATIENTS WITH HIP FRACTURES IN HOSPITAL MELAKA, MALAYSIA

    Full text link
       Background: Patients with hip fractures frequently face the problem of a longer stay in the ward after surgery and being readmitted, falls, and being unable to carry out daily activities after discharge from the hospital. A nursing discharge plan is widely recognised as one of the strategies for addressing these issues. In Malaysia, however, it is unknown for patients with hip fractures. As a result, this study was carried out to investigate the impact of nursing discharge planning on patients with hip fractures in Hospital Melaka, Malaysia. Methods: A total of 58 patients aged 50 years and above in the orthopaedic ward of Hospital Melaka were randomised using sealed envelopes to the intervention group (n = 29) and the control group (n = 29). The intervention group received an adapted nursing discharge plan with health education activities in the form of pamphlets and oral instructions within 24 hours of ward admission until discharge while the control group received routine discharge practices. Demographic data were taken from the study subjects while clinical data and length of stay in the ward were taken from the subjects’ medical records before discharge. After one month discharged, data for ward readmission rate and drop rate were taken from the subject's medical records while data for the subject's daily life activities were obtained through telephone calls using The Barthel Index survey form. Results: The results of the study showed that the intervention group had a shorter ward stay (U = 254.00, p = 0.008) and a higher level of independence than the control group (U = 205.00, p = 0.001). The control group had 100% of subjects who were not able to be independent in daily activities of life compared to 75.9% of the intervention group (p <0.05). Conclusion: A nursing discharge plan including a health education component starting from the patient's admission to the ward until before the discharge should be considered in the nursing practice. It could facilitate better discharge outcomes for patients with hip fractures.  &nbsp

    INTEGRATION OF KNOWLEDGE AT THE KULLIYYAH OF ENGINEERING

    Full text link
    المعرفة المتكاملة تربط الأفكار وتربطها وتوحدها في مجموعة متنوعة من السياقات. من أجل تقييم تجاربهم وإيجاد حلول للتحديات ، يقوم الطلاب بدمج معارفهم من خلال التحقيق في الأفكار والمعلومات وتحديدها وتنظيمها وتوليفها. وضعت كلية الهندسة (KOE) بخبرتها منذ عام 1994 خطة إستراتيجية مختلفة من ذلك التاريخ حتى الآن لتحسين KOE ، وكان الدليل هو رؤية ورسالة KOE بالإضافة إلى IIUM. تشرح هذه الورقة تكامل المعرفة في KOE ، وتقاسم بعض الأدلة ، وتسليط الضوء على الجزء العلوي والسفلي من دمج المعرفة وكذلك المسؤولية والقيم الأخلاقية.The Kulliyyah of Engineering (KOE) at the International Islamic University Malaysia (IIUM) has been one of the leading institutions in the country since 1994, offering engineering education to students from all over the world. With its wealth of experience, the KOE has established different strategic plans over the years to improve its academic standards. The faculty provides undergraduate and postgraduate programs in various fields of engineering, such as chemical, civil, electrical, mechanical, manufacturing, mechatronics, and computer engineering. Despite having an excellent academic curriculum, there is still a significant gap in the integration of knowledge across different courses, which could hinder the overall learning experience of the students. To bridge this gap and provide a more comprehensive approach to education, there is a need to integrate knowledge from various courses and disciplines. This approach will enable students to understand the relationships between different areas of study and better equip them to solve complex problems in the real world. Integrating knowledge from various courses will not only improve the overall quality of education but also increase the employability of graduates as they will possess a diverse set of skills that are highly sought after in today's job market. ABSTRAK: Kulliyyah Kejuruteraan (KOE) di Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (IIUM) telah menjadi salah satu institusi terkemuka di negara sejak tahun 1994, menawarkan pendidikan kejuruteraan kepada pelajar dari seluruh dunia. Dengan pengalaman yang kaya, KOE telah menetapkan pelan strategik yang berbeza selama bertahun-tahun untuk meningkatkan standard akademiknya. Fakulti ini menyediakan program sarjana dan siswazah dalam pelbagai bidang kejuruteraan, seperti kejuruteraan kimia, awam, elektrik, mekanikal, pembuatan, mekatronik, dan kejuruteraan komputer. Walaupun mempunyai kurikulum akademik yang cemerlang, terdapat jurang yang besar dalam pengintegrasian pengetahuan di antara kursus yang berbeza, yang boleh menghalang pengalaman pembelajaran keseluruhan pelajar. Untuk menyelesaikan jurang ini dan memberikan pendekatan pendidikan yang lebih komprehensif, terdapat keperluan untuk mengintegrasikan pengetahuan dari pelbagai kursus dan disiplin. Pendekatan ini akan membolehkan pelajar memahami hubungan di antara bidang pengajian yang berbeza dan mempersiapkan mereka dengan lebih baik untuk menyelesaikan masalah kompleks dalam dunia sebenar. Mengintegrasikan pengetahuan dari pelbagai kursus tidak hanya akan meningkatkan kualiti pendidikan secara keseluruhan tetapi juga meningkatkan kebolehpasaran graduan kerana mereka akan mempunyai set kemahiran yang pelbagai yang sangat dicari dalam pasaran kerja hari ini..Pengetahuan bersepadu mengikat, mengaitkan dan menyatukan idea dalam pelbagai konteks. Untuk menilai pengalaman dan mencari penyelesaian kepada cabaran, pelajar menyepadukan pengetahuan mereka dengan menyiasat, mengenal pasti, menyusun dan mensintesis idea dan maklumat. Kuliah Kejuruteraan (KOE) dengan pengalamannya sejak 1994 menetapkan beberapa pelan strategik yang berbeza dari permulaan penubuhan hingga kini untuk penambahbaikan, berpandukan kepada visi dan misi KOE serta UIAM. Kertas kerja ini akan menerangkan integrasi ilmu dalam KOE, membentangkan beberaoa bukti, menekankan penyepaduan pengetahuan di peringkat atas dan bawah serta tanggungjawab dan nilai etika. &nbsp

    PATIENT CHARACTERISTICS AND RISK FACTORS CONTRIBUTING TO DISEASE PROGRESSION AMONG HOSPITALISED PATIENTS WITH COVID-19: LESSON FROM MALAYSIA

    Full text link
    Background: Patients who were hospitalised with severe COVID-19 infection could progress to severe conditions due to various factors, whereas some patients may recover to mild conditions quickly. There was limited information regarding characteristics and factors affecting disease progression in this population in Malaysia. This study aimed to investigate patient characteristics and risk factors contributing to disease progression among COVID-19 patients during hospitalisation. Methods: A retrospective cross-sectional study using electronic medical record data from COVID-19 patients admitted to two public hospitals in East Coast Malaysia from February 2020 to August 2021 was conducted. This study included patients with asymptomatic or mild condition (stage 1 – stage 3) upon hospital admission and progressed to severe condition (stage 4 – stage 5) during hospitalisation. Results: A total of 163 patients were included (57% male) with the age of (mean±SD, 62.3 ±14.0 years). Multivariable logistic regression associated with COVID-19 disease progression included elderly (OR, 1.06; 95% CI, 1.04, 1.08; p = ≤0.05), diabetes mellitus (OR, 2.27; 95% CI, 1.27, 4.06; p = 0.006), chronic kidney disease (OR, 4.87; 95% CI, 1.92, 12.38; p=0.001), and presented with more than three COVID-19 symptoms (OR, 9.80; 95% CI, 6.08-15.81, p = ≤0.05). Conclusion: Risk factors for COVID-19 disease progression included elderly patients, comorbidities of diabetes mellitus, chronic kidney disease or more than three COVID-19 symptoms. Close monitoring and early intervention should be implemented for these patients to prevent the disease progression and poor prognosis

    INTEGRATION OF KNOWLEDGE: CONNECTING THE DOTS

    Full text link
    Integration of knowledge and ideas in reality is increasingly becoming relevant as the call for transdisciplinary gains momentum in recent times especially in the face of many global changes. The search for long-term, sustainable solutions ought to be multidisciplinary in nature so as to provide transformative changes, rather than an incremental and linear alternative. For example, the severity of the climate crisis demands a change in the conventional framework to one that is more impactful with a radical outcome. Open innovative approaches that cover beyond technological outcomes to enable social, communal and institutional dimensions are imperative for a success sustainable change as the real-world drivers in the transformational process. This means the need for an integration of knowledge and ideas through both multi- and transdisciplinary approaches are crucial in delivering the oft quoted goal of  “no one left behind” – an global objective in embracing the overarching goal for humanity as depicted in 2030 Agenda Sustainable Development Goals (SDGs

    9

    full texts

    12

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    International Journal on Integration of Knowledge
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇